NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Celah untuk Melarikan Diri

​"Tuan, saya sudah mengecek ke rumah lama Nyonya Amara," lapor Reno yang baru saja kembali dari lapangan, melangkah cepat menghampiri Gabriel yang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya.

​Gabriel tak berbalik, jemari kokohnya menggenggam cangkir kopi hitam yang masih menggepul.

"Lalu hasilnya?" tanya Gabriel dingin, nada suaranya datar namun menusuk.

​"Tuan Hendra dan asistennya sudah pergi, Tuan. Kami sudah melacak, tetapi tidak menemukan aksesnya," jawab Reno ragu, menundukkan kepala meminta maaf. "Mereka meninggalkan kendaraan pribadi mereka dan tampaknya melarikan diri menggunakan transportasi umum secara bergantian untuk memotong jejak."

​Gabriel berbalik perlahan, meletakkan cangkir kopinya ke meja kerja hingga menimbulkan bunyi dentukan tipis namun berdampak mencekam.

​"Lari?" desis Gabriel dengan senyum tipis yang amat mengerikan. "Dia pikir bisa sembunyi di mana di negara ini?"

​"Saya sudah menginstruksikan seluruh jaringan keamanan dan informan kita di setiap stasiun, pelabuhan, serta bandara untuk memperketat penjagaan, Tuan," tambah Reno sigap. "Namun untuk saat ini, Hendra belum terdeteksi di titik-titik keberangkatan utama."

​"Bagus," sahut Gabriel dingin, merapikan lengan kemejanya. "Tutup semua jalur pelariannya. Blokir semua kartu kredit dan nomor rekening terakhir yang ia gunakan. Biarkan dia merangkak ketakutan seperti tikus di jalanan."

​Reno mengangguk mantap. "Baik, Tuan. Lalu... bagaimana dengan Nyonya Amara? Apakah Anda akan memberitahukan hal ini kepada beliau?"

​Gabriel membisu sejenak, sorot matanya yang tajam seketika melunak saat membayangkan wajah polos istrinya yang masih dalam masa pemulihan.

​"Tidak perlu," tegas Gabriel pelan. "Istriku tidak boleh lagi terbeban oleh keberadaan pria itu. Biarkan masalah Hendra menjadi urusanku sepenuhnya."

​"Mengerti, Tuan Gabriel," jawab Reno patuh sebelum membungkuk hormat dan pamit mundur dari ruangan.

Gabriel menghela nafasnya. Baru saja dia ingin keluar dari ruang kerjanya, pintu terbuka. Terlihat jelas wajah sang istri yang pucat, namun tersenyum manis begitu mendapati Gabriel berdiri di sana.

"Sayang?" panggil Gabriel kaget, langsung memotong jarak dan menahan bahu mungil Amara agar tak berdiri terlalu lama. "Kenapa kamu turun sendiri? Di mana Bik Sum?"

Amara menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tak luntur dari bibirnya. "A-aku... mau ketemu G-Gabriel," cicitnya lembut, pita suaranya melafalkan kata demi kata dengan makin lancar.

Mendengar suara serak khas istrinya, aura dingin Gabriel seketika sirna. Pria itu menangkup pipi Amara yang sedikit dingin dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

"Aku kan baru mau ke kamarmu, Ratu kecilku," bisik Gabriel penuh kelembutan, mengecup kening Amara dengan durasi yang lama. "Wajahmu masih agak pucat. Kamu belum istirahat, ya?"

"A-aku... tadi m-mendengar suara Reno," panggil Amara pelan, matanya menatap polos ke dalam iris hitam Gabriel. "A-ada apa, Gabriel? Apa... P-Papa... mencari aku?"

Gabriel tertegun sejenak, namun dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia tersenyum sangat manis, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Amara, menarik tubuh lembut itu ke dalam dekapannya.

"Tidak ada apa-apa, Sayang," bohong Gabriel demi melindungi ketenangan jiwa istrinya. "Reno cuma melaporkan pekerjaan kantor biasa. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."

Amara meremas kemeja Gabriel di bagian dada, menyandarkan pipinya di sana. "J-jangan bohong..." bisik Amara pelan sekali. "...k-kalau P-Papa datang, aku... aku t-tidak takut lagi. Ada G-Gabriel di sini."

Gabriel menghentikan usapan tangannya di punggung Amara. Dadanya mendadak berdesir hebat mendengar penuturan istrinya. Rasa bangga dan haru membuncah tak terbendung.

"Kamu benar-benar semakin berani, Sayang," ujar Gabriel terkekeh hangat, menunduk untuk menatap mata indah istrinya. "Tapi percayalah padaku, tidak akan ada satu pun orang jahat yang bisa mengganggumu lagi. Sekarang, ayo kembali ke kamar. Aku mau menemanimu."

Amara mengangguk pasrah, menyunggingkan senyum anggun yang membuat Gabriel semakin jatuh hati padanya.

