Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : PERHATIAN YANG MEMBUAT CANGGUNG
...BAB 14...
...PERHATIAN YANG MEMBUAT CANGGUNG...
Bagaimana rasanya ketika setrika panas itu mengenai tubuhnya?
Seberapa takut Wulan saat itu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berputar di kepala Rian sepanjang perjalanan pulang. Ia masih teringat ucapan Wulan.
Dia menempelkannya ke lengan saya.
Rian menggenggam kemudi lebih erat. Dadanya terasa panas. Ia tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa memperlakukan istrinya sendiri seperti itu.
Beberapa kali Rian ingin bertanya lebih banyak, tetapi melihat mata Wulan yang sembap membuatnya mengurungkan niat.
Akhirnya, setelah beberapa menit dalam keheningan, Rian berkata, “Kenapa kamu tidak melaporkannya ke polisi saat itu?”
Wulan yang sejak tadi memandangi jalan menoleh. “Melaporkan?”
“Iya.” Rian menarik napas. “Dia memukulmu. Menyiram tubuhmu dengan air panas. Bahkan menggunakan setrika untuk melukaimu. Itu bukan hal yang sepele, Wulan.” Nada suara Rian terdengar sedikit emosional.
Wulan terdiam cukup lama. “Saya tahu, Pak.”
“Lalu kenapa?”
Wulan menunduk. “Karena waktu itu saya hanya ingin dia menceraikan saya.”
Rian mengerutkan kening. “Cuma itu?”
Wulan mengangguk. “Setelah bertahun-tahun hidup seperti itu, saya sudah tidak menginginkan apa-apa lagi.” Suaranya lirih. “Saya tidak ingin balas dendam. Tidak ingin membuat masalah semakin panjang. Saya hanya ingin keluar dari hidupnya saat itu."
Rian masih terdiam dan mendengarkan.
Wulan melanjutkan lagi, “Ketika akhirnya Handi mau menceraikan saya, saya merasa lega.” Ia tersenyum getir. “Bagi saya, perceraian itu sudah cukup.”
Rian menatapnya beberapa detik. Ia sebenarnya masih tidak setuju. Namun ia juga sadar, Wulan yang menjalani semuanya. Bukan dirinya.
“Kalau begitu saya tidak akan memaksamu melaporkannya. Tapi…” Rian kembali menatap jalan. Wulan menatap Rian. “Kalau suatu hari dia mengganggumu lagi, jangan hadapi sendirian.”
Wulan terdiam.
“Hubungi saya.”
“Iya, Pak.”
“Janji?”
Wulan sedikit terkejut mendengar keseriusan dalam suaranya. Akhirnya ia mengangguk. “Iya.”
Rian baru bisa bernapas lega.
*****
Keesokan paginya, Rian memanggil Mira.
“Mira.”
“Iya, Pak?”
“Saya ingin kamu mencarikan satu orang pekerja lagi.”
Mira tampak bingung. “Orang lagi, Pak?”
“Pembantu khusus.”
“Untuk apa Pak?”
“Pekerjaan untuk mencuci pakaian dan bersih-bersih rumah.”
Mira langsung mengerti. “Untuk membantu Bu Wulan?”
Rian mengangguk. “Iya.”
Mira tersenyum kecil. “Bukankah selama ini Bu Wulan memang mengerjakan semuanya?”
“Itulah masalahnya.” Rian mengambil kopi di meja. “Mulai sekarang Wulan tidak perlu mencuci pakaian dan mengerjakan pekerjaan yang berat.”
Mira mengangguk lalu. “Lalu tugasnya Bu Wulan apa?”
“Hanya menjaga anak-anak.”
“Ketiga anak?”
“Ya.”
Rian berhenti sebentar. “Delon sekolah, jadi Wulan mengurus Rana dan Astrid di rumah. Kalau ada pekerjaan lain yang perlu dilakukannya, kamu bantu dia.”
Mira tersenyum. “Baik, Pak.”
“Dan satu lagi.”
“Apa itu, Pak?”
“Luka-luka ditubuh Wulan.”
Mira langsung serius.
“Kenapa dengan luka Bu Wulan?”
“Dokter memberikan salep ini.” Rian menyerahkan obat tersebut. “Mulai hari ini, kamu bantu Wulan oleskan salep ini setiap hari. Pastikan dia menggunakannya secara rutin.” perintahnya.
