Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
susu kotak vanilla
"Biadab! Masa nilai gue cuma 34!" seru Gilang super sewot.
"Nggak terima nih gue! Pasti gara-gara si Gilang cuma kasih waktu 25 menit buat ngerjain 40 soal."
Yups! Alasan mereka cuma dapat nilai rendah bukan karena nggak bisa, tapi waktunya terlalu mepet banget.
Iya lah gila! Nenek moyang mereka aja orang Indonesia asli, masa ngerjain soal gagasan utama aja nggak bisa.
Kacang!
Sama halnya Rami, dia menatap lesu kertas ulangan di tangannya, lalu melirik ke arah Rora yang kondisinya nggak beda jauh. "Berapa?"
"57,5. Lo?"
"52,5," jawab Rami. Keduanya diam sebentar, lalu saling bersalaman.
"Nggak apa-apa, tenang! Banyak juga yang nggak lolos KKM," kata Rami berusaha menyemangati.
Rora mengangguk setuju. "Bener."
Kerjakan, hasil keluar, terus lupakan! Itu rumus orang sukses.
Keduanya lantas menoleh ke arah Sheila. Aroma-aromanya nih, doi dapet nilai bagus. "Dapet berapa?"
"86 nih." Gadis itu lantas tersenyum. Nggak kaget sih, si Sheila emang pinternya kebangetan.
"Pinter banget!" celetuk Rora tanpa sadar merasa nggak percaya diri.
Ya gimana nggak ngerasa minder tiap liat Sheila, doi kalem gila, cantik juga, pinter pun banget. Sial! Kayak nggak ada kekurangannya sama sekali. Kadang aja nih, Rami sama Rora bingung, kenapa orang sekeren Sheila mau-mau aja temenan sama mereka?
"Udah-udah! Kita ke kantin aja, yuk!" ajak Sheila berusaha mengalihkan perhatian kedua temannya dari hasil ulangan.
----------------
Kedatangan rombongan Kay berhasil mengubah suasana kantin yang tadinya tenang-tenang saja, jadi makin ramai dan berisik. Belum lagi tingkah Digo yang hobinya menggoda anak kelas di bawah, Devandra yang seenaknya saja mengganggu siapa saja yang lewat, sementara Mahendra dan Kael William cuma bisa tertawa melihat tingkah mereka.
Nggak punya sopan santun banget emang si Devandra.
"Berlebihan banget!" Rami dan Rora tertawa bersama.mendengar Sheila mendesis kesal di tempatnya.
Bukan apa-apa, hanya saja kedatangan geng itu membuat anak cewek pada teriak-teriak nggak jelas, berisik banget, bikin hilang selera makan aja!
"Biarin aja kali, kalau nggak ada mereka juga gue nggak ada semangat buat sekolah," kata Rami seraya melirik ke arah Tristan.
Wah! Kakak kelas itu gantengnya luar biasa. Dan sikapnya tenang banget, Ya Tuhan—idaman banget buat Rami.
"Kasihan Kak Tristan, kayaknya sering tertekan deh punya temen kayak mereka." Rami berbisik tanpa sadar, bikin Rora yang duduk di sebelahnya tertawa renyah.
Di sisi lain, Kay yang langsung sadar keberadaan Rora dan teman-temannya di kantin, berjalan mendekat lalu duduk tepat di belakang gadis itu. Tentu saja hal itu bikin Rora menoleh sebentar.
Ya udah lah ya, pikir Rora biasa saja.
"Biasanya di pojok, Kay." Suara Kael William tiba-tiba terdengar.
"Sini aja," jawab Kay singkat. Hal itu langsung bikin Digo dan Devandra menatapnya penuh tanya.
Oh! Pantesan, ternyata ada tujuannya Kay. Pas banget kursi mereka kebetulan tepat di belakang tempat duduk gadis itu.
"Terus aja," goda Digo, lalu tertawa berdua sama Devandra.
"Pesen makanan cepet! Gue laper nih," kata Devandra, yang bikin Mahendra langsung bergerak melaksanakannya.
Oke! Ini salah satu kebiasaan yang nggak boleh dicontoh. Cuma aja, hal itu selalu dilakukan Mahendra—menghentikan siapa saja murid yang lewat di dekatnya, lalu menyuruh orang itu memesan makanan untuk dirinya dan teman-temannya.
Kali ini yang sial adalah Danu, anak kelas 12, seangkatan sama mereka. Penampilannya biasa saja, nggak terlalu lemah, tapi siapa yang berani menolak perintah Mahendra yang didukung teman-temannya itu?
"Pesenin batagor satu, sama jus mangga!" perintah Mahendra seenaknya.
