Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Rahasia Tamu Bulanan dan Debat di Ketinggian Awan
"Eh, ngomong-ngomong kamu lagi ngapain sekarang? Lagi jalan-jalan keliling Menara Eiffel ya?"
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Sella. Ia melirik Adit yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya, menunggu Sella membuka pintu mobil. Sella refleks bergeser menjauh satu langkah, memunggungi suaminya itu demi menyembunyikan kepanikannya.
"Aku... aku lagi di kamar hotel sekarang, Ga. Nggak ke mana-mana soalnya aku capek banget, pengen tidur," bohong Sella. Suaranya sedikit bergetar, berharap Erlangga tidak menangkap nada kepalsuan di seberang sana.
"Oh, gitu ya? Kalau gitu aku boleh video call nggak? Aku kangen banget, pengen lihat wajah kamu sebentar saja," pinta Erlangga manja.
Mata Sella membulat sempurna. Ia melirik latar belakangnya—bukan kamar hotel mewah di Paris, melainkan parkiran KUA di Jakarta dengan pohon kamboja yang meranggas di bawah terik matahari.
"Emm, kayaknya nggak bisa sekarang, Ga. Aku... aku benar-benar sudah ngantuk berat. Nanti lagi ya, sudah dulu!"
Tut!
Sella mematikan sambungan secara sepihak sebelum Erlangga sempat membalas. Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sesak di dada, menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan baju.
"Ehem."
Dehaman berat itu membuat Sella berjengit kaget. Ia berbalik dan mendapati Adit sedang bersedekap, menatapnya dengan tatapan menyelidik yang tajam dari balik mata elangnya.
"Siapa yang telepon?" tanya Adit dingin, suaranya sarat akan kecurigaan korporatnya yang tinggi.
Sella langsung memasukkan ponselnya ke tas dengan gerakan defensif. Ia mendengus kencang, berusaha menutupi kegugupannya dengan sikap ketus. "Bukan siapa-siapa! Nggak usah kepo deh, Om!"
Adit hanya menaikkan satu alisnya, tidak terlihat terkesan dengan jawaban Sella. Pria itu mendengus pelan, seolah tidak mau membuang tenaga untuk berdebat di bawah terik matahari. Tanpa berkata apa-apa lagi, Adit membuka pintu mobil Tesla-nya dan masuk ke kursi pengemudi, meninggalkan Sella yang masih berdiri mematung meratapi kebohongannya yang mulai bertumpuk.
Sella duduk mematung di kursi depan Tesla milik Adit, menatap kosong ke arah dasbor digital yang mewah. Di belakang, keributan kecil antara Reno dan Sindy terdengar seperti dengung lebah yang jauh. Pikirannya tersangkut pada satu pertanyaan besar:
Kenapa keluarga Adit tidak ada yang datang? Apa dia sebenarnya penjahat yang disembunyikan keluarganya? Atau mereka tidak sudi punya menantu mahasiswi ajaib sepertiku?
Tiba-tiba, sebuah ingatan menyengat sarafnya. Sella buru-buru membuka aplikasi kalender di ponselnya. Matanya membelalak sempurna sewaktu menyadari sesuatu.
Mampus! pekik Sella dalam hati.
Hari ini... jadwal rutin bulanan gue! Jangan-jangan darah di seprai hotel kemarin itu bukan darah kesucian, tapi tamu bulanan gue yang datang lebih cepat gara-gara stres? Terus kenapa kita bisa polosan kalau nggak ngapain-ngapain malam itu?
Sella menoleh spontan, menatap profil samping wajah Adit yang rahangnya tampak mengeras. Tatapannya penuh selidik, berada di antara rasa ingin bertanya tapi gengsi setengah mati.
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu? Jangan bilang lo baru sadar kalau suami dadakan lo ini tampan?" celetuk Adit dingin tanpa menoleh sedikit pun dari jalanan.
Sella tersentak, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Sembarangan! Pede banget lo jadi orang! Gue cuma lagi mikir... lo beneran manusia atau robot proteksi perusahaan?"
Adit hanya mendengus, meski dalam hati pikirannya pun sedang berkecamuk. Ia melirik Sella lewat sudut mata. Gadis berusia 19 tahun ini baru saja mengubah total alur hidupnya. Namun, melihat Sella tampak gelisah dan mungil di kursi penumpang, ada rasa iba yang aneh menyelinap di dadanya.
Mobil akhirnya berhenti di depan kediaman Saputra. Suasana berubah menjadi markas evakuasi darurat. Kaizen dan Nenek Anna sudah berdiri di teras dengan instruksi yang lebih mirip perintah operasi militer.
"Adit, kamu punya waktu dua jam. Sella, kemas seluruh isi lemarimu!" seru Nenek Anna tak sabaran.
Adit mengikuti langkah Sella naik ke lantai dua menuju kamarnya. Begitu memasuki kamar bernuansa pink pastel itu, Adit nyaris tersedak melihat Sella melemparkan baju-bajunya ke atas kasur seperti sedang membuang sampah.
"Lo mau pindahan rumah atau mau buka toko baju? Paris itu pusat mode dunia, Sel. Masukin yang penting saja!" protes Adit sembari memunguti satu per satu pakaian yang berserakan di lantai.
"Suka-suka gue dong! Kalau di sana gue kedinginan terus mati membeku gimana? Lo mau tanggung jawab?" balas Sella ketus sembari membanting koper ke lantai.
BRAKK!
Adit menghentikan gerakannya. Ia menatap Sella yang napasnya memburu, menyadari ada ketakutan di balik mata bulat gadis mahasiswi di depannya ini. Ia mendekat, mengambil alih tumpukan baju di tangan Sella dengan gerakan yang tiba-tiba melunak.
