NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu keluarga

Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti dan terparkir tepat di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria bertubuh jangkung serta berwajah tampan melangkah keluar. Jas hitamnya pun tertata rapi.

"Papa!" teriak Luna penuh kerinduan.

Pria yang dipanggil papa oleh Luna itu lantas berlari kecil, berjongkok, dan merengkuh tubuh mungil Luna ke dalam pelukannya dengan erat. Wajahnya yang tegang perlahan melunak, menyisakan pancaran kekhawatiran yang luar biasa disertai senyuman tipis penuh kelegaan di bibirnya.

Maya menghela napas lega melihat pemandangan itu. Dadanya tak lagi bergemuruh panik setelah memastikan Luna benar-benar sudah berada di tangan orang tuanya yang sah.

Sambil bergelayut di lengan ayahnya, Luna berceloteh ceria, menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Maya di taman hingga diajak berjalan bersama. Setelah selesai mendengarkan cerita putrinya, pria itu berdiri tegak. Langkah kakinya yang mantap membawa dirinya mendekat ke arah Maya.

"Mbak Maya?" tanya Adrian.

Kini, senyum tipis yang tadi sempat terhias di wajah tampan itu telah menguap tanpa bekas, berganti dengan raut wajah yang terkesan dingin dan kaku.

"Iya, tadi saya menemukan Luna di taman sendirian," jelas Maya pelan. Melihat kemewahan mobil serta pakaian necis yang dikenakan Adrian, Maya mendadak merasa kerdil. Ada sedikit rasa takut di benaknya, khawatir jika pria berpenampilan elite ini akan berprasangka buruk dan menganggapnya sebagai penculik.

Namun, alih-alih menuduh, Adrian justru merogoh saku jasnya. "Terima kasih, Mbak Maya, sudah menemukan Luna," ucap Adrian dengan nada datar, sembari menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tampak tebal ke hadapan Maya.

Maya menatap amplop itu dengan kening berkerut tebal. Dalam sekejap, ia menyadari bahwa pria di depannya ini berniat memberinya uang imbalan atas bantuan yang ia berikan.

"Ah, tidak usah, Pak. Saya cuma kebetulan saja bertemu dengan Luna," tolak Maya halus namun tegas. Ia menolak untuk dihargai dengan lembaran uang atas rasa kemanusiaan dan kasih sayangnya pada anak kecil.

"Kalau begitu, saya duluan, Pak," ucap Maya pamit.

Sebelum benar-benar pergi, Maya melangkah menghampiri Luna yang sedang memperhatikan mereka. Maya berjongkok di depan gadis kecil itu.

"Lain kali hati-hati ya, Cantik..." ucap Maya lembut sambil mengusap pelan rambut cokelat halus milik Luna.

"Siap, Tante Maya!" sahut Luna patuh dengan pose hormat yang menggemaskan.

Maya tersenyum manis, lalu bangkit berdiri. Ia memutar badannya dan melanjutkan langkah kaki yang sempat tertunda menuju pasar. Matahari pagi kini sudah mulai naik tinggi, memancarkan sinar terik yang perlahan membakar kulitnya.

Di belakang sana, Adrian berdiri mematung. Matanya yang tajam dan dingin terus menatap punggung Maya yang berangsur-angsur menjauh di telan jalanan. Ada sedikit keheranan di matanya, jarang sekali ada orang yang menolak amplop tebal begitu saja.

Setelah punggung wanita bersahaja itu tak lagi terlihat, Adrian berbalik, menuntun putri kesayangannya masuk ke dalam mobil, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.

Pukul sebelas siang. Maya baru saja memijakkan kaki di ambang pintu rumah. Kaus sederhana yang dikenakannya basah oleh keringat, napasnya masih menyisakan rasa lelah luar biasa setelah berjalan kaki di bawah terik matahari.

Namun, jangankan untuk mendudukkan diri sebentar atau sekadar meneguk segelas air dingin, celotehan Bu Rika sudah menyambutnya tanpa rasa iba.

"Keluyuran ke mana kamu, Maya?! Jam segini baru pulang!" interogasi Bu Rika dengan wajah berkerut ketus.

Maya tidak berniat menceritakan pertemuannya dengan Luna, apalagi adegan penawaran amplop uang tadi. Ia tahu betul, menceritakan hal itu hanya akan menjadi bahan cacian baru. Jadi, Maya memilih bungkam tak menyahut.

"Mana uang kembaliannya?!" tanya Bu Rika lagi, menadahkan tangannya dengan tidak sabaran.

Maya merogoh saku, menyerahkan beberapa lembar uang kertas sisa belanjaan beserta catatan kecil yang sudah ia rapikan.

