Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual Dan Keinginan Yang Aneh
Siang harinya, matahari memancarkan cahayanya yang hangat dan cerah. Kirana yang baru selesai makan siang memutuskan untuk naik kembali ke lantai dua menuju kamar utama. Rasa pening dan mual yang sempat ia rasakan tadi pagi sudah jauh berkurang, namun perasaan ganjil dan deburan di dadanya belum juga reda.
Kirana melangkah mendekati jendela kaca berukuran besar di sudut kamar. Jemari lentiknya menarik tali gorden, membiarkan kain sutra tebal itu tersingkap lebar dan menampilkan pemandangan luas halaman belakang mansion yang asri dan hijau.
Taman belakang itu dipenuhi rumput Jepang yang terawat dan berbagai tanaman hias indah. Namun, pandangan mata Kirana mendadak terkunci pada satu sudut khusus—sebuah pohon mangga rindang yang berdiri kokoh di dekat kolam.
Pohon itu rimbun dengan dedaunan hijau pekat, tetapi uniknya, di antara sela-sela rantingnya yang luas, hanya ada satu biji buah mangga yang menggantung manis di sana.
Buah mangga itu berukuran cukup besar, ranum, dan tampak begitu mencolok di tengah keheningan siang.
Kirana terpaku di tempatnya. Matanya tak berkedip menatap buah mangga tunggal tersebut. Entah mengapa, ada perasaan hangat dan aneh yang mendadak berdesir di dalam dadanya saat memperhatikan buah itu—seolah-olah pohon tua itu sedang mengirimkan sebuah sinyal manis kepadanya.
Tanpa sadar, jemari Kirana bergerak mengelus lembut perut ratanya di balik pakaian. Sebuah senyuman manis dan teduh perlahan terukir di bibirnya.
"Hanya satu... begitu berharga dan dijaga," gumam Kirana lirih pada dirinya sendiri.
Firasat seorang ibu mendadak merayapi kalbunya. Kirana makin tidak sabar menunggu esok subuh tiba untuk menguji testpack yang sudah ia simpan, berharap buah hati yang ia dambakan bersama Devan memang benar-benar sedang bertumbuh di dalam rahimnya.
Keinginan yang tiba-tiba itu muncul begitu kuat. Menatap satu-satunya buah mangga ranum yang menggantung di pohon belakang, lidah Kirana mendadak mengecap rasa asam manis yang sangat menyegarkan. Rasa mual yang sempat hilang kini berganti menjadi rasa mengidam yang luar biasa.
Karena Devan sedang berada di kantor dan tidak ada di rumah, Kirana langsung beranjak dari jendela dan melangkah turun menuju area dapur utama.
"Nyonya Muda? Ada yang bisa dibantu?" tanya Bik Sumi, kepala pelayan mansion, begitu melihat Kirana masuk ke dapur.
Kirana menyunggingkan senyum tipis seraya menahan rasa liur yang menumpuk. "Bik, tolong buatkan aku bumbu rujak manis pedas ya. Pakai gula merah, sedikit terasi, dan cabai secukupnya."
Bik Sumi sempat kaget, lalu tersenyum mengerti. "Baik, Nyonya Muda! Segera saya buatkan. Mau dimakan dengan buah apa, Nyonya?"
"Soal buahnya, biar Pak Mamat yang ambil," jawab Kirana.
Kirana lalu melangkah ke pelataran belakang dan memanggil Pak Mamat, sopir pribadi keluarga, yang sedang membersihkan area garasi.
"Pak Mamat," panggil Kirana halus. "Tolong ambilkan buah mangga yang ada di pohon belakang ya. Cuma ada satu biji di dahan yang agak tinggi."
Pak Mamat yang terkejut membelalakkan mata ragu. "Tapi Nyonya... itu buah mangga kesayangan Tuan Devan, sengaja dibiarkan tumbuh dari kemarin-kemarin. Apa tidak apa-apa diambil?"
Kirana tertawa kecil, mengibaskan tangannya pelan. "Tidak apa-apa, Pak. Nanti kalau Devan tanya, bilang saja saya yang minta."
"Baik, Nyonya Muda! Siap!" ujar Pak Mamat bersemangat.
Dengan cekatan, Pak Mamat mengambil galah dan berhasil memetik buah mangga tunggal tersebut. Kirana menerima mangga muda beraroma harum itu dengan binar mata bahagia—merasakan keinginan khas wanita mengidam yang kian menguat di dalam dadanya.