NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan Di Balik Air Mata

Pintu terbuka lebar. Cahaya terang dari lorong rumah masuk menerangi sudut kamar yang tadinya remang dan suram. Mata Jingga membelalak lebar, nyaris keluar dari tempatnya saat menangkap pemandangan di hadapannya. Di atas ranjang, Bima sedang memeluk Mawar dengan posisi yang terasa begitu dekat, begitu mesra, dan sangat tidak pantas, jauh melampaui batas kasih sayang antara seorang kakak ipar dan adik ipar.

Darah seketika mendidih di dalam pembuluh darah Jingga. Wajahnya yang tadi pucat karena cemas kini berubah merah padam, diliputi amarah yang meledak seketika bagaikan gunung berapi yang meletus. Napasnya tersendat di tenggorokan, seluruh tubuhnya gemetar menahan emosi yang luar biasa.

"Bima?! Mawar?! Apa yang sedang kalian lakukan?!" pekik Jingga, suaranya melengking tajam membelah keheningan malam yang mencekam itu.

Mendengar suara teriakan itu, tubuh Bima menegang seketika, kaku bagaikan patung batu. Refleks ia segera melepaskan pelukannya dari Mawar, lalu menjauhkan diri dari gadis itu secepat mungkin, seolah-olah tak pernah ada kontak sama sekali antara mereka berdua. Dalam hitungan detik saja, Bima menyusun kembali raut wajahnya menjadi tenang, dingin, dan penuh wibawa, seolah kejadian aneh dan kelam itu sama sekali tidak pernah terjadi.

"Sayang, kamu sudah pulang?" sapa Bima lembut, nada bicaranya diatur setenang dan senyaman mungkin, persis seperti sedang menyambut sang istri yang baru saja pulang dari perjalanan jauh, bukan tertangkap basah dalam situasi yang paling mencurigakan. Bima bahkan berani melangkah maju dan meraih tangan Jingga, menggenggamnya dengan lembut, berusaha menanamkan keyakinan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun Jingga tidak mudah dibodohi. Tatapannya tajam dan penuh kecurigaan menelusuri wajah sang suami, mencoba mencari jejak ketakutan atau kebohongan di balik sorot mata pria itu. Kemudian pandangannya perlahan beralih ke sosok sang adik yang masih duduk di atas ranjang. Hati Jingga yang tadinya panas terbakar amarah perlahan berubah terasa sesak dan nyeri, seolah ditusuk benda tajam berkali-kali.

Mawar duduk membungkuk meringkuk di sudut ranjang, kedua tangannya erat-erat memeluk lutut yang ditekuk ke dada. Rambutnya berantakan berjatuhan menutupi separuh wajah, pakaiannya kusut dan berantakan, matanya bengkak merah besar karena menangis terlalu lama. Kulit wajah Mawar tampak pucat pasi tanpa sedikit pun rona kemerahan, dan seluruh penampilannya memancarkan kesan menyedihkan, rapuh, serta ketakutan yang mendalam.

"Mawar..." suara Jingga melembut seketika, bercampur antara rasa curiga, bingung, dan rasa iba yang mendalam. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang. "Kenapa kamu menangis seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Belum sempat Mawar membuka bibirnya untuk menjawab, suara Bima sudah mendahului, memotong pembicaraan dengan cepat dan tenang seolah ia adalah orang yang paling tahu segalanya.

"Tadi Mawar terbangun kaget karena mimpi buruk yang sangat menakutkan. Aku sedang berjalan melewati lorong, lalu mendengar suara gaduh dan tangisan keras dari kamar ini, jadi aku masuk untuk menenangkannya dan mencoba menenangkan ketakutannya. Benar kan, Mawar?" Bima melirik tajam ke arah gadis itu. Tatapan matanya tajam, menusuk, dan penuh ancaman yang tak bisa dibaca oleh dua wanita lain yang ada di sana.

"Jangan sampai Mawar bicara jujur. Jangan sampai dia membongkar semuanya." gumam Bima dalam hati dengan penuh ketakutan.

Kalau kebenaran ini terbongkar, semuanya akan hancur berantakan. Selama ini Jingga yang memegang kendali ekonomi dan seluruh aset kekayaan dalam rumah tangga mereka. Posisi dirinya selalu ada di bawah, bergantung sepenuhnya pada kemurahan hati sang istri. Bima mungkin tergila-gila dan terobsesi pada Mawar, tapi ia sama sekali belum siap kehilangan Jingga.

