NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Lapor Polisi

Jantung Keira menghantam tulang rusuk saat Ricky berjalan meninggalkan pintu kaca dan langsung menuju kepadanya.

"Keira! Akhirnya ketemu."

Ia mundur satu langkah. Dua kantong belanja bergesekan di tangannya.

"Kamu ngapain di sini?"

"Aku mau jelasin. Kamu blokir aku, terus lapor ke kantor seolah aku penjahat."

"Pergi."

Ricky berhenti, tetapi tubuhnya menghalangi jalur Keira menuju meja keamanan. Seorang petugas sedang memeriksa kendaraan di sisi luar, meninggalkan lobi hanya beberapa menit. Pintu kaca terbuka ketika penghuni lain keluar. Ricky memanfaatkannya untuk menyelinap masuk.

Keira buru-buru mengikuti, berniat mendekati lift tempat kamera dan orang-orang lebih mudah melihat mereka.

"Aku bilang pergi, Ricky. Kamu nggak punya urusan di sini."

"Aku datang jauh-jauh cuma buat bicara. Kasih aku lima menit."

"Nggak."

Pintu lift terbuka. Keira masuk, tetapi Ricky menyelipkan tangan sebelum pintu menutup. Ia ikut masuk tanpa izin. Ruang sempit itu membuat napas Keira tersangkut.

Ia menekan tombol delapan dan tombol buka pintu sekaligus. "Keluar. Atau aku panggil keamanan."

"Kenapa kamu mempermalukanku?" Ricky menuntut. "Aku suka kamu. Salahnya di mana?"

"Sukamu berhenti jadi urusanku saat kamu mengabaikan penolakanku. Keluar."

Lift belum bergerak karena pintunya terus tertahan. Keira melihat kamera di sudut langit-langit, lalu sengaja menaikkan suara.

"Saya tidak mengizinkan kamu mengikuti saya. Keluar sekarang."

Dua penghuni yang baru masuk lobi menoleh. Ricky akhirnya melangkah mundur, tetapi bukan untuk pergi. Begitu Keira keluar dari lift menuju meja keamanan, ia mengejar dan meraih salah satu kantong belanja.

Plastik robek. Tomat dan jeruk berguling di lantai mengilap.

"Lihat, kamu bikin semua orang lihat kita," desis Ricky. "Kenapa sih susah banget kasih kesempatan?"

"Lepaskan."

Keira menarik tangannya. Ricky justru mencengkeram pergelangan tangannya lebih keras.

Rasa sakit menjalar sampai siku.

"Lepas!"

Beberapa kepala muncul dari arah minimarket lobi. Tante Ida, yang baru keluar dari lift lain, membeku melihat mereka.

"Itu siapa?" serunya.

"Tolong panggil keamanan!" Keira berteriak.

Ricky panik. Ia menarik Keira mendekat, seolah bisa mengubah paksaan itu menjadi percakapan pribadi. Bahunya menghantam dada pria tersebut. Bau keringat dan parfum tajam membuat perutnya mual.

"Tenang dulu. Aku nggak bakal nyakitin kamu."

"Kamu sudah menyakitiku!"

Keira menghentakkan tumit ke kaki Ricky dan berusaha memutar pergelangan. Cengkeraman itu sempat longgar, tetapi tangan lain Ricky meraih pinggangnya.

"Lepaskan dia."

Suara itu datang dari arah lift.

Ricky belum sempat menoleh ketika sebuah tangan mencengkeram bahunya dan menariknya menjauh. Keira terhuyung bebas. Seseorang menangkap lengannya sebelum ia jatuh.

Reynard berdiri di antara mereka.

Wajahnya pucat, tetapi matanya gelap dan sangat tenang. Ia memindahkan Keira ke belakang tubuhnya, lalu menatap bekas merah di pergelangan tangannya.

"Rey," suara Keira bergetar, "dia masuk tanpa izin."

Ricky merapikan kemeja. "Ini urusan aku sama Keira. Jangan ikut campur, bocah."

"Dia sudah bilang lepas."

"Dia cuma salah paham."

Ricky maju satu langkah. Reynard mengangkat satu tangan, menghentikannya tanpa menyentuh.

"Jangan mendekat. Kamera merekam semuanya."

