NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Dipermalukan di Meja Makan

Kecurigaan Den Nara membuat tidurku malam itu putus-putus.

Setiap suara langkah di lorong terdengar seperti dia datang meminta botol kecilku. Namun sampai keesokan sore, dia tidak bertanya lagi. Dia pergi bekerja sebelum aku mengantar Arka ke ruang makan dan baru pulang ketika aku sedang menyiapkan makan malam.

Diamnya tidak menenangkanku. Diamnya terasa seperti pintu yang belum dibuka.

Arka tidur lebih teratur hari itu. Aku hanya mengoleskan setetes air ramuan pada bagian luar kain gendong, lalu mencucinya setelah dipakai. Buku catatan tidurnya terisi rapi. Bu Retno memeriksanya tanpa komentar, tetapi anggukan kecilnya cukup membuat bahuku sedikit ringan.

Menjelang Magrib, Mbak Ratih pulang dari rumah sakit. Dia masuk ke dapur masih mengenakan pakaian kerja dan langsung membuka tudung saji.

Sebelumnya, aku menyerahkan Arka kepadanya di ruang keluarga. Bayi itu baru bangun, kenyang, dan bersih. Begitu melihat ibunya, Arka mengoceh sambil menggerakkan kedua tangan. Mbak Ratih memeluknya, tetapi wajahnya berubah saat membaca buku catatan.

"Tidur siang dua jam?"

"Iya, Mbak. Bangun sekali untuk minum susu, lalu tidur lagi."

"Biasanya dia tidak pernah selama itu."

"Mungkin karena semalam kurang tidur."

Bu Retno yang sedang memeriksa pesan WA berkata, "Sekar telaten. Jadwal Arka akhirnya mulai teratur."

Aku melihat senyum Ratih menegang. Dia mencium pipi putranya, lalu menyerahkan buku catatan kepadaku tanpa mengucapkan terima kasih.

"Jangan merasa paling tahu hanya karena anakku tidur di tanganmu," katanya pelan, cukup untuk kudengar sendiri.

"Tidak, Mbak. Saya mengikuti jadwal yang Ibu beri."

Ratih tidak menjawab. Beberapa menit kemudian, dia menyusulku ke dapur.

"Cuma ini?"

Aku berhenti mengiris daun bawang. "Ada ayam kecap, sayur asem, tumis buncis, dan tahu, Mbak."

Ratih mencicipi kuah sayur dengan ujung sendok. Wajahnya langsung berubah masam.

"Hambar. Masak ulang."

Bu Nah ikut mencicipi. "Sudah pas, Ratih. Pak Suryo juga tidak boleh terlalu asin."

"Aku bilang hambar, Bu Nah." Tatapan Ratih berpindah kepadaku. "Atau sekarang pembantu baru boleh menentukan selera keluarga?"

"Tidak, Mbak. Saya perbaiki."

"Bukan diperbaiki. Bikin ulang ayamnya. Yang bumbu rujak. Setengah jam lagi makan malam."

Ayam bumbu rujak perlu ditumis sampai bumbu benar-benar matang. Setengah jam nyaris tidak mungkin, tetapi Ratih sudah pergi sebelum aku menjawab.

Bu Nah menghela napas. "Jangan dimasukkan hati. Dia sedang kesal entah karena apa."

Aku tahu karena apa. Saat tadi menyerahkan buku catatan Arka, Bu Retno memuji jadwal tidur yang lebih teratur. Ratih berdiri di sana dan mendengar ibunya berkata rumah menjadi lebih tenang sejak aku datang.

Pujian kepada seorang pengasuh terdengar seperti penghinaan bagi ibu yang sedang kelelahan.

"Saya bisa bantu mengulek," tawar Bu Nah.

Aku menggeleng. "Bu Nah masih harus menyiapkan minuman dan meja. Saya selesaikan."

"Kalau tidak sempat, bilang. Jangan semua ditanggung sendiri."

Aku hampir tertawa pahit. Di desa, mengakui tidak sanggup berarti memberi Bapak alasan untuk memukul atau tidak memberiku makan. Kebiasaan itu terbawa sampai ke rumah ini. Tawaran bantuan terdengar baik, tetapi tubuhku belum belajar menerimanya.

