Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULUT TETANGGA SETAJAM PISAU DAPUR
Lina tidak pulang ke rumahnya, melainkan Dia membuka GPS ke arah pusat perbelanjaan terbesar di kota, tempat di mana harga barang-barang bisa membuat dompet menangis, tapi setidaknya bisa membuat hati yang hancur merasa sedikit lebih "Tenang".
Lina melangkah masuk ke butik pakaian wanita yang paling eksklusif di lantai tiga. dan Seorang pramuniaga dengan senyum tipis datang menghampirinya.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
Lina menoleh menatap rak-rak gaun sutra. "Ya. Saya butuh sesuatu yang bisa membuat mantan suami dan adik kandung saya menyesal seumur hidup setelah melihat foto Instagram saya nanti."
Pramuniaga itu kebingungan sambil mengerutkan kening, "Maksud Nona... gaun pesta?"
"Bukan," kata Lina sambil mengambil sebuah blazer merah menyala yang harganya setara dengan motor bekas. "Saya butuh armor. Armor untuk perang psikologis."
Lina langsung masuk ke ruang ganti. dan melihat ke cermin, matanya bengkak karena habi menangis . Rambutnya terlihat berantakan. Dia terlihat seperti korban bencana alam, bukan istri pejabat muda yang sukses.
"Sial," gumam Lina. "Aku bahkan nggak punya tenaga untuk marah. Aku cuma punya tenaga untuk belanja pakai kartu kredit bersama."
Tiba-tiba, pintu ruang ganti sebelah terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar, membawa tumpukan baju. Dia melirik Lina lewat celah pintu.
"Waduh, Nak. Wajahmu kok kayak habis digilas truk sampah?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.
Lina terkejut. "Maaf?"
"Ibu Tuti, tetangga sebelah rumahmu," kata wanita itu sambil mengunyah permen karet. "Ibu lihat kamu masuk mall sendirian. Biasanya kan sama si Raka yang sok ganteng itu. Atau sama si Dinda yang jalannya seperti model catwalk padahal lagi ke minimarket."
Lina tertegun. Ibu Tuti? Tetangga yang biasanya hanya menyapa sekilas saat mengambil koran? Ternyata dia observatif sekali.
"Ibu tahu banyak ya," kata Lina pelan.
"Ibu tahu semua," kata Ibu Tuti bangga. "Soalnya ibu punya telinga selebar piring terbang. Dan mulut yang nggak bisa diam. Jadi, kenapa mukamu begitu? Si Raka selingkuh?"
Lina hampir tersedak. "Ibu... bagaimana Ibu bisa..."
"Tebak-tebakan saja," potong Ibu Tuti. "Tapi kalau tebakanku benar, jangan nangis di sini. Nanti bajunya basah, susah dijual lagi. Mending nangis di kasir, sekalian bayar pakai air mata.siapa tau ada Diskon ?"
Lina tidak bisa menahan diri. Dia tertawa. Tawa yang terdengar aneh, campuran antara histeris dan lega.
"Ibu lucu sekali," kata Lina.
"Ibu memang lucu. Tapi serius, Nak. Kalau laki-laki itu sudah busuk, buang saja. Jangan dipelihara. Nanti nular ke tanaman hiasmu," nasihat Ibu Tuti sambil menunjuk tas belanjaannya. "Nih, coba rok ini. Warnanya cocok buat bikin mantan suami buta karena silau."
Lina mengambil rok itu. Untuk pertama kalinya hari ini, dia merasa ada seseorang yang benar-benar di sisinya. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memberi solusi praktis: beli baju mahal.
Setelah membayar dengan kartu kredit yang limitnya hampir habis Lina duduk di kafe dekat mall. Dia memesan kopi hitam pahit, secubit rasa sakitnya.
Ponselnya tiba tiba bergetar.dan Nama Raka muncul di layar.
Lina menatapnya lama. Lalu, dia menjawab.
"Halo?" suaranya dingin.
"Lina, di mana kamu?" suara Raka terdengar panik. "Dinda sudah pulang. Aku sendirian di rumah. Kita perlu bicara."
"Bicara tentang apa?" tanya Lina. "Tentang jaket bomber? Atau tentang bantal pink neon?"
"Lina, tolonglah. Jangan bawa-bawa hal itu. Aku cuma ingin menjelaskan."
"Menjelaskan?" Lina tertawa sinis. "Menjelaskan bahwa kamu ternyata pria bermuka dua? Atau menjelaskan bahwa adikku ternyata pencuri hati yang handal?"
