NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: MENDERITA DI UJUNG KOTA

Kehidupan di kota kecil ini tidak pernah ramah pada Clara.

Sejak kecil, ia hanya mengenal satu hal: bertahan hidup. Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan Clara dan ibunya yang sakit-sakitan dalam keterbatasan ekonomi. Mereka hanya bertahan dari sisa tabungan yang kian menipis. Namun, takdir justru memukulnya lebih keras. Bulan lalu, sang ibu menghembuskan napas terakhir, meninggalkan Clara sebatang kara di usianya yang baru delapan belas tahun.

Tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Meninggalnya sang ibu rupanya menyisakan gundukan utang dari rentenir. Demi menghemat pengeluaran dan melunasi bunga utang, Clara memangkas porsi makanannya menjadi sekali sehari. Akibatnya, anemia berat menggerogoti fisiknya. Kulitnya pucat bagai mayat, dan kepalanya sering dihantam rasa pusing yang hebat.

Atas saran Dion—satu-satunya teman sekolah yang peduli padanya—Clara akhirnya bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah tempat karaoke eksklusif di pinggiran kota. Malam ini adalah hari pertamanya bekerja.

"Dua minuman lagi untuk ruang VIP nomor empat, Clara!" teriak penyelia karaoke.

"Baik, Mbak," sahut Clara pelan. Suaranya serak. Pandangannya sempat mengabur beberapa detik, namun ia memegang pinggiran meja untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Dengan nampan di tangan, Clara melangkah menuju lorong remang-remang. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat membuat dadanya makin sesak. Tepat saat ia hendak mengetuk pintu, sebuah tangan kekar dan kasar mendadak menarik pergelangan tangannya.

"Argh!" Clara tersentak, nampan di tangannya hampir terjatuh.

Seorang pria paruh baya berbadan tegap menyeringai lebar. Clara mengenali wajah itu. Dia adalah rentenir yang selama ini mengintimidasi almarhumah ibunya.

"Rupanya kamu sembunyi di sini, Clara?" bisik pria itu dengan napas berbau alkohol. "Ibumu mati meninggalkan utang puluhan juta, dan kamu pikir bisa kabur begitu saja?"

"S-saya tidak kabur... Saya bekerja untuk melunasinya," cicit Clara, berusaha melepaskan cengkeraman tangan pria itu yang makin menguat.

"Melunasi? Dengan gajimu sebagai pelayan karaoke murah ini?" Pria itu tertawa membentak, lalu menyeret Clara ke sudut lorong yang gelap. "Bagaimana kalau kamu bayar pakai caramu sendiri malam ini?"

"Lepas! Jangan sentuh saya!"

Ketakutan memicu dorongan adrenalin dalam diri Clara. Saat jemari rentenir itu mulai mencengkeram bahunya hingga kain seragam pelayannya robek, Clara mengumpulkan sisa tenaganya. Ia mengayunkan tangannya, mencakar bahu dan leher pria itu dengan sekuat tenaga.

SRAK!

"Bangsat!" pria itu mengaduh, menyentuh luka cakaran di bahunya yang mengeluarkan darah. Reaksi refleks membuatnya mendorong Clara dengan sangat keras.

Tubuh Clara yang sudah sangat lemah akibat anemia tidak mampu menahan dorongan itu. Kepalanya membentur dinding. Rasa pening luar biasa menghantam pancainderanya, membuat pandangannya perlahan memudar dan gelap total.

Sebelum tubuh pucat Clara menyentuh lantai dingin, sebuah tangan kokoh dengan sigap menangkap pinggangnya.

Arsen berdiri di sana.

Pemuda berusia delapan belas tahun itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku. Matanya tajam, tajam dan dingin seperti bilah pisau. Di balik penampilannya yang sempurna sebagai putra tunggal keluarga kaya, Arsen menyembunyikan sisi gelap yang tidak diketahui siapapun—ia adalah sosok yang tak segan bertindak kejam pada siapa saja yang mengusiknya.

Arsen menatap pria rentenir di depannya tanpa emosi. "Menyingkir dari hadapanku."

"Siapa kau?! Jangan ikut campur urusan orang tua, Bocah!" bentak sang rentenir seraya melangkah maju.

Arsen bahkan tidak mengedipkan mata. Ia melirik dua pengawal berjas hitam yang berdiri di belakangnya. "Bereskan. Pastikan dia tidak pernah menunjukkan mukanya lagi."

Tanpa menunggu balasan, Arsen mengangkat tubuh Clara ke dalam dekapannya. Gadis itu terasa sangat ringan di tangannya, bagaikan helai bulu yang siap diterbangkan angin.

Namun, saat kulit Clara menyentuh lengannya dan aroma tubuh gadis itu terhirup olehnya, sebuah sensasi aneh menjalar di dada Arsen. Pikirannya yang selama berturut-turut disiksa oleh insomnia berat mendadak terasa tenang. Kebisingan di kepalanya seolah lenyap seketika.

Arsen menunduk, menatap wajah pucat Clara yang pingsan di dadanya.

Perasaan apa ini? Kenapa dekat dengannya membuatku merasa damai? batin Arsen.

Tatapan dingin Arsen berubah menjadi penuh dominasi. Ia telah menemukan "obat" untuk insomnianya, dan ia tidak akan pernah membiarkan obat itu lepas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!