"Sella, dengar ya," suara Adit merendah, menatap langsung ke mata Sella. "Gue memang terpaksa nikah sama lo. Tapi gue bukan pria brengsek yang bakal nyakitin lo. Di Paris nanti, lo fokus kuliah desain mode lo. Gue fokus kerja urusan kantor. Urusan pernikahan ini... kita lupain dulu sampai lo benar-benar siap dan lulus kuliah, oke?"
Sella tertegun. Kalimat Adit barusan terasa seperti jaminan keamanan yang sangat ia butuhkan di tengah badai ini. Wajahnya memanas karena salah tingkah. "Siapa juga yang mau macam-macam sama Om-om kaku kayak lo! Gue juga ogah!"
Sella membuang muka, sibuk memasukkan skincare ke tas kecilnya untuk menutupi rasa gugup.
Dua jam berlalu seperti kilat. Adit menyeret dua koper besar menuruni tangga, sementara Sella mengekor di belakang dengan ranselnya. Di depan pintu, Kaizen menjabat tangan Adit dengan remasan yang sangat kuat.
"Jaga dia, Adit. Kalau dia telat makan atau menangis gara-gara kamu, saya terbang ke Paris buat gantung kamu!" ancam Kaizen.
"Siap, Pa. Saya pamit," jawab Adit takzim.
****
Mobil Tesla itu perlahan bergerak meninggalkan halaman, membelah jalanan Jakarta menuju bandara. Di dalam mobil, keheningan kembali menyergap. Adit melirik Sella yang kini menyandarkan kepalanya di jendela, menatap sisa-sisa pemandangan kota kelahirannya.
"Siap mulai hidup baru di Paris, Istriku?" tanya Adit datar, namun ada nada candaan tipis yang sengaja ia selipkan untuk mencairkan ketegangan.
Sella menoleh cepat, lalu mendengus kencang. "Jangan panggil 'istriku', geli tahu! Panggil Sella aja, nggak usah aneh-aneh!"
Adit hanya bisa menggelengkan kepala, memacu mobilnya lebih cepat. Perjalanan penerbangan 14 jam menanti mereka, dan Adit tahu, Paris tidak akan pernah sama lagi dengan keberadaan Sella di sampingnya.
****
Ribuan kaki di atas samudera, di dalam kabin First Class Suite yang interiornya berlapis kulit domba dan aksen kayu mahoni, Adit merasa sedang berada di dalam sel isolasi mewah bersama sesosok mahasiswi yang sedang didera stres berat. Berkat koneksi dan kartu kreditnya yang tanpa batas, Adit berhasil memesan dua suite bersekat yang pintunya bisa dibuka menjadi satu ruangan besar. Harapannya untuk menikmati penerbangan dengan tenang langsung kandas total.
Sella, yang di darat tampak lemas, mendadak berubah menjadi Nyonya Besar begitu pintu geser otomatis suite mereka tertutup rapat, memberikan privasi total dari penumpang lain.
"Om, kursinya keras! Ini First Class atau angkot jurusan Terminal Bekasi sih? Punggung aku berasa diganjel batu bata!" rengek Sella sambil menggeliat heboh di kursi seharga ratusan juta itu.
Adit memijat pangkal hidungnya, berusaha tidak melempar tablet kerjanya ke luar jendela kecil pesawat. "Itu kulit asli, Sella. Di rumah lo bahkan nggak ada kursi selembut itu. Diam atau gue lakban mulut lo?"
"Ih, galak banget! Orang lapar juga!" Sella menyambar buku menu berlapis beludru. "Om, ini makanan apa? Foie Gras? Gambarnya kayak hati ayam goreng tapi pucat. Ganti! Aku mau seblak level lima belas! Atau minimal bakso aci yang micinnya banyak!"
Adit menoleh perlahan, menatap Sella dengan pandangan tidak habis pikir. "Sella, kita di ketinggian tiga puluh ribu kaki. Pramugari maskapai ini bukan jin Aladin yang bisa delivery seblak ke tengah awan. Makan apa yang ada atau lo puasa sampai Paris!"
"Nggak mau! Minumannya juga terlalu asem, kayak muka Om kalau lagi lihat tagihan kartu kredit! Sini, yang di tangan Om kayaknya lebih manis," tanpa permisi, Sella menyambar gelas kristal Adit dan menenggaknya sampai tandas.
"Heh! Itu minuman mahal, Sella! Lo main sambar aja!" bentak Adit, mencoba merebut gelasnya kembali. Karena ruangan mereka tertutup pintu geser yang tinggi, tidak ada penumpang lain yang melihat aksi perebutan gelas yang tidak elit itu.
"Bodo amat! Lagian berhenti panggil aku anak kecil. Aku ini istri lo ya, meskipun terpaksa jalur insiden balkon!" Sella meletakkan gelas dengan bunyi dentang yang keras, lalu menatap Adit menantang. "Pundak aku pegal nih, efek drama KUA tadi. Pijitin dong, Om Suami!"
Adit meledak. Ia meletakkan tabletnya kasar ke meja. "Dengar ya, Thania Arshila Sella! Pertama, gue bukan babu lo. Kedua, panggil gue Adit atau Mas. Gue baru dua puluh lima tahun, cuma enam tahun bedanya sama lo! Gue belum setua itu buat lo panggil 'Om' seolah gue ini donatur panti asuhan!"
"Nggak mau! Maunya panggil Om! Om Kaku! Om Robot!"