Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memadu Kasih diatas Penderitaan Istri Pertama
"Suster, dokter. Tolong, istri saya pendarahan.." ucap Arhan sambil berlari menelusuri lorong panjang rumah sakit, dalam pangkuannya Nadhira sudah terkulai lemah hampir kehabisan darah. Wajahnya putih pucat, matanya terpejam tapi sudut matanya mengeluarkan air yang perlahan mengalir.
Dokter dan suster sigap membawa brankar rumah sakit. Arhan mulai merebahkan tubuh istrinya diatas berangkat, dress satin berwarna hijau sage itu kini basah oleh darah yang terus mengalir. "Pendarahan berat, kondisi darurat sus. Cepat bawa pasien keruang instalasi gawat darurat." ucap dokter berkacamata tebal.
"Sakit sekali dokter, tolong selamatkan anak saya...." ucap Dira, suaranya terdengar begitu lemah, dengan kelopak mata yang kembali menutup. Bibirnya kini sudah memutih.
Ketika mendengar apa yang Nadhira ucapkan sontak jantung Arhan serasa berhenti sejenak, ada rasa yang berdenyut nyeri didalam rongga dadanya. Arhan membantu dokter mendorong brangkar menuju Rungan IGD.
Butuh beberapa jam dokter untuk menangani kondisi Nadhira, jika telat beberapa jam mungkin Nadhira tidak bisa diselamatkan. Akhirnya dokter berhasil membuat pendarahan yang diakibatkan oleh benturan kuat pada dinding rahim itu terhenti, Nadhira sudah bisa dipindahkan keruang rawat inap. Kondisinya masih sangat lemah, satu kantong darah sudah menggantung disampingnya ranjang rumah sakitnya. Nadira belum sepenuhnya sadar, matanya masih terpejam sempurna.
*
"Mas, kamu menolongnya..?" bentak Ayu saat melihat Arhan pulang dari rumah sakit, Arhan pulang dengan tujuan untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan oleh Dira, dan ia akan mengganti kemejanya yang terkena banyak noda darah yang telah mengering.
Arhan tidak menjawab pertanyaan dari Ayu, pikirannya masih berputar dengan apa yang tadi dokter katakan kepadanya.
Jika bapak terlambat membawa istri bapak kerumah sakit, mungkin nyawanya tidak akan tertolong lagi.
Benturan kuat pada perutnya menyebabkan luka parah didalam rahimnya pak, mohon maaf sekali, jabang bayi didalam kandungan Bu Nadhira tidak bisa kami selamatkan.
Arhan menatap tajam ke arah Ayu yang terus membuatnya dengan suara yang sangat memekakkan telinga.
"Kamu hampir saja membunuhnya." Arhan dengan nada suara yang sangat rendah, tapi penuh penekanan dalam setiap kata yang ia ucapkan.
"Kamu khawatir dengannya?, katanya kamu gak cinta sama dia mas?" Ayu dengan tatapan seolah dia wanita yang paling tersakiti.
"Kamu tidak paham Ayu, dirumah ini ada yang tinggal selain kita berdua. Jika kejadian ini hanya disaksikan oleh kita berdua mungkin ini akan aman untukmu, bahkan jika Nadhira menghembuskan nafas terakhir di ujung tangga pun. Tapi dirumah ini ada ibu. Ibu melihat semua kejadian ini..." Arhan mengerutkan alisnya. Ia berdecak kesal.
Ayu akhirnya terdiam, sadar akan perbuatannya akan berbuntut panjang jika Bu Rena bertindak tegas akan kejadian ini semua.
"Kamu mau kemana mas?" Ayu melihat Arhan yang melangkah cepat menuju kamar Nadhira. Ayu berlari untuk mengejar Arhan yang mulai memasuki kamar Nadhira.
"Apa kamu berbohong sama aku mas, apa pil kontrasepsi itu bohong. Kenapa dia bisa hamil anak kamu mas?" bentak ayu lagi, ia mencengkram tangan Arhan kuat.
"Mas, juga tidak tau yu, padahal mas rutin kasih dia pil kontrasepsi. Mas, kecolongan." Arhan mendengus kesal, wajahnya merah karena luapan emosi yang bergumul diatas puncak kepalanya.
