Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Putus Nggak, Sih?
"Cukup!"
Suara Papa membuat semua orang membeku.
Ia menarik Sulastri menjauh dariku, lalu menunjuk lorong. "Masuk kamar. Kamu keterlaluan."
"Aku cuma melindungi anakku!"
"Dengan menjambak anakku? Masuk sekarang!"
Untuk sekali ini, Papa tidak memilih suara paling lembut. Ia menggiring Sulastri keluar sementara perempuan itu masih memaki. Begitu langkah mereka menjauh, lututku kehilangan tenaga.
Raka menangkap siku dan pinggangku sebelum aku kembali jatuh.
"Bisa berdiri?"
"Kalau nggak bisa, mau gendong lagi?"
Ia tidak menanggapi ejekanku. Matanya terpaku pada goresan dekat pelipis dan helaian rambut yang tertinggal di karpet. Wajahnya begitu pucat hingga aku berhenti tersenyum.
Raka membawaku masuk, menutup pintu, lalu menahannya dengan punggung seolah Sulastri mungkin menerobos lagi. Napasnya terdengar kasar.
"Kamu sama aku cuma buat bikin mama-ku kesal, kan?"
Pertanyaan itu tidak keras. Justru karena pelan, ia terasa lebih tajam.
Aku mengambil tisu basah dari meja rias dan menempelkannya ke pelipis. "Kenapa baru tanya sekarang?"
"Jawab aku, Anindya."
Ia tidak memanggilku Kak Nindy. Tidak ada senyum, tidak ada kelembutan yang biasa membuatku ingin menusuknya dengan kata-kata.
Aku ingin mengatakan bahwa ciuman di mobil tidak sepenuhnya tentang Sulastri. Aku masih mengingat caranya berhenti dan menunggu, seolah satu gerakan mundur dariku akan menjadi jawaban yang ia hormati. Namun pengakuan itu terasa seperti menyerahkan pisau kepada orang lain.
Jadi aku memilih pisauku sendiri.
"Siapa juga yang suka sama kutu buku membosankan kayak kamu?"
Raka menatapku beberapa detik. Matanya tidak memerah, tetapi sesuatu di dalamnya padam.
"Oke," katanya.
Ia membuka pintu dan pergi.
Sepanjang sore rumah menjadi terlalu sunyi. Papa mengirim obat antiseptik melalui asisten rumah tangga. Sulastri tidak keluar dari kamar. Raka juga tidak terlihat saat makan malam.
Hampir tengah malam, bel depan berbunyi berkali-kali.
Seorang lelaki asing berdiri di teras sambil menopang Raka. Tudung jaket Raka terlepas, rambutnya berantakan, tetapi langkahnya masih cukup terarah.
"Mbak Anindya?" lelaki itu bertanya. "Saya temannya teman dia. Dia cuma minum sedikit, tapi keras kepala mau pulang. Di ponselnya cuma ada satu kontak darurat, nama Mbak."
"Taruh saja di kursi teras."
"Kak Nindy," gumam Raka tanpa mengangkat kepala.
Aku mengembuskan napas panjang. "Baik. Bantu sampai sofa."
Setelah lelaki itu pergi, aku menyodorkan segelas air. Raka malah melorot ke lantai dan memeluk kedua kakiku.
"Hei! Lepas."
"Bayu," katanya dengan suara serak. "Dia bilang aku kutu buku."
Aku menahan tawa. "Kasihan sekali."
"Dia bilang aku membosankan. Padahal aku datang ke banyak tempat buat cari dia."
"Bodoh."
"Dia lebih bodoh." Pelukannya mengendur, tetapi dahinya tetap bersandar di lututku. "Demi bikin mama-ku kesal, rambutnya ditarik-tarik sampai luka. Kayak nggak punya hati."
Senyumku lenyap.
Bahkan ketika terluka oleh ucapanku, yang ia keluhkan kepada teman imajinernya tetap rasa sakitku.
Aku menariknya berdiri dan membawanya ke sofa. Tudung jaketnya kutarik hingga menutupi sebagian wajah.
"Supaya aku nggak perlu lihat muka kutu buku," kataku.
Raka menangkap pergelangan tanganku sebelum aku menjauh. Matanya terbuka setengah, cukup fokus untuk menatapku.
"Kak Nindy?"
"Siapa lagi? Bayu nggak mungkin secantik ini."
"Kalau bukan Kak Nindy, jangan dekat-dekat."
Jantungku berdenyut aneh. "Kalau Kak Nindy yang mau cium kamu?"
Ia mengangguk kecil. "Kalau kamu, boleh."
