NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Anne

Pukul delapan malam tepat, gemerlap lampu kristal menggantung megah di langit-langit restoran De Zwaluw, memantulkan pendar hangat di atas dinding kayu jati antik dan lantai marmer hitam berkilap. Restoran berbintang Michelin di tepi kanal Rotterdam itu tampak tenang, diisi oleh alunan musik jazz instrumen lembut yang mengiringi obrolan para tamu elit dari kalangan diplomat dan pebisnis kelas atas.

Victor Thorne sudah tiba sepuluh menit lebih awal dari jadwal yang disepakati. Mengenakan setelan jas hitam bespoke berpotongan tajam lengkap dengan dasi kupu-kupu sutra gelap, ia duduk sendiri di meja sudut privat berukuran sedang yang langsung menghadap ke arah jendela besar berbingkai kaca anti peluru dengan pemandangan kanal air kota yang memantulkan cahaya lampu kota.

Di hadapannya terhidang segelas air es mineral murni dan seporsi menu pembuka berkelas. Namun, perhatian Victor tidak tertuju pada makanan tersebut; jemarinya sesekali mengetuk meja pelan, menantikan kehadiran gadis yang telah menguasai seluruh pikirannya sejak hari pertama mereka bertemu—Freya.

Tanpa disadari oleh Victor, bayangan gelap telah menyusup masuk ke dalam atmosfer mewah restoran tersebut. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi di balik pilar hiasan dinding, Annelise Van Der Bilt duduk menyilangkan kaki dengan balutan gaun malam beludru merah ketat yang memancarkan aura angkuh sekaligus berbahaya. Bibirnya menyunggingkan senyuman miring yang penuh dengan tipu daya.

Annelise tidak datang sendirian. Dua puluh menit sebelum Victor tiba, ia telah menyuap seorang pelayan pria berpenampilan rapi yang bertugas di area privat tersebut dengan bayaran ribuan euro tunai. Tugas pelayan itu sederhana namun mematikan: menyusupkan zat kimia cair bening—obat perangsang sintetis kelas berat berkedok racun keintiman—ke dalam gelas minuman yang akan disajikan kepada sang konglomerat Thorne.

Pelayan berjas hitam itu berjalan mendekati meja Victor dengan nampan perak di tangannya, tersenyum sopan seraya menundukkan kepala.

"Maaf mengganggu malam Anda, Tuan Thorne. Ini adalah pelengkap hidangan pembuka khusus dari pihak manajer restoran untuk menyambut kedatangan Anda," ujar pelayan itu dengan suara tenang yang terlatih, lalu meletakkan segelas kristal berisi cairan jernih beraroma netral tepat di samping gelas air minum utama Victor.

Victor, yang pikirannya sedang melayang memikirkan kedatangan Freya, hanya mengangguk sekilas tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun. "Letakkan di situ. Terima kasih."

Pelayan itu membungkuk hormat, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat, memberikan isyarat mata samar kepada Annelise yang mengawasi dari kejauhan.

Beberapa menit berlalu. Merasa tenggorokannya agak kering akibat penantian, Victor meraih gelas kristal berisi cairan jernih tersebut dan meneguknya dalam sekali tenggak. Cairan itu dingin saat melewati kerongkongan, namun hanya dalam rentang waktu kurang dari tiga menit, efek destruktifnya mulai bekerja menghantam sistem saraf pusat sang konglomerat.

Deg.

Victor merasakan hantaman keras di kepalanya. Penglihatannya mendadak sedikit kabur, dan gelombang panas yang luar biasa dahsyat mendadak merambat cepat dari dada hingga ke ujung jemarinya. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah dengan kecepatan abnormal. Suhu tubuhnya melonjak drastis, membuat keringat dingin mulai membasahi pelipis dan lehernya.

"Sial..." desis Victor pelan, mencengkeram tepi meja marmer dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia tahu betul apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Ini bukan kelelahan biasa; ini adalah reaksi zat kimia perangsang sintetis berkadar tinggi yang sengaja dimasukkan ke dalam minumannya. Kendali penuh atas kesadaran dan akal sehatnya mulai runtuh perlahan, digantikan oleh gelombang nafsu liar yang membakar sekujur tubuhnya tanpa ampun.

Sebelum Victor sempat bangkit untuk memanggil pengawalnya, dua orang pria suruhan Annelise yang berbadan tegap menyamar sebagai staf keamanan restoran mendadak bergerak cepat menghampiri meja tersebut.

