Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 RAHASIA SEBENARNYA DAN SEBUAH KEPUTUSAN AKHIR
"Iya, Pakde... Pakde juga jaga kesehatan terus di sana, ya. Jangan terlalu diforsir kerjanya. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh...."
Klik.
Zaki menekan tombol merah di layar ponselnya. Sambungan telepon jarak jauh antara pelosok Jawa Timur dan hiruk-pikuk ibu kota Jakarta itu pun terputus, menyisakan keheningan yang langsung ditelan oleh nyanyian malam serangga-serangga desa.
Pemuda itu meletakkan ponselnya perlahan di atas meja kayu. Ia bersandar kembali ke sandaran kursi teras, membiarkan angin malam yang membawa aroma embun dan tanah basah di malam ini yang semakin larut menerpa wajahnya.
Tangannya terulur meraih gelas kaca berukuran besar yang sedari tadi menemaninya. Teh manis di dalamnya sudah tak lagi mengepulkan asap. Suhunya telah mendingin, kalah oleh hawa malam pedesaan yang mulai menusuk tulang. Namun, Zaki tetap mengangkat gelas itu dan menenggak isinya sampai habis tak bersisa.
Rasa manis bercampur sedikit sepat dari daun teh pekat itu mengalir membasahi tenggorokannya yang mengering. Bersamaan dengan itu, helaan napas panjang meluncur dari celah bibirnya.
Helaan napas yang terasa sangat berat, namun di saat yang sama... terasa membebaskan.
Pikirannya kembali memutar ulang percakapan dengan Pakde Mardi barusan.
Pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu terus-menerus menanyakan keyakinannya untuk menjual rumah ini.
Zaki tersenyum getir di bawah temaramnya lampu teras lima watt yang menguning.
Seandainya Pakde Mardi tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Seandainya Pakdenya itu tahu bahwa kepulangan Zaki ke desa kali ini bukanlah sekadar untuk bernostalgia, apalagi sekadar mengambil cuti panjang untuk mengurus penjualan aset warisan.
Kenyataannya, Zaki menyimpan sebuah rahasia besar yang belum berani ia utarakan kepada siapa pun.
IA TELAH RESIGN.
Mengundurkan diri sepenuhnya dari pekerjaannya di Jakarta.
Ingatan Zaki seketika terlempar ke masa-masa beberapa minggu yang lalu, saat ia masih terjebak di dalam labirin beton raksasa bernama Kota Jakarta.
Selama bertahun-tahun, Zaki telah menjalani rutinitas yang membunuh jiwanya secara perlahan.
Berangkat pagi buta menembus lautan kendaraan yang memuntahkan asap knalpot, berdesak-desakan di dalam gerbong KRL yang memaksanya menahan napas, hingga duduk berjam-jam di balik kubikel kantor yang dingin dan tak berjiwa.
Di Jakarta, Zaki perlahan-lahan merasa dirinya bukanlah seorang manusia utuh. Ia merasa hanya menjadi sekrup kecil dari sebuah mesin raksasa yang terus berputar tanpa henti demi mencetak lembaran rupiah.
Ia memang mendapatkan gaji yang cukup, ia bisa makan enak, ia bisa menyewa kamar kos yang nyaman. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah ruang kosong yang terus bergaung meneriakkan rasa sepi.
Di tengah keramaian jutaan manusia ibu kota, Zaki merasa luar biasa terasing. Setiap kali ia menatap gedung-gedung pencakar langit yang angkuh dari balik jendela kosnya, batinnya merintih.
Ia merindukan hamparan hijau persawahan.
Ia merindukan senyum tulus tanpa pamrih dari para tetangga.
Ia merindukan aroma tanah yang tersiram hujan.
Dan lebih dari segalanya... ia merindukan rumah ini. Yang penuh dengan kenangan indah masa kecilnya bersama mendiang kedua orang tuanya.
Maka, dua minggu yang lalu, di atas meja atasannya, Zaki meletakkan sebuah amplop berisi surat pengunduran diri. Tidak ada keraguan saat ia menandatangani surat itu.
Meski atasannya sempat menahan dan menjanjikan kenaikan gaji, hati Zaki sudah terlampau beku untuk dirayu oleh gemerlapnya ibu kota.
Keputusannya sudah bulat.
Ia harus pulang.
Ia harus menyelamatkan kewarasannya sendiri sebelum ibu kota benar-benar menelan habis sisa-sisa sisi manusiawinya.
Zaki sengaja menutupi fakta resign ini dari Pakde Mardi.
Ia tahu betul bagaimana kerasnya perjuangan Pakdenya itu untuk memasukkannya ke perusahaan tersebut bertahun-tahun yang lalu. Zaki tak ingin membuat Pakdenya kecewa atau khawatir akan masa depannya. Biarlah waktu yang nanti akan menjelaskan semuanya secara perlahan.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Kini, Zaki mengedarkan pandangannya ke sekeliling teras.
Matanya menelusuri setiap serat kayu pada pilar-pilar penyangga rumah yang mulai lapuk dimakan usia. Tangannya terulur, mengusap permukaan dinding setengah semen yang permukaannya terasa kasar di telapak tangan.
Rumah ini tidak mewah.
