Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Yun Shadom
Rahang Yun Shadom mengeras, tangannya mengepal begitu rapat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit di sekitarnya memerah menahan amarah yang meletup-letup.
Ia melangkah lebar dengan aura intimidasi yang pekat, dan tanpa aba-aba sedikit pun, ia melayangkan pukulan mentah tepat di wajah Liu Han.
BRAK!
Hantaman itu begitu keras hingga tubuh Liu Han terhuyung ke belakang, namun ia tetap berdiri tegak menantang.
Jia Li berdiri dengan napas tertahan, matanya membelalak panik melihat ledakan kemarahan sang kakak yang begitu tiba-tiba. Namun, belum sempat Jia Li membuka mulut untuk bersuara atau menenangkan keadaan, perkataannya sudah dipotong habis oleh desisan penuh racun dari sang kakak.
"Berani sekali kau mencium adikku," suara Yun Shadom terdengar pelan, namun ketajamannya sanggup mengiris udara pagi itu. "Aku menjaganya sejak kecil, merawatnya seperti sebuah permata. Tapi bibir busukmu... berani sekali menyentuhnya!"
Liu Han menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu perlahan mengangkat satu alisnya.
Ia melirik Jia Li dengan tatapan penuh tanya. Setahunya, Jia Li memang memiliki seorang kakak laki-laki.
Namun, jelas ia mengenal siapa kakak dari Jia Li yang terkenal sebagai pria tidak berguna—dan jelas itu bukan pria di depannya yang memancarkan aura berbahaya.
"Kakak, dengar dulu—" suara Jia Li tercekat di tenggorokan saat ia menatap mata sang kakak.
Di sana, ada perpaduan mengerikan antara tatapan maut yang siap membunuh dan binar kasih sayang yang teramat protektif untuk dirinya.
"Jika kau melangkah satu kali lagi untuk menghentikanku," ucap Yun Shadom tajam, memotong kalimat adiknya tanpa mengalihkan pandangan dari Liu Han, "aku bersumpah akan meratakan seluruh tempat ini hingga menjadi debu."
Jia Li menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun. Ia tahu betul itu bukan gertakan biasa atau sekedar omong kosong.
Ia sangat mengenal kakak pertamanya sebagai seorang kultivator tingkat tinggi, Baginya meratakan tanah di bawah kaki mereka adalah hal yang mudah untuknya.
Yun Shadom menatap tajam Liu Han yang masih tegak berdiri, lalu seulas senyum sinis yang mengerikan terukir di wajahnya. "Kau berani mencium adikku? Kau akan tahu akibatnya, sekarang juga."
Liu Han membalas tatapan itu dengan sepasang mata yang sedingin es kutub. Di hadapan tekanan energi yang membuat kaca-kaca jendela bergetar halus, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. "Aku tidak membutuhkan izin dari siapa pun untuk mendekatinya... apalagi dari seorang pria asing yang tiba-tiba muncul dan mengaku-ngaku sebagai seorang kakak."
Mendengar provokasi itu, rahang Yun Shadom semakin mengetat hingga urat-urat di lehernya menegang.
Tanpa peringatan kedua, ia melesat maju dengan kecepatan yang memanipulasi angin. Di mata Liu Han yang hanya seorang manusia biasa, gerakan itu terasa sangat cepat dan membuat matanya sedikit melebar.
BRUK!
Hantaman energi murni mengenai dada Liu Han, melempar tubuhnya beberapa meter ke belakang hingga menghantam tanah dengan keras. Ia jatuh terbaring sambil terbatuk, menumpahkan setitik darah segar di atas rumput hijau.
"Kakak! Cukup!" Jia Li berteriak, berniat berlari untuk menenangi situasi dan melerai mereka.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, sebuah getaran hebat menjalar dari bawah tanah. Tanah di bawah kakinya mendadak retak, dan entah dari mana, sulur-sulur akar pohon spiritual yang tebal menjalar cepat, melilit erat kedua kaki hingga ke pinggangnya, mengunci pergerakannya sepenuhnya.
"Elemen tanah..." gumam Jia Li dengan suara bergetar. Ia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin kakaknya tega menggunakan teknik kultivasi tingkat tinggi untuk mengurungnya seperti ini?
