Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.Badai di Balik Dinding Akademi dan Cambuk Penyesalan sang Ayah
Matahari paruh hari memancarkan terik yang samar, menyinari debu-debu yang beterbangan di koridor luar Kelas Prajurit Pemula. Di sudut teras, Nie Li duduk bersandar pada pilar batu, napasnya masih terasa berat sementara kepalanya berdenyut menyelaraskan tumpukan ingatan dari dua kehidupan yang bersilang alur di dalam benaknya.
Dari penelusuran memori spiritualnya, seutas fakta tak terbantahkan kembali mengukuhkan posisi Xiao Xuan di hatinya. Pria itu, baik di masa lalu maupun garis waktu saat ini, tetaplah sosok agung yang dengan tulus mendedikasikan seluruh pengaruh klan dan energinya demi kemakmuran serta perlindungan Kota Glory. Bahkan, Nie Li menyadari bahwa kepulangannya ke masa remaja kali ini membawa garis nasib yang sedikit lebih lunak; berkat kebijakan dagang dan pengaruh sosial yang disebarkan oleh Keluarga Xiao, Keluarga Suci yang terkenal angkuh tidak lagi menekan Keluarga Tanda Surgawi dengan intensitas sebuas di kehidupan sebelumnya.
*'Aku benar-benar telah bertindak ceroboh dan mengundang petaka...'* Nie Li memijat pangkal hidungnya yang linu, didera penyesalan batin yang mendalam. *'Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan kendali diri dan menatap Kakak Xiao Xuan sedemikian rupa saat beliau sedang menyelaraskan hukum energi yang begitu sensitif? Aku benar-benar ingin tahu, bagaimana kondisi lautan jiwanya saat ini setelah distorsi spiritual yang tak sengaja kuakibatkan?'*
Namun, lamunan taktis sang pengembara waktu pecah berantakan ketika sebuah bayangan tinggi melangkah maju, memotong bias cahaya matahari di depannya.
"Nie Li, sampah tingkat dasar yang tidak tahu diri! Mengapa wajah tebalmu itu masih berani berkeliaran di sini? Cepat angkat kakimu dan lenyaplah dari gerbang Akademi Shenglan!" Shen Yue berdiri tegak dengan tangan bersedekah dada, sepasang matanya memancarkan kilatan permusuhan yang pekat.
Nie Li mendongak, tatapan dewasanya yang tenang menatap pemuda klan suci itu tanpa riak ketakutan. "Shen Yue, atas dasar hukum atau mandat apa kau memiliki otoritas untuk mengusirku dari akademi ini? Kakak Xiao Xuan sendiri bahkan tidak mengeluarkan titah demikian."
"Nie Li, aku tahu lidah sampahmu itu sangat pandai memutarbalikkan logika, tapi hari ini aku tidak memiliki minat untuk melayani debat kusirmu," Shen Yue mendengus dingin, senyum sinisnya melebar, memperlihatkan keangkuhan klan bangsawan yang mutlak. "Peraturan tertulis di dalam piagam Akademi Shenglan tercantum dengan sangat sakral: barang siapa dengan sengaja mengganggu, menyabotase, atau mencelakai rekan sesama kultivator di lingkungan akademis, sanksi absolutnya adalah pengusiran tanpa ampun. Tindakan kurang ajarmu tadi pagi telah terbukti membuat raga spiritual Tuan Muda Xiao Xuan terluka dalam. Jadi, jika kau masih memiliki sedikit harga diri yang tersisa, kemasi barang-barang lusuhmu dan pergilah dengan kaki sendiri. Jika tidak... tangan ini tidak akan ragu untuk menyeretmu keluar laksana anjing liar."
"Saudara-saudara! Target ada di sini, jangan biarkan belatung ini meloloskan diri!"
Sebelum Nie Li sempat menyusun argumen tandingan, sebuah seruan lantang memecah keheningan koridor. Chu Yu, bersama dengan Li Tian dan Huang Ning, memimpin gelombang belasan murid dari faksi luar yang telah tersulut amarah moral. Dalam hitungan detik, tubuh kurus Nie Li telah dikepung rapat oleh lingkaran manusia yang memancarkan aura batin yang menekan.