"Gue mau nasi rames. Sayurnya banyakin, telurnya dua, tahu gorengnya ganti tempe, jangan lupa kerupuknya juga." Itu pesanan Devandra, ribet banget kan?
"Gue juga samain menu Devandra, tapi tempenya jangan dikasih, sambel kentangnya banyakin, telurnya satu aja, terus sayurnya jangan terlalu banyak," tambah Digo.
ikut menyahut, bikin tambah ribet.
Di tempatnya Kael William tertawa sambil tepuk tangan melihat ekspresi wajah Danu yang berubah dongkol. "Muka lo nggak usah dibikin jelek gitu! Kayak nggak ikhlas aja," celetuk Devandra sambil memasang wajah pura-pura kecewa.
"Ikhlas nggak nih lo?" — Pikirnya sendiri saja dalam hati.
Melihat Mahendra menoleh ke arahnya, Danu langsung menunduk ketakutan. "Ik-ikhlas gue. Mau pesan apa lagi?"
Duh! Kasihan banget si Danu, niat hati ke kantin cuma mau beli minum karena habis olahraga—eh! Malah dipaksa ngelayanin mereka.
Di tempatnya Kay ikut tertawa, menikmati candaan teman-temannya yang sedang menjahili Danu. Tak lama kemudian cowok itu melirik ke arah gadis yang duduk di belakangnya. Lalu sengaja mendorong kursinya ke belakang—hingga bagian belakang kursinya menempel tepat pada kursi Rora, sesaat kemudian menariknya kembali ke depan, lalu mendorongnya mundur lagi.
Dia melakukannya berulang kali.
Tak!
Tak!
"Lo bisa diem nggak sih?" tanya Rora merasa kesal.
Kay menoleh. "Kenapa?" jawabnya dengan wajah polos seolah nggak tahu apa-apa.
"Diem! Nggak usah mainin kursi terus," ucap Rora, lalu kembali makan. Pikirnya Kay bakal berhenti, tapi tentu saja nggak.
Cowok itu malah mendorong kursinya mundur lagi, sampai kursi Rora ikut tergeser beberapa kali.
Ini orang sumpah ya, nyebelin banget!
"Lo mau apa sih?"
"Mau apa ya?" Kay bergumam sendiri. "Ah, mau sate, minta ya." Lalu tangan panjangnya langsung menyambar sate di piring Rora, dan makannya tepat di depan wajah gadis itu.
Makin kesel aja Rora liat kelakuannya.
"Berlebihan banget sih, Rora, liat tuh Kay!" seru Kael William yang dari tadi duduk di sebelah Kay.
Bukannya malu atau bantah, Kay malah terkekeh pelan. Seolah-olah sengaja mengakui kalau benar semua tuduhan itu.
"Kay naksir Rora nih, Cie! Cie!" seru Devandra heboh, sambil mencolek-colek lengan Digo yang duduk di sebelahnya.
Digo merinding kesal. "Gua hajar juga lo nanti " ia langsung menarik paksa lengannya dari pegangan Devandra.
Keributan di meja Kay itu langsung menarik perhatian seisi kantin. Wajah Rora seketika memerah padam. Bukan karena tersanjung atau senang—tapi malu parah! Semua orang menatapnya cuma gara-gara cowok bernama Kay yang seenaknya menyambar sate miliknya.
Paling nggak bisa dimengerti: dia ambil lima tusuk sekaligus! Sementara dia sendiri cuma makan lontongnya doang?
"Udah Rora, biarin aja!" bisik Sheila di sampingnya. Membuat gadis itu berusaha mengabaikan sosok Kay yang duduk di belakangnya.
Rora langsung menghabiskan makanannya secepat mungkin. Biarpun cuma makan lontong pakai sambal kacang, yang penting cepat selesai. Daripada berlama-lama di sana dan makin emosi sendiri.
Di sisi lain, Danu datang membawa nampan penuh pesanan. Kedatangannya langsung disambut riuh oleh teman-teman Kay.
dan Devandra sama-sama kompak memukul meja seolah sedang memainkan alat musik.
"Danu pahlawan banget!" seru Devandra sambil langsung menyantap nasi rames pesanannya.
"Makasih banyak, ya!" ucap Kael William sambil mengangguk tanda terima kasih. Hanya dia satu-satunya yang masih ingat cara berterima kasih dengan kata-kata. Jangan harap bisa dengar ucapan seperti itu dari mulut kelima orang lainnya.
"Total berapa semuanya?"
"Seratus dua puluh delapan ribu," jawab Danu.
Mendengar itu, Mahendra langsung merogoh saku, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu, lalu menyodorkannya kepada Danu.
"Simpan saja kembaliannya." Begitulah cara Mahendra mengucapkan terima kasih. Bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan uang tunai.