Di ambang pintu, Bu Gendis yang sedari tadi diam mengamati segala sesuatu dengan pandangan waspada dan hati-hati, mulai melangkah masuk mendekati tepi ranjang. Wajah wanita paruh baya itu tampak cemas dan bingung, matanya menelusuri setiap perubahan ekspresi di wajah kedua anak perempuannya dan menantu laki-lakinya.

"Kamu mimpi buruk, Nak?" tanya Bu Gendis lembut, tangannya yang mulai keriput dan hangat menyentuh lembut dahi Mawar yang berkeringat dingin.

"Gak biasanya kamu menangis sehebat ini sampai membuat seluruh badanmu gemetar. Ada masalah apa sebenarnya? Apa yang kamu lihat dalam mimpimu?" lanjut Bu Gendis dengan nada penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mawar mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang bengkak dan merah beralih bergantian menatap wajah sang ibu yang penuh kekhawatiran dan ketulusan, wajah sang kakak yang penuh pertanyaan dan keraguan, lalu akhirnya berhenti menatap Bima. Di mata pria itu, ia kembali mendengar gema ancaman yang dingin dan kejam yang baru saja pria itu ucapkan kepadanya.

"Jangan ceritakan kejadian ini pada Kakak atau Ibu… kalau tidak, rumah tangga mereka akan hancur, hati Kak Jingga akan hancur berkeping-keping, dan kau sendiri akan dianggap pembawa bencana dan pembuat masalah. Semua orang akan membencimu."

Pertarungan batin berkecamuk hebat di dalam dada Mawar. Sebelah hatinya berteriak keras, ingin berteriak membongkar semua kebejatan, kekejaman, dan dosa yang baru saja ia alami dan derita. Ia ingin berteriak meminta keadilan, ingin memberitahu bahwa di hadapan mereka berdiri seorang penjahat yang telah merusak dan merampas kehormatannya. Namun di sisi lain, rasa sayang dan rasa kasihan pada kakak kandungnya menahan bibir gadis malang itu agar tetap tertutup rapat. Ia tak tega melihat kebahagiaan dan ketenangan hati kakak yang sangat dicintainya hancur berantakan karenanya. Ia tak ingin menjadi alasan kehancuran rumah tangga sang kakak.

"Aku… aku…" bibir Mawar bergetar hebat, kata-kata sulit sekali keluar dari kerongkongannya yang terasa kering dan perih.

"Apa yang kamu mimpikan, Mawar? Ceritakanlah pada kami, biar kami bisa mengerti dan menenangkanmu," desak Jingga pelan, matanya menatap tajam namun tetap lembut.

Mawar menarik napas panjang, menelan kepahitan yang mengganjal keras di kerongkongannya, menahan rasa sakit yang menyayat hati. Akhirnya ia menundukkan kepala dalam-dalam, menjawab dengan suara lirih, lemah, dan dipaksakan sekuat tenaga.

"Aku… aku mimpi bertemu Ayah, Bu… Ayah datang menemuiku, dia berdiri diam menatapku, lalu bilang dia ingin bertemu denganku… ingin sekali berbicara denganku…"

Keheningan sesaat melanda ruangan itu, lalu perlahan rasa tegang yang menyengat udara kamar itu lenyap perlahan. Kekhawatiran yang semula menyelimuti wajah Bu Gendis dan Jingga perlahan hilang, berganti dengan rasa lega dan pengertian.

"Kamu ini ya…" tegur Bu Gendis sambil mengelus kepala putri bungsunya itu dengan penuh kasih sayang, namun ada nada lembut menyalahkan.

"Jarang sekali kamu mau ikut berziarah ke makam Ayahmu, makanya dia datang menegurmu lewat mimpi. Sudah, jangan menangis lagi ya. Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, kita semua pergi ke makam Ayahmu, ya? Kita berdoa dan berbicara panjang lebar di sana supaya hatimu tenang kembali."

Mawar hanya mengangguk pelan, air mata yang sedari tadi tertahan kini kembali berjatuhan deras membasahi pipinya, bukan lagi karena takut akan mimpi, melainkan karena beratnya kebohongan besar yang baru saja ia bangun dan simpan rapat-rapat demi melindungi orang lain.

Di sudut ruangan, Bima tersenyum tipis dan dingin, merasa lega karena rencananya berhasil, sementara di hati Mawar, luka yang dalam dan berdarah mulai tertanam, tertutup rapat di balik senyum dan kebohongan yang menyakitkan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!