NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Bekas Luka, Perhatian Kecil, dan Kecantikan Gaun Pengantin

​Uap hangat membumbung tipis dari dalam bathtub berukuran besar di kamar mandi utama. Nadira berendam santai di dalam air hangat beraroma lavender, membiarkan rasa pegal di pinggang dan persendiannya perlahan meluruh.

​Di sampingnya, Askara duduk di tepi bathtub dengan celana santai pendek, sibuk memijat perlahan kedua bahu mulus Nadira. Tangannya yang hangat dan besar bergerak begitu telaten, memberikan rasa nyaman yang luar biasa.

​Saat Askara membungkuk untuk mengambil sabun cair, posisi tubuhnya bergeser. Sinar lampu kamar mandi yang terang mendadak menyorot jelas area leher dan bahu kiri pria itu.

​Nadira yang sedang memejamkan mata mendadak membelalak. Matanya tertuju pada sebuah bercak merah keunguan yang tampak agak memar di leher sebelah kiri Askara—bekas gigitan yang sangat jelas. Tak hanya itu, saat Askara berbalik membelakanginya untuk mengambil handuk, Nadira makin syok melihat tiga garis kemerahan panjang yang membekas di punggung kekar suaminya. Bekas cakaran.

​"As-Aska..." cicit Nadira gagap, melebarkan matanya.

​Askara berbalik menatap Nadira. "Kenapa, Nad? Airnya kurang hangat?"

​"I-itu..." Nadira menunjuk leher dan bahu Askara dengan jari gemetaran, wajahnya mendadak terasa panas. "Itu leher lo kenapa memar gitu?! Terus punggung lo... kok ada bekas cakaran?!"

​Askara meraba lehernya sendiri, lalu menyunggingkan senyuman miring yang begitu jahil. Ia melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya tepat di depan wajah Nadira.

​"Oh, ini?" goda Askara santai. "Ini mah ulah kucing galak yang semalam megang punggung gue kenceng banget pas lagi minta ampun. Terus pas gue gak mau lepasin, leher gue digigit sampai bunyi krek."

​"E-eh! Gue... gue gak sengaja ya!" potong Nadira refleks membela diri, mukanya sudah merah padam seperti kepiting rebus. Ada rasa bersalah yang menyelusup di dadanya melihat bekas luka itu tampak agak nyata, namun gengsi Nadira tetap memuncak tinggi. "Lagian siapa suruh lo semalam mainnya brutal banget! Itu refleks bertahan hidup tahu gak!"

​"Refleks bertahan hidup tapi kok ketagihan?" ledek Askara tertawa renyah, mencubit pelan hidung basah Nadira. "Gak usah merasa bersalah gitu mukanya. Gue malah suka. Ini tanda kalau istri gue ganas juga di ranjang."

​"ASKARA! DIEM GAK LO!" jerit Nadira histeris sambil memercikkan air bathtub ke arah wajah Askara.

​Askara tertawa lepas, mengusap air di wajahnya, lalu membungkus tubuh Nadira dengan handuk tebal saat wanita itu akhirnya keluar dari air. Pria itu mengeringkan tubuh istrinya dengan sangat lembut, seolah Nadira adalah barang kaca yang paling rapuh dan berharga di dunia.

​Satu jam kemudian, Nadira turun ke lantai bawah dengan mengenakan gaun santai rumahan yang longgar. Langkah kakinya masih sedikit lambat, namun rasa nyerinya sudah jauh berkurang.

​Aroma harum masakan langsung menyeruak memenuhi area dapur bersih berkonsep open-space tersebut. Nadira terpaku di ambang pintu dapur.

​Di sana, Askara sedang berdiri di depan kompor dengan celana panjang dan kaus santai. Tangan kekarnya lincah membalik adonan pancake, sementara di sebelahnya sudah tersaji piring berisi fluffy pancake dengan topping buah beri segar dan kucuran madu murni—menu sarapan favorit Nadira sejak dulu.

​Tak hanya itu, di atas meja makan sudah berdiri segelas air lemon madu hangat yang uapnya masih menipis.

​Nadira membelalak pelan. Air lemon madu hangat adalah kebiasaan wajib setiap pagi yang selalu disiapkan oleh Mama Dinan di rumah lamanya untuk menjaga daya tahan tubuhnya. Ia tak menyangka Askara mengingat detail sekecil itu.

​"Kok malah berdiri di situ? Ayo duduk," panggil Askara menoleh, meletakkan piring pancake terakhir di atas meja.

​Nadira melangkah mendekat, duduk di kursi makan kayu jati. Ia menyentuh gelas hangat itu dengan kedua telapak tangannya. "Lo... lo yang bikin air lemon madu ini, Ka?"

​"Iya," jawab Askara santai, duduk di samping Nadira dan mengusap puncak kepala istrinya. "Gue udah nanya resep dan takaran pasnya ke Mama Dinan kemarin lusa. Mulai hari ini dan seterusnya, ini tugas gue setiap pagi buat lo."

​Nadira menatap gelas di tangannya, lalu beralih menatap wajah tampan suaminya. Hatinya luluh sepenuhnya. Perhatian kecil yang begitu konsisten dari Askara selalu berhasil membuat pertahanan gengsinya runtuh.

​"Makasih ya, Suami gue..." bisik Nadira tulus, menyeruput air lemon hangat itu perlahan.

