Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Semalaman di Rumah Sakit
Baskara tidak membawa Ratri ke rumah sakit.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah sunyi di selatan Jakarta. Dari luar, bangunan itu tampak seperti tempat tinggal biasa. Di dalamnya ada ruang menghadap timur, lantai batu, mangkuk tembaga, dan rak berisi ramuan yang telah disiapkan jauh sebelum malam itu.
Ki Prasetya menunggu di pintu.
Tabib tua itu hanya memerlukan satu pandangan untuk memahami keadaan Ratri. "Sukmanya sudah bergeser. Kalau terlambat satu jam, tubuhnya mungkin tidak bisa memanggilnya kembali."
"Lakukan apa pun," kata Baskara.
"Tenaga pusaka lama tidak cukup. Garisnya sedang putus dari beberapa titik."
"Gunakan darahku."
Ki Prasetya menatap bekas luka di lengannya. "Ndoro sudah terlalu sering memberi."
"Gunakan."
"Kalau diteruskan, umur Ndoro sendiri yang terpotong."
Baskara meletakkan Ratri di atas alas putih. Darah masih merembes dari lengannya dan membasahi kain.
"Ambil nyawaku kalau perlu. Jangan biarkan dia pergi."
Wira berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras. Ia tidak tahu seluruh hubungan mereka, tetapi ia melihat ketakutan pada wajah pria yang biasanya membuat satu aula diam.
Panji tiba membawa kotak pusaka hitam. Di dalamnya ada keping logam tua, benang putih, akar hitam, dan belati kecil.
Ki Prasetya menata semuanya mengelilingi Ratri. Ia mengikat benang pada pergelangan kiri Ratri dan ujung lainnya pada pergelangan Baskara.
"Dua garis ini saling mengenal," katanya. "Saya hanya membuka jalan. Yang memanggil harus dia."
Ki Prasetya menyentuh nadi keduanya bergantian. "Saya menjalani pekerjaan ini lebih dari empat puluh tahun. Belum pernah saya melihat dua sukma yang bertaut sekuat ini. Biasanya darah orang lain hanya memberi tenaga sesaat. Darah Ndoro seperti mengenali jalan pulang di dalam tubuhnya."
Panji menunduk. "Sumpah darah mereka dibuat sejak kecil."
"Karena itu harganya juga saling menembus. Rasa sakit yang satu dapat memanggil yang lain. Umur yang satu dapat menahan kematian yang lain. Tapi jangan salah, wadah yang memberi tetap akan retak."
Baskara tidak meminta penjelasan lebih jauh. Ia sudah mengetahui harga tersebut dan memilih membayarnya sejak lama.
Baskara duduk di samping Ratri. Ia membuka luka lama di bagian dalam lengannya. Darah menetes ke mangkuk tembaga, bercampur air bunga dan ramuan akar.
Ki Prasetya membaca doa serta mantra Jawa kuno. Lampu minyak di empat sudut bergerak meski semua jendela tertutup.
Benang putih berubah merah sedikit demi sedikit.
Dalam kesadaran yang patah, Ratri mendengar suara Baskara.
"Jangan takut. Aku di sini."
Ia ingin bertanya mengapa pria itu selalu berada di tempat yang tepat. Bibirnya tidak mampu bergerak.
"Pulanglah," bisik Baskara. "Kau boleh membenciku setelah bangun. Kau boleh mengusirku. Tapi pulanglah dulu."
Kehangatan memasuki telapak Ratri. Bayangan dirinya di dalam kegelapan seperti ditarik oleh benang yang tidak terlihat.
"Denyutnya naik," kata Ki Prasetya.
Baskara terus menggenggam tangan Ratri sepanjang malam. Setiap kali napasnya melemah, ia menyebut namanya. Setiap kali darah di mangkuk menipis, ia membuka luka sedikit lagi.
Pada jam kedua, darah berhenti mengalir dari luka kecil karena tubuh Baskara mulai kehilangan tenaga. Ia menekan bagian di atas sayatan agar satu tetes lagi turun. Ki Prasetya menyuruhnya berhenti dua kali. Baskara menolak dua kali.
Panji menyodorkan ramuan pemulih, tetapi Baskara hanya menelannya setelah memastikan warna di bibir Ratri kembali sedikit. Wira mengganti kain di bawah lengan Ratri dan melihat jumlah darah Baskara di mangkuk semakin banyak daripada darah yang tersisa pada pakaian Ratri.
"Kenapa Ndoro melakukan ini sendirian selama tiga tahun?" tanya Wira.
