Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Kejar-Kejaran di Jalanan, Peluru, dan Hitung-Hitungan yang Salah
Sopir mematikan lampu mobil. Gelap total kecuali lampu dari mobil pengejar. Raka menembak lagi. Satu mobil di belakang oleng dan terhenti.
“Dua,” kata Aira pelan.
Raka mengangguk. “Pintu keluar berikutnya. Kita turun.”
“Reza?”
“Dia tahu.”
Mobil berbelok mendadak ke pintu keluar. Kecepatan masih tinggi. Ban berasap. Begitu masuk jalan sekunder yang lebih gelap, Raka membuka pintu. “Sekarang.”
Aira tidak ragu. Dia melompat keluar bersama Raka saat mobil masih bergerak pelan. Kaki menyentuh aspal. Nyeri menjalar dari rusuk ke seluruh dada, tapi dia lari. Raka menarik tangannya, membawa mereka masuk ke gang sempit di antara dua gedung tua.
Mobil Reza terus melaju di jalan utama, diikuti sisa pengejar. Aira bersandar ke tembok bata dengan napas pendek. “Kaki saya… masih bisa.”
Raka memeriksa sekeliling dengan pistol yang sudah siap menembak. “Luka kamu bertambah?”
“Tidak tahu. Nanti dicek. Sekarang lari.”
Mereka bergerak di antara bayangan. Suara sirene jauh terdengar. Mungkin polisi. Mungkin bukan. Raka tiba-tiba berhenti di balik kontainer sampah. Dia menekan tubuh Aira ke tembok, satu tangan di samping kepalanya, tubuhnya melindungi dari arah jalan.
“Ada yang ikut ke gang,” bisiknya.
Aira bisa merasakan setiap napas Raka di lehernya. Hangat. Cepat. Jarak mereka hampir tidak ada. “Berapa?”
“Dua. Mungkin tiga.”
“Saya bisa ambil kiri. Kamu kanan.”
“Kamu retak, Aira.”
“Retak bukan berarti tidak bisa bertarung.”
Langkah kaki mendekat. Aira sudah memegang pisau. Raka mengangkat pistol. Tiba-tiba suara tembakan dari arah lain. Bukan dari pengejar tapi dari atap. Satu pria jatuh di mulut gang. Kemudian yang kedua. Reza muncul dari bayangan dengan senjata masih mengepul, dua anak buah di belakangnya.
“Cepat,” katanya singkat. “Mobil ganti sudah siap di ujung.”
Aira mendorong dada Raka pelan agar ada jarak. “Terlalu dekat lagi.”
Raka tidak langsung mundur. Matanya menatap wajah Aira di gelap. “Kamu aman?”
“Aman. Tapi baju ini kotor. Nanti harus diganti. Biaya laundry—”
“Saya bayar,” potong Raka. Suaranya serak. “Selalu.”
Mereka berlari lagi menyusul Reza. Di ujung gang, mobil gelap menunggu. Aira naik lebih dulu. Raka menyusul, lalu Reza. Mobil melaju tanpa lampu. Aira duduk di kursi belakang, menekan perban yang terasa basah. “Reza. Safe house itu… benar-benar gratis?”
Reza menatap lewat spion. “Gratis. Termasuk ganti baju.”
“Bagus. Karena malam ini saya sudah menambah hutang terlalu banyak.”
Raka meraih tangan Aira di gelap. Kali ini dia tidak melepas meski Aira menarik pelan. “Bukan hutang,” bisiknya. “Investasi.”
Aira menatap ke depan, ke jalan gelap yang terus bergulir. Di belakang mereka, di jalan tol yang sudah jauh, sisa tim organisasi berdiri di samping mobil yang rusak. Pria bertato leher menekan earpiece dengan wajah datar. “Target lolos lagi. Arah barat daya. Ada tentara yang membantu.”
Suara di seberang hanya menjawab singkat. “Biarkan. Kita tahu ke mana mereka pergi. Safe house itu tidak akan aman lama.”
Mobil berhenti di depan rumah biasa di kawasan perumahan yang sepi. Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada kamera mencolok. Hanya rumah satu lantai dengan cat krem yang sudah agak pudar dan taman depan yang dirawat seadanya. Aira menatapnya dari jendela mobil.
“Ini safe house?” suaranya datar.
Reza membuka pintu. “Iya. Sengaja biasa. Supaya tidak mencolok.”
“Listriknya berapa per bulan?”
