NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Perangkap di Kediaman Adijaya

Selamat membaca...

__________

Malam merayap makin larut di kompleks perumahan elite tempat kediaman utama keluarga Adijaya berdiri. Suasana di dalam rumah megah berarsitektur klasik itu tampak tenang, namun di balik pintu kamar kerja Siska Adijaya, sebuah persekongkolan jahat sedang dirancang dengan sangat rapi.

Siska berdiri di dekat jendela, menyesap teh hangatnya seraya mendengarkan laporan dari seorang pelayan senior yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah tersebut seorang wanita paruh baya bernama Mbok Darmi yang telah dibayar mahal oleh Siska untuk menjadi mata-matanya.

"Bagaimana, Mbok? Apakah kau berhasil menemukan sesuatu di ruang kerja Evan atau kamar utama?" tanya Siska dengan nada suara mendesis penuh selidik.

Mbok Darmi menunduk takut, tangannya meremas ujung celemek kerjanya. "M-mohon maaf, Nyonya Siska. Kamar utama Tuan Evan di lantai dua selalu dikunci rapat sejak Nyonya Aura tinggal di sana. Bahkan untuk membersihkan kamar, hanya Mbok Sumi pelayan pribadi Kakek Surya yang diizinkan masuk."

Siska menggertakkan giginya kesal, meletakkan cangkir porselennya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi berdenting yang keras.

"Dasar tidak berguna!" umpat Siska tajam. "Lalu bagaimana dengan berkas-berkas pribadi yang dibawa Aura? Kau pasti tahu di mana dia menyimpan tas atau dokumen pribadinya saat pertama kali pindah ke rumah ini!"

Mbok Darmi tampak berpikir sejenak, lalu matanya membelalak seperti mengingat sesuatu. "A-ada satu hal, Nyonya! Minggu lalu, saat Nyonya Aura sedang terburu-buru pergi ke rumah sakit untuk menjenguk adiknya, saya melihatnya menyimpan sebuah map dokumen berwarna kuning di dalam brankas kecil ruang perpustakaan pribadi di lantai dasar."

Siska menajamkan pandangannya, senyum licik mengembang perlahan di wajahnya yang dipoles kosmetik tebal.

"Ruang perpustakaan lantai dasar?" ulang Siska memastikan.

"Benar, Nyonya. Ruangan itu jarang dikunjungi Tuan Evan karena beliau lebih sering bekerja di kamar atas atau di kantor pusat."

Siska mengibaskan tangannya, mengisyaratkan pelayan itu untuk keluar. "Bagus. Kau boleh pergi. Dan ingat, jika ada satu kata pun yang bocor ke telinga Kakek Surya atau Evan, kau tahu akibatnya pada keluargamu di kampung."

"B-baik, Nyonya. Saya mengerti," cicit Mbok Darmi seraya terburu-buru keluar dari ruangan.

Setelah pelayan itu menghilang, Siska segera mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan singkat kepada Aris Pratama.

____________________________________________________________________________________________

'Aku menemukan lokasi penyimpanan dokumen pribadinya di perpustakaan lantai dasar. Malam ini saat jam makan malam keluarga, aku akan mengalihkan perhatian Evan dan Kakek Surya. Kirim orangmu untuk mengambil foto dokumen itu.'

Di seberang sana, Aris menyunggingkan senyum kemenangan saat membaca pesan tersebut. 'Bagus. Orangku sudah bersiap di luar pagar belakang kediaman Adijaya. Pastikan pengalihan perhatianmu berjalan mulus, Nyonya Siska.'

____________________________________________________________________________________________

Pukul tujuh malam.

Suasana makan malam di meja makan utama kediaman Adijaya terasa cukup hangat. Kakek Surya duduk di kepala meja, diapit oleh Evan dan Aura di sisi kanan, serta Siska dan Raka di sisi kiri.

Aura secara telaten melayani Kakek Surya, mengambilkan lauk pauk dan memastikan sayur yang dikonsumsi pria tua itu sesuai dengan resep dokter. Kakek Surya tersenyum gembira, menatap Aura dengan pandangan penuh kasih sayang seorang kakek kepada cucu menakutkan yang sangat dibanggakannya.

"Aura, masakan sup ikan ini sungguh enak. Kau yang meminta koki rumah menyiapkan bumbu khususnya, kan?" puji Kakek Surya seraya menyesap kuah sup yang hangat.

"Iya, Kakek," jawab Aura ramah. "Dokter bilang Kakek harus mengurangi asupan garam dan minyak, jadi saya minta koki mengganti bumbunya dengan rempah-rempah alami."

Evan yang duduk di samping Aura melirik istrinya, mengusap lembut punggung tangan Aura di bawah meja. Rasa bangga dan cinta makin bersemi di dadanya melihat betapa Aura begitu tulus merawat keluarganya.

Melihat pemandangan hangat tersebut, dada Siska terasa terbakar oleh rasa dengki. Namun, ia harus menjalankan rencananya. Siska sengaja menjatuhkan sendok peraknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara berdenting yang sangat nyaring.