"Kau yang bernama Nie Li? Makhluk rendahan yang telah mencederai Fondasi Dao Tuan Muda Xiao Xuan?" Chu Yu melangkah maju, jubah kultivasinya berdesir tajam seiring dengan peningkatan hawa panas dari tinjunya.
"Benar, aku Nie Li. Saya tidak tahu apa maksud dari kedatangan Teman Sekelas sekalian—"
"Jika benar kau orangnya, maka tidak ada lagi ruang untuk negosiasi! Saudara-saudara, hancurkan kesombongannya!" teriak Chu Yu tanpa ampun. Bersamaan dengan runtuhnya kalimat itu, sebuah jotosan mentah yang dilapisi energi spiritual dasar melesat, menghantam rahang kiri Nie Li dengan telak hingga terdengar bunyi gemertak kaku.
*Bugh!*
Darah segar menyembur dari sela bibir Nie Li seiring dengan lepasnya dua gigi depannya. Tubuh remajanya yang belum ditempa oleh kultivasi tingkat tinggi limbung ke atas lantai batu. Tanpa memberi ruang bagi sang protagonis untuk memulihkan keseimbangan batin, belasan murid lain langsung merangsek maju, melayangkan hujan tendangan dan pukulan ke arah tubuh yang meringkuk menahan sakit itu. Di dalam benak para murid tersebut, menghajar Nie Li adalah bentuk pembelaan suci terhadap Xiao Xuan, sang pangeran pelindung akademi. Koridor luar bergetar oleh kepulan debu dan teriakan kemarahan massal, sementara tak ada satu pun fungsionaris sekolah yang berniat melerai, hingga sebuah langkah kaki yang beritme konstan terdengar mendekat.
"Apa-apaan kegaduhan ini? Kalian semua... hentikan tindakan barbar ini sekarang juga!"
Sebuah bentakan bariton yang sarat akan wibawa dan getaran energi dingin memotong udara. Xiao Xuan melangkah membelah kerumunan dengan raut wajah yang diselimuti kemarahan yang teramat anggun. Jubah hitamnya berkibar pelan, memancarkan tekanan batin tersembunyi yang memaksa para murid di sekelilingnya secara otomatis mundur dan membuka jalan dengan takzim.
Begitu kerumunan terbelah, barulah pandangan mata Xiao Xuan jatuh pada sosok yang terkapar di atas tanah. Kondisi Nie Li saat ini benar-benar mengenaskan; pakaian katunnya koyak dipenuhi jejak kaki berlumpur, sekujur tubuhnya memar kebiruan, dan wajahnya telah membengkak hebat laksana kepala babi dengan sisa darah yang mengering di dagu. Jika bukan karena struktur pakaian Tanda Surgawi yang melekat di tubuhnya, siapa pun tidak akan mampu mengenali bahwa pemuda malang ini adalah sang penjelajah waktu.
Xiao Xuan mengembuskan napas panjang dengan raut kedewasaan yang penuh empati palsu. Dia membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya yang bersih untuk membantu Nie Li menegakkan tubuhnya yang gemetar.
"Siapa yang memprakarsai tindakan main hakim sendiri ini? Siapa yang memiliki ide brilian untuk mencoreng nama baik akademi dengan kekerasan semacam ini? Majulah dan pertanggungjawabkan perbuatan kalian," kata Xiao Xuan, suaranya mengalun datar namun tajam, menatap lurus ke arah kerumunan.
Li Tian, Huang Ning, dan Chu Yu saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya melangkah maju dengan kepala tertunduk, namun dada mereka tetap membusung bangga karena mengira tindakan mereka mendapat simpati.
"Tuan Muda Xiao Xuan... saya yang memulai pukulan pertama," ujar Chu Yu dengan nada rendah.
"Saya juga ikut serta, Tuan Muda," Li Tian menyusul.
"Kami hanya ingin meluruskan keadilan demi luka yang Anda derita," Huang Ning menimpali.
Xiao Xuan menatap ketiga murid itu dengan keheningan yang mengintimidasi sebelum menggelengkan kepalanya pelan. "Karena kalian telah berani mengakui perbuatan fisik ini, maka ikuti jalanku menuju kantor Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng untuk menerima keputusan resmi akademik."
