Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 13
Minggu pagi datang dengan langit cerah tanpa awan, cuaca yang jarang sekali terjadi belakangan ini mengingat musim hujan yang masih berlangsung.
Karina baru saja selesai menjemur pakaian dijemuran kecil belakang kosnya ketika ponsel jadul milik Alya yang kini ia gunakan berbunyi menandakan ada pesan masuk.
>Bram: Al, lo ada acara nggak hari ini?
Karina tersenyum kecil membaca pesan itu, dan jarinya dengan cepat segera mengetik balasan.
>Karina: Nggak ada sih, emangnya kenapa?
>Bram: Nenek maksa gue keluar rumah, katanya gue kebanyakan dirumah terus jarang jalan jalan. Mau ikut ke alun alun kota nggak? Katanya minggu ini lagi ara pasar kaget sama pameran gitu.
Karina tertawa kecil membaca pesan itu sambil membayangkan nenek Bram yang meskipun masih dalam masa pemilihan tetap sempat sempatnya mengurus urusan cucunya.
>Karina: Boleh banget!! Jam berapa?
>Bram: Jam sembulan didepan gerbang taman kota ya, gue traktir es kelapa muda, anggep aja permintaan maaf soal yang kemaren kemaren.
Karina tersenyum lebar membaca pesan terakhir itu, merasakan kehangatan yang berbeda dari yang biasanya.
Bukan lagi kehangatan dari rasa iba atau tanggung jawab sebagai penolong, melainkan seperti dua orang teman biasa yang menikmati hari libur bersama.
...----------------...
Alun alun kota pagi itu ramai dengan pengunjung, sinar matahari yang hangat berpadu dengan semilir angin yang membuat suasana terasa begitu nyaman.
Bram sudah menunggu didepan gerbang taman, mengenakan kaos putih sederhana yang jauh berbeda dari seragam kusut yang biasanya dia pakai.
Ia terlihat lebih segar, lebih santai, dengan senyum yang menyambut Karina begitu tiba.
"Kamu udah lama nunggu?" Tanya Karina dengan sedikit terengah karna buru buru berjalan dari halte bus.
"Baru juga." Jawabnya sambil tersenyum. "Ayo kesana dulu, katanya pamerannya dideket air mancur."
Meteka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak taman kota yang dipenuhi pedagang kaki lima dan stan stan kecil pasar kaget.
Mulai dari penjual jajanan tradisional, kerajinan tangan, sampai berbagai permainan sederhana yang mengundang tawa anak anak kecil disekitarnya.
"Eh coba lempar bola itu, kalo menang dapet boneka." Brak menunjuk salah satu stan permainan lempar bola kebotol susun.
"Kamu yang coba, aku liatin aja." Jawab Karina sambil tertawa.
"Ih, lo nggak seru." Ucap Bram sambil berpura pura merengut, tapi akhirnya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk mencoba permainan itu.
Lemparan pertama meleset jauh, membuat penjaga stan tertawa geli. Lemparan kedua sedikit lebih baik, mengenai satu botol tapi belum cukup untuk merobohkan semuanya.
Pada lemparan ketiga, dengan konsentrasi penuh yang membuat Karina tertawa melihat ekspresi seriusnya, Bram akhirnya berhasil merobohkan seluruh susunan botol.
"Yes!!" Serunya sambil mengangkat tangan penuh kemenangan seperti anak kecil yang baru memenangkan lomba besar.
Penjaga stan tersenyum sambil menyerahkan boneka kelinci kecil berwarna coklat sebagai hadiah. Bram menerimanya dengan bangga, lalu tanpa ragu menyerahkannya kepada Karina.
"Nih buat lo." Ucapnya dengan sedikit canggung tapi tulus.
Karina menerima boneka itu dengan senyum lebar, merasakan kehangatan yang menjalar didadanya. "Makasih Bram. Ini lucu banget."
"Sana sama." Jawabnya dengan wajah sedit memerah dah buru buru mengalihkan pandangan kearah stan berikutnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
...----------------...
Mereka menghabiskan pagi itu dengan berkeliling pameran foto yang dipajang disepanjang tepi taman, menampilkan berbagai karya fotografer lokal tentang keindahan kota dan kehidupan sehari hari masyarakat.
Bram tampak begitu tertarik pada salah satu foto yang menampilkan seorang kakek tua yang sedang menjajakan mainan tradisional dipinggir jalan, ekspresinya penuh dengan kegembiraan sederhana meski hidupnya jelas tidak mudah.
"Gue suka foto ini, ntah kenapa ini kayak ngingetin gue kalo kebahagiaan nggak selalu harus dateng dari hal hal besar." Gumam Bram sambil menatap lama foto itu.
