NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. Kencan Pertama

Malam itu, Naira berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri untuk kesekian kalinya. Gaun berwarna merah muda lembut yang ia kenakan jatuh tepat di atas lutut, dengan potongan sederhana namun tetap terlihat elegan. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini dibiarkan terurai, bergelombang lembut di bahunya.

"Aku terlihat baik-baik saja," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Namun tangannya yang meremas ujung gaun menunjukkan betapa gugupnya ia. Ini cuma sandiwara. Ini cuma acara resmi. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Terutama tidak ada yang perlu ditakutkan dari Mikael Arsen.

Bel pintu berbunyi tepat saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Jantung Naira meloncat. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu berjalan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, napasnya seakan tertahan di tenggorokan.

Mikael berdiri di depan sana. Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan, kemeja putih tanpa dasi membuatnya terlihat formal namun tetap santai. Cahaya lampu jalan menyinari sebagian wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas dan senyum yang entah kenapa terasa begitu menawan malam ini.

Mikael menatapnya lekat-lekat. Matanya menyapu dari ujung rambut hingga ujung gaun Naira. Tatapan itu begitu intens hingga Naira merasa kulitnya terasa panas di bawah pandangannya.

"Kamu cantik," ucapnya pelan, begitu tulus hingga Naira hampir percaya itu bukan bagian dari peran.

Naira berdeham. "Terima kasih." Ia mencoba terdengar biasa saja. "Kamu juga... terlihat lumayan."

Mikael tertawa rendah. "Lumayan? Aku pikir aku terlihat luar biasa malam ini."

Naira memutar mata. "Ayo pergi. Kalau terlambat, orang-orang akan curiga kita sengaja terlambat supaya bisa berduaan lebih lama."

Mikael mengulurkan tangannya. "Justru itu rencanaku sebenarnya."

Naira menatap tangan itu. Kemudian menatap wajah Mikael. "Kita harus berpegangan tangan dari sekarang?"

"Harus dimulai dari sekarang supaya nggak kaku." Mikael mengangkat alis. "Dan ini kencan pertama kita di depan umum. Kalau kita tidak berpegangan tangan dari sekarang, orang-orang akan bertanya-tanya. Apakah kita sedang bertengkar? Atau mungkin... semuanya ini bohong?"

Naira mendengus. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Mikael. Telapak tangan itu hangat, besar, dan begitu menggenggam tangannya, ia merasa seolah-olah tidak akan pernah bisa melepaskannya lagi.

"Jangan terlalu gugup," ujar Mikael pelan.

Perjalanan menuju restoran berlangsung dalam keheningan yang aneh. Naira menatap ke luar jendela, berusaha keras terlihat tenang, padahal jantungnya berpacu secepat kuda. Mikael di sebelahnya juga tidak banyak bicara, tapi ia sesekali melirik Naira dengan senyum yang membuat Naira semakin gelisah.

Begitu tiba di restoran, sebuah tempat makan mewah dengan pencahayaan remang-remang dan musik lembut yang mengalun, Mikael menyerahkan kunci mobil kepada pelayan parkir, lalu kembali menggenggam tangan Naira.

"Ingat," bisiknya saat mereka berjalan masuk. "Tersenyumlah. Seolah-olah kamu bahagia berjalan di sampingku."

Naira tersenyum kaku. "Aku sedang berusaha."

"Kurang tulus." Mikael menunduk mendekat ke arahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Naira. "Bayangkan saja, kamu benar-benar menyukaiku."

Naira menoleh cepat, wajahnya hampir menabrak dada Mikael. "Kamu..."

"Nah, itu dia." Mikael tersenyum jahil. "Wajah merahnya itu yang aku maksud."

Naira menahan keinginan untuk menginjak kaki pria itu. Sebaliknya, ia menarik napas dan berusaha tersenyum wajar saat pelayan mengantar mereka ke meja yang sudah dipesan.

Meja itu terletak di sudut ruangan yang agak terpisah, namun tetap terlihat oleh tamu lain. Begitu duduk, Naira langsung meraih gelas air dan meminumnya sedikit untuk menenangkan sarafnya.

Mikael memperhatikannya dengan senyum yang tak kunjung hilang. "Kamu sangat gugup, Sayang."

"Siapa yang gugup?" Naira meletakkan gelasnya agak keras. "Aku cuma haus."

"Benarkah?" Mikael menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya lekat-lekat. "Kalau begitu, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang? Aku bisa mendengarnya dari sini."

Naira menelan ludah. "Kamu berlebihan, El."

Belum sempat Mikael menjawab, beberapa orang yang mereka temui di acara proyek sebelumnya datang menghampiri meja.

"Pak Mikael! Nona Naira! Wah, kalian berdua benar-benar datang bersama!"

Mikael langsung berdiri dan menyapa mereka dengan ramah. Saat ia kembali duduk, ia tidak lagi duduk di seberang Naira, melainkan berpindah ke kursi di sebelahnya.

Naira menatapnya terkejut. "Kenapa kamu duduk di sini?"

"Pasangan duduk berdampingan, bukan?" bisiknya sambil merangkul punggung kursi Naira. Posisi itu membuat mereka terlihat sangat dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan. Naira bisa mencium aroma parfum Mikael, wangian kayu cendana yang menenangkan namun sekaligus membuatnya semakin kehilangan fokus.

Sepanjang makan malam, Mikael memainkan perannya dengan sangat sempurna. Terlalu sempurna. Ia menuangkan minuman untuk Naira. Ia menanyakan apakah makanan itu enak. Ia bahkan membersihkan sedikit sisa makanan di sudut bibir Naira dengan tisu, gerakan yang begitu alami dan penuh kasih sayang hingga Naira terpaku di tempatnya.

Saat orang-orang yang berbicara dengan mereka sudah pergi, Naira langsung menepis tangan Mikael pelan.

"Kamu tadi sengaja!"

"Sengaja apa?" Mikael tersenyum tidak berdosa.

"Tadi... saat membersihkan bibirku. Kamu sengaja dan membuatku gugup!"

"Siapa bilang?" Mikael mendekatkan wajahnya. "Ada sisa makanan di sana. Aku hanya ingin membantumu."

"Kamu kan bisa bilang saja!"

"Di depan orang-orang?" Mikael mengangkat alis. "Itu akan terlihat tidak romantis. Dan bukankah kita harus terlihat romantis?"

Naira menatapnya. "Kamu menikmati ini, bukan?"

Mikael terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut, lebih dalam. Sesuatu yang membuat napas Naira terasa berat.

"Mungkin saja," jawabnya pelan.

Naira menelan ludah. Ia tidak tahu apakah itu bagian dari sandiwara atau bukan. Tatapan Mikael malam ini berbeda. Tidak seperti biasanya yang penuh candaan dan ejekan. Tatapan ini seolah-olah ia benar-benar melihat Naira, bukan sekadar berakting.

"Jangan bercanda seperti itu," bisik Naira. "Aku bisa salah paham."

Mikael menatapnya lama. "Dan kalau kamu salah paham, apakah itu masalah?"

Naira terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Di dalam hatinya, ada sesuatu yang berdebar-debar, sesuatu yang ia coba tolak namun semakin sulit untuk diabaikan.

Tepat saat itu, Kirana datang menghampiri meja mereka bersama beberapa rekan kerja lain.

"Nah, ini pasangan bintang malam ini!" seru Kirana sambil tertawa. Ia duduk di kursi seberang mereka. "Kalian berdua terlihat begitu serasi, aku sampai iri melihatnya."

Naira tersenyum kaku. "Terima kasih, Kiran."

"Serius deh." Kirana menatap mereka bergantian. "Siapa yang menyangka kalau Pak Mikael yang dingin dan tertutup ternyata bisa begitu lembut kalau sudah bersama orang yang dicintai. Naira, kamu benar-benar istimewa ya."

Naira menunduk. "Aku... aku juga tidak menyangka."

Mikael justru merangkul bahu Naira pelan. Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga Naira menegang.

"Memang dia istimewa," ucap Mikael dengan suara rendah namun tegas. "Sangat istimewa bagiku."

Naira menatapnya lekat-lekat. Matanya mencari tanda-tanda bahwa ini semua hanya sandiwara. Tapi tidak ada. Tidak ada jejak candaan di wajah Mikael. Hanya tatapan yang begitu dalam dan tulus hingga Naira hampir lupa bagaimana cara bernapas.

Kirana dan yang lain ikut tersenyum mendengarnya. "Wah, romantis sekali. Semoga kalian langgeng ya."

Setelah mereka pergi, keheningan kembali menyelimuti meja mereka. Hanya saja keheningan ini terasa berbeda. Lebih berat. Lebih penuh makna.

Naira perlahan melepaskan diri dari pelukan Mikael, meskipun ia merasakan keberatan saat melakukannya.

"Kalau kamu terus-terusan seperti ini, aku tidak akan bisa membedakan mana yang pura-pura dan mana yang sungguhan."

Mikael menatapnya. "Dan kalau kamu tidak bisa membedakannya... apa yang salah dengan itu?"

"Karena ini semua bukan nyata," jawabnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Mikael. "Ini semua hanya sandiwara."

Mikael menghela napas pelan. Ia tidak membantah. Tidak menekan. Ia hanya menatap Naira dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mungkin saja," katanya akhirnya. "Tapi sandiwara yang bagus adalah sandiwara yang diperankan dengan sepenuh hati. Bukan begitu?"

Naira tidak menjawab. Ia hanya menunduk menatap sisa makanannya. Sepanjang malam itu, kata-kata Mikael terus berputar di kepalanya. Sepenuh hati. Apakah ia sudah mulai memerankan peran ini dengan sepenuh hatinya tanpa ia sadari? Apakah ia sudah mulai jatuh cinta pada pria yang seharusnya hanya ia pura-pura cintai?

Saat makan malam selesai dan mereka berjalan keluar restoran, udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Mikael kembali menggenggam tangan Naira. Kali ini Naira tidak lagi berusaha melepaskannya.

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan karena gugup. Yang ada hanyalah kehangatan yang pelan namun pasti tumbuh di antara mereka.

Sesampainya di depan rumah Naira, Mikael menurunkan Naira. Mereka berdiri berhadapan di depan pagar. Lampu jalan di atas mereka memancarkan cahaya kuning lembut yang menyelimuti mereka berdua.

Mikael tidak segera pergi. Ia menatap Naira lama.

"Terima kasih untuk malam ini," ucapnya pelan. "Kamu membuatku terlihat seperti pria paling beruntung malam ini."

Naira menelan ludah. "Kamu memang terlihat sangat meyakinkan."

"Dan kamu?" Mikael melangkah mendekat. "Apakah aku berhasil membuatmu merasa seperti wanita paling bahagia malam ini?"

Naira menatapnya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia yakin Mikael bisa mendengarnya.

"Mungkin saja," jawabnya pelan, meniru jawaban Mikael tadi.

Mikael tersenyum. Senyum yang kali ini tidak lagi terasa jahil atau menggoda. Senyum yang terasa begitu lembut dan nyata.

"Selamat malam, Naira." Ia mendekat sedikit, seolah-olah hendak mencium keningnya. Namun ia berhenti tepat sebelum menyentuh kulit Naira. "Sampai jumpa besok."

Naira menahan napas. "Selamat malam, Mikael."

Ia masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar pada pintu itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Allah..." bisiknya. "Apa yang sedang terjadi padaku?"

Di luar, Mikael masih berdiri di sana. Ia menatap pintu rumah itu sebentar, lalu tersenyum sendiri.

"Kamu semakin terlihat seperti orang yang jatuh cinta, Naira," gumamnya pelan ke arah malam. "Dan aku... aku semakin tidak sabar untuk melihat seberapa lama kamu bisa menyangkalnya."

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!