Tanpa berbalik, Yun Shadom menyahut datar, "Jangan ikut campur, Yun Sheren," Suaranya dingin dan tidak menerima bantahan. "Biarkan aku memberikan dia pelajaran... setidaknya sampai pria itu tidak bisa lagi berdiri tegak."
Mendengar ancaman itu, Liu Han yang terduduk beberapa meter di depan mereka justru tersenyum sinis. Sebuah senyuman arogan yang menurut Jia Li sangat bodoh, karena berani melawan kakaknya. Jia Li menelan ludahnya berat. Seluruh pergerakannya terkunci mati oleh akar magis tersebut.
"Kakak! Jangan!" jerit Jia Li histeris.
Namun, segalanya sudah terlambat. Begitu kata terakhir lolos dari bibir Jia Li, sosok Yun Shadom sudah melesat maju, menyisakan dentuman udara yang pecah.
Gerakannya begitu efisien. Ia sengaja menahan diri untuk tidak menyerang dengan kekuatan penuh atau pedang, seolah lawan di hadapannya tak cukup berharga untuk sebilah baja. Namun, setiap pukulan mentah yang ia layangkan selalu telak dan membuat lawan sama sekali tidak bisa berkutik.
BRAK! DUAK!
Suara hantaman fisik bergema keras. Tubuh Liu Han terjerambab, menghantam tanah dengan sangat brutal hingga debu-debu memercik ke udara.
"Kecepatan macam apa ini?!" jerit Liu Han dalam hati, dadanya terasa sesak dan rahangnya serasa ingin lepas. Sambil menyeka darah di sudut bibirnya, ia membatin frustrasi, "Aku tidak bisa membaca arah gerakannya sama sekali!"
Sebagai seorang predator, Liu Han selama ini dikenal dan ditakuti bagaikan seekor naga yang berbahaya tanpa tanding.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyadari bahwa ia telah menemukan lawan yang seimbang—atau mungkin, jauh melampauinya.
Liu Han sama sekali tidak sadar bahwa pria yang sedang ia lawan saat ini adalah puncak dari segala predator. Jika Liu Han menganggap dirinya adalah seekor naga, maka pria di hadapannya ini adalah sang Kaisar Naga itu sendiri.
Liu Han bangkit dengan bertumpu pada satu lutut, menatap tajam pria yang kini berdiri tegak dengan keangkuhan yang begitu alami di depannya.
"Kau terlalu sombong," ucap Yun Shadom dengan datar." Di dunia ini, kau menganggap dirimu penguasanya... tapi kali ini kau salah mencari lawan."
Rahang Liu Han semakin ketat, wajahnya memerah--- untuk pertama kalinya ia sadar, bahwa kekuasaan telah runtuh di hadapan pria asing ini.
TAP! TAP! TAP!
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan kasar mendadak mendekat menuju pusat pertarungan. Belasan penjaga berpakaian setelan jas hitam membelalakkan mata saat melihat Tuan besar mereka diserang hingga babak belur.
"BERHENTI!" teriak komandan penjaga itu sembari berlari maju, bersiap menarik senjata api mereka.
Namun, Yun Shadom hanya berdiri tenang. Ia sama sekali tidak gentar melihat moncong senjata modern diarahkan padanya. Tepat di bawah pijakan kakinya, sebuah lingkaran efek magis berpendar kemerahan. Tanah kembali bergetar hebat, lalu—
DUAR!!!
Ledakan pelan membelah halaman. Tanah retak parah, dan semburan api murni melesat keluar dari dalam perut bumi, menghempas tubuh para penjaga itu ke belakang bagaikan daun kering yang ditiup badai. Kelima belas penjaga itu terkapar bersimbah darah, terbatuk-batuk, dan mengerang kesakitan di atas tanah yang hancur.
Mata Liu Han membelalak sempurna. Ia menatap Yun Shadom dengan kombinasi rasa tidak percaya dan amarah yang membakar. Sementara di sudut lain, Jia Li masih terus meronta, berusaha sekuat tenaga melepaskan lilitan akar pohon yang mengikat tubuhnya.