Mira menerima obat itu. “Baik Pak Rian.”
Rian mengangguk. “Jangan sampai dia lupa.”
Mira menahan senyum. “Sepertinya Bapak sangat memperhatikan Bu Wulan.”
Rian meliriknya, menggaruk tengkuk yang tak gatal. “Saya memperhatikan semua orang yang bekerja di rumah ini.”
Mira mengangguk cepat. “Iya, Pak.”
Namun senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Rian tahu Mira sedang menggodanya. “Sudah. Kerjakan saja.”
Wulan mengetahui perubahan tugasnya ketika Mira menghampirinya setelah sarapan.
“Bu Wulan.”
“Iya, Bu Mira?”
“Mulai hari ini Ibu tidak perlu mencuci pakaian lagi.”
Wulan terkejut. “Lho, kenapa?”
“Pak Rian sudah meminta kita mencari pembantu tambahan khusus untuk mencuci dan bersih-bersih.”
Wulan langsung mengerti. “Karena dia sudah tahu luka saya?”
Mira mengangguk. Wulan menarik napas. “Seharusnya Pak Rian tidak perlu sampai seperti itu.”
“Bapak juga meminta saya membantu mengoleskan salep setiap hari untukmu.”
Wulan semakin tidak enak hati. “Tidak usah, Bu. Saya bisa melakukannya sendiri.”
“Pak Rian bilang harus dibantu.”
Wulan memijat pelipisnya. “Kenapa beliau jadi repot sekali?”
Mira tersenyum. “Mungkin karena beliau tidak ingin Ibu tambah sakit.”
Wulan tidak menjawab. Justru dadanya terasa semakin tidak nyaman. Bukan karena tidak senang. Tetapi karena perhatian Rian membuatnya merasa seperti memiliki beban baru.
Wulan tidak terbiasa dipedulikan oranglain. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengurus semuanya sendirian.
Siang harinya, Rian pulang lebih cepat dari kantor. Begitu masuk rumah, ia melihat Wulan sedang menyapu lantai ruang keluarga.
“Wulan.” panggilnya.
Perempuan itu langsung menoleh. “Iya, Pak?”
“Kenapa masih menyapu?”
Wulan melihat sapu di tangannya. “Cuma sebentar.”
“Kan sudah saya bilang, pekerjaan seperti itu tidak perlu kamu lakukan lagi.”
“Saya tidak terbiasa hanya duduk saja.”
“Kamu bukan duduk.” Rian menunjuk Rana dan Astrid yang sedang bermain di karpet.
“Kamu saya tugaskan hanya menjaga anak-anak.”
Rana langsung berlari menghampiri. “Papa!”
Rian tersenyum dan mengangkat putrinya. Astrid ikut berlari. “Om Rian!”
“Kenapa?”
“Rana curi boneka Astrid.”
Rana langsung memeluk boneka yang ada di tangannya. “Ini punya Rana!”
“Bukan!”
“Punya Rana!”
Rian tertawa. “Sudah, sudah. Bonekanya dibagi.”
Astrid menggeleng. “Tidak mau.”
Wulan menahan senyum. “Bagaimana cara membaginya?”
Rian menatap kedua anak itu. “Boneka itu punya siapa?”
“Astrid!”
“Rana!”
Keduanya menjawab bersamaan. Rian menghela napas. “Kalau begitu Papa belikan satu lagi.”
Rana langsung bersorak. “Mau!” Astrid ikut tersenyum.
Wulan memandang Rian. “Bapak terlalu memanjakan mereka.”
Rian mengangkat bahu. “Namanya juga anak-anak.” Lalu pandangannya jatuh kepada Wulan. “Termasuk anak-anakmu.”
Wulan terdiam. “Delon juga?”
“Kenapa tidak?” ucapnya tersenyum.
*****
Keesokan harinya, Rian kembali pulang lebih awal, dia sengaja menjemput Delon dari sekolah.
Ketika mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Delon terlihat terkejut melihat Rian turun.
“Pak Rian?”
“Iya.”
“Bapak jemput Delon?”
Rian mengangguk.
“Mama yang suruh?” tanya Delon.
“Tidak.” Rian menggeleng.
“Terus?”
Rian tersenyum. “Papa Rana yang jemput.”