Ya, mungkin terlihat lebih menguntungkan begitu, tapi kan nggak semua hal di dunia ini bisa dibayar pakai uang, kan?
Tapi mau bagaimana lagi, begini memang sudah jadi kebiasaan lama di antara mereka berenam. Semuanya berasal dari keluarga yang sangat berada, jadi cara pandang mereka pun sering kali berbeda dari orang kebanyakan.
Setelah meletakkan semua pesanan di atas meja, Danu segera beranjak pergi. Dia nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk segera kabur dan akhirnya bisa beli minuman dingin yang dia inginkan sejak tadi.
Kay mengambil pesanannya: satu porsi sate ayam dan satu kotak susu vanila.
Sejak kapan sih Kay suka minum susu?
"Gue duluan ya!"
"Hah? Cepet banget lo Rora, tungguin dong!" seru Rami yang masih sibuk makan bakso yang baru diambilnya, masih panas mengepul.
Itu sih Rora makan secepat kilat, nggak dikunyah dulu apa gimana?
Kay menoleh mendengar suara itu. Melihat Rora hendak berdiri—entah mau pindah tempat atau langsung kembali ke kelas—dia langsung menahan kedua bahu gadis itu, memaksanya duduk kembali di tempatnya.
"Eh?" Rora terkejut saat merasakan tangan kokoh itu menempel kuat di bahunya. Belum habis kagetnya, tiba-tiba ada piring berisi sate padang diletakkan tepat di hadapannya.
"Makan!"
Rora langsung menoleh ke arah orang yang baru saja menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
Siapa lagi kalau bukan Kay?
Rora menyipitkan mata curiga. "Nggak, apaan nih maksud lo?"
Bukannya menjawab, Kay malah menyodorkan sekotak susu vanila dingin ke arahnya.
Kebetulan banget itu minuman kesukaan Rora, tapi kalau yang ngasihnya Kay... ah, nggak usah deh!
"Nggak usah sok baik, lo bikin gue dilihatin semua orang tau nggak?" cegat Rora sambil melirik sekeliling.
Bahkan Rami sempat berhenti makan, terbelalak kaget melihat Kay duduk di meja mereka. Berbeda dengan Sheila, yang menyambut kedatangan ketua OSIS itu dengan tatapan dingin tanpa senyum sedikit pun.
"Dia nggak mau, jangan dipaksa!" suara Sheila terdengar tegas.
Seketika tatapan hangat yang tadi ada di mata Kay hilang, berubah tajam dan dingin saat menatap Sheila. "Nggak ada urusannya sama lo!" desisnya kasar.
Melihat itu, Rora langsung mengambil susu itu. "Udah-udah! Nggak usah ribut terus!" Dia berusaha melerai keduanya.
Aneh banget! Tiap kali mereka bertemu, pasti selalu berdebat atau bertengkar.
Mendengar suara lembut itu, Kay menoleh kembali ke arah Rora, lalu tersenyum puas melihat susu itu sudah berpindah tangan ke milik Rora. "Habisin ya!"
"Iya, iya!" Tak lama kemudian Rora mulai menyantap makanan yang diberikan Kay kepadanya.
Entah kenapa, pemandangan itu sukses membuat Kay tersenyum tanpa sadar. Rasanya aneh sendiri—bisa merasa senang cuma karena Rora menuruti perkataannya.
Dia menopang pipinya dengan satu tangan, menatap lekat-lekat sisi wajah gadis itu. "Anak baik," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Kalau posisinya diisi gadis lain, pasti sudah berteriak histeris karena dibilang begitu. Tapi Rora beda—dia nggak mau berpikir yang macam-macam. Lagian, hitung-hitung ganti rugi kan? Tadi dia sudah kehilangan sate miliknya kan?
"Udah gue makan, sekarang balik duduk di tempat lo lagi sana!"
Dan anehnya, saat itu juga Kay berdiri tanpa bantahan sedikit pun.
Ini luar biasa! Sebelumnya belum pernah ada satu orang pun yang bisa menyuruh-nyuruh Kay dan dia menurut begitu saja.
Namun sebelum kembali ke kursi di belakang Rora, Kay sempat mengusap lembut puncak kepala gadis itu sejenak. Mungkin dia sendiri tak sadar, tapi sentuhan kecil itu sukses membuat tubuh Rora kaku dan gemetar seketika! Semua siswa yang melihat kejadian itu pun terbelalak takjub.
Saat itu juga Rora sadar sepenuhnya: menjauhi dan menjauh dari cowok bernama Kay adalah hal pertama yang harus dia lakukan kalau ingin hidup tenang dan damai.
Tapi... apakah dia sudah terlambat?