Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Antara Ketidakpedulian dan Kepura-puraan
Sementara itu di kediaman utama Jenderal Ling Guojin, tepatnya di ruang makan, suasana tampak begitu tenang, penuh dengan keceriaan yang seolah itu adalah nyata.
Seolah-olah....
Jenderal Muda Ling Yujian, putra sulung Jenderal Ling Guojin duduk dengan tenang di kursinya sambil menikmati teh hangatnya.
Sama sekali tidak ada riak kepedulian pada adik perempuan kandungnya, Ling Qingxue, pada wajah tampannya. Meski adiknya itu tidak hadir di ruangan ini seperti biasa.
Di sebelah kirinya, Ling Yuchen, sang adik laki-laki, duduk dengan santai sambil memainkan stik sumpit ketika menunggu hidangan makan malam disediakan.
Dia juga hampir tidak jauh beda dengan kakaknya, sama sekaki tidak ada kepedulian dengan nasib atau keadaan sang adik kandung.
Di seberang meja, duduk saling bersisian Ling Yaofei dan ibu tercintanya, Su Yinfei, yang dulunya masih berstatus selir, sekarang sudah menjadi Nyonya Besar Kediaman Jenderal Ling Guojin.
Su Yinfei, wanita berhati licik itu, tampak duduk dengan tenang nan elegan, menampakkan perilaku nyonya bangsawan yang lemah lembut penuh kasih sayang.
Itu yang tampak oleh Ling Yujian maupun Ling Yuchen.
Tak lama kemudian, para pelayan mulai menyajikan makan malam satu demi satu dengan sikap penuh hormat. Menatanya di meja makan dengan rapi, penuh kehati-hatian, juga dengan sikap penuh hormat.
Saat hal itu berlangsung, tampak si siswa akademi, Ling Yuan mendengus kesal dengan raut wajah yang memberengut jengkel, seperti merasakan kejanggalan yang terjadi.
"Kenapa kali ini aku merasa aneh?" gerutunya seolah bicara sendiri. "Biasanya si Ling Qingxue, anak pembawa sial itu, datang mengganggu kita di saat-saat seperti ini, mencoba menarik perhatian kita...."
"Mungkin dia sudah lelah," tanggap Jenderal Muda Ling Yujian dengan santai dan tenang, acuh tak acuh, tanpa beban terhadap sang adik. "Sekali-kali anak pembawa sial itu istirahat dari mengganggu dan menarik perhatian kita."
"Dage, siapa tahu ini trik baru anak sialan itu untuk mencari perhatian kita semua?" kata Ling Yuchen menanggapi. "Dia sengaja berbuat begini biar kita memperhatikannya...."
"Sampai kapan pun dia tidak akan mendapat perhatian, apalagi kasih sayang dari kita," tandas Ling Yujian, tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun.
Mendengar percakapan kedua putra sambungnya itu, Su Yinfei hanya tersenyum, sebuah senyum terselubung yang mengandung kekejaman sifatnya.
Sampai hari ini kedua anak suaminya itu masih tidak memperdulikan Ling Qingxue, hal itu membuatnya merasa amat senang. Akan tetapi di waktu yang sama, dia harus tetap memerankan peran ibu yang baik yang bersikap adil kepada anak-anaknya, yang penuh kelembutan dan kasih sayang.
Sedangkan Ling Yaofei, mendengar kedua kakaknya itu menyinggung soal Ling Qingxue lagi, hatinya dipenuhi bara amarah, tatapannya dipenuhi rasa benci yang sangat. Membuatnya makin membenci terhadap sosok Ling Qingxue.
Kenapa kedua kakaknya ini masih memikirkan gadis jelek itu? Dia maunya, dalam hati dan pikiran Ling Yujian maupun Ling Yuchen hanya memikirkan dirinya seorang, tidak ada lagi buat Ling Qingxue.
Tapi buru-buru dia mengamankan sikapnya yang penuh drama, tetap bersikap seperti adik yang baik hati, yang lembut dan lugu.
Gadis licik itu hanya bisa memendam amarah dan kebenciannya sendiri di dalam hati.
★☆★☆
Selagi kedua kakak tampan itu berbincang, tak sengaja ekor mata Ling Yuchen menangkap sosok Liu Xui yang lewat dekat ruang makan.
"Liu Xui!" Ling Yuan buru-buru memanggil gadis pelayan itu.