Delon menggaruk kepala. “Tapi Mama bilang kan, Pak Rian selalu sibuk.”
“Memang.”
“Terus kenapa hari ini jemput Delon?”
“Karena hari ini saya ingin.”
Delon tersenyum. Ia kemudian masuk ke mobil. “Terima kasih, Pak.”
Rian mengangguk. “Bagaimana sekolahmu?”
“Seru.”
“Pelajarannya?”
“Hanya pelajaran matematika ada bagian yang susah.”
Rian tertawa. “Nanti kita belajar bersama.”
Delon langsung mengangguk.
Di dalam hatinya, Rian mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya Rana. Ia mulai merasa bertanggung jawab terhadap ketiga anak yang sekarang ada di rumahnya.
Mungkin karena mereka telah menjadi bagian dari keseharian hidupnya. Atau mungkin karena ia mulai menyadari betapa banyak yang harus ditanggung Wulan sendirian.
Beberapa hari kemudian, datanglah hari libur. Rian mengumumkan sesuatu saat sarapan.
“Hari Minggu besok bagaimana kalau kita pergi bermain.”
Wulan menoleh. “Pergi ke mana, Pak?”
“Ke taman hiburan.”
Mata Delon langsung berbinar. “Serius?”
“Iya.” angguk Rian.
Astrid ikut bersorak. “Mau! Astrid juga ikut."
Rana yang belum benar-benar memahami maksudnya ikut berteriak, “Mau jalan-jalan!”
Wulan tersenyum melihat kegembiraan anak-anak. Namun ketika Rian berkata, “Kamu juga ikut.”
Senyumnya langsung hilang. “Saya juga?”
“Iya.”
“Saya tidak perlu ikut, Pak.” Wulan menolaknya.
“Kenapa?”
“Saya di sini bersama Mira bisa menjaga rumah.”
Rian menggeleng. “Tidak-tidak.”
“Tapi—”
“Anak-anak akan lebih senang kalau kamu ikut juga. Ya kan anak-anak."
"Iya Ma, Mama juga ikut saja. Kita kan jarang-jarang pergi ke taman hiburan!" sahut Delon. Astrid mengiyakannya menarik-narik tangan Wulan.
Wulan masih ragu. Rian kemudian menatapnya. “Lagipula kamu juga butuh hiburan.”
“Saya tidak apa-apa di rumah.”
“Wulan.” sela Rian, tatapannya kini serius. Dengan nada suara yang membuat Wulan tahu bahwa perdebatan tidak akan menghasilkan apa-apa.
Akhirnya Wulan menghela napas, lalu mengangguk pasrah. “Baiklah.”
Delon dan Astrid langsung bersorak riang. Rian pun tersenyum puas.
Hari Minggu tiba. Mereka pergi bersama. Rian, Wulan, Rana, Delon, dan Astrid. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga.
Rian berjalan sambil menggandeng Rana. Di sisi lain, Wulan memegang tangan Astrid, sementara Delon berjalan di antara mereka.
Beberapa orang bahkan sempat melirik. Ada yang tersenyum melihat mereka. Ada pula yang mengira mereka adalah pasangan suami istri dengan tiga anak.
Wulan menyadarinya. Wajahnya langsung memerah. Ia langsung mempercepat langkah dan berjalan agak jauh dari Rian.
Rian justru menoleh. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kok jalannya cepat-cepat?”
“Biasa saja.”
Rian melihat beberapa orang yang memperhatikan mereka. Ia tersenyum kecil. “Biarkan saja mereka.”
Wulan menatapnya. “Bapak apa tidak malu?”
“Kenapa harus malu?”
Wulan tidak menjawab.
Rian kemudian berkata santai, “Anggap saja mereka sedang melihat keluarga yang menikmati hari libur.”
Wulan terdiam. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Sementara anak-anak tertawa dan berlari kecil di depan mereka, Rian dan Wulan berjalan berdampingan.
Untuk pertama kalinya, kehidupan terasa begitu sederhana. Tidak ada pertengkaran, tangisan dan juga ketakutan.
Hanya tawa anak-anak dan perhatian kecil yang perlahan membuat jarak antara Rian dan Wulan semakin tipis. Namun Wulan belum menyadari satu hal.
Perhatian Rian yang awalnya hanya karena rasa kasihan, perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang bahkan Rian sendiri belum mampu beri nama.
Bersambung...