“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ingatan itu terasa seperti duri yang terus menusuk setiap kali Celin mencoba memejamkan mata.
Komitmennya untuk memutus hubungan dengan ayahnya ternyata hanya sekadar kata-kata di atas kertas. Realitanya, darah jauh lebih kental daripada rasa benci.
Setiap bulan, setelah menerima gaji kecil dari hasil keringatnya bekerja paruh waktu di cafe Kirei, Celin selalu menyisihkan sebagian besar uangnya.
Ia tidak menggunakannya untuk membeli pakaian bagus atau perawatan wajah, ia menggunakannya untuk menyambung nyawa pria yang telah menjualnya itu.
Celin teringat pertemuan terakhirnya dengan sang ayah di sebuah gang gelap, tak jauh dari sekolah, beberapa hari sebelum ia pindah ke rumah baru ini.
Ayahnya muncul dengan pakaian yang lebih lusuh, napasnya bau tembakau murah, dan matanya yang cekung tampak gelisah.
"Celin... Ayah belum makan dua hari. Uang kemarin habis buat bayar bunga hutang yang lama," rengek pria itu tanpa rasa malu, seolah lupa bahwa ia pernah mendaratkan tamparan keras di wajah putrinya.
Celin hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu hasil lembur di cafe sampai tengah malam dan meletakkannya di telapak tangan ayahnya yang gemetar.
"Ini yang terakhir, Yah. Celin sekarang tinggal sama Adrian. Celin nggak tahu apa Celin bisa kerja lagi atau nggak setelah ini," ucap Celin datar.
"Kamu kan menantu orang kaya sekarang, Celin! Minta sama suamimu, atau sama Adrian! Mereka punya gunung uang!"
Mendengar itu, hati Celin mencelos. Ayahnya tidak pernah berubah. Baginya, Celin hanyalah sebuah aset yang sukses ia investasikan ke keluarga Bagaskara.
Kini, Celin duduk di kamar bawah yang dingin, Celin merogoh tas sekolahnya. Ia mengambil amplop kecil berisi sisa uang gajinya bulan ini. Ia tahu, ayahnya pasti akan muncul lagi. Entah di depan gerbang sekolah atau mencari celah dimanapun.
Suara botol minuman keras kembali berdenting dari lantai atas. Celin menarik napas panjang. Ia harus tetap bekerja di cafe Kirei diam-diam, apa pun risikonya. Ia butuh uangnya sendiri. Ia butuh kemandiriannya agar ia tidak perlu mengemis pada Reja yang kejam.
Melihat Reja yang mabuk dan kehilangan kendali, Celin merasa seperti ditarik kembali ke masa yang kelam. Ia ingat malam-malam di mana ia harus menyeret tubuh ayahnya dari selokan atau pinggir jalan.
"Ayo pulang, Yah... malu dilihat orang," rintih Celin kecil saat itu.
Bukannya terima kasih, ayahnya justru mendaratkan tamparan keras di pipinya. "Diam lo! Anak kecil nggak usah sok tahu!"
Bahkan, ada satu kejadian yang tak pernah ia lupakan. Ayahnya yang mabuk berat pernah menabrak gerobak pedagang kaki lima dan memaki-maki pemiliknya.
Celin lah yang harus berlutut meminta maaf, namun ia justru mendapatkan tamparan dari orang asing yang marah itu sebagai pelampiasan atas ulah ayahnya. Saat itu, ayahnya hanya menonton dengan tawa bodoh khas orang mabuk.
Mengingat itu semua, Celin tiba-tiba tertawa kecil—sebuah tawa yang hambar dan dingin. Sebuah smirk menghiasi bibirnya yang masih sedikit perih akibat tamparan Reja.
"Dunia ini emang lucu," bisiknya pada kegelapan. "Gue keluar dari satu lubang neraka, cuma buat masuk ke neraka yang lebih mewah. Ayah atau Reja... mereka semua sama."
Rasa sakit mental itu sudah terlalu penuh, hingga ia butuh sesuatu untuk mengalihkannya. Celin meraih sebuah peniti tajam yang ia simpan di dalam kotak kecil di samping tempat tidur.
