Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melancarkan Aksi
Suara ketukan jemari yang beradu cepat dengan keyboard bergema di ruangan mewah yang sunyi. Jia Ren menatap layar monitornya dengan napas yang memburu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat satu per satu layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV berubah menjadi hitam pekat.
"Sial, kenapa tiba-tiba mati?!" umpat Jia Ren, suaranya meninggi akibat panik yang menjalar. Ia mencoba melakukan restart sistem secara paksa, namun layar tetap bergeming.
Di saat yang bersamaan, rencana yang telah disusun matang-matang mulai berjalan. Di ujung koridor, Jia Li melangkah dengan tenang.
Tangannya kokoh menopang sebuah nampan perak berisi deretan gelas kopi hangat yang aromanya menguar kuat.
Pandangannya lurus mengarah pada satu tujuan utama: lantai 50, jantung pertahanan data tempat server utama Jia Group beroperasi.
Ting!
Pintu lift berdenting terbuka. Jia Li melangkah keluar dengan postur tubuh tegap dan penuh percaya diri.
Beberapa karyawan yang lalu lalang sempat menoleh, dahi mereka berkerut heran melihat sosok asing membawa nampan di lantai eksekutif tersebut.
Namun, tumpukan berkas dan beban pekerjaan yang menggunung segera mengalihkan fokus mereka. Semua orang berasumsi sama—orang itu hanyalah seorang OB yang diperintahkan mengantar pesanan.
Tok! Tok! Tok!
Jia Li mengetuk pintu kayu mahoni yang kokoh sebelum mendorongnya perlahan. Ruangan di balik pintu itu sangat luas dan mewah, dipenuhi puluhan layar monitor raksasa yang menampilkan visual arus data.
Di sana, 15 orang pegawai IT andalan sedang fokus di depan komputer mereka, dipimpin oleh seorang pria muda berpostur tinggi yang menjabat sebagai kepala tim.
Begitu pintu terbuka, semua mata di dalam ruangan langsung tertuju pada Jia Li. Suasana mendadak hening.
"Ada apa? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruangan ini?" tanya pria muda itu dengan tatapan menilai yang tajam dan mengintimidasi.
Jia Li segera merundukkan kepalanya, menampilkan gestur sopan yang tampak meyakinkan. "Permisi, Pak. Maaf mengganggu waktunya. Saya diperintahkan untuk mengantarkan minuman hangat ini untuk semua orang yang sedang bertugas di ruangan ini."
Mendengar hal itu, kerutan di dahi sang kepala tim perlahan mengendur. Ia teringat memang sempat menghubungi bagian dapur untuk memesan segelas kopi hitam beberapa menit yang lalu. "Tapi seingat ku, aku hanya memesan satu gelas untuk diriku sendiri. Mengapa kau membawa sebanyak ini?" tanya Kepala Ming, menyelidiki.
Jia Li tersenyum tipis, tetap menunduk. "Saya hanya berinisiatif, Pak. Saya pikir beberapa gelas kopi tambahan akan sangat membantu menyegarkan pikiran rekan-rekan yang lain."
"Begitu? Ya sudah, letakkan di sini," sahut Kepala Ming yang mulai kehilangan kecurigaannya.
"Baik, Pak," ujar Jia Li seraya melangkah maju. Dengan gerakan luwes, ia meletakkan segelas kopi hitam pekat di atas meja kerja Kepala Ming.
Jia Li kemudian mulai berputar, mengelilingi meja-meja kerja pegawai lainnya untuk membagikan gelas-gelas berikutnya.
Atmosfer ruangan kembali sibuk. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menyadari bahwa di balik permukaan bawah nampan yang dipegangnya, sebuah flashdisk hitam berukuran kecil terselip erat di antara sela-sela jarinya.
Tepat saat ia berada di titik buta dari jangkauan pandangan para pegawai, Jia Li merenggangkan jarinya secara perlahan. Flashdisk itu terlepas, meluncur bebas menuju lantai.
Namun, benda itu tidak pernah jatuh menghantam ubin.
Alih-alih terdengar bunyi dentingan logam, flashdisk tersebut justru mendadak berhenti di udara, melayang beberapa sentimeter sebelum menyentuh lantai.
Di sela-sela jemari Jia Li, sebuah pendaran energi angin tipis berwarna keperakan berputar dengan halus. Menggunakan kontrol elemen angin, Jia Li mengarahkan aliran udara tak kasatmata di ruangan itu.
Flashdisk tersebut bergerak maju secara horizontal, terbang merayap di bawah kolong meja, melewati sela-sela kaki para pegawai yang sibuk, menuju port USB komputer server utama yang berada di sudut ruangan.
Sampai---- Jleb!
Flashdisk itu menancap sempurna pada port USB sebuah komputer induk. Begitu terkoneksi, alat itu seketika berkedip sekali lalu visualnya menghilang.
Jia Li yang menyadari hal itu lewat denyut energinya langsung tersenyum puas. Di sekelilingnya, semua orang masih terpaku pada pekerjaan mereka masing-masing.
Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa sebuah serangan digital mematikan baru saja menyusup ke dalam jantung pertahanan sistem mereka.
Jia Li membungkuk hormat dengan sangat sopan kepada Kepala Tim Ming sebelum melangkah keluar ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyum penuh kemenangan langsung merekah di wajahnya.
"Tujuh menit," gumam Jia Li lirih, menghitung mundur waktu yang tersisa sebelum kekacauan dimulai.
Ia segera bergegas memotong koridor, menuju toilet terdekat untuk mengganti pakaian samarannya.
Tepat pada saat ia telah mengganti pakaian nya, sebuah suara mekanis yang dingin dan familiar menggema, langsung bergema di dalam kepalanya.
Ding!
[Misi Kedua berhasil diselesaikan... Proses penarikan seluruh dana perusahaan sedang berjalan dan dialihkan langsung ke dalam rekening sistem,] lapor suara itu datar namun terdengar begitu indah di telinga Jia Li.
[Hadiah diberikan—satu peta digital terenkripsi menuju lokasi pembuatan bunker pertama telah tersedia. Apakah Nona ingin melihatnya sekarang?] tanya sistem kemudian.
"Nanti saja, simpan dulu," jawab Jia Li dalam hati, mempercepat gerakannya memakai pakaian kerjanya yang semula.
Bersamaan dengan selesainya transmisi data tersebut, layar-layar monitor di ruang pengawas CCTV perusahaan Jia Group yang sempat mati mendadak, kini serentak menyala kembali.
Di dalam ruangan pengawas yang mencekam itu, Jia Ren berdiri dengan napas memburu. Wajahnya yang tadinya merah padam oleh amarah—bahkan sempat membuat semua staf pengawas di ruangan itu gemetar ketakutan—seketika terdiam.
Jia Ren menoleh cepat ke arah layar utama. Matanya menyipit tajam penuh selidik. Di atas layar, rekaman langsung menunjukkan sudut kubikel kerja yang tenang.
Di sana, ia melihat Jia Li sudah duduk manis di tempatnya. Gadis itu tampak sibuk, jemarinya bergerak lincah di atas papan keyboard, berpura-pura fokus mengerjakan kembali tugas yang sempat ditinggalkannya.
Di tempat duduknya, Jia Li menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
‘Tepat waktu,’ gumam hati Jia Li, menyembunyikan seringai kemenangan yang nyaris tumpah.