Kalimat itu seharusnya cukup. Namun Ricky, dipermalukan oleh mata para penghuni, mengayunkan tangan untuk menyingkirkan Reynard. Gerakannya liar dan terbaca.

Reynard menghindar, menangkap pergelangan Ricky, lalu memutarnya ke belakang. Satu kakinya menghalangi langkah pria itu. Dalam hitungan detik, Ricky jatuh berlutut lalu tertelungkup di lantai, satu lengan terkunci di punggung.

Tidak ada pukulan. Tidak ada tendangan.

Hanya gerakan cepat yang membuat Ricky tak lagi bisa menyentuh siapa pun.

"Sakit! Lepasin!"

"Berhenti melawan."

Dua petugas keamanan berlari masuk. Salah satunya mengambil alih posisi Reynard, sementara yang lain meminta kerumunan mundur. Tante Ida segera menghampiri Keira dan memegang bahunya.

"Kamu nggak apa-apa? Tante lihat dia narik kamu."

Keira mencoba menjawab, tetapi giginya mulai bergemeletuk. Ketika bahaya masih terjadi, tubuhnya tahu harus melawan. Begitu Ricky terkendali, semua kekuatan itu hilang sekaligus.

Reynard berdiri di hadapannya. "Ci Kei, lihat aku."

Keira mengangkat wajah.

"Ada yang sakit selain tangan?"

Ia menggeleng.

"Bisa berdiri?"

Keira ingin berkata bisa. Lututnya justru goyah. Reynard menahan kedua sikunya, tidak langsung memeluk, menunggu sampai Keira sendiri mencengkeram kausnya untuk mencari keseimbangan.

"Pak, kami perlu telepon polisi," kata Reynard kepada petugas keamanan. "Tolong simpan rekaman CCTV dari pintu masuk, lift, dan lobi. Jangan ditimpa."

Petugas mengangguk. "Kami hubungi polsek sekarang."

Petugas kedua segera masuk ke ruang monitor. Dari balik kaca, Keira melihat rekaman diputar ulang: dirinya turun dari kendaraan, Ricky bergerak dari sisi pintu, lalu mengikuti penghuni lain melewati akses yang terbuka. Waktu di sudut layar tercatat jelas. Rekaman kamera lift memperlihatkan tangannya menahan pintu, sedangkan kamera lobi menangkap saat ia merampas kantong dan mencengkeram pergelangan Keira.

Tidak ada ruang bagi kalimat hanya salah paham.

Petugas keamanan menyalin tiga potongan rekaman ke penyimpanan khusus dan mencatat nomor kejadian di buku lobi. Reynard memotret catatan itu setelah meminta izin, lalu mengirim salinannya ke Keira agar bukti tidak hanya berada di satu tempat.

"Saya juga lihat dari awal dia menghalangi Mbak itu," ujar seorang penghuni yang tadi baru keluar dari minimarket. Ia menyerahkan nomor telepon kepada petugas. "Kalau perlu saksi tambahan, hubungi saya."

Keira mengucapkan terima kasih. Dukungan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya membuat tenggorokannya perih, tetapi kali ini ia mampu menarik napas sedikit lebih dalam.

Ricky yang duduk di kursi keamanan kembali meronta. "Ini berlebihan! Aku cuma mau bicara sama pacarku."

"Saya bukan pacarnya," kata Keira keras.

Semua orang mendengar.

Ricky terdiam sesaat. Reynard memandang Keira, memastikan ia masih sanggup, lalu berdiri di sisinya tanpa mengambil alih.

"Saya sudah menolak dia berulang kali," lanjut Keira. "Saya punya pesan, riwayat panggilan, dan laporan resmi ke tempat kerja. Dia mencari alamat saya tanpa izin lalu mengikuti saya masuk."

Tante Ida mengangguk cepat. "Saya saksi. Dia pegang tangan Keira, terus mau tarik paksa."

Penghuni lain ikut menyatakan melihat kantong belanja direbut. Petugas keamanan mencatat nama dan nomor unit mereka.

Sirene pendek terdengar tidak lama kemudian. Dua polisi memasuki lobi, memisahkan semua pihak, lalu meminta penjelasan satu per satu. Keira menunjukkan tangkapan layar, surel pengaduan, dan bekas merah pada pergelangan tangannya. Petugas memotret bukti dengan persetujuannya, meminta rekaman CCTV diamankan, lalu membawa Ricky untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Kami perlu keterangan resmi dan BAP dari Mbak Keira," kata salah satu petugas. "Bisa malam ini, atau setelah diperiksa tenaga medis kalau merasa perlu."