"Kamu benar-benar membuatku ingin melahapmu sekarang, Sayang," goda Gabriel dengan suara bariton yang makin merendah, menatap dalam-dalam manik mata Amara yang berbinar jernih.

Pipi Amara seketika membara merah padam. Ia spontan memukul pelan dada bidang Gabriel dengan telapak tangan mungilnya, mencoba menyembunyikan rasa malu yang membuncah.

"G-Gabriel... j-jangan bicara sembarangan!" cicit Amara terbata-bata, menyembunyikan wajah hangatnya di leher tegap sang suami. "I-ini... masih siang..."

Gabriel terkekeh renyah. Tawa hangatnya bergetar di dadanya, terasa begitu menenangkan bagi Amara yang bersandar di sana. Pria itu menyusupkan jemarinya ke rambut panjang Amara, mengusapnya perlahan.

"Memangnya kenapa kalau masih siang, hm?" bisik Gabriel jahil, sengaja menggesekkan hidungnya di pucuk kepala Amara. "Di rumah ini cuma ada kita. Siapa yang berani melarang suamimu ini memanjakan istrinya?"

Amara mendongak sedikit, menggigit bibir bawahnya ragu. Manik matanya menatap Gabriel dengan kepolosan yang memikat.

"T-tapi... kata dr. Aris... a-aku harus banyak b-bicara... bukan..." Amara menggantungkan kalimatnya, kebingungan mencari kata yang pas hingga wajahnya makin memerah.

Gabriel menahan senyumnya yang makin melebar, terhibur luar biasa oleh tingkah manis istrinya. "Bukan apa, Sayang?"

"B-bukan... bermesraan terus..." bisik Amara sangat pelan, hampir tak terdengar.

Gabriel tak sanggup lagi menahan gemas. Ia menunduk, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kedua pipi Amara hingga gadis itu terkikik pelan dan berusaha menghindar.

"Bicara dan bermesraan itu bisa dilakukan bersamaan, Ratu kecilku," ujar Gabriel mantap seraya mengangkat tubuh Amara ke dalam bopongannya tanpa peringatan.

"G-Gabriel! Turunkan!" pekik Amara kaget, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Gabriel.

"Tidak akan," sahut Gabriel tertawa renyah, melangkah mantap membawanya menuju kamar utama. "Hari ini jadwal bicaramu penuh untuk menyebut namaku saja di kamar."

"G-G-Gabriel!" teriak Amara refleks, membuat mereka berdua seketika terkejut karena suaranya yang melengking kencang bergema di sepanjang koridor menuju kamar.

Gabriel menghentikan langkah kakinya mendadak. Matanya membelalak lebar, menatap Amara yang dipangkuannya dengan raut tak percaya sekaligus kagum.

Amara sendiri langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan mungilnya. Pipinya makin membara merah padam, matanya berkedip-kedip panik.

"S-suaraku... k-keras sekali ya?" cicit Amara pelan di balik telapak tangannya, ketakutan kalau-kalau suaminya terganggu.

Gabriel terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya tawa renyah nan bahagia pecah dari bibirnya. Pria itu menyandarkan dahi mereka saling menempel, membiarkan tawa hangatnya mengikis sisa kegetiran hari itu.

"Suaramu luar biasa, Sayang!" ujar Gabriel dengan binar mata yang begitu cerah dan bangga. "Itu suara terindah yang pernah aku dengar seumur hidupku."

"G-Gabriel... jangan me-ngejek..." rengek Amara malu-malu, mencoba menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

"Aku tidak mengejek, Ratu kecilku," bisik Gabriel penuh kehangatan, mendaratkan kecupan lembut di pelipis Amara. "Suaramu makin jelas, makin kuat. Pita suaramu makin pulih, Sayang."

Amara mendongak perlahan, menatap iris hitam Gabriel yang sarat akan cinta dan rasa syukur. Kehangatan meluap di dadanya saat menyadari betapa suaminya begitu menghargai setiap kemajuan kecil yang ia capai.

"A-aku... keras sekali p-panggil namamu tadi... k-karena kaget..." bisik Amara jujur dengan senyuman manis yang terkembang di bibirnya.

"Tidak apa-apa," balas Gabriel tersenyum amat tampan, melangkah kembali menuju pintu kamar mereka. "Panggil namaku sekeras yang kamu mau. Aku tidak akan pernah bosan mendengarnya."

1
Yuyun Arianti
bgus cerita smoga SJ Amara bisunya bukn bawaan lhir JD ku berharap suatu saat BS berbicara Thor😅
Muft Smoker
beruntung ny Amara ,, d sayang ma suami dn keluarganya ,,
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,
Rahmat
seru"👍🫠
Rahmat
wuiiih keren"gabriel jd kan musuhx walau pun itu mama mu👍
Rahmat
aku suka cara gabriel cepat ambil tindakan biar musuhx langsung skakmat
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Semoga anaknya kembar cewek dan cowok, kan jadi rame.... Lanjut
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!