Karina menatapnya, sedikit terkejut mendengar refleksi sedalam itu dari Bram. "Kamu jadi filosofis banget hari ini."
"Habisnya belakangan ini gue banyak mikir, dulu gue selalu ngerasa idup gue ini penuh sama masalah doang nggak pernah ada hal baik uang beneran kejadian. Tapi sekarang...." Ia berhenti sejenak sambil menatap Karina. "Sekarang gue baru sadar, kadang kebahagiaan itu ada di hal hal kecil yang nggk gue sadari sebelumnya. Kayak hari ini misalnya."
Karina merasa dadanya kembali menghangat mendengar kata kata itu. "Aku seneng banget dengernya, Bram."
Mereka melanjutkan langkah menyusuri pameran, sesekali berhenti untuk membeli jajanan es kelapa muda seperti yang dijanjikan Bram.
Membeli sate keong uang membuat Karina awalnya ragu tapi akhirnya ketagihan setelah mencobanya, dan kerak telor yang harus mereka makan berdua karna porsinya terlalu besar untuk satu orang.
"Lo nggak pernah cerita sebelum pindah kesini lo tinggal dimana?" Tanya Bram tiba tiba saat mereka duduk dibangku taman sambil menikmati es kelapa muda masing masing.
Karina terdiam sejenak memikirkan jawaban yang aman untuk diberikan. "Dikota kecil uang jauh dari sini. Nggak seramai kota ini."
"Lo kangen nggak sama tempat itu?"
"Kadang, tapi aku juga seneng ada disini sekarang."
"Kenapa?" Tanya Bram penasaran.
"Karna aku ketemu kamu." Jawab Karina dengan jujur tanpa berpikir panjang.
Bran terdiam menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan terkejut, tapi juga ada kebahagiaan yang jelas terlihat dimatanya. "Alya...."
"Apa?" Karina balik bertanya dengan sedikit salah tingkah menyadari kalimatnya barusan terdengar lebih intim dari yang ia maksudkan.
"Nggak, nggak papa." Bram tersenyum sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah dipipinya. "Cuma seneng aja denger itu."
...----------------...
Menjelang siang saat matahari mulai terasa lebih terik, mereka memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon rindang dekat air mancur, menikmati semilir angin sambil mengobrol tentang hal hal ringan, seperti film favorit, makanan yang paling mereka sukai, hingga cita cita yang belum pernah mereka ceritakan pada siapapun sebelumnya.
"Gue pengen jadi guru olahraga, aneh nggak sih?" Kata Bram tiba tiba dengan sedikit malu mengakuinya.
"Nggak aneh sama sekali." Jawab Karina sambil tersenyum tulus. "Kenapa guru olahraga?"
"Soalnya dulu waktu sd, ada guru olahraga yang selalu perhatikan sama gue, walaupun anak anak lain suka ngejek gue gara gara nggak punya sepatu olahraga yang bagus." Ucap Bram sambil matanya menerawang ingatan masa lalunya.
"Dia selalu bilang olahraga itu bukan soal siapa yang paling kaya atau keren, tapi soal siapa yang paling gigih berusaha. Gue pengen jadi kayak dia, buat anak anak lain yang mungkin ngerasa kayak gue dulu.
Karina mendengarkan dengan haru daj menyadari betapa dalamnya perubahan yang terjadi pada diri Bram sejak pertemuan pertama mereka, dan kini mulai menjadikan orang yang memiliki mimpi dan tujuan hidup.
"Aku yakin kamu bakal jadi guru olahraga yang keren, dan mungkin akan banyak murid yang beruntung punya guru kayak kamu."
Bram menatapnya lama dengan senyum yang mengembang diwajahnya. "Thanks Al udah selalu percaya sama gue."
"Sama sama."
...----------------...
Malam ity dikamar kosnya Karina menatap boneka kelinci yang kini duduk manis diatas mejanya, senyum tak lepas dari wajahnya saat mengingat kembali momen momen indah hari itu.
Layar rembus pandang muncul disudut pengelihataannya.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 5.100 / 100.000.]
[Poin diterikan atas momen kebahagiaan murni yang berhasil dirasakan subjek, terlepas dari segala beban dan trauma masa lalu.]
[Catatan: momen momen sederhana seperti ini seringkali menjadi fondasi paling kokoh bagi definisi kebahagiaan sejati, jauh lebih berarti daripada pencapaian besar sekalipun.]
Karina tersenyum senang membaca catatan itu, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya.
buang aja,karina mati lagi aja