Rombongan kecil itu pun bergerak meninggalkan koridor. Ketika Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng mendengar kronologi kejadian dari penuturan Xiao Xuan—yang sengaja dikemas dengan narasi 'kenakalan remaja akibat salah paham demi membelanya'—sang wakil kepala sekolah tidak menjatuhkan hukuman pengusiran atau catatan hitam bagi ketiga murid tersebut. Di balik dinding ruangannya, Ye Sheng hanya memberikan teguran lisan yang formalitas, dan secara mengejutkan, justru menghadiahi Chu Yu, Li Tian, dan Huang Ning masing-masing sebutir Pil Penyegar Spiritual langka atas nama 'penghargaan terhadap kesetiaan klan'. Sebuah langkah politik akademik yang teramat halus.
Xiao Xuan berniat kembali ke area perawatan untuk memeriksa perkembangan kondisi sosial di sekitar Nie Li, namun langkah kakinya mendadak terhenti di dekat gerbang paviliun samping oleh sebuah raungan amarah yang menggelegar laksana petir di siang bolong.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Berlututlah kau di hadapanku!"
Suara bariton yang sarat akan luapan emosi kedukaan itu berasal dari Nie Ming, ayah kandung Nie Li, yang baru saja tiba di akademi setelah mendengar kabar buruk mengenai putranya. Wajah pria paruh baya yang penuh guratan kerja keras itu memerah padam oleh rasa malu dan amarah. Tanpa menunggu kalimat penjelasan apa pun dari bibir Nie Li yang membengkak, Nie Ming menyambar sebilah tongkat kayu rotan penegak disiplin dari dekorasi taman di dekatnya, lalu mengayunkannya dengan kecepatan penuh, menghantam bagian belakang tubuh Nie Li.
*Plak! Plak! Plak!*
"Dasar bocah durhaka! Aku memeras keringat dan memohon pada leluhur agar kau bisa menginjakkan kaki di akademi agung ini untuk belajar tata krama, bukan untuk menjadi pembawa petaka bagi keluargamu!" Nie Ming berteriak histeris, air mata kemarahan mengalir di pipinya yang legam sembari lengannya terus mencambuk tanpa henti. "Apakah otak kecilmu itu tidak tahu seberapa besar utang budi klan kita pada kemurahan hati Tuan Muda Xiao Xuan? Tanpa perlindungan dagang dari beliau, Keluarga Tanda Surgawi kita sudah lama lenyap digilas klan besar! Dasar anak sialan, aku akan memukulmu hingga patah hari ini jika itu bisa menebus kesalahanmu!"
*Plak! Tar!*
Cambukan demi cambukan mendarat di tubuh Nie Li. Sang protagonis sama sekali tidak berani mengerahkan energi batinnya atau melakukan perlawanan fisik; kedewasaan jiwanya tahu bahwa kemarahan ayahnya lahir dari rasa takut yang teramat pekat akan kepunahan klan mereka. Dia hanya bisa mengerang pelan, menerima setiap hantaman kayu rotan itu dengan kepala tertunduk di atas tanah.
Hampir setengah jam berlalu hingga napas Nie Ming tersengal-sengal, tenaganya terkuras habis, dan tongkat kayu di tangannya akhirnya jatuh berderak di atas lantai batu. Dengan tubuh yang masih gemetar menahan amarah dan duka, Nie Ming buru-buru berbalik begitu menyadari keberadaan Xiao Xuan yang berdiri tak jauh dari sana.
Pria sepuh itu dengan langkah tertatih mencoba menjatuhkan lututnya di hadapan sang maestro muda, namun dengan gerakan taktis yang penuh kesopanan dewasa, Xiao Xuan melesat maju, menahan kedua pundak Nie Ming sebelum lututnya sempat menyentuh tanah.
"Paman, cepat tegakkan tubuhmu. Paman tidak boleh melakukan gestur merendah seperti ini di hadapanku," kata Xiao Xuan dengan suara yang teramat hangat, senyum humanisnya memancarkan empati yang menenangkan batin pria tua itu. "Aku dan Nie Li adalah rekan satu angkatan di akademi, dan Paman adalah orang tua yang harus dihormati; bagaimana mungkin aku membiarkan seorang ayah berlutut di depanku?"
Air mata Nie Ming tumpah mendengar kalimat yang begitu bijaksana dari sang pemuda agung. "Tuan Muda Xiao Xuan... semua kekacauan ini terjadi karena putra durhaka saya tidak tahu adat dan telah mencelakai raga spiritual Anda yang berharga. Saya, Nie Ming, benar-benar datang membawa dosa besar dan memohon agar Anda tidak menyimpan dendam pada sisa darah klan kami yang bodoh ini."
"Paman, tenangkan pikiranmu," Xiao Xuan menepuk pundak pria tua itu dengan kehangatan yang menenangkan, meski di dalam kepalanya arus perhitungan dinginnya tidak pernah berhenti berputar. "Aku bukanlah pria berhati sempit yang suka menyimpan dendam atas kecerobohan kecil seorang teman sekelas. Masalah ini telah kuanggap selesai."
"Terima kasih... kemurahan hati Tuan Muda Xiao benar-benar seluas samudra. Dengan ini, beban di dadaku bisa sedikit terangkat," Nie Ming mengembuskan napas lega yang teramat dalam, merasa seolah klan mereka baru saja lolos dari tiang gantungan takdir.
"Anak durhaka, kemari kau!" Nie Ming berbalik dengan wajah kembali mengeras, mencengkeram kerah baju Nie Li yang babak belur dan menyeret tubuh putranya tepat ke hadapan Xiao Xuan. "Cepat jatuhkan lututmu! Sembah dan mintalah maaf atas kemurahan hati yang baru saja diberikan oleh Tuan Muda Xiao!"
Melihat kepasrahan sang ayah, Nie Li menatap Xiao Xuan dengan tatapan yang sangat kompleks—campuran antara rasa bersalah yang tulus dan intuisi spiritual yang mendeteksi kabut misteri di balik senyum tenang pria di hadapannya. Dia perlahan menekuk lututnya di atas tanah yang dingin.
"Paman, tidak perlu sampai melakukan hal sejauh ini. Kita lewati saja formalitas yang kaku ini," Xiao Xuan menyela lagi dengan lambaian tangan yang anggun, mencegah penyembahan tersebut seolah dia benar-benar tidak ingin membebani Nie Li lebih jauh.
"Melewati apa? Sama sekali tidak boleh, Tuan Muda!" Nie Ming menegaskan dengan nada keras, menolak kelonggaran tersebut demi memastikan keselamatan putranya. "Tuan Muda Xiao, tolong jangan bersikap terlalu sungkan atau sopan pada anak nakal ini. Mulai hari ini dan seterusnya, anggap saja dia laksana lembu atau kuda pekerja di dalam akademi ini; gunakan tenaganya, perintahkan dia sesuka hati Anda untuk menebus dosanya!"
Nie Ming menunduk, menatap Nie Li dengan mata melotot penuh ancaman mutlak. "Anak durhaka, dengar baik-baik kalimatku! Mulai detik ini, kau harus selalu patuh, tunduk, dan melayani setiap keperluan Tuan Muda Xiao Xuan di dalam akademi ini tanpa bantahan sedikit pun, atau aku sendiri yang akan mematahkan kedua kaki kultivasimu hingga kau tidak bisa melangkah keluar dari rumah lagi!"
Setelah mengeluarkan dekrit keluarga yang mengikat tersebut, Nie Ming menjura takzim sekali lagi kepada Xiao Xuan sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area akademi dengan sisa rasa bersalah yang masih membekas di pundak tuanya.
Suasana di koridor sepi itu mendadak hening, hanya menyisakan deru angin musim gugur dan siluet dua pemuda yang berdiri dalam jarak beberapa langkah. Xiao Xuan menatap Nie Li yang masih berlutut dengan tubuh penuh memar, sementara di dalam lautan jiwa sang penjahat takdir, sebuah suara gaib yang tsundere dan sarkas kembali bergema dengan nada super riang, memecah kesunyian spiritual dengan deretan bonus yang melimpah.
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 🤭 🌾 Hahaha! Tuan Rumah, operasi penjinakan psikologis Anda benar-benar berjalan di luar nalar sehat! Tanpa perlu mengeluarkan satu jurus pun, Anda telah berhasil membuat ayah kandung dari sang pengembara waktu menyerahkan putranya sendiri untuk menjadi 'kuda pekerja' Anda di bawah sumpah kutukan kaki patah! Sungguh sebuah komedi takdir yang teramat estetik! 💯 🎭* ]