NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Lebih Tinggi Sekepala

Setahun kemudian, Laras hampir tidak mengenali pemain bernomor tujuh yang berdiri di tengah lapangan.

"Itu Rayhan?" tanyanya.

Nadia menurunkan spanduk dukungan. "Kalau bukan, berarti kita salah datang."

Rayhan mengenakan seragam basket putih-biru. Tingginya sudah mencapai seratus delapan puluh lima sentimeter, bahunya lebih lebar, dan rambutnya dipotong rapi. Kacamata hanya dipakai sebelum pertandingan lalu disimpan. Bocah kurus yang dulu tenggelam dalam kaus bekas Laras sudah hilang.

Laras berdiri di tepi tribun. "Ray!"

Rayhan menoleh seketika. Di tengah suara ratusan penonton, ia menemukan Laras seperti sudah hafal arah suaranya.

Senyumnya muncul singkat.

Pertandingan final itu mempertemukan SMA favorit Rayhan dengan SMA 12 Bekasi. Laras seharusnya mendukung almamater, tetapi Mbah Surti menitipkan satu tas makanan dan ancaman agar cucunya tidak pulang kelaparan.

Bima memegang spanduk SMA 12. "Kalau Rayhan bikin sekolah kita kalah, gue nggak traktir."

"Dia juga nggak butuh traktiran lo," kata Nadia.

Di lapangan, Rayhan bermain tanpa ragu. Setahun sebelumnya ia sempat sakit cukup lama dan kehilangan stamina. Setelah pulih, ia berlatih setiap pagi, bukan hanya untuk tim. Ia ingin tubuhnya berhenti terlihat kecil di sebelah Laras.

Masa sakit itu pernah membuatnya pulang dengan berat badan turun dan kulit pucat. Laras memaksanya menghabiskan bubur, mengantar kontrol, lalu mengejek lengan kurusnya. Rayhan tidak marah. Setelah dokter mengizinkan olahraga, ia mulai berlari saat subuh, latihan beban ringan di sekolah, dan mengikuti tim basket.

Koh Kelvin yang pertama melihat kegigihannya. Ia membantu mencatat waktu lari dan memastikan Rayhan tidak memaksa saat demam. Persahabatan mereka tumbuh dari saling mengejek nilai dan latihan. Kelvin mengenal nama Laras jauh sebelum bertemu, karena setiap kemajuan Rayhan selalu diukur dengan satu kalimat: kira-kira Laras bakal sadar nggak?

Hari ini jawabannya terlihat pada wajah Laras yang tak berhenti memandang lapangan.

Skor berganti cepat. Galih yang pulang libur datang terlambat dan duduk di sisi Laras.

Pada kuarter kedua, Rayhan dijatuhkan lawan. Punggungnya menghantam lantai. Laras berdiri begitu cepat sampai spanduk di pangkuannya jatuh.

"Pelanggaran! Wasitnya lihat nggak, sih?"

Rayhan duduk, menarik napas, lalu bangkit tanpa bantuan. Ia mendengar teriakan Laras dan menekan rasa sakit di bahu. Pada serangan berikutnya, ia mengoper alih-alih memaksakan tembakan. Timnya mencetak angka.

"Sekarang mainnya lebih dewasa," kata Galih.

"Dulu juga pintar."

"Gue nggak bilang dulu bodoh."

"Nada lo bilang begitu."

Galih meliriknya. "Lo defensif banget."

Laras baru sadar ia membela Rayhan bahkan sebelum ada serangan.

"Mana Rayhan?"

Laras menunjuk pemain tertinggi di sisi kanan.

Galih diam. "Cepat juga tumbuhnya."

"Kasih pupuk Mbah Surti."

Kuarter terakhir menyisakan dua puluh detik. Skor imbang. Rayhan menerima bola, dijaga dua lawan. Pelatih berteriak meminta operan, tetapi jalur tertutup.

Laras berdiri tanpa sadar.

"Ray, kiri!"

Rayhan bergerak ke kiri, mengecoh satu pemain, lalu melepaskan tembakan tepat sebelum buzzer.

Bola menyentuh papan, berputar di ring, dan masuk.

Tribun meledak.

Teman-teman satu tim menubruk Rayhan. Ia hampir jatuh, tertawa, lalu mencari tribun. Matanya langsung bertemu Laras yang masih mengangkat kedua tangan.

Rayhan menunjuknya.

Bima mengeluh karena almamater kalah. Nadia memeluknya sambil tertawa. Galih tidak ikut bersorak; ia memperhatikan arah telunjuk Rayhan.

Seusai penyerahan medali, Rayhan keluar dari lorong pemain. Rambutnya basah oleh keringat, napasnya belum teratur. Laras maju dan mengangkat tangan untuk mengacak rambut seperti biasa.

Tangannya tidak sampai nyaman.

Rayhan menunduk sedikit. "Mau apa?"

"Dulu kepala lo di sini." Laras menunjukkan bahunya.

"Sekarang kamu yang pendek."

"Kurang ajar."

Rayhan mengambil tas makanan dari tangannya. Jari mereka bersentuhan. Laras mendadak sadar ia harus mendongak untuk melihat wajah anak yang selalu dianggap lebih kecil.

"Tadi keren," katanya.

Rayhan tersenyum, kali ini lebih lebar. "Karena kamu datang."

"Kalau gue nggak datang, lo sengaja kalah?"

"Nggak. Tapi menangnya beda."

Koh Kelvin muncul sambil merangkul bahu Rayhan. Ia teman satu sekolah, setahun lebih tua, dan termasuk sedikit orang yang bisa mengimbangi ketajaman mulut Rayhan.

"Saya Kelvin Tan," katanya sambil mengulurkan tangan. "Panggil Koh Kelvin kalau mau sopan, Kel kalau mau minta traktir."

"Mbak Laras," balas Laras, menerima jabatan tangannya.

"Saya tahu. Kunci inggris, rambut pendek, suka marah kalau Ray telat makan."

Rayhan menarik bahu Kelvin agar menjauh. "Jangan buka semua."

"Belum semua. Foto juga belum saya bahas."

Rayhan langsung menatap tajam. Kelvin tertawa dan mengalihkan topik sebelum Laras menangkap maksudnya.

"Mbak Laras, akhirnya ketemu juga. Ray sering cerita."

Rayhan menyikutnya. "Aku nggak sering cerita."

"Iya, cuma tiap hari."

Seorang gadis di samping Kelvin tertawa. "Ini pacar kamu, Ray?"

Laras menjawab lebih cepat. "Bukan."

"Tapi mesra banget. Dari lapangan dia nyarinya Mbak terus."

Koh Kelvin memandang cara Rayhan memegang tas Laras dan berdiri setengah langkah di depannya. "Kalian nggak kayak kakak-adik, sih. Lebih kayak orang pacaran."

Udara di depan gedung olahraga mendadak terasa diam.

Laras tertawa kaku. "Dia adik gue. Dari kecil nempel."

Rayhan tidak tertawa.

"Aku bukan adiknya," katanya.

"Maksud Ray, nggak sedarah," Laras buru-buru menjelaskan.

"Itu juga," jawab Rayhan.

Galih datang berdiri di samping Laras. "Dia masih anak SMA. Jangan bikin candaan aneh."

Koh Kelvin mengangkat kedua tangan. "Santai, Kak. Cuma bercanda."

Namun tatapan Rayhan menggelap saat Galih menyebutnya anak SMA. Ia menyerahkan tas makanan kepada Kelvin, lalu mengambil handuk dari bahu.

"Aku ganti baju dulu. Tunggu, Laras."

Bukan Bang. Bukan Mbak.

Koh Kelvin bersiul pelan setelah Rayhan pergi. "Galak juga kalau soal Mbak."

"Dia memang begitu," kata Laras.

"Ke orang lain nggak."

Nadia menahan senyum. Bima pura-pura sibuk membaca spanduk. Galih berdiri dengan rahang tegang.

Laras memandangi pintu ruang ganti. Kalimat Kelvin menempel seperti asap. Ia mengingat tangan Rayhan menahan pinggangnya di angkot, foto-foto pesan yang selalu dikirim tiap malam, dan caranya tidak pernah lagi mau disebut adik.

Saat Rayhan keluar dengan kaus hitam, beberapa siswi meminta foto. Ia melayani dengan sopan, tetapi matanya terus mencari Laras. Setelah selesai, ia langsung berdiri di sisinya.

"Pulang bareng?"

"Kita semua pulang bareng."

"Maksudku, kamu naik sama aku."

"Naik apa? Lo belum punya SIM."

"Bus tim. Bisa turun dekat gang."

Galih menawarkan mobil travel yang ia sewa bersama teman. Bima dan Nadia mulai berdebat pilihan mana lebih cepat. Koh Kelvin melihat keributan itu dengan wajah terhibur.

Akhirnya mereka makan di warung dekat gedung. Rayhan duduk di sebelah Laras sebelum Galih sempat memilih tempat. Kakinya yang panjang memenuhi ruang bawah meja.

Koh Kelvin memperkenalkan pacarnya dan meminta maaf karena candaan tadi membuat suasana kaku. Laras mengangguk, tetapi pacar Kelvin justru berkata, "Aku serius, sih. Cara Ray lihat Mbak beda."

"Dia dari kecil ikut gue terus," jawab Laras.

"Kebiasaan bisa berubah jadi perasaan."

Rayhan menyembunyikan senyum di balik gelas. Galih menaruh sendok agak keras.

Bima memecah ketegangan dengan mengeluh soal kekalahan SMA 12, lalu menantang Rayhan pertandingan ulang di lapangan gang. Rayhan menerima. Nadia mengatakan dua orang itu hanya mencari alasan supaya Laras jadi wasit.

Untuk beberapa menit semua tertawa lagi, tetapi Laras tidak bisa menghapus kalimat tadi.

Laras berkali-kali teringat bahwa lutut itu dulu tidak sampai ke lantai ketika Rayhan pertama makan di rumahnya.

"Kenapa lihat-lihat?" tanya Rayhan.

"Nggak. Aneh aja lo gede banget."

"Aku memang tumbuh."

"Iya, kelihatan."

"Kamu baru sadar?"

Pertanyaan itu terdengar seperti bukan soal tinggi badan.

Laras meneguk es teh. Di seberang, Nadia memperhatikan mereka lalu menukar pandang dengan Bima.

Saat bubar, Rayhan membungkuk agar Laras bisa merapikan kerah kausnya yang terlipat. Gerakan itu terlalu akrab. Koh Kelvin mengangkat alis kepada pacarnya.

"Tuh, kan," bisiknya, tetapi cukup jelas.

Laras menarik tangannya. "Udah."

Rayhan berdiri tegak, kembali lebih tinggi satu kepala. "Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Sejak Kelvin ngomong, kamu aneh."

"Dia asal bicara."

"Kalau asal, kenapa kamu kepikiran?"

Laras tidak menjawab. Galih memanggil dari parkiran. Ia segera berjalan ke sana.

Rayhan tetap di depan gedung, medali masih tergantung di leher. Kemenangan terbesar hari itu seharusnya terjadi di lapangan.

Namun baginya, melihat Laras akhirnya terusik oleh kemungkinan mereka bukan kakak-adik terasa jauh lebih penting.

Laras menoleh sekali dari parkiran. Rayhan sedang menatapnya tanpa senyum.

Di perjalanan pulang, Galih duduk di depan dan Laras di belakang bersama Nadia. Nadia menunggu sampai kendaraan keluar parkiran sebelum bertanya.

"Lo benar-benar nggak pernah sadar?"

"Sadar apa?"

"Rayhan suka lo."

"Dia masih enam belas."

"Gue nggak bilang lo harus balas. Gue tanya lo sadar atau nggak."

Laras menatap jalan melalui jendela. Bayangan Rayhan saat memasukkan tembakan, saat menunduk agar ia bisa menyentuh rambutnya, dan saat menolak kata adik berputar tanpa izin.

"Nggak mungkin," katanya, lebih pelan.

Nadia tidak membantah. "Kalau memang nggak mungkin, kenapa suara lo kayak orang takut?"

Tatapan itu bukan milik bocah yang minta diceritakan dongeng sebelum tidur.

Dan untuk pertama kalinya, Laras tidak bisa memaksakan dirinya menganggap semua orang salah.

Kalimat Kelvin tadi telah membuka celah di dalam kepala Laras. Sekarang setiap kenangan lama masuk kembali melalui celah itu dengan arti yang sama sekali berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!