Tidak ada lantai keramik mengkilap, tidak ada pendingin ruangan, bahkan langit-langitnya pun hanya berupa anyaman bambu sederhana.
Namun, setiap jengkal dari bangunan tua ini dibangun dengan keringat dan darah mendiang Bapaknya. Setiap sudut dari lantai tanah liat ini pernah dibasahi oleh air mata dalam doa-doa panjang mendiang Ibunya di sepertiga malam.
"Menjual rumah ini..." gumam Zaki lirih, suaranya nyaris berbaur dengan suara jangkrik, "...sama aja kayak menjual akar kehidupanku sendiri."
Pemikiran itu menghantam batin Zaki dengan kekuatan yang luar biasa.
Bagaimana mungkin ia bisa berpikir untuk menukar semua kenangan sakral ini dengan beberapa gepok uang kertas?
Uang hasil penjualan rumah ini mungkin bisa memberikannya modal untuk memulai bisnis mandiri di Jakarta, atau memberikannya tempat tinggal yang lebih layak di kota.
Tapi, lalu apa?
Ia akan kehilangan satu-satunya jangkar yang mengikatnya pada silsilah keluarganya. Ia akan kehilangan tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu memakai topeng kepalsuan.
Malam itu, di bawah langit malam pelosok Jawa Timur yang bertabur miliaran bintang tanpa terhalang polusi cahaya, Zaki membuat keputusan finalnya.
"Baiklah... Aku nggak akan pernah menjual rumah ini," tegasnya dalam hati.
"TIDAK AKAN PERNAH!"
Keyakinan itu seketika meruntuhkan seluruh beban berat yang selama berminggu-minggu ini bertengger di pundaknya.
Keraguan yang sempat mencekik lehernya sirna tak berbekas.
Rumah ini adalah tempatnya pulang. Di sinilah akar kehidupannya tertanam, dan di sini pulalah ia akan kembali menumbuhkan ranting-ranting masa depannya.
Zaki memutuskan bahwa mulai detik ini, ia akan menetap di desa masa kecilnya itu. Ia akan merawat peninggalan orang tuanya, menghidupkan kembali nyawa bangunan tua ini, dan memulai lembaran hidup yang sama sekali baru.
Kehidupan yang jauh lebih sederhana, namun berakar kuat pada sejarah hidupnya di masa lalu.
Zaki bangkit dari kursinya. Ia membawa gelas kosong dan sisa bungkus biskuitnya masuk ke dalam rumah.
Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Gesekan kakinya dengan lantai tanah liat terdengar seperti sebuah melodi penyambutan dari rumah itu untuk tuan aslinya yang telah kembali seutuhnya.
Sebelum masuk ke kamar, Zaki melipir ke arah belakang rumah menuju sumur tua. Ia menggerek timba, menarik air sumur yang terasa sedingin es, lalu membasuh wajah, tangan, dan kakinya.
Sensasi dingin air sumur itu seolah membilas sisa-sisa kotoran dan kepenatan ibu kota yang masih menempel di pori-pori kulitnya, menyegarkan kembali jiwanya yang sempat layu bertahun-tahun.
Setelah mengunci seluruh pintu dan jendela kayu dengan palang balok, Zaki melangkah masuk ke dalam kamar masa kecilnya.
Kamar itu gelap, hanya diterangi oleh pantulan cahaya rembulan yang mengintip dari celah jendela krepyak. Namun, Zaki sama sekali tidak merasakan ketakutan. Justru, kamar sempit ini terasa seperti memeluknya dengan kehangatan mendiang Ibunya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang sudah ia bersihkan tadi sore. Kasur itu tidak selembut ranjang springbed di kosannya, malah terasa sedikit keras dan bergelombang. Selimut yang ia pakai pun hanya selimut tipis bermotif wayang yang warnanya sudah memudar.
Namun, saat punggung Zaki menyentuh permukaan kasur, dan kepalanya bersandar di atas bantal kapuk yang memancarkan aroma khas kain lawas, sebuah kedamaian absolut merayap masuk ke dalam aliran darahnya.
Semua kecemasan tentang hari esok, semua ketakutan tentang karir yang ia akhiri sendiri, dan semua dilema tentang masa depan, lenyap tertiup hembusan angin malam yang menyusup dari celah jendela.
Batin Zaki benar-benar tenang.
Hatinya telah menemukan pelabuhannya.
Ia berada di tempat yang tepat, di waktu yang tepat.
Kedua kelopak mata pemuda itu perlahan memberat. Deru napasnya mulai teratur dan melambat. Diiringi simfoni suara malam pedesaan yang mengalun layaknya lagu pengantar tidur, kesadaran Zaki perlahan memudar, menyerahkan diri pada pelukan malam.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir hidupnya...
Malam itu, Zaki tertidur dengan sangat pulas dan nyenyak.
Sebuah tidur tanpa beban...
Tanpa mimpi buruk...
Dan tanpa bayang-bayang ketakutan.
Nggak aneh ya klo harumi Nggak percaya, kna dari kecil dia nggak kek haruma yg pernah ngerasain hal mistis. dari haruma jadi tangan nyari tumbal untuk ortunya, trs yg di pondok sampe jadi anak angkat nisa.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull