Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Salah Sebut Nama
Suasana di dalam ruang kerja Arka seketika senyap begitu pintu mahoni itu tertutup rapat. Pria itu membiarkan dirinya bersandar di balik meja marmer hitam, melepas sisa-sisa ketegangan dari ruang rapat utama tadi. Jas abu-abunya ia buka dan sampirkan di sandaran kursi, sementara dasinya kembali ia longgarkan agar napasnya lebih lega.
Di tengah keheningan itu, sudut bibirnya tanpa sadar kembali tertarik ke atas. Bayangan tawa geli Naya di apartemen pagi tadi mendadak menguar begitu saja di kepalanya, menembus dinding pertahanan mental yang sedemikian rupa ia bangun.
Sifat dingin, otoriter, dan penuh perhitungan yang baru saja ia tunjukkan di hadapan para petinggi PT Samudera seolah melebur seketika, berganti dengan kehangatan asing yang menggelitik dadanya.
Ceklek.
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka tanpa aba-aba. Doni melangkah masuk dengan santai sambil menenteng map berisi draf addendum kontrak yang baru saja dirampungkan tim legal.
“Wih, bos besar kita. Abis bantai orang kok malah senyam-senyum sendiri di pojokan? Kesambet apa lu, Bro? Jangan bilang lu jatuh cinta sama muka pucat si Hartono tadi?” celoteh Doni tanpa beban, langsung berjalan mendekati meja kerja Arka.
Namun langkah Doni terhenti seketika saat melihat ekspresi bosnya. Arka tidak langsung memasang wajah datar andalannya seperti biasa. Pria itu justru menatap lurus ke arah Doni dengan senyuman tipis yang masih membekas di bibirnya, sorot matanya lembut, sesuatu yang sama sekali tidak pernah Doni lihat selama bertahun-tahun mereka bersahabat dan bekerja sama.
Belum sempat Doni melontarkan protes atau candaan lanjutan atas ekspresi aneh sahabatnya itu, Arka tiba-tiba bersuara dengan nada bicara yang jauh dari kesan formal.
“Jangan cemberut gitu, Nay. Lucu banget sih kalau lagi sebal...” ucap Arka spontan, memanggil nama perempuan itu dengan nada setengah menggoda, masih terjebak dalam lamunannya sendiri.
Doni langsung mematung di tempat. Map di tangannya hampir melorot. Ia menatap Arka dengan mata mengerjap-ngerjap tak percaya, lalu menunjuk wajahnya sendiri sambil melongo lebar.
“Hah? Nay? Sejak kapan nama gue berubah jadi Naya, Bos? Lu beneran kesambet penunggu kantor atau otak lu konslet abis meeting?” seru Doni kaget, setengah takjub setengah ngeri.
Mendengar suara cempreng Doni, Arka pun langsung tersentak kembali ke kenyataan. Sorot mata lembut beberapa saat lalu seketika menguap, berganti dengan kerjapan kaget sebelum berubah menjadi pelototan tajam penuh peringatan. Wajah Arka langsung merona tipis, sebuah pemandangan langka yang membuat Doni sukses terbahak keras.
“Sialan lu... berhenti tertawa!” geram Arka cepat, buru-buru menarik kembali topeng dinginnya dan berdehem keras untuk menutupi salah tingkah.
Doni malah terbahak semakin kencang, memegangi perutnya sambil menunjuk ke arah Arka yang kini sudah kembali memasang wajah sedingin es, meski rona merah tipis masih jelas tertinggal di balik telinganya.
“Anjir, parah sih ini, gawat darurat!” seru Doni di sela-sela tawanya, sengaja melempar map di tangannya ke atas meja kerja Arka lalu menarik kursi dan duduk dengan santai.
“Seumur-umur gue jadi asisten sekaligus sahabat lu, baru kali ini gue lihat singa kantor kesurupan jadi bucin gara-gara cewek. Lu kesambet apa, Bro? Jangan-jangan kontrak nikah satu tahun itu beneran bikin lu lupa daratan?”
Arka mendengus pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungnya yang sempat berantakan karena salah tingkah. Ia menyambar kembali jas abu-abunya, lalu melirik sahabatnya dengan tatapan tajam.
“Diam atau laporan keuangan divisi marketing bulan ini gue periksa ulang sampai baris terakhir,” ancam Arka datar, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas, meski ancaman itu sama sekali tidak mempan untuk meruntuhkan cengiran lebar di wajah Doni.
Alih-alih takut, Doni justru semakin mencondongkan tubuhnya ke depan meja seraya menatap bosnya dengan mata menyipit penuh selidik.
“Santai kali, Bos, ancaman lu kurang serem buat gue,” ledek Doni dengan nada jenaka.
“Lagian lu gak bisa ngibulin gue lagi. Ngaku aja, lu udah jatuh cinta kan sama Naya?”
Arka terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, bukan karena marah, melainkan karena telak diserang oleh kebenaran yang bahkan belum sepenuhnya ia akui pada dirinya sendiri.
Bayangan tawa Naya pagi tadi kembali melintas sekilas di benaknya.
“Jatuh cinta?” batin Arka mempertanyakan.
Ia mendengus sinis, sengaja membuang muka ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota demi menghindari sorotan mata Doni yang terlalu tajam.
“Jangan ngawur. Hubungan kami cuma profesional di atas kertas. Dia cuma tinggal di apartemen gue sampai urusan keluarga selesai,” sangkal Arka tegas, meski nada suaranya terdengar kurang meyakinkan.
Doni terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan terselubung dari pria di hadapannya itu.
“Iya, profesional... tapi nyebut nama Naya pas lagi nglamun. Kalau sebentar lagi lu tiba-tiba beliin dia butik atau mall buat gantiin posisi Hartono, gue gak bakal kaget lagi, Bro.”
Arka mendengus tajam, sengaja melempar map addendum kontrak yang tadinya dibawa Doni ke atas meja dengan gerakan agak kasar.
“Banyak omong. Mending lu beresin revisi klausul investasi di bab empat sebelum gue beneran potong cuti tahunan lu, Don,” tukas Arka dingin, berusaha menepis telak sindiran sahabatnya dengan kembali memasang topeng atasan yang otoriter.
Doni hanya meringis lebar, sama sekali tidak takut meski diancam begitu. Ia tahu betul bos sekaligus sahabatnya itu sedang salah tingkah tingkat dewa. Dengan santai, Doni bangkit dari kursi sambil merapikan jasnya.
“Siap, Bos galak! Tapi ingat, pepatah bilang, makin ditolak makin mendalam tuh rasanya. Hati-hati aja kalau nanti malah lu sendiri yang bucin akut,” ledek Doni sengaja memancing emosi sebelum akhirnya berbalik melangkah cepat menuju pintu keluar.
“Keluar!” seru Arka tandas, meski sudut bibirnya sempat nyaris berkedut menahan senyum sebelum pintu mahoni itu kembali tertutup rapat.
Keheningan kembali menyergap ruang kerja yang luas itu. Arka membuang napas panjang, membiarkan tubuhnya kembali bersandar di kursi kebesarannya.
Ia memijat pelipisnya yang mendadak pening, bukan karena tekanan meeting tadi, melainkan karena ucapan Doni yang terlalu tepat sasaran.
“Jatuh cinta?” batinnya lagi seraya melirik layar ponsel di atas meja yang mendadak terasa sunyi.
Pikiran Arka perlahan melayang kembali ke apartemennya. Mengingat bagaimana ekspresi Naya saat merajuk karena masalah sepele pagi tadi, atau cara perempuan itu menatapnya dengan sorot penuh perlawanan alih-alih rasa takut. Sesuatu yang terasa sangat menyegarkan di tengah dunianya yang selama ini kaku, terstruktur, dan dipenuhi oleh orang-orang yang hanya tahu cara mencari muka.
“Sialan memang si Doni,” batinnya menggerutu dalam hati, meski dadanya justru kembali menghangat tanpa bisa ia cegah.
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak