NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Keheningan di Kamar 304 hanya dipecahkan oleh suara ritmis monitor jantung dan desisan halus alat oksigen. Cahaya bulan pucat menerobos masuk melalui celah tirai, menyinari wajah Kim Seokjin yang tampak jauh lebih rapuh daripada biasanya. Tanpa jas mahal dan senyuman percaya dirinya, Jin terlihat seperti pria biasa yang sedang bertarung melawan kelelahan mendalam.

Tae tidak berkedip. Ia duduk di kursi plastik keras, tangannya masih menggenggam erat tangan kanan Jin yang terasa dingin. Matanya yang bengkak karena menangis kini menatap lekat pada alis kakaknya, seolah-olah jika ia mengalihkan pandangan sedetik saja, Jin akan menghilang.

Yoongi duduk di sudut ruangan, bersandar pada dinding dengan kaki terlipat. Ia pura-pura tidur, tapi matanya sesekali terbuka, mengamati Tae dan Jin. Hoseok dan Namjoon sudah pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang kebutuhan Jin dari apartemennya, meninggalkan Yoongi sebagai penjaga shift malam pertama bersama Tae.

"Yoongi-hyung," bisik Tae tiba-tiba, suaranya serak. "Apakah Hyung benar-benar baik-baik saja? Aku merasa... ada sesuatu yang tidak kau katakan."

Jantung Yoongi melonjak. Ia membuka mata, menatap Tae dengan hati-hati. "Kenapa kau berpikir begitu, Tae-ya?"

"Tadi, saat Dokter berbicara dengan kalian bertiga... ekspresi Joon-hyung sangat serius. Dan Hobi-hyung... dia menghela napas panjang sekali. Bukan napas lega, tapi napas orang yang baru saja mendengar berita berat." Tae menunduk, memainkan ujung selimut Jin. "Aku tahu Hyung sering mengeluh pusing akhir-akhir ini. Tapi pingsan sampai berdarah? Itu tidak normal, Hyung."

Yoongi diam sejenak. Ia ingin berkata jujur. Ia ingin membeberkan semua fakta tentang tumor itu agar Tae tidak hidup dalam ketidakpastian. Tapi ia ingat janji mereka. Lindungi mereka dulu. Biarkan Jin pulih sedikit sebelum dunia mereka runtuh.

"Tae-ya," kata Yoongi pelan, berdiri dan mendekati Tae. Ia berjongkok di depan adik bungsunya itu. "Dokter memang menemukan adanya pembengkakan saraf akibat stres kronis. Itu serius, ya. Tapi bukan penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan. Jin-hyung butuh waktu. Dan yang paling dia butuhkan sekarang bukan rasa takutmu, tapi ketenanganmu. Jika dia bangun dan melihatmu cemas, stresnya akan naik lagi. Kau mau itu?"

Tae menggeleng cepat, air matanya kembali menggenang. "Tidak. Aku tidak mau."

"Maka, bersikaplah normal. Senyum padanya ketika dia sadar. Ceritakan hal-hal lucu dari kampus. Jangan tanya soal pekerjaan. Jangan tanya soal sakit kepalanya. Biarkan dia merasa bahwa dunia di luar sana masih berjalan baik-baik saja karena ada kamu."

Tae mengangguk perlahan, mencoba menahan isak tangannya. "Baik, Yoongi-hyung. Aku janji."

Beberapa jam berlalu. Langit di luar mulai berubah dari hitam pekat menjadi biru tua tanda fajar akan segera tiba. Tiba-tiba, jari-jari Jin bergerak lemah.

"Hyung?" seru Tae, langsung membungkuk lebih dekat.

Kelopak mata Jin bergetar, lalu perlahan terbuka. Pandangannya kabur, fokusnya butuh waktu beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan cahaya redup kamar. Saat wajahnya akhirnya jelas, ia melihat Tae yang tersenyum lebar meski matanya masih merah.

"Tae...?" suara Jin parau dan kering. Ia mencoba duduk, tapi kepalanya berdenyut hebat, membuatnya meringkuk kembali ke bantal. "Aigoo..."

"Jangan bergerak, Hyung!" Tae segera menekan tombol panggil perawat sambil memegang bahu Jin dengan lembut. "Berbaring saja. Dokter bilang kau harus istirahat total."

Jin mengerutkan kening, bingung. Ingatan terakhirnya adalah pertemuan dengan Xiumin dan Chen, lalu kegelapan. "Di mana... Yoongi? Di mana aku?"

"Di rumah sakit, Hyung. Kau pingsan di kantor," bohong Tae lancar, mengikuti skenario yang sudah disepakati. "Yoongi-hyung dan yang lain membawamu ke sini. Mereka sedang istirahat di ruang jaga sebelah. Aku yang menjaga Hyung semalaman."

Jin menatap Tae lama. Ada kecurigaan di matanya. Ia tahu dirinya tidak pingsan di kantor, melainkan di klub. Tapi melihat wajah Tae yang polos dan penuh perhatian, Jin memilih untuk tidak mempertanyakannya lebih jauh. Mungkin Yoongi sudah membereskan situasinya.

"Maafkan Hyung, Tae-ya," bisik Jin, suaranya penuh penyesalan. "Hyung membuatmu khawatir."

"Tidak apa-apa, Hyung. Yang penting Hyung sudah sadar." Tae mengambil gelas air dengan sedotan dan membantu Jin minum. "Minum dulu. Bibirmu kering."

Setelah meneguk air, Jin merasa sedikit lebih baik. Tapi rasa sakit di kepalanya masih ada, meski tidak setajam sebelumnya berkat obat-obatan infus. Ia memandang langit-langit putih, pikirannya berputar cepat. Xiumin dan Chen. Dokumen tender. Apakah mereka sudah aman? Apakah Yoongi sudah mengurusnya?

Pintu kamar terbuka pelan. Yoongi masuk, membawa nampan berisi bubur hangat. Wajahnya tampak segar setelah mencuci muka, tapi lingkaran hitam di bawah matanya masih terlihat.

"Bangun juga rupanya si Worldwide Handsome," canda Yoongi ringan, mencoba mencairkan suasana tegang. Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Sarapan spesial dari dapur rumah sakit. Rasanya mungkin hambar, tapi sehat."

Jin tersenyum tipis, senyuman yang jarang ia tunjukkan akhir-akhir ini. "Kau masih saja cerewet, Yoongi-ah."

Yoongi menarik kursi dan duduk di sisi lain tempat tidur. Matanya bertemu dengan mata Jin. Dalam tatapan itu, ada pesan tersirat yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Kami tahu semuanya, Hyung. Kami tahu tentang tumor itu. Dan kami akan menjagamu.

Jin menyadari perubahan sikap Yoongi. Biasanya Yoongi akan langsung membahas jadwal kerja atau mengeluh tentang lemburan. Tapi hari ini, Yoongi hanya tersenyum tenang dan menyuapkan satu sendok bubur ke arah mulut Jin.

"Makan, Hyung. Nanti kita bicara soal 'liburan' yang sudah lama tertunda," kata Yoongi datar.

Jin mengangkat alis. "Liburan? Sekarang? Perusahaan sedang..."

"Perusahaan akan tetap berjalan tanpa CEO-nya selama seminggu," potong Yoongi tegas. "Itu perintah dokter. Dan juga perintah dari adik-adikmu yang hampir gila karena khawatir. Jadi, jangan coba-coba melawan."

Tae tertawa kecil, suasana di kamar terasa sedikit lebih hangat. Jin menatap kedua orang terpenting dalam hidupnya saat ini-adik kandungnya yang ia lindungi mati-matian, dan sahabatnya yang selalu ada di belakangnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Jin merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.

Ia membuka mulut, menerima suapan bubur dari Yoongi. Rasanya memang hambar, tapi bagi Jin, itu terasa seperti makanan paling lezat di dunia. Karena ia tidak sendirian lagi.

Namun, di balik pintu kamar, di lorong yang sepi, seorang perawat sedang berbicara di telepon dengan suara berbisik.

"Iya, Pak. Pasien Kim Seokjin sudah sadar. Kondisinya stabil. Ya, saya akan pastikan tidak ada pengunjung selain keluarga inti... Apa? Anda ingin mengirim bunga? Baik, Pak. Saya akan terima di resepsionis."

Perawat itu menutup telepon. Nama yang tertera di layar ponselnya bukan nama teman atau kerabat Jin.

"Chen - EXO Entertainment"

Rencana Xiumin dan Chen belum berakhir. Mereka hanya menunggu momen yang tepat untuk menyerang lagi, kali ini bukan dengan ancaman langsung, tapi dengan racun yang lebih halus: informasi palsu dan manipulasi media.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!