Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejujuran
Suara deru halus mesin sedan mewah itu akhirnya mereda, lalu mati sepenuhnya. Sorot lampu mobil perlahan padam, menyisakan temaram lampu taman yang menerangi halaman luas mansion megah tersebut. Dua orang itu kembali turun dari mobil dan berjalan bersama melangkah masuk ke dalam rumah mewah yang sunyi.
Langkah kaki Bayu terdengar konstan di atas lantai marmer lobi utama. Namun, Mita yang berjalan di sebelahnya sesekali melirik ke arah tangan pria itu. Mita masih sedikit bingung dengan barang yang dibawa Bayu dari kontrakan sempitnya tadi.
Bagaimana tidak? Rumah kontrakan itu sangat memprihatinkan, tetapi alih-alih membawa kardus atau tumpukan barang yang banyak seperti orang pindahan pada umumnya, barang yang diambil Bayu sangat sedikit. Yah... yang dia ambil cuma satu tas ransel agak besar yang tersampir di pundak tegapnya. Hanya itu sisa dari kehidupan setahun terakhirnya.
Mita menghentikan langkahnya di dekat tangga utama, lalu berbalik menghadap pelayan pribadinya. "Apa cuma segini, Bay?" tanya Mita, menatap tas ransel kusam tersebut dengan dahi berkerut heran. "Kamu tidak membawa barang-barangmu yang lain?"
Bayu menatap lurus ke arah mata Mita, tidak ada binar minder atau malu di wajahnya.
"Maaf, aku miskin," kata Bayu dengan singkat dan tenang.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Bayu tanpa beban, seolah kemiskinan bukanlah aib yang harus dia tutupi dengan kebohongan. Dia tidak merasa perlu membawa kasur lipat tipis atau peralatan masak murah miliknya ke dalam istana megah ini.
Mita tertegun di tempatnya berdiri. Dari awal dia berkarier hingga usianya menginjak 30 tahun saat ini, baru kali ini ada laki-laki yang secara gamblang mengaku miskin di hadapan dia. Sepanjang hidupnya yang dikelilingi oleh dunia bisnis kelas atas, Mita sudah sangat kenyang melihat kepalsuan. Biasanya, banyak para pejabat tinggi atau pengusaha kaya yang sengaja datang menemui dia hanya untuk pamer harta, menunjukkan kemewahan, dan menyombongkan status sosial mereka.
meskipun pada kenyataannya, semua kemewahan itu didapat dari hasil berutang atau mengajukan pinjaman modal darurat pada perusahaan besar milik Mita.
Melihat pelayan pribadinya yang justru bertindak sebaliknya, dada Mita berdesir aneh. 'Semakin menarik,' kata Mita dalam hati sembari menyunggingkan senyum misterius. Karakter pria di depannya ini benar-benar langka dan sulit ditebak.
Mita berbalik dan mulai melangkah menaiki anak tangga mewah berbahan kayu jati, memberi isyarat agar Bayu mengikutinya ke lantai dua.
"Kamarmu di sebelah kamarku," kata Mita sambil menunjukkan sebuah pintu kayu ek besar yang berhadapan langsung dengan koridor utama. "Nanti kalau aku perlu bantuan atau ada keperluan, kamu akan aku panggil. Dan begitu aku panggil, kamu harus siap."
"Bayu menaruh tas ranselnya di lantai koridor, lalu melipat tangannya di depan dada.
"Apakah ada jadwalku istirahat?" tanya Bayu memastikan hak asasinya sebagai pekerja baru.
"Tentu," jawab Mita santai seraya menoleh. "Tak perlu aku sebutkan secara detail jam berapa saja. Nanti seiring berjalannya waktu, kamu juga akan tahu sendiri kapan waktunya aku tidak ingin diganggu."
Mita memegang kenop pintu kamarnya, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu dan berbalik lagi.
"Apa kamu bisa masak?" tanya Mita.
"Untuk masakan biasa sih bisa," jawab Bayu jujur. Setahun bekerja di restoran, meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mencuci piring dan menjadi pelayan, dia sempat menyerap beberapa teknik dasar dari para koki saat menjadi helper.Mita mengangguk puas, merasa keputusannya merekrut pria ini malam ini sangat tepat.
"Baiklah, malam ini tidak perlu masak dulu. Siapin air panas saja di kamar mandiku, aku mau mandi dan membersihkan diri," perintah Mita sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya yang luas.
"Baik, Nona Mita," jawab Bayu patuh.
Dia segera mengangkat kembali ransel besarnya, melangkah masuk ke dalam kamar barunya yang sangat luas dan nyaman—bahkan berkali-kali lipat lebih mewah daripada kontrakannya yang dulu.
lalu bergegas menuju area kamar mandi utama untuk menyiapkan keperluan sang bos. Di bawah atap megah ini, babak baru perjuangan Bayu untuk kembali mengumpulkan pundi-pundi kesuksesannya telah resmi dimulai.