NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 hari survey

Malam beranjak larut saat mobil yang dikendarai Adam akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah Mirna. Demi menghemat sisa tabungan yang makin menipis, Adam dan Alya sepakat untuk tidak makan di luar.

Usai memarkirkan mobil, mereka melangkah masuk. Di ruang tengah, Mirna tampak duduk bersandar di sofa seraya menonton televisi. Adam dan Alya menghampiri, lalu menyalami dan mencium tangan Mirna.

Keduanya beranjak ke meja makan dengan perut yang sudah berkeroncong. Namun, sesampainya di sana, tudung saji yang dibuka hanya menampilkan wadah nasi putih hangat. Tak ada lauk-pauk maupun sayur sedikit pun.

“Bu, kok tidak ada makanan sama sekali sih?” panggil Adam setengah berteriak dari ruang makan.

“Itu ada nasi,” sahut Mirna singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.

Alya yang berdiri di samping Adam bersedekap dada, mengeluh dengan nada manja sekaligus kesal. “Mas... aku lapar banget. Kok Ibu tidak masak sama sekali, sih?”

Adam menghembuskan napas pelan lalu berjalan mendekati ibunya. “Bu... kok Ibu tidak masak sih? Kasihan Alya, dia lapar baru pulang kantor.”

Mirna menghela napas berat, matanya menyipit menatap Adam. “Ibu capek, Dam.”

“Astaga, Bu... Ibu kan seharian cuma di rumah saja. Apanya yang capek sih, Bu?” sergah Adam tanpa sadar menyinggung perasaan ibunya.

Pandangan Mirna seketika menajam, menusuk tepat ke manik mata Adam. “Kalau mau makan lauk, suruh saja istri barumu itu yang masak! Dia kan punya tangan!”

“Bu! Alya itu kerja dari pagi, capek!” bela Adam cepat.

“Dam!” potong Mirna, suaranya mendadak dingin dan bergetar menahan amarah. “Selama dua tahun Amira juga bekerja dari pagi sampai sore! Tapi dia masih sempat memasakkan makanan untuk Ibu dan Sonia! Jangan menjadikan alasan kerja untuk lupa akan kewajiban sebagai istri!”

Alya yang mendengarkan dari balik sekat ruang makan langsung melangkah lebar dengan wajah merah padam. “Bu! Tolong ya, jangan pernah samakan aku dengan Amira!”

Mirna meraih remote control, mematikan televisi dengan sekali tekan, lalu berdiri menantang Alya. “Ya, tentu saja kamu tidak bisa disamakan dengan Amira. Yang jelas, selama dua tahun jadi menantu di rumah ini, Amira tidak pernah membiarkan Ibu memasak sendiri, apalagi menyuruh Ibu melayaninya!”

JLEB!

Adam tertegun membisu. Alya yang sudah membuka mulut hendak membalas terhenti tatkala Mirna membalikkan badan dan berjalan cepat menuju kamarnya.

BRUK!

Hantaman pintu kamar Mirna terdengar menggelegar di seluruh penjuru rumah, meninggalkan ketegangan yang pekat.

“Mas! Kalau ibumu begini terus, lebih baik kita ngontrak rumah saja!” cecar Alya menahan tangis kekesalannya.

Adam memegang kedua bahu Alya seraya memijat pelipisnya. “Ngontrak dari mana, Sayang... Uang kita sudah tidak ada lagi. Sebentar lagi kan kita gajian, kamu yang sabar ya?”

Alya bersungut-sungut, merengut sebal. “Mas... aku ini sekolah tinggi-tinggi bukan untuk berakhir melayani di dapur!”

“Iya, iya, aku paham,” bisik Adam mengalah, tak ingin memperpanjang keributan. “Biar aku saja yang menggoreng telur. Kamu masuk kamar dan ganti baju dulu, ya.”

Alya melangkah masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun. Sementara Adam, yang masih mengenakan kemeja kerjanya, memindahkan gulungan lengan kemeja ke atas siku, lalu berjalan ke dapur untuk mulai menyalakan kompor dan menggoreng telur.

Di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Mirna mengintip. Rasa perih menjalar hebat di dadanya melihat putra kebanggaannya harus mengaduk telur dan mencuci kuali demi melayani istri barunya. Bayangan Amira mendadak melintas di benaknya—betapa dulunya Amira selalu menyiapkan sarapan hangat sebelum berangkat kerja, dan jika tak sempat memasak makan malam, Amira selalu memesankan food delivery terbaik untuk Mirna.

Sementara itu di dalam kamar, Alya meremas sprei tempat tidur hingga kusut. Dadanya bergemuruh hebat, dikuasai rasa cemburu dan dendam.

Aku tidak bisa dibanding-bandingkan dengan Amira! batin Alya membara. Begini jadinya kalau menikah dengan pria yang pernah beristri, selalu saja dibayang-bayangi masa lalu!

Kebencian Alya pada Amira kian mengakar dalam. Malam itu berjalan sangat lambat bagi Adam. Sebelum bisa tidur, ia harus merapikan dapur yang berantakan dan mencuci tumpukan pakaian kerjanya yang sudah seminggu tidak disentuh oleh Mirna.

Keesokan paginya, Adam dan Alya tiba di kantor jauh lebih awal. Usai melakukan fingerprint, mereka menunggu di lobby utama. Sekitar pukul delapan pagi, Tuan Yamada tiba didampingi Ibu Santi. Setelah pengarahan singkat selama sepuluh menit, rombongan bertolak menuju lokasi inspeksi.

Adam dan Alya berada di mobil operasional kantor, sementara Tuan Yamada bersama Ibu Santi berada di dalam sedan mewah berfasilitas sopir pribadi.

Menempuh perjalanan selama 30 menit membelah lalu lintas kota, kendaraan mereka akhirnya berhenti di pekarangan sebuah bangunan megah.

“Ini... ini beneran restorannya Amira, Mas?” tanya Alya tak percaya. Matanya membelalak menatap papan nama kayu berukir indah: AR Restoran & Catering. Bangunannya luas, berkonsep modern-tradisional yang estetik, dan tampak ramai oleh pengunjung. Alya tahu resto ini sedang viral di media sosial, namun ia tak pernah mengira Amira-lah pemiliknya.

“Aku... aku juga tidak tahu,” gumam Adam dengan dada berdegup kencang. Selama ini ia mengira bisnis Amira hanya usaha catering rumahan biasa.

Alya melirik Adam dengan tatapan selidik. “Kamu menyesal, Mas, menceraikan Amira?”

Adam tersentak. “Sudah, jangan membahas itu di sini.”

“Cuma membahas saja tidak boleh? Berarti kamu beneran menyesal, kan?!” cercec Alya menusuk.

Adam menghembuskan napas panjang, menatap Alya lekat-lekat. “Aku sekarang memiliki kamu. Buat apa aku menyesal? Kekayaan belum tentu menjamin kebahagiaan, Al.”

Alya tersenyum manis di permukaan. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia membatin dingin: Kalau ada laki-laki yang jauh lebih kaya dan berkuasa, tentu saja kamu akan langsung aku tendang, Mas!

Pintu mobil terbuka. Tuan Yamada dan Ibu Santi sudah melangkah lebih dulu. Amira dan Rika yang tampil anggun berbalut busana kerja profesional sudah berdiri menyambut di depan pintu masuk.

“Selamat datang di AR Restoran, Tuan Yamada,” sapa Amira sopan seraya mengulurkan tangan.

Tuan Yamada menjabat tangan Amira dengan anggukan menghormati, disusul oleh Ibu Santi, Adam, dan Alya.

Di samping Amira, Fitri tersenyum manis lalu menggerakkan tangannya dalam bahasa isyarat ke arah Tuan Yamada. “Selamat... datang... Tuan... Semoga... bahagia...”

Yamada mengamati gerakan tangan Fitri dengan cermat.

Amira menerjemahkan dengan ramah, “Kata Fitri, beliau mendoakan semoga Anda selalu bahagia.”

Yamada tersenyum tipis pada Fitri. “Apa dia salah satu pekerjamu?”

“Ya, Tuan. Dia salah satu pekerja andalan saya di bagian kontrol kualitas,” jawab Amira bangga.

“Apa dia orang yang istimewa bagimu?”

Amira menatap Fitri hangat. “Ya. Dialah salah satu motivasi terbesar saya membangun tempat ini.”

“Baiklah, mari kita mulai inspeksinya,” ucap Yamada tanpa mau membuang waktu.

Inspeksi berjalan tegas dan alami. Restoran tetap beroperasi melayani pelanggan umum tanpa rekayasa. Yamada melangkah masuk ke area dapur yang steril. Amira menjelaskan alur produksi tahap demi tahap, sesekali beralih menggunakan bahasa Jepang yang sangat fasih—membuat Alya kian kebingungan dan dengki.

Secara teknis, tata kelola dapur Amira mendekati kata sempurna. Namun, Alya terus mencatat hal-hal kecil di buku catatannya untuk dijadikan bahan serangannya. Ia mencatat keberadaan pekerja tuna rungu dan dua remaja down syndrome sebagai celah kelemahan. Adam yang berdiri di belakang hanya bisa mencuri pandang pada Amira—rasa sesal mulai menyusup halus ke dadanya karena menyadari betapa sedikit yang ia ketahui tentang mantan istrinya itu.