"Tuan Thorne, Anda tampak tidak enak badan. Biar kami bantu Anda menuju ruang istirahat privat di lantai atas," ucap salah satu pria itu dengan nada setengah memaksa, lalu memegang lengan Victor dengan erat untuk menyangga tubuh sang bos yang mulai kehilangan keseimbangan.

Victor mencoba melawan, mengerahkan sisa-sisa tenaga dan tekad bajaknya untuk menolak. Namun, pengaruh zat kimia itu bekerja terlalu cepat dan kuat melumpuhkan otot-ototnya. Dengan langkah sempoyongan yang disamarkan seolah-olah ia hanya kelelahan, Victor digiring keluar dari restoran melalui pintu samping menuju area lift privat menuju lantai kamar hotel di atas gedung tersebut.

Beberapa menit setelah Victor diculik keluar dari restoran, pintu utama De Zwaluw terbuka. Freya Zivanka melangkah masuk dengan balutan gaun malam satin berwarna biru safir yang elegan, rambut hitam kecoklatannya tergerai indah membingkai wajah cantiknya. Ia tersenyum manis, mengedarkan pandangannya mencari sosok pria berjas hitam yang berjanji menunggunya.

Namun, meja di sudut ruangan tempat Victor seharusnya berada tampak kosong. Hanya ada gelas-gelas kotor dan sisa makanan yang belum dibereskan.

Freya mengerutkan keningnya heran. Ia merogoh ponselnya dari tas tangan kecilnya, lalu mendial nomor Victor.

Tuut... tuut... tuut...

Panggilan itu tersambung, namun tidak ada jawaban. Suara nada dering berulang-ulang itu menggema hampa di ujung sana. Freya mulai merasa gelisah. Ia mendekati kepala pelayan restoran dan bertanya, namun sang pelayan hanya menjawab bahwa Tuan Thorne baru saja pergi meninggalkan restoran bersama rekan bisnisnya karena urusan mendadak. Freya terdiam bingung, berdiri seorang diri di tengah kemewahan restoran tanpa tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, di sebuah kamar suite V.I.P. mewah di lantai atas gedung yang sama, pintu terbuka dengan dorongan kasar.

Dua pria suruhan Annelise mendorong Victor masuk ke dalam kamar yang remang-remang, lalu segera keluar dan mengunci pintu dari luar. Udara di dalam kamar tersebut terasa hangat, dipenuhi oleh aroma parfum manis yang memabukkan.

Di tengah ruangan, berdiri Annelise Van Der Bilt dengan balutan gaun malam beludru merah yang menonjolkan lekuk tubuhnya secara menggoda. Lampu kamar diredupkan, memancarkan cahaya temaram kekuningan yang menciptakan suasana penuh gairah palsu.

Victor bersandar pada dinding pintu kamar, napasnya memburu berat, mata birunya memerah karena menahan gelombang panas yang membakar sekujur tubuhnya. Kesadarannya kini tinggal sepuluh persen; ia dikuasai penuh oleh insting liar akibat obat biadab yang meracuni sistem tubuhnya.

Melihat pria yang selama bertahun-tahun ia idam-idamkan kini berada di hadapannya dalam keadaan tak berdaya dan dikuasai nafsu, senyuman kemenangan merekah lebar di bibir Annelise. Ia melangkah mendekat secara perlahan, mengibaskan rambut panjangnya dengan gerakan sensual.

"Victor... sayangku," bisik Annelise dengan suara mendesah lembut, meraba dada bidang Victor di balik kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. "Kau tampak begitu tersiksa. Biarkan aku membantumu... biarkan aku menjadi wanita yang memuaskan seluruh hasratmu malam ini."

Victor mengerang pelan, mencengkeram kedua bahu Annelise dengan kuat saat sentuhan wanita itu semakin memancing insting liar di dalam dirinya. Pertahanan mental sang konglomerat akhirnya jebol sepenuhnya.

Annelise tersenyum penuh trik kotor. Ia menarik tubuh Victor menuju ranjang besar berseprai satin di tengah kamar. Wanita itu mulai merebahkan diri, menikmati setiap detik saat Victor yang tak berdaya mulai menindihnya, melepaskan seluruh kendali diri dalam pusaran gairah buatan yang telah ia rancang sedemikian rupa.

Desahan-desahan tertahan mulai keluar dari bibir Annelise, menikmati puncak kemenangan semu di atas tubuh seorang pria yang tidak pernah bisa disentuhnya secara sukarela. Ia ingin malam ini berlanjut lebih jauh—menciptakan bukti fisik dan skandal tak terelakkan yang akan memaksa keluarga besar Thorne mengikat Victor padanya selamanya.