Aku menyalakan dua tungku. Cabai, bawang, kemiri, dan terasi kutumis sampai minyaknya keluar. Uap panas memukul wajah. Ikatan kain di bawah blus menekan tulang rusuk, membuat napasku pendek.

Ketika ayam masuk ke wajan, keringat sudah mengalir dari pelipis ke leher. Aku melonggarkan kancing paling atas agar tidak pingsan. Hanya satu kancing. Dapur sedang kosong.

Aku keliru.

Langkah berhenti di pintu.

Den Nara berdiri dengan gelas di tangan. Pandangannya jatuh ke wajahku yang merah, lalu ke leher terbuka dan kain yang tampak di balik blus. Tenggorokannya bergerak.

Aku cepat-cepat merapatkan kerah.

"Maaf, Den. Panas sekali."

Dia mengalihkan muka ke dispenser. "Kenapa kau masak lagi?"

"Mbak Ratih minta ayam bumbu rujak."

"Yang di meja kenapa?"

"Katanya hambar."

Den Nara menuang air terlalu penuh sampai sedikit tumpah ke jarinya. Dia meletakkan gelas, mengusap air dengan tisu, lalu menatap wajan.

"Jangan paksakan diri."

"Sebentar lagi selesai."

"Kau selalu bilang begitu."

Aku menoleh. Ada sesuatu yang lebih dari teguran dalam suaranya. Mungkin dia mengingatku mencuci pakaian tengah malam. Mungkin dia tahu aku menahan lapar. Sebelum aku berani bertanya, dia sudah keluar dengan telinga yang tampak memerah.

Untuk beberapa detik, aku lupa mengaduk bumbu.

"Sekar, gosong!" seru Bu Nah dari belakang.

Aku tersentak dan segera mematikan api.

***

Makan malam dimulai terlambat tujuh menit.

Aku berdiri di sisi meja untuk menambah nasi dan mengambil piring kosong. Pak Suryo duduk di kepala meja. Bu Retno di sebelahnya. Mas Bagas baru pulang dari luar kota, sedangkan Mbak Ratih duduk dengan dagu terangkat. Den Nara berada tepat di seberang tempatku berdiri.

Ratih memotong ayam, mengunyah sekali, lalu meletakkan sendok dengan bunyi keras.

"Keras."

Mas Bagas mencicipi. "Empuk, kok."

"Mas membela dia juga?"

"Aku membicarakan ayamnya."

Ratih memandangku. "Tujuh menit terlambat, rasanya juga begini. Kau sebenarnya bisa kerja atau tidak?"

Jari-jariku mencengkeram gagang sendok nasi. "Maaf, Mbak. Waktunya tadi..."

"Jangan menjawab. Pembantu sekarang pintar cari alasan. Baru beberapa hari sudah merasa jadi kesayangan karena bisa menidurkan bayi."

Ruang makan mendadak sunyi.

Bu Retno mengangkat wajah. "Ratih, cukup."

"Saya cuma mengingatkan, Bu. Arka memang tenang sama dia, tapi jangan sampai dia lupa posisi. Tadi saya lihat cara dia berpakaian di dapur juga tidak pantas. Kancing terbuka, sengaja mungkin."

Darah turun dari wajahku. Aku menutup bagian leher dengan telapak tangan.

"Saya kepanasan, Mbak. Hanya sebentar."

"Katanya jangan menjawab."

"Masakannya enak."

Suara Den Nara memotong ucapan Ratih.

Dia mengambil sepotong ayam lagi, memisahkan daging dari tulang dengan tenang, lalu memasukkannya ke mulut. Semua mata beralih kepadanya.

"Bumbunya matang. Ayamnya tidak keras," lanjutnya. "Jangan cari-cari masalah."

Ratih menatap adik iparnya tidak percaya. "Nara, aku cuma..."

"Mbak Ratih menyuruhnya mengganti menu setengah jam sebelum makan. Dia tetap menyelesaikannya. Kalau terlambat tujuh menit, itu akibat perintah yang tidak masuk akal."

"Kau tahu dari mana?"

"Saya melihatnya memasak."