"Aku khilaf, Lina. Aku stres kerjaan. Dinda datang, dia mendengarkan keluhanku. Lama-lama... ya gitu deh. Itu cuma kesalahan sesaat."
"Kesalahan sesaat?" Lina menaikkan suaranya. Beberapa orang di kafe menoleh. "Raka, perselingkuhan bukan kesalahan sesaat. Itu adalah serangkaian pilihan. Pilihan untuk membalas chat. Pilihan untuk bertemu. Pilihan untuk menyimpan nomor dengan nama 'Raka ❤️'. Itu bukan khilaf. Itu rencana."
" mau mu apa Lina?" tanya Raka lelah.
"Aku mau ruang," kata Lina tegas. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Jangan hubungi aku dulu. Jangan cari aku. Dan jangan berani-berani membawa Dinda ke rumah mu lagi."
"Lina, itu rumah kita juga—"
"Bukan lagi," potong Lina. "Mulai detik ini, itu adalah rumah mu. Aku akan tinggal di hotel dulu. Atau mungkin di rumah Ibu Tuti. dia menawarkan diskon sewa kamar kalau aku mau mendengarkan gosipnya seharian."
Raka terdiam. "Kamu serius mau tinggal sama Ibu Tuti? Wanita yang kemarin laporin aku ke RT karena parkir mobil terlalu miring?"
"Iya," kata Lina. "Setidaknya dia orangnya jujur. dan Kamu tidak."
Lina langsung menutup telepon. lalu menarik napas dalam-dalam. Hatinya masih sakit, tapi ada kepuasan kecil karena berhasil membuat Raka bingung.
Tiba-tiba, seorang pria duduk di meja seberangnya. Pria itu mengenakan kacamata hitam meski berada di dalam ruangan, dan membaca buku tebal berjudul "Cara Menjadi Dingin Seperti Es Batu".
Lina menatapnya aneh. "Permisi, Mas. Ini kursi kosong?"
Pria itu menurunkan kacamatanya sedikit. Matanya tajam, tapi ada kesedihan di sana. "Silakan. Tapi jangan berharap saya akan menghibur Anda. Saya sedang dalam mode 'tidak peduli'."
Lina tersenyum tipis. "Bagus. Karena saya juga sedang dalam mode 'tidak percaya pada manusia'."
Pria itu mengangkat alis. "Oh? Baru dikhianati?"
Lina terkejut. "Anda bisa baca pikiran?"
"Bukan," kata pria itu. "Tapi ekspresi wajah Anda sama persis dengan saya tiga bulan lalu. Istri saya kabur dengan instruktur yoga. Katanya saya kurang fleksibel secara emosional."
Lina tertawa geli. "Instruktur yoga? Serius?"
"Serius," kata pria itu datar. "Sekarang saya belajar meditasi. Supaya nggak meledak setiap kali lihat orang pakai celana ketat."
Lina merasa terhubung dengan orang asing ini. Ada humor gelap yang mereka bagi.
"Nama saya Arka," kata pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan.
"Lina," jawab Lina, menjabat tangannya. "Dan terima kasih, Arka. Ternyata, menjadi dingin seperti es batu nggak seburuk kelihatannya."
Arka tersenyum tipis. "Itu baru permulaan, Lina. Nanti kamu akan sadar, es batu itu awet. Nggak mudah busuk seperti janji-janji pria."
Lina menatap kopinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, dia merasa tidak sendirian. Ada cahaya kecil di ujung terowongan yang gelap itu. Dan cahayanya bernama Arka, pria aneh dengan kacamata hitam di dalam ruangan.
"Mau pesan kue?" tanya Arka tiba-tiba. "Saya traktir. Sebagai tanda solidaritas antar korban pengkhianatan."
Lina mengangguk. "Boleh. Tapi yang pahit. Seperti hidup saya sekarang."
Arka tertawa. Tawanya renyah, berbeda dengan tawa hampa Raka.
"Siap, Nona Pahit. Satu cheesecake lemon, extra asam," panggil Arka ke pelayan.
Lina kini tersenyum. Mungkin, hari ini bukan hari terburuk dalam hidupnya. Mungkin, ini adalah awal dari bab baru yang lebih berwarna. Meskipun warnanya masih agak abu-abu, setidaknya ada sedikit kilauan emas di sana.
JANGAN LUPA DI LIKE YA, KALAU MAU KOMEN JUGA ALHAMDULILLAH, HIHIHI