Kring!

Seluruh pandangan di meja makan seketika tertuju pada Siska.

"Aduh, maafkan aku," ucap Siska dengan raut wajah yang dibuat-buat panik. "Tanganku mendadak lemas. Ayah... Evan... ada hal penting terkait laporan keuangan yayasan panti asuhan keluarga yang ingin kutanyakan pada Evan malam ini."

Evan mengerutkan keningnya, menatap ibu tirinya dengan pandangan curiga. "Soal yayasan? Bukankah laporan itu biasanya diserahkan setiap akhir bulan melalui Pak Bimo?"

"Ini darurat, Evan," kilah Siska cepat, memajukan tubuhnya. "Ada selisih pembukuan dana bantuan dari kementerian yang harus kau tandatangani malam ini juga sebelum besok pagi diperiksa dinas sosial. Berkasnya ada di ruang kerjaku di lantai atas. Bisakah kau dan Raka ikut ke atas sebentar untuk memeriksanya?"

Kakek Surya menghela napas berat, menatap Siska dengan pandangan jenuh. "Siska, ini jam makan malam. Kenapa harus membahas urusan pekerjaan sekarang?"

"Tidak apa-apa, Kakek," sela Evan tenang. Ia berdiri dari kursinya, lalu menepuk pelan bahu Aura. "Aura, kau tetap di sini menemani Kakek makan. Aku akan memeriksa berkas Siska sebentar di atas."

"Baik, Evan. Jangan terlalu lama ya," sahut Aura manis.

Evan mengangguk, lalu melangkah menuju lantai atas diikuti oleh Siska dan Raka.

Saat Siska memastikan Evan sudah masuk ke ruang kerjanya dan sibuk memeriksa draf laporan palsu yang sengaja ia siapkan untuk mengulur waktu, Siska secara diam-diam memberikan kode berupa panggilan tak terjawab (missed call) kepada orang suruhan Aris yang sudah berhasil menyusup melalui pintu belakang perpustakaan.

Di ruang perpustakaan lantai dasar yang remang-remang.

Seorang pria berjaket hitam dengan wajah tertutup masker melangkah tanpa suara menyusuri deretan rak buku yang tinggi. Dengan lihai, ia mendekati sebuah brankas besi kecil bersandi angka yang terletak di balik lukisan pemandangan di sudut ruangan.

Pria itu mengeluarkan sebuah alat peretas sandi elektronik dari dalam tasnya, menempelkannya pada panel kunci digital brankas tersebut.

Bip... Bip... Bip... Ceklek!

Hanya dalam hitungan detik, lampu indikator brankas berubah menjadi hijau dan pintunya terbuka pelan.

Di dalam brankas tersebut, tergeletak sebuah map dokumen berwarna kuning tebal. Pria itu segera meraih map tersebut, membukanya, dan menyalakan lampu kilat (flash) kamera ponselnya untuk mengambil foto dari setiap lembar kertas di dalamnya.

Di lembar pertama: Surat Perjanjian Pernikahan Kontrak. Di lembar kedua: Rincian Pembayaran Uang Garansi Dua Miliar Rupiah atas nama Aura Dania. Di lembar ketiga: Klausul Perceraian Tanpa Tuntutan Harta Gono-Gini setelah Masa Kontrak Berakhir.

"Dapat," bisik pria berjaket hitam itu dengan senyum licik dari balik maskernya.

Ia dengan cepat mengembalikan map kuning itu ke posisi semula, menutup pintu brankas rapat-rapat, lalu menyelinap keluar melalui jendela kaca perpustakaan menuju kegelapan malam.

Sepuluh menit kemudian, Aris Pratama yang sedang duduk di dalam ruang kerjanya menerima beberapa lampiran foto beresolusi tinggi di ponselnya.

Aris membuka foto-foto tersebut satu per satu. Matanya membelalak lebar membaca kalimat demi kalimat yang tertera dalam surat perjanjian kontrak itu.

"Hahaha! Luar biasa!" Aris tertawa terbahak-bahak, suara tawa liciknya bergema di dalam ruangan yang sepi.

Ia memandangi foto dokumen yang menampilkan tanda tangan Evan Adijaya dan Aura Dania di atas meterai.

"Dua miliar rupiah untuk sebuah pernikahan palsu?!" seru Aris penuh kemenangan. "Kau sungguh bernasib sial, Evan Adijaya! Jika dokumen ini sampai bocor ke media bursa saham dan Kakek Surya... tidak hanya takhtamu sebagai Komisaris Utama yang akan hancur berantakan, tapi Kakekmu juga pasti akan langsung masuk rumah sakit!"

Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap layar ponselnya dengan binar mata penuh dendam.

"Permainan baru saja dimulai, Evan. Mari kita lihat sampai kapan kau bisa mempertahankan 'istri kontrakmu' itu dari tanganku!"

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!