​"Sama-sama, Istriku," sahut Askara tersenyum manis, menyuapkan sepotong pancake lembut ke bibir Nadira. "Makan yang banyak. Hari ini agenda kita padat."

​Nadira mengunyah pancake yang terasa begitu lezat itu. "Agenda apaan? Bukannya kita izin ngantor hari ini?"

​"Izin ngantor bukan berarti diam di rumah seharian," goda Askara. "Siang ini kita ke toko perhiasan buat ukur dan pesen cincin pernikahan resmi kita. Habis itu langsung ke butik buat fitting gaun pengantin resepsi bulan depan."

​Mata Nadira berbinar. "Beneran, Ka?! Tapi kan gaun resepsi belum gue pilih desain resminya!"

​"Gue udah pilih tiga designer ternama dan mereka udah nyiapin draf sesuai selera lo," jawab Askara tenang dan penuh persiapan. "Tugas lo cuma tinggal milih mana yang paling bikin lo seneng."

...****************...

​Pukul satu siang, usai mengunjungi toko perhiasan mewah di kawasan Jakarta Selatan untuk mengukur cincin berlian kustom mereka, SUV hitam Askara berhenti di depan sebuah butik gaun pengantin ternama berlangganan para selebriti dan bangsawan.

​Pemilik butik dan para staf menyambut kedatangan Askara dan Nadira dengan sangat ramah. Nadira dibimbing menuju ruang ganti eksklusif yang sangat luas dengan kaca-kaca besar menjulang tinggi.

​Setelah berdiskusi singkat dan melihat beberapa koleksi, staf butik membawa sebuah gaun pengantin berwarna off-white berdesain ball gown bernuansa modern-klasik. Bagian dadanya dihiasi bordiran brokat halus dengan taburan kristal Swarovski yang berkilau anggun, sementara bagian bahunya berkonsep off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangka Nadira dengan sempurna.

​Dua orang staf membantu Nadira mengenakan gaun megah tersebut di dalam ruang ganti.

​Sementara itu, Askara duduk di sofa empuk luar ruang ganti, menyesap cangkir kopinya dengan tenang.

​Sret...

​Tirai beludru tebal ruang ganti ditarik perlahan oleh staf butik.

​Askara meletakkan cangkir kopinya. Dan detik itu juga, pria itu membeku.

​Nadira berdiri di atas podium kecil berputar. Gaun megah itu melekat sangat sempurna di tubuh indahnya. Kulit mulusnya yang putih tampak begitu kontras dengan gaun off-white tersebut. Kalung berlian huruf 'A' yang melingkar di lehernya makin mempertegas keanggunannya. Rambut gelombangnya disanggul modern secara acak, menyisakan beberapa helai halus yang menjuntai di pipinya.

​Wajah Nadira merona merah saat menatap pantulan dirinya di kaca, lalu beralih menatap Askara yang tak berkedip dari tempat duduknya.

​"Ka..." cicit Nadira ragu-ragu, memegang tepi gaunnya. "Aneh ya? Baju ini kegedean gak sih di bagian pinggang?"

​Askara tidak menjawab. Pria itu berdiri dari sofanya. Langkah kakinya yang tegap dan tegap melangkah mendekati podium. Tatapan matanya yang tajam dan pekat terkunci sepenuhnya pada wajah dan tubuh Nadira—tatapan gairah dan kekaguman mutlak yang tak bisa disembunyikan.

​"Mbak... Pak Askara mau—" staf butik yang hendak bicara langsung bungkam saat Askara mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat tanpa suara agar seluruh staf keluar dan meninggalkan mereka berdua.

​Para staf butik tersenyum paham dan segera berbalik, menutup tirai tebal ruang ganti kembali hingga menyisakan Askara dan Nadira di dalam ruangan privat bertirai tersebut.

​"Ka... kok mereka disuruh keluar sih?" tanya Nadira bingung, matanya berkedip-kedip panik saat melihat tatapan suaminya yang mendadak berubah sangat pekat.

​Askara melangkah naik ke atas podium. Tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping Nadira, menarik tubuh berbalut gaun megah itu rapat-rapat ke dalam dekapan dadanya.

​"Aska... nanti gaunnya kusut!" protes Nadira menahan dada Askara.

​"Gue gak peduli," bisik Askara rendah, suaranya terdengar serak dan dalam. Pandangan matanya menyapu leher mulus, bibir merah, hingga iris mata Nadira yang panik. "Lo tahu gak, Nad? Lo cantiknya bener-bener gak masuk akal hari ini."

​"P-pujian lo lebay banget—"

​Kalimat Nadira terputus habis.

​Askara kehilangan kendali sepenuhnya. Pria itu menyambar bibir Nadira dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, panas, dan menuntut. Tangan kanan Askara menangkup tengkuk Nadira, sementara tangan kirinya makin mempererat dekapan di pinggang istrinya.

​"Mmph... As-ka..." lenguh Nadira terengah-engah di dalam kungkungan ciuman panas suaminya.

​Di dalam ruang ganti butik yang tertutup tirai tebal itu, di antara kemewahan gaun pengantin yang membalut tubuhnya, Nadira hanya bisa pasrah membalas pagutan intens Askara, membiarkan suaminya kembali terbuai oleh pesona keindahannya yang tak tertandingi.

1
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
nah loh... kan bader banget lo nad udah tua geh🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!