Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESONA SANG PUTRI
Proses penataan Kota Suaka Solaria berjalan dengan kelancaran yang luar biasa. Hanya dalam kurun waktu beberapa hari, infrastruktur kota yang tadinya tampak seperti mukjizat instan kini telah berfungsi sepenuhnya sebagai pusat kehidupan baru.
Di ruang singgasana utama, Alan sedang mendengarkan laporan akhir.
[Laporan stabilitas wilayah selesai, Tuan Alan,] suara Melodina bergema lembut di benak sang penguasa. [Sistem pembagian pemukiman, distribusi lapangan kerja, hingga pencetakan mata uang resmi Kerajaan Solaria—Koin Emas Solaria—telah terdistribusi seratus persen. Kondisi sosial dan ekonomi berada dalam status sangat stabil.]
Alan mengangguk puas seraya tersenyum lega. "Bagus sekali, Melodina. Kerja yang sangat cepat."
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan. Hari di mana Kerajaan Solaria secara resmi mendeklarasikan Kota Suaka sebagai bagian utuh dari kedamaian domain mereka.
Di alun-alun kota yang sangat luas, lebih dari lima ribu warga baru telah berkumpul. Manusia, kaum Elf bertelinga lancip, hingga ras Beastkin dengan telinga dan ekor binatang berdiri berjejer rapi. Tidak ada lagi raut ketakutan atau sisa-sisa trauma perbudakan di wajah mereka. Yang ada hanyalah binar harapan dan rasa antusias yang tinggi.
Di atas panggung utama yang terbuat dari marmer putih-emas, Alan berdiri dengan jubah kebesarannya yang tampak begitu megah namun tetap bersahaja.
Di sebelah kirinya, Zero berdiri tegap dengan armor hitam-emasnya yang memancarkan aura kegagahan seorang General. Di samping Zero, Akami berdiri anggun memegang tongkat zamrudnya, disusul Kayy yang memancarkan pesona ksatria suci ber-Level 3.000.
Sementara di sebelah kanan Alan, Yumi berdiri penuh keagungan. Dan di samping Yumi, berdiri Sena.
Hari ini Sena tampil amat memesona. Ia mengenakan gaun putih bersulam benang emas yang dirancang khusus oleh Yumi. Rambut hitam pendeknya dihiasi jepit rambut berbentuk kelopak bunga kristal. Jemari mungilnya menggenggam erat jemari Yumi, bertingkah anggun dan tenang mendampingi pamannya di hadapan ribuan rakyat.
Alan melangkah mendekati tepi panggung, menyapu pandangannya ke arah ribuan rakyat yang menatapnya penuh takjub.
"Selamat pagi, seluruh warga Kerajaan Solaria!" suara Alan bergema jernih, membawa ketenangan yang merasuk ke dada setiap orang.
Alun-alun mendadak hening seketika.
"Hari ini, saya secara resmi mendeklarasikan bahwa Kota Suaka Solaria telah dibuka sepenuhnya!" seru Alan dengan senyuman hangat. "Di tempat ini, tidak ada lagi perbedaan ras, tidak ada lagi perbudakan, dan tidak ada lagi rasa takut. Kalian semua adalah warga negara yang merdeka!"
Sorak-sorai pelan mulai terdengar dari barisan depan, namun Alan mengangkat tangannya pelan sebelum melanjutkan pidatonya.
"Mungkin di luar sana, kerajaan-kerajaan lain menganggap kalian terbuang. Tapi di bawah naungan perisai ini, kalian berada dalam perlindungan mutlak," lanjut Alan dengan nada mantap penuh keyakinan. "Kita memiliki General Zero yang tak terkalahkan, Penyihir Agung Akami yang bijaksana, Pahlawan Kayy yang terkuat di benua ini, serta Naga Kuno yang memayungi langit kita! Jadi, kalian tidak perlu takut lagi akan ancaman apa pun dari luar!"
Alan melebarkan kedua tangannya. "Hiduplah dengan damai, berkaryalah dengan gembira. Kerajaan ini milik kita bersama!"
GEMURUH!
Seketika itu juga, benturan kebahagiaan meledak di seluruh alun-alun!
"HIDUP TUAN ALAN!"
"HIDUP PENGUASA SOLARIA!"
"TERIMA KASIH, BAGINDA!"