Raka yang duduk di sampingnya menghela napas. “Aira, tolong. Baru saja kita hampir ditembaki.”
“Justru karena itu saya tanya. Kalau tempat ini dibakar nanti, siapa yang ganti rugi ke pemiliknya?”
Reza tidak menjawab. Dia hanya memberi kode pada dua anak buah untuk mengamankan area. Raka turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan ke Aira. Aira menatap tangan itu sebentar sebelum akhirnya menerimanya. Jari kapalan Raka menekan pelan, seolah memastikan dia tidak goyah.
Begitu masuk, bau kayu dan sedikit debu menyambut. Ruang tamu sederhana. Sofa tua. Meja kopi goyang. Dapur terbuka di belakang.
Aira berdiri di tengah ruangan sambil menekan sisi tubuhnya. “Kamar mandi di mana? Saya mau cuci darah di tangan.”
Reza menunjuk koridor. “Kiri. Kamar tidur ada dua. Kamu pakai yang dalam.”
Raka sudah membawa tas kecil berisi pakaian ganti yang sempat dia ambil dari rumah. “Ganti dulu. Baju kamu penuh darah.”
Aira menerima tas itu tanpa komentar dan masuk ke kamar mandi. Dia mengunci pintu, melepas baju rumah sakit yang sudah sobek di beberapa bagian, lalu menatap cermin. Memar di rusuk semakin gelap. Perban agak longgar. Dia membersihkan darah di tangan dan lengan dengan air dingin, menahan menggigil.
Ketika keluar, Raka dan Reza sedang berbicara pelan di ruang tamu. Mereka berhenti begitu melihatnya. Raka mendekat. “Perban perlu diganti.”
“Saya bisa sendiri.”
“Tidak bisa. Kamu tidak lihat bagian belakang.”
Aira ragu, lalu mengangguk pelan. Dia duduk di tepi sofa. Raka berlutut di depan, membuka kotak P3K yang dibawa Reza. Jari-jarinya bekerja cepat tapi hati-hati. Setiap kali kapas menyentuh luka, Aira menegang.
“Sakit?” tanya Raka pelan.
“Biasa.”
“Bohong.” Dia menaikkan wajah, mata bertemu. “Kamu selalu bilang biasa.”
“Karena memang biasa. Saya pernah lebih parah.”
Reza berdiri di belakang sofa dengan tangan tersilang. “Organisasi itu tidak akan berhenti. Mereka sudah dua kali gagal. Gelombang ketiga pasti lebih besar.”
Aira menatapnya. “Berapa lama saya harus di sini?”
“Sampai kami netralisasi ancaman utama.”
“Itu bisa berminggu-minggu. Saya tidak punya penghasilan selama itu.”
Raka mengencangkan perban baru. “Saya sudah bilang. Semua saya tanggung.”
“Saya tidak mau.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali orang mengeluarkan uang untuk saya, mereka merasa punya hak.” Aira menatap lurus ke mata Raka. “Hak untuk dekat... menyentuh... dan meminta balasan.”
Raka terdiam. Tangannya masih di pinggang Aira, tepat di atas perban. “Saya tidak meminta balasan.”
“Belum.”
Reza memotong. “Cukup. Kalian bisa berdebat soal hak nanti. Sekarang fokus. Keenan akan datang dalam tiga puluh menit. Dia bawa obat dan alat medis tambahan.”
Aira mengangkat alis. “Dokter itu ikut ke safe house?”
“Dia memaksa. Bilang tanggung jawab medis.”
Raka menyeringai tipis. “Atau tanggung jawab lain.”
Reza menatapnya datar. “Jangan mulai.”
Aira berdiri pelan. “Saya mau makan. Ada apa di dapur?”
“Mi instan dan telur,” jawab Reza. “Saya belikan nanti yang lebih layak.”
“Mi instan cukup. Murah.”
Raka mengikuti Aira ke dapur. “Saya masak.”
“Saya bisa.”
“Duduk. Rusukmu masih belum pulih.”
Aira akhirnya duduk di kursi kayu. Dia mengamati Raka yang bergerak di dapur seolah sudah biasa. Air direbus. Telur digoreng. Bau minyak panas memenuhi ruangan kecil.
“Kamu bisa masak,” komentar Aira.
“Sedikit. Dulu sering sendiri.”
“Pembalap kaya biasanya punya juru masak.”
“Saya tidak suka orang terlalu banyak di rumah.”