Aku memberinya waktu untuk melepaskan tanganku. Ia tidak melakukannya. Aku pun membungkuk dan mengecup bibirnya singkat. Hanya satu detik, tetapi cukup membuat napasku lupa kembali.
Raka berkedip dari balik tudung. Lalu kepalanya jatuh ke sandaran.
"Bayu," gumamnya, "kok kamu cium aku?"
Aku menjitak tudungnya. "Dasar menyebalkan."
Keesokan paginya, suara Sulastri kembali menjadi alarm rumah.
"Lihat anakmu! Raka pulang malam dalam keadaan seperti itu karena dia!"
Aku turun sambil menempelkan plester tipis di dekat pelipis. Raka masih tertidur di sofa, tudung jaket menutup mata.
"Jangan terlalu khawatir, Tante," kataku. "Kalau anakmu nanti mirip kamu, paling dia cuma suka menyerobot rumah tangga orang."
Papa menjatuhkan sendok. Sulastri menatapku seperti ingin menerkam lagi, tetapi kali ini Papa segera berdiri di tengah kami.
Raka terbangun dan membuka tudungnya. "Kenapa ribut?"
"Duduk," perintah Papa. "Kita selesaikan masalah ini sekarang."
Kami duduk mengelilingi meja makan. Tidak ada yang menyentuh nasi goreng di piring.
Papa menatapku lebih dulu. "Kalian sudah putus?"
"Sudah," jawabku.
"Belum," kata Raka bersamaan.
Aku meliriknya. "Sudah."
"Belum."
"Aku yang mulai, aku juga yang mengakhiri."
"Hubungan melibatkan dua orang."
Sulastri memukul meja. "Pokoknya aku nggak setuju! Kalian tumbuh sebagai saudara tiri!"
"Kami tidak tumbuh bersama," balas Raka. "Aku masuk rumah ini saat delapan belas tahun dan Kak Nindy dua puluh. Kami tidak sedarah, berbeda nama keluarga, dan sama-sama sudah dewasa."
"Orang tetap akan bicara!"
"Terus Mama gimana?" Raka menatapnya lurus. "Mama peduli omongan orang waktu masuk ke rumah tangga Papa dan Mama Retno?"
Wajah Sulastri kehilangan warna.
Raka beralih kepadaku. "Terus kamu gimana? Tadi malam di mobil bukan cuma permainan, kan?"
Ingatan tentang ciuman kedua di sofa menyentuh bibirku seperti bara. Aku tidak sanggup menjawab. Aku bangkit dan meninggalkan meja sebelum mereka melihat wajahku.
Sore itu, Sulastri masuk ke kamar membawa segelas jus dan senyum yang terlalu manis.
"Minum ini. Jangan makan terlalu banyak. Malam ini ada perjodohan keluarga."
Aku menurunkan majalah. "Siapa yang dijodohkan?"
"Kamu. Namanya Reno Gunawan. Keluarganya punya perusahaan besar dan Papa-mu butuh kerja sama mereka."
Ia meletakkan gaun tipis di ranjang. Potongannya pendek, bahkan lebih berani daripada rok yang kupilih sendiri semalam.
"Bukannya Tante takut aku terlihat murahan?"
"Lelaki seperti Reno suka perempuan yang menarik." Senyumnya mengeras. "Kalau cocok, masalah di rumah ini selesai."
Aku memahami rencananya. Ia ingin menyingkirkanku dari Raka sekaligus menjadikanku alat bagi bisnis Papa.
Malamnya, setelah mengganti gaun pilihannya dengan rok dan blus milikku sendiri, aku membuka pintu kamar. Raka berdiri di sana seolah sudah menunggu berjam-jam. Aku hampir menabrak dadanya.
Tatapannya turun ke pakaianku. "Mau ke mana?"
"Perjodohan. Tanya mama-mu."
Raka menggenggam tanganku dan menarikku ke ruang tengah. Sulastri sedang duduk bersama Papa.
"Mama sengaja menjodohkan Anindya dengan orang lain?"
"Dia bukan milikmu."
"Mama jelas-jelas tahu aku suka..."
"RAKA!"
Bentakan Sulastri memotong kalimatnya. Ia berdiri dengan dagu terangkat.
"Urusan nikah kamu juga akan Mama atur. Jangan pikir karena kamu sudah dewasa, kamu boleh mempermalukan keluarga sesukamu."
Raka memandang ibunya, lalu Papa, tetapi tak satu pun membelanya. Genggamannya pada tanganku melemah.
Aku menarik tanganku, merapikan tas, dan berjalan menuju pintu.
Aku tidak berhenti, meski langkahnya mengejarku melintasi ruang tengah.
"Anindya!" teriak Raka dari belakangku.