Liu Xui yang sebenarnya ingin cepat-cepat meninggalkan ruang makan yang penuh drama itu, terpaksa berhenti mendengar panggilan Ling Yuchen. Lalu dengan agak terburu-buru menghampiri sang tuan muda ke dua.
"Saya, Er Shao ye," ucapnya seraya menunduk penuh hormat.
"Di mana anak pembawa sial itu?" tanya Ling Yuchen langsung bernada datar, penuh keangkuhan. "Kenapa dia tidak ke mari merecoki seperti biasa?"
Liu Xui tahu siapa yang dimaksud oleh Ling Yuchen dengan sebutan anak pembawa sial. Tak lain adalah Ling Qingxue, nona mudanya. Karena istilah itu kerap disebut oleh Ling Yuchen maupun Ling Yujian.
Mendengar itu dan melihat sikap kedua tuan muda itu, membuat Liu Xui hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya dari balik lengan baju, menahan agar amarahnya tidak terlihat di wajahnya.
"Menjawab Er Shao ye," Liu Xui kembali membungkuk hormat. "Qingxue Shao jie masih sakit akibat terjatuh di danau beberapa hari yang lalu."
"Oh, Xue'er masih sakit sampai sekarang?" kata Nyonya Besar Su seolah terkejut dan peduli, padahal cuma akting dan kepura-puraan belaka. "Kenapa kamu tidak memberi tahu saya, Liu Xui?"
"Benar, Zhu mu," sahut Liu Xui masih tetap bersikap hormat dan sopan, tapi nada suaranya sedikit datar, akibat menahan kejengkelan. "Tapi sudah agak membaik, hanya butuh istirahat beberapa hari lagi."
"Ji mu, tidak usah kamu terlalu perduli dengan anak pembawa sial itu," sela Ling Yujian setelah menurunkan cangkir tehnya. "Itu hanya akal-akalannya saja. Anak itu memang pandai mencari-cari perhatian...."
"Benar, Ji mu," sambung Ling Yuchen, "anak itu memang pandai menarik perhatian. Abaikan saja....!"
Su Yinfei tersenyum lembut seraya menatap kedua pemuda itu dengan sorotan kasih sayang, lalu melanjutkan makannya dengan tenang dan elegan.
Tapi terus berucap, penuh kelembutan dan kasih sayang yang menjijikkan.
"Aku ini Ji mu-nya juga, aku harus memperhatikan keadaannya juga. Ji mu tidak boleh pilih kasih di antara kalian...."
Tapi di dalam hati begitu bersorak, kedua anak bodoh itu masih saja membenci Ling Qingxue.
Sedangkan Liu Xui, dia hanya mampu terdiam dalam bisu, tidak mampu membela majikan mudanya di hadapan orang-orang bodoh itu. Dia semakin menunduk, menyembunyikan kekesalan dan amarah di dalam hatinya.
Sementara Ling Yaofei, dia semakin merasa kesal dan marah melihat kedua kakaknya masih saja memperhatikan Ling Qingxue. Tapi bersamaan dengan itu, hatinya amat senang juga kedua pemuda itu masih tidak memperdulikan Ling Qingxue, hingga saat ini.
Untuk mengalihkan pikiran Ling Yujian maupun Ling Yuchen, Ling Yaofei mengajak mereka ngobrol ini itu, serta bercanda ria. Sehingga membuat Ling Yujian maupun Ling Yuchen langsung memusatkan pandangan, pendengaran, dan perhatian mereka kepada adik kesayangan itu.
Sedangkan Liu Xui semakin muak melihat pemandangan yang menjijikkan itu.
Lalu menunduk sekali lagi, memberi hormat sebelum meninggalkan ruang makan, tidak ingin berlama-lama menyaksikan kedua kakak kandung majikan mudanya yang bodoh yang semakin tidak mempedulikan sang nona muda.
"Ingat kata-kataku ini, suatu hari nanti kalian akan menyesal telah mengabaikan nona mudaku," gumamnya dalam hati dengan hati penuh kegeraman.
Sementara Su Yinfei yang melihat kepergian Liu Xui dengan ekor matanya, seketika menyeringai dingin. Dia yakin pelayan setia Ling Qingxue itu tidak terima dengan apa yang telah disaksikan di ruang makan malam ini.
Liu Xui pasti akan melapor kepada majikannya tentang apa yang terjadi malam ini, semakin membuat hati Ling Qingxue bertambah sakit.
Mengingat itu betapa senang hati wanita berhati busuk dan jahat itu.
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,