Di ujung tur dapur, Yamada menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menatap Amira.

“Anda mengatakan kemarin bahwa usaha Anda adalah UMKM. Tapi tempat ini... ini adalah fasilitas korporasi yang sangat mapan,” ujar Yamada dengan raut serius.

Amira menatap Yamada tenang. “Saya tidak pernah mengatakan bahwa usaha saya adalah UMKM kecil, Tuan Yamada. Anak buah Anda yang mengambil kesimpulan sendiri bahwa kami adalah UMKM.”

Yamada mengernyitkan dahi. “Seharusnya kamu membenarkannya sejak awal. Kamu tidak boleh mengambil keuntungan dari kekeliruan orang lain.”

Alya yang menangkap sinyal keberpihakan itu langsung memotong cepat. “Benar, Tuan Yamada! Di perusahaan kami, kejujuran adalah pilar utama. Seharusnya Amira menjelaskan hal itu sejak kemarin!”

Amira tidak gentar, ia menatap Alya dan Yamada bergantian. “Saya tidak berbohong. Kemarin saya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan detail profil perusahaan karena Anda dan tim Anda bertindak sangat terburu-buru.”

Yamada bersedekap dada. “Itu alasan yang kurang masuk akal. Kamu punya waktu seharian untuk mengonfirmasi ulang status usahamu kepada saya maupun Adam.”

Mata Yamada beralih menatap Alya. “Jadi... menurut penilaianmu sebagai manajer operasional, bagaimana Alya?”

Alya menyunggingkan senyum kemenangan. Peluang emas untuk menghancurkan Amira tepat di depan mata, dan ia tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

“Menurut penilaian saya, Tuan...” Alya sengaja menggantungkan kalimatnya dengan raut penuh drama.

1
sunaryati jarum
Uang hasil hutangan yg nanti menjerat leher kalian.kok.dipsmerkan.Sunhguh penyelamatan aset dan diri yang tapi ,Amira serta terlindungi
sunaryati jarum
Lekas beraksi Yamamoto,itu mungkin awal kehancuran kamu dan ibumu Yuri Kuroda, dengan mengusik Amira.Kamu dan ibumu kali ini akan kena batunya.
sunaryati jarum
Akhirnya emak ikut lega, semua usaha Amira di bawah perusahaan internasional milik Ny Jasmine, Yamamoto dan Ibunya tidak bisa mengganggu, walau permintaan Alya.Ysmada dan Amira sepertinya yang saudara kandung,dari ibu yang sekarang mungkin ini Lisa.
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
sunaryati jarum
Segera bilang ke Mas Aldi, semoga segera dapat mencari cara mengatasinya.Carilah di Sulawesi ,Ny Yuri
sunaryati jarum
Ternyata kamu cerdik juga Amira, tadinya emak deled novel ini, bilang sama Aldi, bagaimana mengelabuhi Yuri Si Pelakor tamak.Berarti kemungkinan Amira putri wanita yang jadi suami Pak Diki.
sunaryati jarum
Jangan sampai Alya berhasil mengacaukan atau menghancurkan usaha Amira.Jika itu terjadi aah emak malas melanjutkan mengikuti kisah ini
sunaryati jarum
Yamada harus bisa menggagalkan kelicikan Alya untuk menghancurkan Amira.Walau berurusan dengan Yamamoto.Atau Yamamoto malah melindungi Amira, karena ada getaran aneh hatinya
YuWie
merajalela si alya ini..almira aja gak pernah nyenggol kamu. situ yg pelakor ehh situ yg panas..waras buks
YuWie
makanya tho mbak mir..cerita gih sama mas aldhi
YuWie
syukurlah klo kamu pintar mir amir...sdh kau bohongi bang aldi aang intelejen
Suanti
amira segera hancur hp butut 🤭🤣🤣
YuWie
lha kok enakmen kok balik..rugi bandar amira buk buk
sunaryati jarum
O Bu Lisa sepertinya ibu kandung Yamada dan Amira Adik kandung Yamamoto, yang berarti adik tiri Yamada
sunaryati jarum
Yamada semoga kakakmu dan Lisa itu mungkin ibumu dan Yamada ,Bu Sinta
Sri Widiyarti
Adam lihat perempuan pilihanmu ternyata ....🤦🤦🤦
Herdian Arya
sat set gitu lo thor
Suanti
jgn2 ibu lisa ibu kandung yamada dan amira adik tiri nya 🤭🤣
Khajidah Khadijah
itu lah yg d namakan jodoh ada lah cermin.
kelrg ada sama aliya 11/12🤭
YuWie
masakan ibukmu kah yamada
YuWie
pak yama pak yama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!