Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Mahkota
Viktor
Aku bangkit dan mengulurkan tangan pada Ekaterina. Dia ragu beberapa detik sebelum menyambutnya. Begitu berdiri, dia berjalan di depanku dalam diam.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu menuju area bermain anak untuk menjemput Lis.
Dia berlari ke arah kami, tapi berhenti sebelum sampai. Napasnya tersengal. Jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Ekaterina berjongkok di depannya, merapikan rambut yang berantakan karena keringat.
"Kau kelelahan sekali, Lis."
Aku juga menyadarinya. Napas yang pendek. Wajah yang memerah. Meski begitu, dia tetap tersenyum saat melihatku.
Kuangkat Lis ke pangkuanku dan berjalan bersamanya menuju tempat parkir. Dia langsung menyandarkan kepala di bahuku.
"Aku capek..." gumamnya.
Aku tertawa pelan.
Kubuka kunci mobil dan membuka pintu agar Ekaterina masuk lebih dulu.
"Kau baru boleh istirahat setelah dapat mahkotamu."
Lisbela tersenyum lelah.
"Aku bahagia sekali."
Kututup pintu lalu masuk ke mobil setelahnya. Sepanjang perjalanan ke mal terdekat, Lis diam saja di kursi belakang, memeluk tasnya sendiri. Berbeda dari biasanya.
Sesekali aku melirik lewat kaca spion. Dia berusaha membuka mata, tapi jelas sedang bertarung melawan kantuk dan lelah.
Ekaterina juga menyadarinya.
"Mungkin lebih baik ditunda ke lain hari..."
"Jangan harap." Aku memotong. "Janji tetap janji."
Lisbela melempar senyum kecil mendengarnya.
Aku memarkir mobil di mal dan turun lebih dulu. Ketika kubuka pintu belakang, dia sudah mengulurkan lengan ke arahku tanpa berkata apa-apa.
Kuangkat dia lagi ke pangkuan.
Kami masuk ke mal perlahan. Cahaya dari etalase langsung menarik perhatiannya. Lelahnya masih ada, tapi matanya berbinar saat melihat toko anak yang penuh aksesori.
"Mahkotanya..." ucapnya lirih sambil menunjuk.
Aku berjalan langsung ke toko itu dengan dia di pangkuan. Ekaterina mengikuti di sisi kami dalam diam.
Begitu masuk, Lisbela mulai memandangi segalanya dengan takjub. Mahkota berkilau, tiara, gaun.
"Pilih saja, tuan putri."
Dia mengamati satu per satu dengan konsentrasi penuh sampai menunjuk sebuah mahkota perak bertabur batu ungu muda.
"Yang ini."
Pelayan toko menyerahkan mahkota itu dan Lis langsung memasangnya di kepala, dengan posisi miring.
Aku tak bisa menahan tawa.
"Sempurna."
Lisbela tersenyum dengan cara yang selalu meremas sesuatu di dalam dada. Dan untuk beberapa detik, meski lelah, dia tampak benar-benar bahagia.
Lisbela melihat mahkota lain di rak. Kecil, keemasan, dengan batu bening yang memantulkan cahaya toko secara nyaris berlebihan.
Dia terpaku di pangkuanku sesaat.
"Yang itu..."
Suaranya keluar pelan, tapi penuh keyakinan.
Aku menoleh pada pelayan.
"Yang itu juga dia ambil."
Mata Lisbela langsung berbinar, seakan itu lebih penting dari apa pun.
"Sungguh?"
"Sungguh."
"Terima kasih, Om Viktor..." ucap Lis sambil tersenyum.
Dia tersenyum dan meremas lebih erat mahkota yang sudah ada di tangannya.
Aku membayar kedua mahkota itu. Lisbela memegang keduanya seakan itu harta karun yang tak boleh disentuh siapa pun. Ketika kami kembali berjalan, tubuhnya sepenuhnya melemas di dadaku, seolah akhirnya dia benar-benar mengizinkan dirinya beristirahat.
Ekaterina menyaksikan semuanya dalam diam di sisi kami. Napasnya masih pendek, tapi kini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Beban yang lebih berat.
