Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: HARGA SEBUAH NAMA
...#...
...Layar itu masih menyala ketika Kenzo membaca namanya sendiri untuk ketiga kalinya, dan huruf-huruf itu tidak berubah. *KENZO ADRIEL. Prioritas tertinggi.* Di belakangnya Axel sudah berdiri dengan tangan gemetar di atas papan ketik, dan sebelum Kenzo sempat bicara, jari-jari itu bergerak liar, memutus satu kabel, lalu satu lagi, sampai layar besar itu padam dan ruangan hanya diterangi pendar biru dari mesin-mesin yang masih hidup....
..."Siapa yang nulis itu, Xel?"...
...Axel menggeleng cepat, mengetik di tablet, dan suara mesin itu keluar patah-patah. "Bukan sistem. Ada seseorang yang masuk lewat jalur yang aku sendiri belum pernah lihat. Dia nulis itu supaya kita lihat. Dia mau kita tahu dia bisa."...
..."Atau Raden yang mau aku tahu dia bisa."...
...Mereka saling menatap. Tidak ada yang mau menyebut kemungkinan ketiga, bahwa keduanya sedang dipermainkan oleh orang yang sama....
...Kenzo mengambil keputusan dengan cara yang akhir-akhir ini biasa ia lakukan: dingin, cepat, tanpa menunggu perasaannya selesai. "Kita nggak bilang apa-apa ke Raden. Dia nggak tahu kamu sudah lihat berkas itu. Aku terus kerja seperti biasa. Kamu cari tahu siapa yang masuk dan dari mana."...
...*Dan kalau Raden memang yang membunuh Rendra?*...
..."Maka dia punya alasan, dan aku mau dengar alasannya sebelum aku bunuh dia." Kenzo mengatakannya tanpa naik nada, dan Axel menatapnya lama, seperti orang yang sedang mencari sesuatu di wajah yang sudah jauh berubah....
... ...
...Mereka menyebutnya *The Shadow*, dan sejak malam di vila Sarvenna, nama itu berhenti menjadi bisikan....
...Kenzo memutuskan satu hal yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun: jika orang-orang ingin takut, ia akan memberi mereka alasan. Bayangan yang ragu bisa dilacak. Bayangan yang tidak bisa ditebak tidak punya jejak untuk dicari. Jadi topeng porselen dengan retak emas itu tak pernah lagi terlihat di tempat yang sama dua kali. Ia memakai tiga identitas berbeda untuk keluar-masuk markas, dengan jalur yang diacak Axel tiap minggu, dan tak satu pun anggota Jari Algozo di luar lingkaran Raden tahu bahwa lelaki pendiam berkacamata tebal yang bekerja sebagai pencatat gudang di siang hari adalah orang yang sama dengan sosok yang membuat para pejabat mengunci kamar tidur dari dalam. Tangan kirinya, yang menandatangani kontrak dengan goresan asing, dipakai untuk apa pun. Cara jalannya diubah. Suaranya, di balik topeng, direndahkan dan diperlambat sampai terdengar seperti bukan milik siapa pun....
...Dan di jalanan, ia membangun cerita yang lebih besar daripada dirinya....
...Seorang rentenir di Marenta ditemukan dengan lidah dipaku di atas buku catatan utangnya. Di sebelah mayatnya ada selembar uang seratus ribu, satu-satunya yang tidak berlumur darah. Orang-orang berbisik bahwa Sang Bayangan menerima bayaran dari kedua pihak sekaligus, bahwa ia membunuh siapa pun yang membayar lebih, bahwa tidak ada yang bisa ia kasihani selain yang tidak mampu membeli kematian. Seorang pengusaha properti yang mencoba menyuap anak buah Raden untuk mengetahui identitasnya mati dengan kedua tangan terikat di setir mobilnya sendiri, dan di dasbornya ditemukan tulisan dengan tinta putih: *Harga untuk bertanya.*...