"Cepat sana masak!" perintah Bu Rika tanpa memedulikan kondisi menantunya yang tampak pucat.

Maya melangkah kaku ke dapur. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia memasukkan bahan-bahan sayur dan lauk pauk ke dalam kulkas. Kepalanya kini mulai berdenyut hebat, pandangannya sesekali memburam karena kelelahan fisik dan mental yang menumpuk.

Maya membalikkan badan, menatap mertuanya yang masih berdiri memperhatikan dengan pandangan menuntut.

"Bu, Maya istirahat sebentar ya. Kepala Maya pusing..." pamit Maya pelan.

"Istirahat apaan?! Mansur sama Santi sebentar lagi mau makan siang!" bentak Bu Rika menolak mentah-mentah.

"Sebentar saja, Bu..." ucap Maya memohon, memegangi pelipisnya yang makin berdenyut sengit.

"Enggak! Kamu harus masak sekarang!" tegas Bu Rika tak mau dibantah.

Rasa muak yang selama ini ditahan Maya mendadak membuncah. Ditambah rasa pusing yang makin menyiksa, Maya tidak lagi sudi menjadi hamba yang penurut. Tanpa membalas sepatah kata pun, Maya memutar badan. Ia melangkah melintasi Bu Rika, menaiki anak tangga menuju lantai atas.

"Eh, Maya! Mau ke mana kamu?! Maya!" jerit Bu Rika tak percaya melihat membangkangnya menantu penurut itu.

Maya terus berjalan, mengabaikan teriakan mertuanya. Sampai di kamar, ia masuk, menutup pintu dengan rapat, lalu memutar kunci dari dalam.

Di luar, Bu Rika yang menyusul ke atas langsung menggedor pintu kamar dengan histeris. "Maya! Buka pintunya! Kamu sudah berani ya sama Ibu?! Buka!"

Suara gedoran dan jeritan histeris Bu Rika menggelegar di lantai dua, hingga membangunkan Santi dari kamar sebelah.

"Hoam... Ada apa sih, Bu, teriak-teriak?" tanya Santi yang keluar kamar sambil mengucek matanya, terganggu dari tidur siangnya.

Seketika, nada suara Bu Rika berubah drastis saat menoleh pada menantu kesayangannya itu. "Eh, Santi... Maaf ya, Nak, kamu jadi kebangun."

Bu Rika mengeluh dengan raut wajah gusar. "Ini gara-gara perempuan kampung itu! Nggak mau masak makan siang! Nanti kita makan apa? Ibu kan gak bisa masak!"

Santi menyunggingkan senyum tipis, berlagak bak pahlawan.

"Ngapain repot-repot, Bu? Nanti Santi pesankan makanan saja lewat aplikasi buat makan siang kita."

Mata Bu Rika seketika berbinar. "Aduh... menantu kesayangan Ibu memang paling pengertian! Beda jauh sama perempuan kampung itu, cuma bisa malas-malasan dan bikin darah tinggi!" sindir Bu Rika sengit, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar ke dalam kamar.

Di dalam kamar, Maya berbaring telentang di atas kasur. Ia mendengar dengan sangat jelas setiap perkataan dan sindiran pedas yang dilontarkan mertuanya.

Biasanya, kata-kata itu akan membuat dadanya sesak, memancing air mata menetes, dan membuatnya meratapi nasib malangnya. Tapi hari ini, tak ada satu tetes pun air mata yang keluar. Setelah mengetahui kebohongan besar Arya soal keuangan, rasa cintanya pada suaminya sendiri perlahan terkikis, berganti menjadi sebuah lubang hampa yang dingin.

Maya menatap langit-langit kamar yang putih polos. Pikirannya melayang jauh melintasi jarak ratusan kilometer.

"Mak sama Bapak apa kabar, ya? Sudah dua tahun aku tidak pulang..." gumam Maya lirih.

Orang tua Maya di desa tidak memiliki ponsel. Dulu, setiap kali Maya memendam rindu yang berat, Arya dengan sigap dan manis akan menemani serta mengantarnya pulang ke kampung. Namun, dua tahun belakangan ini, setiap kali Maya meminta diantar pulang untuk bertemu Pak Sumarna dan ibunya, Arya selalu punya seribu alasan. Dan baru belakangan ini Maya tahu alasan sebenarnya Bu Rika melarang Arya membawanya pulang karena dianggap membuang-buang uang.

Dada Maya berdesir hangat saat membayangkan senyum tulus orangtuanya. Setelah lama berkutat dengan pikiran dan rasa rindu yang membuncah, perlahan-lahan mata Maya terasa berat. Ia pun tertidur lelap dalam keheningan kamarnya yang terkunci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!