Ribuan rakyat dari berbagai ras bersorak riuh. Kaum Elf menangkupkan tangan mereka penuh rasa haru, sementara kaum Beastkin melambaikan tangan mereka tinggi-tinggi dengan mata berkaca-kaca. Naga Merah Kuno di atas langit meraungkan suaranya yang megah, menambah keagungan momen peresmian tersebut.
Usai upacara peresmian, Alan memutuskan untuk berjalan-jalan langsung menikmati suasana kota.
Didampingi oleh Yumi yang berjalan di sisi kanannya dan Pahlawan Kayy yang bertindak sebagai pengawal pribadi di belakang, Alan melangkah santai menyusuri jalanan batu Kota Suaka. Tangan kiri Alan digenggam erat oleh Sena, yang melangkah kecil di sampingnya dengan wajah berseri-seri.
Suasana jalanan kota terasa sangat hidup. Toko-toko roti hangat milik warga manusia mulai beroperasi, kedai obat-obatan sihir milik kaum Elf memajang ramuan herbal beraroma segar, dan bengkel pertukangan Beastkin dipenuhi aktivitas yang ceria.
"Selamat siang, Tuan Alan!" sapa seorang penjual buah Elf seraya membungkuk dalam-dalam saat Alan melintas.
"Selamat siang! Semoga daganganmu laris ya," balas Alan ramah seraya melambaikan tangannya tanpa canggung sedikit pun.
Keramahan sang Penguasa ber-Level 99.999 itu membuat para warga terpaku dan makin mengagumi sosoknya. Namun, bukan hanya Alan yang mencuri perhatian hari itu.
Pandangan ratusan warga di sepanjang jalan perlahan-lahan beralih menatap sosok putri kecil yang berjalan di samping Alan.
Sena melangkah dengan gaya anggun yang diajarkan Yumi tadi pagi. Meski sesekali ia masih melirik permen kapas di kedai pinggir jalan dengan mata bulatnya yang polos, gaun putih dan pembawaannya yang tenang membuat semua orang yang melihatnya terpesona.
"Astaga... lihat anak kecil itu..." bisik seorang ibu dari ras manusia pada tetangganya.
"Itu Nona Sena, keponakan sekaligus Putri dari Tuan Alan!" timpal seorang wanita Elf dengan bisikan penuh rasa takjub. "Lihatlah betapa anggun dan menggemaskannya beliau..."
"Rambut hitamnya yang sepekat malam itu indah sekali," tambah seorang pria Beastkin bertelinga serigala. "Masih kecil saja aura anggunnya sudah sesempurna ini... Aku tidak bisa membayangkan kalau beliau sudah dewasa nanti, pasti akan jadi Putri paling cantik dan anggun di seluruh benua ini!"
Bisik-bisik kagum dari para warga itu terdengar jelas oleh Kayy dan Yumi. Yumi hanya tersenyum tipis penuh kebanggaan, sementara Kayy menegakkan dadanya, makin bersumpah dalam hati untuk menjadi benteng terkuat bagi sang putri kecil.
Sena yang mendengar samar-samar namanya dipanggil menoleh pelan ke arah kerumunan warga, lalu mengulurkan tangan mungilnya dan melambaikan tangan dengan senyuman yang sangat manis.
"Hihi... Halo!" sapa Sena polos.
MMPPHH!
Senyuman polos itu bagaikan serangan sihir pemikat massal! Beberapa warga wanita bahkan menepuk dada mereka karena tidak kuat menahan rasa gemas yang luar biasa melihat tingkah sang Putri Kecil.
Alan yang menyaksikan hal tersebut terkekeh pelan. Ia menyamakan langkahnya dengan Sena, lalu mengelus lembut rambut hitam keponakannya itu.
"Ternyata keponakanku ini populer banget ya," goda Alan tertawa kecil.
Sena mendongak menatap Alan, lalu menggoyangkan tangan Alan yang digenggamnya. "Sena suka di sini, Ayah! Semuanya ramah!"
Alan tersenyum hangat, menatap kota baru yang kini dipenuhi gelak tawa dan kedamaian. Di bawah kepemimpinannya, Solaria bukan hanya berdiri kokoh sebagai simbol kekuatan mutlak, tetapi juga sebagai tempat di mana senyuman seorang anak kecil dapat mekar dengan sangat indah.