NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Sayap Patah

Rangga tidak sempat sarapan.

Kalimat Pak Hendra yang tadi menyuruhnya makan masih menggantung di kepala, tetapi pesan Kevin membuat semua rasa lapar hilang.

Lab dibobol.

Ada yang mencoba mencuri file Trombosin Plus.

Rangga langsung turun dari ruang direktur. Pak Bambang menyusul dengan langkah besar, wajahnya gelap seperti langit sebelum hujan. Dedi yang baru keluar dari ruang jaga melihat mereka lewat dan spontan ikut.

"Ada apa?" tanya Dedi.

"Laboratorium Kevin dibobol."

Mata Dedi langsung melebar.

"Yang bener aja. Itu orang cari mati atau cari resep?"

"Dua-duanya mungkin," kata Pak Bambang.

Laboratorium sementara PT Nusantara BioFarma Indonesia menempati gedung kecil yang disewa dekat area rumah sakit. Fasilitas sederhana itu cukup untuk produksi terbatas, penyimpanan sampel, dan dokumentasi awal. Di luar pintunya, Kevin berdiri dengan rambut berantakan dan mata merah.

Kalau biasanya Kevin panik dengan mulut cepat, kali ini ia diam.

Diam seperti orang yang hampir kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada uang.

"Masuk," katanya.

Jendela belakang bekas dicongkel. Kunci tambahan patah. Laci meja terbuka. Rak dokumen berantakan. Beberapa map kosong berserakan di lantai. Komputer utama masih menyala, tetapi casing CPU sudah terbuka, seolah seseorang mencoba mengambil penyimpanan fisik sebelum kabur.

Dedi bersiul pelan.

"Ini bukan maling biasa."

Rangga berjongkok, mengambil satu sarung tangan karet bekas yang tertinggal di dekat kaki meja.

"Tidak mencari uang tunai. Tidak mengambil alat. Yang dicari dokumen."

Kevin mengangguk kaku.

"Mereka buka lemari formula, rak batch record, komputer dokumentasi, bahkan freezer sampel. Tapi tidak ada yang hilang."

Pak Bambang menatapnya cepat.

"Formula ada di sini?"

Kevin menatap Rangga.

Rangga menjawab pelan, "Tidak lengkap."

Kevin menarik napas.

"Yang di lab cuma prosedur produksi parsial, catatan batch, hasil uji, dan dokumen registrasi. Formula inti Trombosin Plus dan Serum RegenoStem tidak pernah gue tulis utuh. Bagian paling penting ada di kepala Rangga."

Dedi menoleh ke Rangga.

"Bro, biasanya gue bilang kepala lo mahal cuma buat bercanda. Sekarang kayaknya literal."

Tidak ada yang tertawa.

Rangga berdiri.

"CCTV?"

"Ada. Mereka pikir sudah dimatikan." Kevin menunjuk komputer kecil di sudut. "Tapi backup kamera lorong tersimpan di cloud lokal terpisah."

Mereka masuk ke ruang kontrol kecil.

Petugas keamanan malam, seorang pria paruh baya dengan wajah pucat, sudah menunggu. Ia berkali-kali meminta maaf, mengatakan semalam listrik di pos sempat mati beberapa menit dan ia mengira itu gangguan biasa.

Rangga tidak membentaknya.

"Bapak lihat orangnya?"

"Tidak jelas, Dok. Pakai masker, topi, jaket. Tapi geraknya cepat. Sepertinya tahu posisi kamera."

Kevin memutar rekaman.

Layar menunjukkan seorang pria masuk dari sisi belakang pada pukul 02.17. Ia memakai sarung tangan, masker, dan topi. Gerakannya terlatih meski tubuhnya tidak besar. Ia langsung mencari laci tertentu dan mengabaikan barang lain.

Rangga menyipit.

"Dia tahu ruangan."

"Gue pernah lihat cara jalan itu," kata Kevin tiba-tiba.

Pak Bambang menoleh.

"Siapa?"

Kevin memundurkan rekaman, lalu menghentikan pada frame ketika pria itu menoleh sedikit ke kiri.

"Ingat waktu Pak Robert datang menawarkan hak distribusi nasional? Dia tidak sendiri. Ada satu orang di belakangnya, bawa tablet, tidak banyak bicara. Orang itu punya kebiasaan jalan begini, bahu kiri agak turun."

Dedi mendekat ke layar.

"Pegawai PT Tirta Medika Jaya?"

"Kemungkinan salah satu staf negosiasi mereka." Kevin mengencangkan rahang. "Gue tidak bisa bilang seratus persen dari rekaman ini, tapi mirip sekali."

Nama Pak Robert membuat udara ruangan berubah.

Bab itu belum selesai.

Dulu ia datang dengan senyum mahal dan uang puluhan miliar, meminta monopoli Trombosin Plus. Setelah ditolak, ia pergi dengan kalimat bahwa dunia bisnis tidak bersih.

Rupanya, kalimat itu bukan ancaman kosong.

