NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Gelombang Dingin dari Ibu Kota

Malam semakin larut saat pendar lampu-lampu kota memantul anggun di atas kaca jendela suite mewah Perusahaan Zena. Kehancuran Keluarga Surya yang terjadi hanya dalam hitungan jam telah mengguncang tatanan ekonomi lokal. Namun, bagi klan-klan raksasa yang bertengger di panggung nasional, peristiwa itu bukanlah sekadar riak kecil, melainkan ancaman langsung terhadap garis pasokan kekuasaan mereka.

Di sebuah ruang pertemuan tertutup di ibu kota, ribuan kilometer dari kota pelabuhan itu, Victor Cendana—putra mahkota Klan Utama Cendana—duduk dengan wajah berukir kemarahan. Klan Cendana adalah salah satu klan paling berpengaruh di tingkat nasional, dan Keluarga Surya selama ini berfungsi sebagai mesin pencetak uang rahasia serta penyokong dana politik mereka di daerah.

"Grup Naga Hitam di kota itu terlalu lancang," desis Victor seraya menyesap cerutu mewahnya. Matanya menyalakan kebuasan yang tak terhingga. "Mereka pikir hanya karena berhasil menghancurkan Keluarga Surya, mereka bisa mengusik aliran dana Klan Cendana? Cari tahu siapa pimpinan Naga Hitam di kota itu dan habisi dia malam ini juga. Jangan biarkan ada jejak tersisa."

Dalam hitungan menit, perintah dari ibu kota itu menjelma menjadi instruksi berdarah. Sebuah organisasi pembunuh bayaran kelas atas—yang dikenal dengan julukan *Tengkorak Hitam*—segera mengerahkan tiga eksekutor terbaik mereka melintasi perbatasan kota.

Sementara itu, di kantor perencana proyek Perusahaan Zena, suasana terasa jauh lebih tenang. Berita kemenangan Alya di jamuan makan malam kemarin telah menyebar luas ke seluruh industri. Hambatan pasokan material yang sebelumnya dipasang oleh Keluarga Surya kini menguap tanpa sisa. Para vendor dan kontraktor bersaing ketat menyodorkan penawaran terbaik demi memenangkan hati Alya.

Alya menatap berkas-berkas kerja sama yang tertata rapi di atas mejanya. Dalam satu hari, nilai proyek yang dikelolanya melejit drastis, dan posisinya sebagai Manajer Proyek Utama kini tak tergoyahkan lagi. Namun, di balik rasa syukur atas keberhasilannya, benak Alya tak pernah bisa lepas dari sosok Reno.

Alya teringat bagaimana Reno melangkah masuk ke aula pesta, bagaimana pria itu membongkar kejahatan Keluarga Surya dengan begitu tenang, dan bagaimana Reno mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menepis serangan pisau Randy demi melindunginya. Ada perasaan hangat yang merekah di dalam dadanya, berpadu dengan rasa bersalah yang amat dalam atas tiga tahun masa lalu yang telah ia sia-siakan.

"Nona Alya," panggil Maya, sekretarisnya, sambil mengetuk pintu pelan. "Jadwal evaluasi anggaran untuk hari ini sudah selesai. Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan?"

Alya tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak ada, Maya. Kamu bisa pulang lebih awal hari ini."

Setelah sekretarisnya pamit, Alya mengambil ponsel pribadinya. Jemarinya menggenggam ponsel itu dengan ragu-ragu. Ditatapnya nomor kontak Reno yang tersimpan dengan nama sederhana. Hatinya bergetar hebat. Apakah ia memiliki keberanian untuk menghubungi pria yang kini memegang puncak kekuasaan tertinggi itu?

Dengan menarik napas panjang, Alya memberanikan diri menekan tombol panggil.

Nada sambung berdering tiga kali sebelum suara bernada rendah, tenang, dan sangat familiar terdengar di seberang saluran.

"Ya, Alya?"

Dada Alya berdesir mendengar suara Reno. Suara yang dulu selalu menyapanya setiap pagi di dapur rumah mereka, kini terdengar begitu berwibawa namun tetap menyimpan kehangatan yang amat tipis.

"Reno... maaf kalau aku mengganggu waktumu," ujar Alya lembut, menahan rasa gugup yang melingkupi sanubarinya.

"Tidak mengganggu. Ada masalah dengan proyek pesisir?" tanya Reno datar namun profesional.

