Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Selingkuh.
Ani membaca tulisan yang tertulis di kertas. Ternyata itu adalah hasil identifikasi DNA. Ani mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Ardi. “Ini ….” Ani tidak bisa melanjutkan ucapannya.
“Baca dulu. Nanti Ibu akantahu jawabannya!” ujar Ardi.
Ani melanjutkan membaca hasil identifikasi DNA. Di bagian sampel ayah ditulis nama Ardi dan pada bagian sampel anak ditulis nama Malika. Ani membaca hingga akhir, hasilnya DNA Ardi tidak cocok dengan DNA Malika. Ardi bukanlah ayah kandung Malika. Seketika hatinya hancur. Berarti dugaannya benar.
Ardi menarik napas panjang. Ia menatap wajah Ani yang terlihat sedih dan kecewa. “Kalau ibu tidak menanyakan hal itu, mungkin sampai kapan pun saya tidak tau kalau Malika bukan anak saya. Terkecuali ….” Ardi tidak melanjutkan ucapannya.
Ani penasaran dengan ucapan Ardi. “Kecuali apa, Pak?” tanya Ani.
“Kecuali mereka bangun dari koma dan mengakui perbuatan mereka,” jawab Ardi.
Ani menundukkan kepala lalu menghela napas panjang. Ia sangat kecewa kepada suaminya. Ia meluapkan kekecewaannya dengan menyobek-nyobek tisu yang berada di tangannya. Ardi memperhatikan Ani yang sedang menyobek-nyobek tisu.
“Pertama kali saya bertemu dengan Malika, saya melihat mata Mas Fardan di mata Malika. Saya juga melihat senyum ibu mertua saya di bibir Malika. Di dalam hati saya bertanya-tanya, apakah Malika anak Mas Fardan?” kata Ani sambil melipat tisu yang tadi ia sobek-sobek. Ardi mendengarkan apa yang dikatakan Ani.
Ani mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ardi. “Setelah Pak Ardi test DNA Malika, saya semakin yakin kalau Malika adalah anak Mas Fardan,” lanjut Ani.
“Ibu mengenal suami Ibu dimana?” tanya Ardi. Ia jadi penasaran bagaimana Ani bisa mengenal Fardan sampai tidak mengetahui kalau Fardan sudah memiliki kekasih.
“Di kantor. Mas Fardan adalah atasan saya di kantor,” jawab Ani.
“Kalau Pak Ardi bertemu Ibu Nadira di mana?” Ani balik bertanya.
“Dikenalkan oleh teman mama saya,” jawab Ardi.
“Oh, Pak Ardi dijodohin?” tanya Ani sambil tersenyum simpul.
“Ya, begitulah,” jawab Ardi. Ia masih ingat pertama kali ia berkenalan dengan Nadira. Ia dikenalkan oleh tante Nadira. Tante Nadira adalah teman mamanya. Tante Nadira sudah berhasil membohonginya. Tante Nadira mengatakan kalau Nadira belum mempunyai kekasih. Ardi menghela napas panjang setelah mengenang masa lalu.
Ardi kembali fokus ke Ani. “Selama satu kantor dengan suami Ibu, apakah Ibu Ani pernah mendengar suami Ibu memiliki kekasih?” tanya Ardi penasaran.
Ani berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat lagi ke masa ketika ia masih bekerja. “Setahu saya, suami saya belum punya kekasih. Cuma saya pernah dengar, suami saya sudah putus sama pacarnya. Kata teman saya, mantan pacar suami saya nikah dengan laki-laki yang lebih kaya dari suami saya,” jawab Ani.
Mendengar jawaban Ani, Ardi mengepal kedua tangannya dengan kencang, ia menahan amarahnya. Ternyata Nadira mau menikah dengannya karena hanya menginginkan hartanya saja. “Berarti benar, dulu mereka pernah pacaran kemudian putus. Sepertinya mereka melanjutkan hubungan mereka ketika saya dinas di luar kota,” ucap Ardi. “Kita harus balas perbuatan mereka. Biar mereka kapok!” lanjut Ardi dengan kesal.
“Bagaimana caranya?” tanya Ani dengan penasaran.
“Kita selingkuh,” jawab Ardi.