Pak Bambang memukul meja dengan telapak tangan.

"Dari beli formula, sekarang mencuri formula. Orang-orang ini makin tidak tahu malu."

Rangga menatap layar.

Dalam rekaman itu, pencuri membuka satu map, membalik beberapa halaman, lalu membantingnya seolah kecewa. Ia tidak menemukan jantung yang dicari.

Karena jantung itu memang tidak ada di kertas.

"Mulai hari ini," kata Rangga, "tidak ada satu pun formula inti ditulis utuh."

Kevin mengangguk.

"Setuju. Dokumen produksi kita pecah jadi modul. Tim hanya pegang bagian yang dibutuhkan. Akses batch record pakai otorisasi dua orang. Komputer offline untuk data sensitif. CCTV tambah dua titik."

"Fingerprint lock," kata Pak Bambang.

"Saya pesan hari ini," jawab Kevin.

"Dan penjagaan malam."

Dedi mengangkat tangan.

"Gue bisa bantu bikin daftar jadwal orang yang keluar-masuk. Minimal semua tamu dicatat, difoto KTP, dan tidak ada lagi tamu bisnis masuk area produksi."

Kevin menatap Dedi dengan heran.

"Lo bisa serius juga?"

"Kalau yang dicuri resep obat seharga masa depan, gue bisa."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Kevin tersenyum sedikit.

Namun senyum itu cepat hilang ketika ponsel Pak Bambang berbunyi.

Ia membaca pesan, lalu wajahnya makin gelap.

"Dari Hendra."

Rangga sudah tahu sebelum Pak Bambang bicara.

"Pak Santoso?"

Pak Bambang mengangguk.

"Berkasnya sudah masuk ke jalur resmi. Mereka minta peninjauan ulang semua rencana peningkatan tipe RSUD Harapan Bangsa. Alasannya: kesiapan infrastruktur, risiko komersialisasi obat, dan dugaan prosedur uji klinis yang terlalu cepat."

Dedi melongo.

"Lah, yang obatnya sudah menyelamatkan orang malah dipakai buat menjegal?"

"Itulah politik," kata Pak Bambang dingin. "Kalau tidak bisa mematahkan sayapmu, mereka bilang kamu belum layak terbang."

Kevin menendang pelan kaki meja.

"Jadi hari ini kita diserang dari dua arah."

"Tiga," kata Rangga.

Semua menoleh.

Rangga menatap jendela belakang yang rusak.

"Politik menekan rumah sakit. Bisnis mencoba mencuri formula. Dan publik akan dibuat ragu apakah kita pantas dipercaya."

Pak Bambang memandangnya.

"Kamu takut?"

Rangga menggeleng.

"Tidak."

"Marah?"

"Iya."

Jawaban itu pelan, tetapi membuat ruangan sunyi.

Rangga jarang mengaku marah.

Ia selalu menekan perasaan di bawah prosedur, pasien, dan angka monitor. Hari itu serangan tersebut juga mengancam pasien miskin yang membutuhkan Trombosin Plus, anak-anak seperti Amelia, serta rumah sakit yang baru mulai berdiri tegak.

"Kita lapor polisi," kata Rangga. "Simpan semua rekaman. Jangan unggah dulu. Jangan beri mereka kesempatan membersihkan jejak."

Kevin mengangguk.

"Gue juga akan audit semua akses dokumen dari dua minggu terakhir."

"Pak Bambang, saya perlu salinan berkas Santoso."

"Hendra sedang minta orang dalam memfotokopi jalur pengajuannya. Dia akan kirim malam ini."

Rangga menatap layar CCTV sekali lagi.

Pria bermasker itu keluar dari jendela belakang seperti bayangan yang sayapnya patah.

Ia gagal mencuri inti formula.

Tetapi ia berhasil mengirim pesan.

Mereka datang.

Malam itu, di kos sempitnya, Rangga duduk di lantai karena meja lipatnya terlalu kecil untuk dua berkas sekaligus.

Di depannya ada tangkapan layar CCTV: pria bermasker, bahu kiri turun, tangan bersarung.

Di sebelahnya ada salinan permohonan peninjauan Dinas Kesehatan: tanda tangan jalur birokrasi, alasan infrastruktur, dan catatan yang terlalu rapi untuk tidak disusun oleh orang yang ingin membunuh dari balik stempel.

Rangga membaca keduanya lama.

Lalu ia mengambil ponsel dan menelepon Pak Bambang.

"Pak."

"Saya tahu kamu belum tidur."

"Sudah waktunya."

"Untuk apa?"

Rangga menatap dua berkas itu.

Dulu, seseorang menyebutnya sampah di depan banyak orang.

Sekarang, orang-orang yang lebih besar mencoba menginjak hal yang ia bangun bersama pasien, guru, sahabat, dan rumah sakitnya.

Suaranya tetap tenang.

"Sudah waktunya mereka tahu, yang dulu mereka sebut sampah juga punya gigi."

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!