"Karena kalau dia tahu, dia akan memilih mati daripada membiarkanku membayar."
Wira tidak bisa membantah. Ia mengenal Ratri cukup baik untuk tahu jawaban itu benar.
Menjelang dini hari, lebam hitam berhenti meluas. Darah dari kulit Ratri mengering. Bayangan sukma akhirnya kembali menyatu dengan tubuh.
Ki Prasetya menutup pusaka dan jatuh duduk karena lelah.
"Sudah stabil," katanya. "Tapi ini hanya menahan, bukan memutus kutukan. Jangan ulangi terlalu cepat. Tubuh Ndoro juga hampir kosong."
Baskara tidak menjawab. Ia masih memegang tangan Ratri.
Ketika Ratri membuka mata, cahaya pagi baru menyentuh tirai. Baskara duduk di lantai dengan kepala bersandar di tepi alas. Matanya merah, kulitnya lebih pucat daripada miliknya.
"Anda belum pulang?" suara Ratri serak.
Baskara langsung terbangun. "Kau sakit di mana?"
"Di mana-mana."
Ia meraih air, menopang kepala Ratri, dan membantu minum. Tangan yang memegang gelas bergetar.
Ratri melihat perban baru di pergelangannya.
"Siapa yang meminta Anda menjaga?"
"Tidak ada."
"Pulanglah."
"Setelah kau bisa berdiri."
"Saya tidak butuh Anda."
"Aku tahu."
Jawaban yang sama. Tidak memohon dibutuhkan, hanya menolak pergi.
Ratri memperhatikan wajahnya. Ada bayangan gelap di bawah mata, bibir pecah, dan tulang pipi yang tampak lebih tajam. Tiga tahun lalu Baskara pergi dengan tubuh sehat. Kini ia kembali seperti seseorang yang sedikit demi sedikit menyerahkan dirinya kepada sesuatu.
"Ki Prasetya bilang apa?" tanyanya.
"Kau harus istirahat."
"Tentang Anda."
"Aku bukan pasiennya."
"Anda menghindar."
"Aku sedang memastikan kau hidup."
Ratri ingin marah. Namun, di bawah kemarahan itu ada rasa takut yang lebih besar: kemungkinan bahwa ia hidup karena Baskara terus kehilangan sesuatu yang tidak dapat dikembalikan.
Ponsel Ratri berdering. Yuliana menelepon.
Begitu panggilan diterima, tangis palsu terdengar dari seberang. "Ratri, Tante dengar kau sakit parah lagi. Wartawan menawar banyak untuk informasi. Kalau kau tidak mau kabar ini tersebar, kirim sepuluh miliar."
Ratri menyalakan perekam.
"Anda mengancam menjual informasi kesehatan saya?"
"Bukan mengancam. Tante melindungimu. Tapi perlindungan butuh biaya."
"Nomor rekeningnya masih sama?"
Yuliana langsung menyebut nomor dan tenggat sebelum siang.
"Terima kasih," kata Ratri.
"Kau akan bayar?"
"Tidak. Tapi rekamannya jelas."
Ia memutus panggilan. Wira menerima salinan dan meneruskannya kepada Mbak Lia.
Baskara menatap ponsel dengan dingin. "Aku bisa membuatnya berhenti."
"Saya juga bisa."
"Aku tahu."
Ratri memejamkan mata lagi. Kali ini, saat tidur datang, tangan Baskara masih menutupi tangannya.
Beberapa jam kemudian, ia terbangun dan menemukan pria itu tertidur di kursi. Lengannya terlipat di dada. Perban putih terlihat di bawah manset.
Ratri bergerak pelan agar tidak membangunkannya.
Ia menarik ujung lengan kemeja Baskara.
Di bagian dalam lengan terdapat luka baru di atas puluhan garis lama. Sebagian telah memutih. Sebagian berwarna merah muda. Jarak antarbekasnya membentuk catatan waktu yang mengerikan.
Ratri mengingat setiap malam ia selamat dari pendarahan, setiap kecelakaan yang seharusnya membunuhnya, setiap luka yang pulih terlalu cepat.
Bekas-bekas itu cocok satu per satu.
Luka yang paling pucat berasal dari masa ketika ia mengalami demam aneh di luar negeri. Garis yang lebih tebal cocok dengan kecelakaan kendaraan setahun lalu. Tiga luka berdekatan sesuai dengan minggu ketika darahnya tidak berhenti selama beberapa hari. Luka terbaru masih basah, dibuat pada malam ini.
Tidak ada lagi ruang yang nyaman untuk menyebut semua itu kebetulan.
Tangannya mulai gemetar.