Namun, rencana busuk Annelise tidak berjalan mulus hingga akhir.

Di lantai bawah restoran, Markuz—kepala pengawal pribadi dan tangan kanan paling tepercaya Victor Thorne—baru saja menerima laporan dari agen intelijen lapangannya yang memantau pergerakan mencurigakan di koridor lift privat hotel. Markuz, yang tidak pernah meninggalkan bosnya tanpa pengawasan jarak jauh, segera menyadari ada bahaya besar yang sedang terjadi.

Dengan gerakan kilat, Markuz bersama dua pengawal elit bersenjata senyap melangkah cepat menaiki tangga darurat menuju lantai atas tempat kamar suite V.I.P. berada. Mereka bergerak tanpa suara, bagai bayangan malam yang mematikan.

Setibanya di depan pintu kamar suite nomor 804, Markuz mengeluarkan kunci master digital khusus darurat yang dimilikinya sebagai kepala pengamanan korporat Thorne.

Klik.

Pintu terbuka lebar dalam sepersekian detik. Markuz dan anak buahnya langsung menyelinap masuk ke dalam ruangan yang remang-remang dengan posisi siaga penuh.

Pemandangan di dalam kamar membuat rahang Markuz mengeras, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang luar biasa. Di atas ranjang besar, Annelise tampak setengah telanjang dengan senyuman kemenangan di wajahnya, sementara Victor berada di atasnya dalam kondisi kesadaran yang hampir sepenuhnya hilang akibat pengaruh zat kimia berbahaya.

"Tarik dia dariku! Berani sekali kalian masuk—!" jerit Annelise terkejut setengah mati, mencoba bangkit menutupi tubuhnya saat melihat kedatangan Markuz secara tiba-tiba.

"Tutup mulutmu, Nona Van Der Bilt!" bentak Markuz dengan suara dingin yang menggelegar penuh ancaman kematian.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Markuz memberi isyarat kepada dua pengawalnya. Kedua pengawal berbadan tegap itu langsung menarik paksa tubuh Victor dari atas ranjang, memapah sang bos yang terkulai lemas namun masih meronta akibat efek obat perangsang yang belum sepenuhnya hilang.

"Bawa Tuan Victor keluar lewat jalur servis belakang sekarang juga!" perintah Markuz mutlak.

Annelise mencoba merangkak maju, meraih ujung celana Markuz dengan wajah panik luar biasa. "Markuz! Jangan bawa dia! Dia milikku! Ini adalah takdir kami—!"

Markuz menepis tangan Annelise dengan kasar, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh jijik dan kebencian mendalam. "Permainan kotor Anda berakhir malam ini, Nona. Jika satu patah kata saja tentang kejadian di kamar ini bocor ke media atau keluarga besar, Anda tidak akan pernah melihat matahari terbit esok hari di bumi Eropa ini."

Tanpa memedulikan jeritan frustrasi Annelise yang mencak-mencak di atas lantai kamar, Markuz berbalik badan dan melangkah keluar, menutup pintu kamar rapat-rapat meninggalkan wanita licik itu dalam kobaran amarah yang membakar diri sendiri.

Di lantai bawah, di area lobi utama restoran De Zwaluw, Freya Zivanka masih duduk termenung di atas sofa tunggu dengan perasaan cemas yang tidak bisa disembunyikan. Sudah hampir satu jam ia menunggu, namun batang hidung Victor sama sekali tidak terlihat. Rasa khawatir mencengkeram dadanya; ia merasa ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di balik malam yang dingin ini.

Tiba-tiba, ponsel pintarnya bergetar di dalam genggaman.

Sebuah pesan singkat berformat enkripsi khusus masuk ke layar ponselnya dari nomor tak dikenal, yang ternyata langsung dikenali sebagai kode sandi komunikasi milik Markuz:

“Nona Freya, segera kembali ke penthouse sekarang juga. Ada kejadian darurat dan tak terduga yang melibatkan Tuan Victor. Jangan tanyakan apapun, mobil penjemput sedang menunggu di pintu utara lobi sekarang.”

Jantung Freya seolah berhenti berdetak sepersekian detik. Darahnya mendadak mendingin membaca pesan tersebut. Tanpa pikir panjang, ia menyambar tas tangannya, bangkit dari kursi, dan berlari keluar restoran menuju mobil jemputan hitam yang membelah jalanan malam Rotterdam menuju benteng pertahanan terakhir mereka—menyongsong badai rahasia yang siap menghancurkan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!