Lisbela memalingkan wajah perlahan.
"Kathy..."
Ekaterina langsung mendekat.
"Ada apa, Lis?"
Anak itu menekan kedua mahkota ke dadanya.
"Aku tak mau kembali ke rumah sakit."
Keheningan langsung jatuh.
Aku merasakan langkah Ekaterina terhenti setengah detik.
Matanya berkaca-kaca terlalu cepat, seakan sudah lama dia menahan air mata itu.
"Kau cuma kelelahan," ucapnya, berusaha menjaga suaranya tetap tegar. "Setelah sampai di rumah, kau akan membaik."
Lis terdiam, mencerna. Lalu mengangguk pelan dan menyandarkan wajahnya lagi di bahuku.
"Iya..."
Kubetulkan posisinya di pangkuanku.
"Kita pulang ke rumah."
Ekaterina menyeka sudut matanya diam-diam lalu mengikuti tanpa suara.
Kami keluar dari toko, menyeberangi mal tanpa terburu, dan aku berjalan ke tempat parkir dengan Lisbela menempel padaku, kedua mahkota terkepal di dadanya seakan itu perisai.
Aku menyetir lebih cepat, tapi tanpa mengalihkan perhatian dari jalan sedetik pun. Tangan mantap di setir, pandangan terus berganti antara jalan dan kaca spion.
Di kursi belakang, Ekaterina memangku Lisbela. Kepala anak itu bersandar di dadanya, kedua tangannya masih memeluk mahkota seakan tak mau melepasnya bahkan dalam tidur. Napasnya kini lambat, berat oleh kantuk.
Akhirnya dia tertidur.
Keheningan di dalam mobil terasa lebih berat dari suara apa pun.
Aku melirik kaca spion lagi dan melihat Ekaterina menatap Lis. Tatapannya tak tenang. Tegang. Terlalu penuh.
"Dia sakit apa?" tanyaku tanpa sepenuhnya mengalihkan mata dari jalan.
Beberapa detik dia tak menjawab. Dia hanya meremas pelan rambut Lis di antara jarinya, seolah berusaha berpegang pada sesuatu yang nyata.
"Lis punya penyakit jantung..." ucapnya lirih.
Aku menghela napas pendek.
Keheningan kembali beberapa detik. Suaranya melemah saat akhirnya menjawab.
"Aku takut dia tak sanggup bertahan. Hari ini pertama kalinya dia kelelahan sejak operasi."
Tanganku mencengkeram setir.
Di belakang, Lis bergerak sedikit, menggumamkan sesuatu yang tak jelas dalam tidurnya. Ekaterina membetulkan posisinya di pangkuan dengan hati-hati, seolah gerakan sekasar apa pun bisa memecahkan sesuatu.
"Napasnya sudah lebih baik, lebih tenang," ucapku setelah beberapa saat.
Tapi bahkan bagiku sendiri, kalimat itu terdengar lebih seperti sesuatu yang ingin kupercayai ketimbang sesuatu yang kuyakini.
Ekaterina menelan ludah.
"Hari ini dia lebih kelelahan dari biasanya."
Aku melirik cepat lewat kaca spion sekali lagi. Lis tertidur, terlalu mungil untuk menanggung semua ini.
"Aku melihatnya."
Aku menarik napas dalam lalu kembali fokus ke jalan.
"Kita akan sampai di rumah. Dan kalau perlu, kubawa kalian ke rumah sakit..."
Ekaterina tak menjawab. Dia cuma mendekap Lis lebih erat, seakan berusaha menghalangi dunia membawa anak itu pergi.
"Tak perlu membawa kami ke rumah sakit. Dokter Lis akan memeriksanya di rumah," ucap Ekaterina.
Lis masih tertidur di pangkuannya, mungil, terlalu diam.
"Maksudmu di rumah?" tanyaku pelan.
"Ibumu mengatur pemeriksaan di rumah untuk Lisbela."
Aku mengembuskan napas lewat hidung, pendek, tanpa humor. Dan aku membatin...
Kalau harus bergantung pada ibuku, aku celaka.