Ani langsung menggelengkan kepalanya. “Nggak mau! Saya nggak mau selingkuh. Pak Ardi saja yang selingkuh! Saya masih mencintai suami saya, walaupun ia sudah selingkuh dengan wanita lain,” kata Ani. Ia berpikir Ardi sudah gila mengajaknya selingkuh.Bagaimana pun juga, ia masih mencintai suaminya.
“Bu, yang mereka lakukan sudah keterlaluan. Mereka melakukan secara diam-diam di belakang kita.” Ardi mencoba meyakinkan Ani.
“Pak Ardi, selingkuh tidak harus dibalas selingkuh. Biarkan Allah yang membalas perbuatan mereka,” ujar Ani.
Dua orang pelayan restoran datang membawa pesanan mereka. Ardi dan Ani menghentikan pembicaraan mereka. Kedua pelayan restoran menyajikan makanan di atas meja lalu meninggalkan meja mereka. “Kita makan dulu.” Ardi membuka tisu yang menutupi sendok dan garpu. Ani menatap makanan yang tersaji di hadapannya. Makanan itu terlihat sangat enak, tapi ia tidak berselera setelah mengetahui hasil DNA Malika, Namun, ia harus tetap kuat dan tegar menghadapi masalah ini. Ia tidak boleh sakit agar ia bisa menghadapi suaminya jika sudah siuman. Akhirnya ia pun menyantap makanannya.
Lima belas menit kemudian Ardi selesai menyantap makanannya. Ia melanjutkan dengan merokok. Ardi menghisap rokok sambil memperhatikan Ani yang sedang menyantap makanan. Di mata Ardi, Ani seorang wanita muda yang sederhana. Wajahnya cantik tapi tidak secantik Nadira. Tutur katanya halus dan lembut. Ia selalu berlaku sopan kepada semua orang. Berbeda dengan Nadira yang ceria dan supel.
Sampai detik ini Ani masih setia kepada Fardan, walaupun ia tahu Fardan sudah menghianatinya. Sungguh seorang wanita yang tabah. Pandangan Ardi tidak lepas dari Ani hingga akhirnya Ani menghabiskan makanannya. “Mau pesan apa lagi?” tanya Ardi sambil membuang abu rokok ke asbak.
“Nggak pesan apa-apa lagi. Sudah kenyang,” jawab Ani lalu meminum teh manis panas. Ardi meniup asap rokok sambil memperhatikan Ani yang sedang minum.
“Bagaimana dengan rencana kita?” tanya Ardi sambil membuang abu rokok ke asbak. “Jadikan?”
“Pak Ardi saja yang selingkuh dengan wanita lain. Saya tidak mau!” jawab Ani dengan tegas.
“Nggak bisa, dong! Kalau mau balas dendam, kita berdua yang harus terlibat langsung,” ujar Ardi. “Kalau perlu Ibu Ani hamil anak saya.”
Ani membelalakkan mata ketika mendengar ucapan Ardi. “Apa Bapak sadar dengan ucapan Bapak?” tanya Ani.
“Saya tau. Makanya saya mengajak Ibu selingkuh agar mereka sadar kalau perbuatan mereka salah,” jawab Ardi.
“Tapi saya yang menjadi korban,” kata Ani sambil menepuk-nepuk dada. “Dan mereka berdua belum tentu menyadari kesalahan mereka. Orang yang dibutakan oleh cinta, mana bisa menyadari kesalahan mereka.”
“Ibu Ani tidak usah khawatir. Saya yang akan bertanggung jawab dengan bayi di dalam kandungan Ibu jika Ibu Ani hamil anak saya,” jawab Ardi dengan tenang. Ani menarik napas panjang mendengar jawaban Ardi. Ardi memang sudah nekad karena dikecewakan oleh Nadira.
Ani berdiri dari tempat duduk. “Sudah malam. Saya harus segera pulang.” Ia menyelempangkan tali tas di bahu. Ia bersiap-siap untuk pulang.
“Tunggu sebentar. Saya antar Ibu pulang.” Ardi mematikan rokok di asbak lalu berdiri dari tempat duduk.
“Tidak usah! Saya bisa pulang sendiri,” kata Ani.
Ardi mengambil kunci mobil yang diletakkan di atas meja sambil melihat jam yang melingkar di tangan kiri. “Ini sudah jam 8 lewat 30 menit. Ibu tidak boleh pulang sendiri.” Ardi lebih dulu meninggalkan tempat mereka duduk.