"Aku cemburu sama kamu yang terlihat peduli sama istri yang katanya kamu tidak cintai itu. Setelah dia sembuh aku mohon sama kamu mas, ceraikan dia. Atau aku yang akan pergi dari rumah ini." Ayu mulai mengancam Arhan.
Cerai?
Apa aku bisa menceraikan Nadhira yang selama ini sudah menghormati aku sebagai suaminya dengan sangat baik?
Walaupun aku tidak mencintainya, tapi aku masih membutuhkannya sebagai tempat aku pulang.
"Mas!" bentak Nadhira sontak membuyarkan lamunan Arhan.
"Ya, oke mas akan menceraikannya sayang, tenang aja." ucap Arhan sambil mengecup singkat kening Ayu. Kemudian tangannya mengusap pelan perut Ayu yang dipenuhi oleh lemak yang menggumpal.
"Mas berangkat dulu, kamu hati-hati dirumah. Mas akan mengurusnya sampai dia sembuh setelah itu mas akan menceraikannya. Mas janji sayang, kamu tidak usah cemburu. Bahkan mas tidak merasa khawatir sedikitpun tentang kondisinya, yang mas khawatirkan cuma kamu, mas takut kejadian ini berbuntut panjang." ucap Arhan, matanya sendu memandangi wajah Ayu.
"Setelah mas menceraikannya, nanti kita bisa nikah sah secara negara. Setelah itu kita hidup bahagia selamanya dengan dikaruniai seorang anak dari wanita yang sangat mas cintai sejak dulu." ucap Arhan tangannya masih mengelus pelan perut istrinya.
Kini wajah antagonis dengan makeup tebal dan terkesan berlebihan itu tersenyum penuh kemenangan.
Bodoh, pria yang sangat bodoh..
"Em..oh iya mas. Satu lagi, kita kirim ibu ke panti aja, aku gak mau ngurus ibu jika si wanita rendahan itu sudah pergi dari sini." ucap Dira dengan wajah penuh godaan, ia mengusap pelan dada bidang suaminya.
"Gak bisa dong yu, itu orangtua mas satu-satunya." protes Arhan.
Ayu mulai mendekatkan wajahnya dengan Arhan, nafas hangatnya kini berhembus mengalir pada ceruk leher Arhan, membuat peria yang berusia 33 tahun itu meremang, tubuhnya menegang sempurna.
Ayu mulai merangkulkan kedua tangannya pada bahu Arhan, wajahnya sudah mengikis jarak dengan wajah Arhan yang masih membeku ditempatnya.
Dalam hitungan detik, bibir merah itu sudah saling berpagut, menikmati setiap sensasi aliran listrik yang kian meningkat.
"Adek seperti kangen sama ayah.." ucap Dira dengan kerlingan penuh menggoda.
Arhan meneguk ludahnya susah, tanpa berpikir lama ia memangku tubuh istrinya kemudian menghempaskannya diatas kasur. Arhan mulai membuka apa yang masih melindungi Perkututnya. celana hitam itu terhempas begitu saja diatas lantai.
Arhan mulai naik keatas kasur, ia membuka kedua lutut Ayu yang sudah siap sempurna diatas kasur.
Tanpa pemanasan yang lebih lama, miliknya sudah terbenam sempurna, membuat Ayu membelalakan kedua matanya lebar. Menikmati sensasi yang kini mulai menguasai tubuhnya.
Arhan dan Ayu malah memadu kasih diatas kasur milik Nadhira, tanpa mengingat akan pemiliknya yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
Arhan kalut kenikmatan yang makin menguasai tubuhnya, ia sudah melupakan begitu saja apa yang sedang dibutuhkan oleh Nadhira dirumah sakit.
Adegan panas itu berlangsung lama, dikamar milik Nadhira serta diatas ranjang milik Nadhira. Peluh Arhan dan Ayu mengucur deras membasahi seprei bersih yang baru diganti oleh Nadhira tadi pagi.
Bersambung
Jangan lupa like yang readers 🤩
Bagusnya Arhan dan Ayu ini diapain ya readers?