Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"Al, Raelyn... ini Mama bawain—eh?!"
Mama Alvarez berdiri di ambang pintu dengan memegang nampan berisi camilan kue dan potongan buah segar. Matanya membelalak sempurna, menatap pemandangan di atas ranjang di mana anak laki-laki dan menantunya sedang dalam posisi yang sangat intim.
Wajah wanita paruh baya itu langsung berubah menjadi sangat kaget sekaligus gembira luar biasa.
Mendengar suara pintu dan seruan dari ambang kamar, Alvarez dan Raelyn langsung tersadar dari dunia mereka sendiri. Dengan gerakan secepat kilat, Raelyn langsung mendorong dada Alvarez menjauh.
"MAMAH?!" teriak Raelyn kaget setengah mati dengan volume suara yang melengking tinggi, wajahnya langsung memanas hingga ke telinga.
Mama Alvarez langsung tersenyum lebar, senyuman penuh kemenangan yang sangat kentara di wajahnya. Dia melangkah masuk dengan santai, meletakkan nampan camilan itu ke atas meja rias dengan gerakan cepat.
"Aduh, maaf ya... Mama cuma mau nganter camilan sama buah kok. Lanjutin aja, lanjutin! Maaf ya Mama udah ganggu momen kalian!" ucap mama Alvarez dengan nada suara yang teramat sumringah dan riang gembira.
Tanpa menunggu jawaban, wanita paruh baya itu langsung berbalik dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan sangat rapat seolah memberikan ruang privasi penuh bagi mereka berdua.
Begitu pintu kamar kembali tertutup rapat, Raelyn langsung melempar tubuhnya telentang, menarik bantal untuk menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Saking frustrasinya, dia menendang-nendangkan kakinya yang tidak terluka ke atas kasur.
"Aaaarggh! Malu banget gue, gila! Mau ditaruh mana muka gue di depan nyokap lo nanti!" seru Raelyn frustrasi dari balik bantal, suaranya teredam namun penuh dengan nada kepanikan.
Alvarez hanya duduk tenang di sampingnya, melihat kelakuan heboh istrinya dengan senyuman kecil yang terus terukir di bibirnya. Alih-alih meredakan rasa malu Raelyn, jiwa jail sang CEO muda justru semakin meronta-ronta melihat kegemasan istrinya.
Alvarez mengulurkan tangan, menarik bantal yang menutupi wajah Raelyn secara perlahan.
"Mau dilanjut gak?" tanya Alvarez dengan nada menggoda, menaikkan sebelah alisnya.
"Diem lo! Ini semua gara-gara lo ya, tahu gak?!" semprot Raelyn galak, langsung mendudukkan diri dan menunjuk wajah Alvarez dengan jari telunjuknya yang dibalut hansaplas.
"Coba aja lo gak macam-macam tadi, gak bakal ada drama ketahuan begini!"
Alvarez sedikit memajukan tubuhnya, menatap Raelyn dengan pandangan jenaka yang belum pernah dia perlihatkan pada orang lain.
"Tapi kamu juga gak nolak kan tadi?" goda Alvarez lagi, telak menyindir kepasrahan Raelyn beberapa saat lalu.
"ALVAREZ?!" teriak Raelyn histeris, wajahnya benar-benar sudah semerah tomat akibat godaan beruntun dari suaminya.
Melihat reaksi Raelyn yang sudah mencapai batas maksimal salah tingkahnya, Alvarez tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya. Dia tertawa lepas, lalu dengan gerakan cepat menarik tubuh Raelyn ke dalam pelukan hangatnya, mengunci gerakan tangan istrinya yang hendak memukul dadanya. Alvarez mengusap punggung Raelyn perlahan, mencoba menenangkan kepanikan gadis itu.
"Lagian kita kan sudah nikah secara sah. Kenapa harus semalu itu?" ucap Alvarez santai di dekat telinga Raelyn.
"Ya tetap aja malu, bego! Ketahuan sama orang tua sendiri itu beda urusannya!" gerutu Raelyn, wajahnya terbenam di bahu Alvarez, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan.
"Tapi... cara ciuman kamu tadi jelek banget tahu!"
Raelyn menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Alvarez ketus. Dia mengerutkan keningnya, tidak terima kemampuannya dikritik.
"Ngatain gue?" tanya Realyn serius.
"Ya emang kenyataannya begitu!" balas Alvarez.
Alvarez menatap mata Raelyn lekat-lekat. Sebuah kesimpulan cerdas mendadak melintas di benak pebisnisnya.
"Jangan-jangan... itu tadi baru pertama kali ya buat kamu?" tanya Alvarez menyelidik.
Raelyn langsung tersentak. Dengan gerakan cepat, dia menyentak tubuhnya mundur dan melepaskan diri dari pelukan Alvarez.
"Sembarangan lo kalau ngomong ya! Gak mungkin lah! Sori ya, gue kan mantan anak tongkrongan, ya kali baru pertama kali!" ucap Raelyn berbohong dengan nada bicara yang sengaja ditinggikan demi menutupi fakta yang sesungguhnya.