"Bukan, bukan soal pekerjaan," potong Alya cepat. Ia menelan ludah, mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Aku... aku hanya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi atas apa yang kamu lakukan semalam. Kalau bukan karenamu, aku tidak akan pernah bisa berdiri di posisi ini."

Hening sejenak di seberang saluran, sebelum suara Reno kembali mengalun. "Kamu mendapatkan posisi itu karena kualifikasimu sendiri, Alya. Aku hanya menyingkirkan dahan-dahan beracun yang menghalangi jalanmu."

Alya mengulas senyum manis, air mata haru tergenang di sudut matanya. "Aku tahu. Tapi aku benar-benar ingin membalas kebaikanmu, Reno. Bisakah... bisakah kita makan malam bersama malam ini? Hanya kita berdua, di restoran sederhana tempat kita dulu pernah makan saat pertama kali kenal. Aku yang bayar."

Di ruang kerjanya yang mewah, Reno berdiri menatap pemandangan kota. Mendengar ajakan Alya, ada pergolakan halus di dalam batinnya. Tiga tahun masa penyamarannya dipenuhi oleh hinaan dari keluarga Pramudya, tetapi Alya adalah satu-satunya alasan mengapa ia sanggup bertahan selama itu. Melihat ketulusan dan perubahan sikap Alya saat ini membuat benteng pertahanan di hatinya mulai goyah.

Namun, di saat yang bersamaan, Reno teringat akan laporan Bagas mengenai ancaman dari ibu kota. Klan Cendana telah mengutus pembunuh bayaran untuk mengincarnya. Berada di dekat Alya saat ini justru bisa membahayakan keselamatan wanita itu.

"Alya..." suara Reno terdengar agak berat. "Malam ini bukan waktu yang tepat. Situasi di luar sedang tidak aman."

"Reno, tolong..." bisik Alya penuh permohonan. "Aku tidak meminta hal yang berlebihan. Aku hanya ingin membagikan rasa bahagiaku bersamamu, walau hanya satu jam. Aku mohon."

Mendengar nada ketulusan yang begitu dalam dari Alya, Reno akhirnya menghela napas pelan. "Baiklah. Tapi kita bertemu langsung di restoran itu. Jangan pergi ke tempat lain, dan tetap berada di jalur utama."

"Terima kasih, Reno! Aku akan segera ke sana!" jawab Alya gembira sebelum menutup saluran telepon.

Alya merapikan gaun kerjanya dengan perasaan membuncah. Benih-benih cinta yang dulu sempat terpendam di balik tekanan orang tuanya kini tumbuh kembali, membakar semangatnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Reno dari awal. Tanpa membuang waktu, Alya menyambar tas tangannya, turun menuju basement gedung, dan mengendarai mobil sedan putihnya membelah jalanan kota yang mulai diselimuti pendar lampu malam.

Restoran yang mereka tuju berada di pinggiran kawasan bisnis, melewati jalur jalan raya utama yang cukup senggang di jam-jam seperti ini. Alya mengemudi dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya, membayangkan momen pertemuannya dengan Reno.

Namun, saat mobil sedan Alya melewati tikungan jalan layang yang agak sepi, pendar lampu sorot yang sangat silau mendadak membias dari kaca spion tengahnya.

Sebuah truk besar berwarna hitam tanpa plat nomor meluncur deras dari arah belakang dengan kecepatan tinggi. Alya mengerutkan dahi, mencoba menggeser mobilnya ke lajur kiri untuk memberikan jalan.

Akan tetapi, bukannya mendahului, truk besar itu justru sengaja memotong jalur dan membanting setir secara mendadak ke arah kanan!

*BRAK!*

Dentuman keras bergema saat badan truk itu menyumpal dan menyerempet bagian samping mobil Alya secara kasar! Percikan api berkilat hebat di atas aspal malam.

"AAAGHH!" jerit Alya histeris, berusaha memegang kemudi erat-erat saat mobilnya terombang-ambing tak terkendali di atas jalanan yang licin!

Truk hitam itu tidak berhenti. Ia kembali melaju menyamping, bersiap untuk menghantam dan memipihkan mobil Alya ke dinding pembatas jalan layang dengan dampak yang mematikan!

Di dalam kabin mobilnya yang terancam bahaya, Alya memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram sabuk pengamannya dengan napas terengah-engah dan ketakutan yang mencekik dada. Seiring deru mesin truk yang semakin mendekat, maut seolah tinggal berjarak hitungan sentimeter darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!