...Tidak semua itu perbuatannya. Sebagian dikerjakan orang-orang Raden atas namanya, sebagian lagi hanya cerita yang tumbuh seperti jamur. Kenzo tahu. Ia membiarkannya. Dalam dua belas bulan, nama itu menjadi merek dagang ketakutan, dan di dunia bawah Vetrazia, di mana kejahatan berjalan dengan tarif, tarif The Shadow melonjak melebihi yang pernah dibayar siapa pun. Sepuluh kali lipat, bayar di muka, tanpa tawar, tanpa alasan yang diberikan. Mereka yang mampu membayarnya adalah orang-orang yang cukup kaya untuk membeli nyawa seseorang dan cukup pengecut untuk tidak mau mengotori tangan....
...Dan ia menerima uang itu dengan wajah tanpa ekspresi, mengalirkan sebagian ke rekening yang Axel buat atas nama kosong, sebagian ke kas Raden, sebagian lagi ke sebuah yayasan kecil yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Yayasan itu membeli buku untuk anak-anak buruh pelabuhan. Tak ada yang tahu. Di mata dunia, ia hanya seorang pembunuh yang serakah....
...Ia memang ingin begitu....
... ...
...Laksmi menemukannya di ruang latihan suatu malam, sedang memukul samsak yang sudah tiga kali diganti dalam sebulan....
..."Ada yang menyewamu."...
..."Aku nggak terima kontrak dari siapa pun yang nggak lewat Don."...
..."Ini lewat Don." Laksmi melemparkan sebuah map. "Dan klienmu bilang, kalau kamu menolak, dia akan menawarkan harga yang sama kepada orang lain. Untuk membunuhmu."...
...Kenzo berhenti memukul. Napasnya naik turun, keringat menetes dari dagunya ke matras, dan ia membuka map itu dengan tangan yang masih terbungkus perban. Di dalamnya ada satu foto, bukan target, tapi sebuah bangunan, vila putih tiga lantai dengan jendela setinggi langit-langit, dibangun di tebing menghadap laut. Di bawah foto itu, satu baris: *Pesta ulang tahun Tuan Alexander Gunawan. Sabtu depan. Tamu: dua ratus orang. Satu target: bukan dia.*...
..."Siapa targetnya?"...
..."Di halaman terakhir."...
...Ia membalik. Satu nama tertulis di sana, bersama foto kecil seorang lelaki tua berambut perak yang tersenyum ramah di tengah kerumunan....
...*Raden Wiratama Sanjaya.*...
...Kenzo mengangkat kepala. Laksmi menatapnya tanpa ekspresi, tapi tangannya yang memegang pistol di pinggang tidak sepenuhnya tenang....
..."Seseorang membayar untuk membunuh Don," katanya pelan. "Dan mereka mau kamu yang melakukannya. Atau mereka sendiri yang akan datang."...
...Di sudut ruangan, di bawah cahaya remang, Kenzo melihat papan catur Raden dibawa masuk oleh dua orang pengawal. Bidak-bidaknya sudah bergeser untuk pertama kalinya dalam dua tahun....
... ...
...Sementara itu di rumah kontrakan kecil di pinggir Kota Tua, seorang lelaki tua duduk di tangga belakang dengan radio kecil di pangkuan, mendengarkan berita malam sambil menatap lampu jalan yang berkedip kuning....
...Rambutnya sudah putih seluruhnya. Lututnya yang kiri tidak lagi bisa menekuk penuh, dan ia berjalan dengan tongkat yang dibuatnya sendiri dari kayu jambu. Di dapurnya masih ada tiga piring yang ia keluarkan setiap malam, dan setiap malam ia mengembalikan dua di antaranya ke rak tanpa berkata apa-apa. Pernah tetangga bertanya kenapa, dan ia cuma tersenyum, bilang kebiasaan....