Kalimat itu membuat telingaku panas. Ratih juga menangkap makna lain di baliknya. Matanya turun ke kerah bajuku, lalu kembali ke Den Nara.

Mas Bagas buru-buru mengambil sayur. "Sudah, Ratih. Makanannya enak. Kar, tolong tambah nasi, ya."

Sapaan lembutnya sedikit melonggarkan udara. Aku menambah nasi Mas Bagas dengan tangan yang masih bergetar.

Pak Suryo belum berkata apa-apa. Dia hanya mencicipi ayam, lalu meneruskan makan. Bu Retno memandang Ratih dengan peringatan jelas. Untuk pertama kalinya, Ratih berdiri sendirian dalam serangannya.

Dia mendorong piring.

"Selera kalian rupanya berubah sejak ada orang baru."

"Ratih," tegur Mas Bagas.

Ratih mengambil serbet, melemparkannya ke meja, lalu berdiri. Kaki kursinya menggesek lantai dengan suara tajam.

"Saya tidak selera. Silakan makan masakan kesayangan kalian."

Dia membanting sumpit saji yang tadi dipegangnya, berbalik, dan pergi dari ruang makan.

Mas Bagas berdiri setengah badan, hendak mengejar, tetapi Bu Retno menahannya.

"Biarkan dulu," ujar Bu Retno. "Kalau setiap teguran dibalas dengan pergi, dia tidak akan belajar."

Mas Bagas duduk kembali dengan wajah lelah. Dia menatapku. "Maaf, Sekar. Ratih sedang banyak tekanan di rumah sakit. Bukan alasan untuk bicara begitu, tapi jangan kau simpan sendiri."

"Tidak apa-apa, Mas Bagas."

Den Nara meletakkan sendok. "Ada apa-apa. Orang tidak boleh menuduh pakaian perempuan sebagai niat menggoda hanya karena dapurnya panas."

Pak Suryo akhirnya mengangkat kepala. "Cukup, Nara. Masalahnya sudah selesai."

"Saya hanya memastikan tidak diulang."

"Kau tidak perlu memastikan semuanya di rumah ini."

Nada Pak Suryo tenang, tetapi peringatan di dalamnya jelas. Den Nara menahan tatapan ayahnya selama beberapa detik sebelum kembali makan. Aku sadar pembelaannya kepadaku bukan tindakan tanpa harga. Keluarga ini memperhatikan setiap penyimpangan kecil, bahkan dari putra mereka sendiri.

Aku tetap berdiri dengan sendok nasi di tangan. Malu masih membakar wajahku, tetapi di sela rasa itu ada sesuatu yang membuat dada sesak dengan cara berbeda.

Den Nara tidak menatapku lagi. Dia makan seolah tidak baru saja menentang kakak iparnya di depan seluruh keluarga.

Namun ketika aku hendak membawa mangkuk kosong ke dapur, suaranya menahanku.

"Sekar."

Aku menoleh.

Dia mendorong piring kecil berisi ayam ke tepi meja. "Kau belum makan. Simpan ini."

"Tidak perlu, Den. Saya bisa makan di dapur."

"Simpan. Kau yang memasaknya."

Bu Retno melihat piring itu, lalu wajah putranya. Tidak ada komentar, hanya tatapan panjang yang membuat tengkukku dingin. Aku mengambil piring tersebut karena menolak untuk kedua kali akan menarik perhatian lebih besar.

"Terima kasih," bisikku.

Den Nara mengangguk tipis. Matanya berhenti sepersekian detik pada jariku yang memegang tepi piring, seakan sedang memastikan tanganku tidak lagi terluka.

Ratih yang belum benar-benar jauh berhenti di ujung lorong. Dia melihat piring itu, lalu menatapku dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.

Aku tahu penghinaan malam ini tidak berakhir saat dia meninggalkan meja.

Piring ayam di tanganku terasa hangat, sementara tatapan Ratih dari lorong sedingin ujung pisau yang belum diayunkan.

Malam ini baru saja memberinya alasan untuk membenciku lebih dalam, dan dia pasti akan memakainya pada kesempatan berikutnya dengan cara yang lebih kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!