Ia menatap ujung peniti yang berkilau terkena sedikit cahaya dari celah pintu. Tanpa ekspresi, ia menekankan ujung peniti itu ke kulit lengannya.
Ia tidak berniat mengakhiri hidup—ia hanya ingin merasakan sensasi perih yang nyata, sesuatu yang bisa ia kendalikan sendiri di tengah hidupnya yang penuh kendali orang lain. Satu sayatan tipis terbentuk, mengeluarkan tetesan merah yang kecil.
"Sakit ini... cuma gue yang punya," gumamnya.
Rasa perih itu entah bagaimana justru menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Dengan darah yang masih sedikit merembes di lengannya, Celin memejamkan mata.
Ia membiarkan rasa lelah luar biasa mengambil alih kesadarannya. Di tengah dendam dan luka yang menganga, ia harus kembali menjadi Celin yang tak tersentuh di depan dunia dan di depan Reja saat di sekolah.
Keesokan paginya, matahari Senin masuk menembus jendela kamar bawah. Celin terbangun, matanya sembab namun sorot matanya lebih keras dari kemarin.
Ia segera menarik lengan bajunya ke bawah, menyembunyikan bekas luka semalam. Ia mendengar suara dari lantai atas. Reja sepertinya baru terbangun.
Celin segera beranjak untuk menyiapkan kopi, bukan karena ia peduli, tapi karena ia tahu hari ini adalah awal dari minggu kebebasan Reja yang liar sebelum pria itu masuk kantor. Ia harus bersiap untuk perang selanjutnya.
Celin sedang mengaduk kopi saat suara deru mesin mobil besar berhenti tepat di depan gerbang. Ia melirik melalui jendela besar di ruang tamu.
Terlihat sopir pribadi Adrian sedang menurunkan motor sport milik Reja dari atas mobil pengangkut. Rupanya, Adrian mengirimkan mainan kesayangan putranya itu agar Reja betah tinggal di rumah baru mereka.
Setelah Celin mengucapkan terima kasih, Celin kembali ke dalam. Ia menarik napas panjang, melihat ke lantai yang kini sudah bersih. Pecahan kaca semalam sudah ia bersihkan diam-diam, tak ingin Bi Ratna melihat jejak kekacauan itu nanti.
Ia melanjutkan aktivitasnya. Dengan cekatan, Celin menyeduh kopi hitam pekat dan menyiapkan sandwich isi telur dan kornet.
Aroma makanan itu mulai mengisi ruangan, menciptakan suasana yang seolah-olah normal, seolah-olah mereka adalah pasangan pengantin baru pada umumnya.
Tepat saat piring diletakkan di atas meja, Reja turun. Wajahnya bengkak karena pengaruh alkohol, dan matanya langsung tertuju pada motor sport yang terparkir gagah di depan melalui jendela.
"Makan dulu. Kopinya juga udah siap," ucap Celin datar, mencoba menjalankan perannya sebagai penjaga yang diamanahkan Adrian.
Reja berjalan mendekat, tapi bukan untuk makan. Ia menatap kopi itu dengan jijik, lalu beralih menatap Celin yang masih mengenakan kemeja lengan panjang untuk menutupi sayatan penitinya.
"Gue bilang jangan pernah berlagak jadi istri yang perhatian, kan?" desis Reja.
Tanpa peringatan, Reja meraih cangkir kopi yang masih mengepul panas itu. Bukannya meminumnya, ia justru menyiramkan cairan hitam itu tepat ke arah punggung tangan Celin.
"Aakh!" Celin terpekik, refleks menarik tangannya yang kini memerah dan terasa terbakar. Rasa panasnya menembus hingga ke saraf, membuat air matanya nyaris jatuh.
Tak berhenti di situ, Reja menyambar piring berisi sandwich yang dibuat Celin dengan susah payah, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah di sudut dapur dengan gerakan kasar.
"Gue nggak butuh makanan dari tangan kotor lo," ucap Reja sinis.
Darah Celin mendidih. Ia mengepalkan tangannya yang gemetar karena perih dan amarah. Ia ingin sekali menyambar sisa air panas di teko dan membalasnya ke wajah Reja yang sombong itu.
Bersambung...