...Telepon bulanan dari Kenzo makin pendek. Sekarang kadang tidak ada sama sekali. Victor tidak pernah menelepon balik. Ia tidak tahu nomor mana yang dipakai anak itu, dan dalam hatinya ia takut, jika ia menelepon, ia akan mendengar suara yang bukan lagi suara anaknya....
..."...kembali pada berita utama malam ini," kata pembaca berita di radio itu, suaranya datar. "Pihak berwenang Marenta mengonfirmasi bahwa pembunuhan seorang rentenir pekan lalu kembali dikaitkan dengan sosok yang oleh warga disebut *Sang Bayangan*. Sumber kepolisian menyebut tidak ada saksi, tidak ada jejak, dan tidak ada motif kecuali satu: bayaran. Menurut seorang informan yang tidak mau disebut namanya, sosok ini menerima tarif tertinggi yang pernah tercatat di dunia bawah, dan tidak pernah menolak klien selama klien itu mampu membayar..."...
...Victor tidak bergerak. Radio itu terus bicara, menyebut lidah dan buku catatan dan selembar uang seratus ribu, tapi ia hanya mendengar satu kalimat yang berulang di kepalanya: *tidak pernah menolak klien selama klien itu mampu membayar.*...
...Orang seperti itu tidak punya hati. Orang seperti itu tidak punya rumah. Orang seperti itu persis seperti yang dulu ia lihat di barak, di malam-malam sebelum ia ditendang keluar....
...Tangannya mencengkeram radio itu sampai buku-bukunya memutih. Lalu, tanpa sadar, ia mulai berdoa dengan bisikan yang nyaris tak terdengar, kalimat-kalimat yang sudah dua puluh tahun tidak ia ucapkan....
..."Semoga dia bukan antek-antek negara ini... semoga dia bukan bagian dari mereka... Tuhan, jangan biarkan siapa pun yang kubesarkan jadi seperti mereka..."...
...Radio itu berganti ke musik. Victor mematikannya, dan di dalam sunyi yang menyusul, telepon genggam tua di sakunya bergetar, satu kali, tanda pesan masuk dari nomor yang tidak punya nama di kontaknya....
...Hanya tiga baris. Ia membacanya dengan kacamata yang dipegang di ujung jari....
...*Kau sudah mendengar siapa itu, bukan?*...
...*Pikirkan baik-baik. Siapa yang bisa melakukan semua itu tanpa meninggalkan jejak? Siapa yang kau ajari menghilang?*...
...*Tebakanmu benar, Victor. Dan aku tidak akan menghentikannya. Tapi kau bisa.*...
...Telepon itu jatuh dari tangannya, menghantam lantai, layarnya retak. Victor tidak memungutnya. Ia hanya menatap kosong ke ujung gang, ke arah lampu jalan yang berkedip, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, lelaki yang sudah kehilangan segalanya itu menggigil bukan karena dingin....
...Di seberang kota, di balik jendela setinggi langit-langit yang menghadap lautan lampu, seorang lelaki meletakkan telepon dengan satu gerakan lembut. Di jari manisnya, sebuah cincin batu hijau berkilat, lalu padam. Ia memutar kursinya perlahan menghadap sebuah foto hitam putih di dinding, foto lama yang sudah tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya: seorang lelaki muda dengan rambut belakang yang berdiri melawan, kamera di lehernya, tertawa dengan lengan merangkul bahu seorang temannya yang berjas....
..."Bagus," gumamnya. "Biar dia yang memilih sekarang. Aku sudah terlalu lama memilihkan untuknya."...
...Dan di bawah foto itu, di meja kerjanya yang licin, tergeletak sebuah topeng porselen putih tanpa mulut, dengan retakan emas yang membelah pelipis kiri sampai pipi. Bukan tiruan. Persis sama, sampai ke goresan terkecil....
...Seolah ada seseorang yang sudah membuatnya jauh sebelum Kenzo pertama kali memakainya....
... ...
...*Bersambung ke Bab 13*...