Padahal, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Raelyn sedang berteriak panik. Kebohongannya sangat besar. Fakta yang sebenarnya adalah, kecupan dari Alvarez barusan adalah ciuman pertama (first kiss) dalam hidupnya.
Bahkan saat berpacaran dengan Elang lima tahun lalu di zaman SMA, hubungan mereka hanya sebatas pegangan tangan karena Raelyn yang dasarnya sangat tegas dan menjaga jarak.
Raelyn memutar bola matanya, mencoba mengalihkan serangan balik ke arah Alvarez.
"Lo kali yang baru pertama kali! Soalnya kan lo kaku banget, cowok dingin yang gak ada satu pun cewek yang mau deket sama lo karena takut!" ketus Raelyn menuduh balik.
Alvarez menatap wajah Raelyn yang sedang membela diri dengan menggebu-gebu. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, lalu berucap dengan suara yang teramat tenang namun menghanyutkan.
"Memang tidak ada cewek lain yang mau dekat denganku," ucap Alvarez jujur.
Pria itu kemudian menjeda kalimatnya, menatap tepat ke dalam manik mata Raelyn dengan binar hangat yang dalam. "Cuma kamu... satu-satunya perempuan yang bisa membuat aku mau sedekat ini."
Deg.
Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya hari ini, ucapan jujur dan frontal dari Alvarez berhasil mematikan seluruh sistem pertahanan otak cerdas Raelyn. Kalimat pendek itu terdengar jauh lebih manis daripada ribuan rayuan gombal yang pernah dia dengar dari cowok-cowok di kampus. Raelyn langsung bungkam seribu bahasa, salah tingkah maksimal dengan detak jantung yang kembali melakukan maraton tanpa izin di dalam dadanya.
Sementara suasana di dalam kamar utama dipenuhi dengan warna merah jambu dan debaran manis, situasi yang jauh lebih heboh justru sedang terjadi di lantai bawah, tepatnya di area ruang tengah tawang mewah tersebut.
Mama Alvarez berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang setengah berlari, wajahnya memancarkan binar kebahagiaan yang sangat kentara. Begitu sampai di ruang tengah, dia langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk santai membaca koran bisnis di sofa.
"Pah! Papa tahu gak?!" seru mama Alvarez dengan nada antusiasme yang meledak-ledak, menyenggol lengan suaminya kasar.
Papa Alvarez menurunkan korannya sedikit, menatap istrinya dengan kening berkerut bingung.
"Tahu apa, Mah? Datang-datang kok heboh banget kayak habis menang lotre."
"Ini lebih berharga dari lotre, Pah! Tadi pas Mama mau nganterin camilan ke kamar mereka... menebak mereka lagi ngapain? Mereka lagi ciuman mesra banget di atas kasur, Pah!" ucap sang mama dengan mata berbinar-binar penuh gosip hangat.
Papa Alvarez langsung melotot kaget, menaruh korannya sepenuhnya ke atas meja. "Mama gak ketok pintu dulu sebelum masuk?"
"Enggak lah, lagian pintunya juga gak dikunci sama mereka!" jawab sang mama tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Papa Alvarez menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap istrinya dengan pandangan pasrah namun ada binar jenaka di matanya.
"Aduh, Mama ini... lain kali ketok pintu dulu kenapa sih. Untung tadi mereka cuma lagi ciuman, coba kalau mereka posisinya lagi main kuda-kudaan gimana? Kan kasihan mantu kita jadi malu," ucap sang papa dengan nada bicara yang sangat asal dan frontal, khas gaya bicaranya jika sedang berada di luar urusan bisnis.
"Ih, Papa mah ngomongnya ke mana-mana deh!" sahut sang mama, mencubit lengan suaminya gemas. Namun, senyum bahagianya kembali mengembang.
"Tapi ada yang lebih penting lagi, Pah. Tadi Mama sempat melirik ke arah nakas kamar mereka. Botol jamu kesuburan yang Mama bawain dari Bali kemarin... turns out udah kosong melompong! Berarti udah diminum habis sama Raelyn!"
Mendengar hal itu, papa Alvarez ikut tersenyum lebar. "Wah, bagus kalau begitu. Berarti menantu kita mengerti maksud kedatangan kita ke sini."
"Aaaah, Mama udah gak sabar banget rasanya, Pah! Sebentar lagi kita pasti bakal punya cucu yang lucu-lucu di rumah ini!" seru mama Alvarez gembira, menangkupkan kedua tangannya di pipi sembari membayangkan rumah mewah ini akan segera diramaikan oleh suara tangis dan tawa bayi mungil dalam waktu dekat.
Tanpa kedua orang tua itu sadari, sandiwara yang awalnya disusun dengan penuh keterpaksaan oleh Raelyn dan Alvarez, kini perlahan-lahan mulai terkikis oleh rasa cinta yang nyata yang tumbuh di antara dua hati yang bertolak belakang tersebut.