"Malam ini," jawab Keira. Suaranya masih kecil, tetapi tegas. "Saya mau buat laporan."

Reynard menoleh. Ada kemarahan yang belum padam di wajahnya, sekaligus sesuatu seperti lega karena Keira tidak mundur.

"Aku ikut," katanya.

***

Proses di kantor polisi memakan waktu hampir tiga jam. Keira mengulang kronologi dari pesan pertama, penolakan, laporan kepada pengelola sanggar, hingga kejadian di lobi. Petugas menjelaskan bahwa rekaman, saksi, dan bukti digital akan diperiksa untuk menentukan pasal yang tepat terkait pemaksaan dan pelecehan. Ia diminta menyimpan seluruh pesan asli dan tidak meladeni kontak dari nomor baru.

Reynard duduk di luar ruang pemeriksaan bersama Tante Ida, yang bersikeras ikut sebagai saksi. Saat Keira keluar, sudah lewat pukul sebelas malam. Tante Ida menepuk lengannya pelan.

"Maaf kalau Tante kemarin banyak tanya soal kalian," katanya. "Tadi kalau Reynard nggak cepat datang..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Terima kasih sudah mau jadi saksi, Tante," jawab Keira.

Dalam perjalanan pulang, Keira duduk di kursi belakang mobil daring bersama Reynard. Mereka tidak banyak bicara. Tangan Keira masih gemetar setiap kali lampu kendaraan dari luar menyapu kaca.

Sesampainya di unit 8B, Reynard mengambil kompres dingin dari freezer, membungkusnya dengan kain, lalu berlutut di depan sofa.

"Boleh?" tanyanya sambil menunjuk pergelangan Keira.

Keira mengangguk.

Sentuhan Reynard sangat hati-hati, berlawanan dengan cara ia mengunci tangan Ricky tadi. Dingin kompres membuat kulit Keira ngilu. Namun telapak yang menopang lengannya terasa stabil.

"Kamu pulang dari mana?" tanya Keira.

"Beli adaptor. Aku lihat pesanmu belum dibalas, jadi buru-buru balik."

"Kalau kamu terlambat sedikit..."

Napasnya patah. Bayangan tangan Ricky di pinggangnya muncul lagi. Keira menutup mata, tetapi tubuhnya sudah lebih dulu menggigil.

Reynard meletakkan kompres. "Ci Kei. Lihat aku. Dia sudah dibawa. Pintu terkunci. Kamu aman."

Keira membuka mata. Keteguhan di wajah Reynard menjadi satu-satunya hal yang tidak bergerak di ruangan itu.

"Aku takut," akunya.

Kalimat itu mematahkan sisa pertahanannya. Lututnya melemas saat mencoba berdiri. Reynard menangkap tubuhnya, lalu berhenti sekejap, memberi kesempatan untuk menolak.

Keira justru mencengkeram bagian belakang kausnya.

Barulah Reynard memeluknya.

Satu tangan melindungi belakang kepalanya, tangan lain melingkari punggung tanpa menekan. Keira menempelkan dahi ke dada Reynard. Detak jantung cowok itu berlari sama kacau dengan miliknya.

Jadi, bukan hanya dirinya yang ketakutan.

"Maaf aku nggak ada di sana dari awal," bisik Reynard.

"Bukan salahmu."

"Aku tetap berharap bisa datang lebih cepat."

Pelukan itu bertahan lebih lama daripada yang dibutuhkan untuk menegakkan tubuh Keira. Sindrom haus kulitnya tidak terasa seperti rasa gatal kali ini. Yang hadir hanya kebutuhan sangat sederhana untuk memastikan kehangatan di sekelilingnya nyata.

Reynard menunduk. Bibirnya hampir menyentuh rambut Keira ketika ia mengucapkan sesuatu begitu pelan hingga tertelan suara pendingin ruangan.

Keira hanya menangkap dua kata terakhir.

"...nggak akan kubiarkan."

Ia hendak bertanya apa maksudnya. Namun lengan Reynard mengencang sepersekian detik, dan untuk malam itu, Keira memilih diam di tempat yang membuat gemetarnya perlahan berhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!