NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Masih Tersembunyi

Bab 8

Udara di dalam gudang tua itu masih terasa pengap dan menyesakkan, meski sosok Rian sudah tak terlihat lagi. Hening melingkupi mereka berdua, hanya terdengar suara napas yang masih memburu dan suara langkah kaki pengawal yang perlahan menghilang di kejauhan. Elena masih memeluk pinggang Leonid erat, tak berani melepaskan, tak berani memandang wajah pria itu lebih dulu. Ia tahu, meski Leonid memintanya untuk menghadapi semuanya bersama, rasa sakit akibat pengkhianatan masa lalu itu pasti masih membekas dalam-dalam.

Leonid tak melepaskan pelukan itu, namun tangannya yang besar perlahan bergerak mengusap punggung Elena dengan gerakan yang masih kaku, seolah ia sendiri sedang belajar bagaimana caranya menjadi lembut kembali. Setelah beberapa saat, ia mundur sedikit, menatap wajah Elena lekat-lekat. Matanya tak lagi menyala penuh amarah seperti tadi, namun ada keraguan yang masih terselip di sana—ragu antara percaya pada perubahan yang nyata, atau takut jatuh kembali pada kebohongan yang sama.

"Ceritakan semuanya," ucapnya pelan, namun tegas. "Apa yang sebenarnya terjadi? Dan jangan ada satu pun yang kau tutupi."

Elena menelan ludah susah payah. Ia tahu ini saatnya berbicara, meski ia tak bisa mengungkapkan kebenaran mutlak tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menyusun kata yang paling jujur yang bisa ia ucapkan saat ini.

"Dulu... aku memang buta," suaranya bergetar. "Aku merasa tidak dihargai, merasa kau terlalu sibuk dengan urusanmu, merasa kau tak pernah benar-benar melihatku. Lalu Rian datang, memberikan perhatian yang kupikir itu cinta. Aku bodoh, Leonid. Aku terlalu mendengarkan bujuk rayunya, merencanakan hal-hal buruk yang tak pantas dilakukan seorang istri dan seorang ibu. Tapi sejak hari itu... sejak aku hampir kehilangan nyawaku, semuanya terasa berbeda. Aku sadar betapa berharganya apa yang sudah kau berikan padaku. Aku sadar betapa jahatnya aku pada Alvaro. Dan aku sadar bahwa aku tidak ingin lagi menjadi wanita yang dulu itu."

Leonid mendengarkan tanpa memotong sepatah kata pun. Wajahnya datar, namun matanya menunjukkan pergolakan yang dalam. "Kau berubah begitu cepat. Terlalu cepat untuk sekadar penyesalan biasa."

"Aku tahu sulit dipercaya," jawab Elena dengan mata berkaca-kaca namun menatap mantap. "Aku tak bisa menjelaskan alasannya. Yang aku tahu, sekarang yang ada di hatiku hanyalah keinginan untuk memperbaiki semuanya. Menjadi ibu yang baik untuk Alvaro, dan menjadi istri yang pantas untukmu. Tolong beri aku waktu untuk membuktikannya."

Leonid terdiam lama sekali. Angin sore berhembus masuk lewat celah dinding gudang, membawa debu yang menari pelan di udara. Akhirnya, pria itu mengangguk perlahan.

"Aku tak akan berjanji bisa langsung melupakan semuanya," ucapnya jujur. "Luka itu tak akan sembuh seketika. Tapi aku akan mencoba mempercayaimu lagi. Dan mulai sekarang, kau tak perlu menghadapi apa pun sendirian. Segala sesuatu yang mengancam keluargaku, adalah urusanku."

Ia meraih tangan Elena, menggenggamnya erat. Genggaman itu tak lagi penuh ancaman, melainkan penuh janji perlindungan. "Mari kembali. Alvaro pasti sudah bangun dan mencarimu."

Saat mereka berjalan pulang berdampingan, tangan yang saling bertaut terasa begitu berat namun juga begitu hangat. Banyak hal yang belum terungkap, banyak rahasia yang masih tersembunyi di balik identitas Elena yang asli, namun setidaknya jalan untuk memperbaiki semuanya kini terbuka sedikit lebih lebar.

Sesampainya di kamar, Alvaro sudah terjaga, duduk di tepi tempat tidur dengan wajah cemas. Saat melihat mereka masuk dengan wajah yang tidak lagi penuh kemarahan, anak itu langsung berlari kecil menghampiri.

"Mama! Ayah!" serunya riang.

Elena segera menggendongnya, mengecup wajah kecil itu berkali-kali. "Kami di sini, sayang. Kami tidak ke mana-mana."

Malam itu, suasana di rumah besar itu terasa lebih hidup dari biasanya. Saat makan malam, percakapan kecil mulai mengalir—tentang bunga yang tumbuh di taman, tentang mainan yang ingin dimainkan Alvaro, bahkan Leonid sesekali ikut bercerita tentang masa kecilnya yang tak kalah sepi. Elena memperhatikan semuanya dengan hati yang penuh syukur, namun di sudut pikirannya, ia tahu ini belum berakhir. Rian mungkin sudah ditangkap, tapi belum tentu dialah satu-satunya musuh yang mereka miliki. Dan rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya, masih menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Malam semakin larut, saat Alvaro sudah terlelap di antara mereka, Leonid berbicara pelan. "Besok akan ada orang yang datang membersihkan segala urusan yang berkaitan dengan Rian. Dan mulai besok, pengawalan di rumah ini akan diperketat."

Elena menoleh ke arahnya. "Kau yakin dia tak akan bisa kembali?"

Leonid menatapnya tajam namun tenang. "Siapa pun yang berani menyentuh keluargaku, akan kuhapus dari muka bumi ini. Kau tak perlu takut lagi."

Elena menundukkan wajah, menyembunyikan rasa bersalah yang masih ada. "Terima kasih, Leonid."

Pria itu mengusap rambutnya pelan, sebuah sentuhan yang begitu lembut dan jarang ia lakukan. "Istirahatlah. Besok adalah hari yang baru."

Namun di dalam hati Elena, ia tahu hari esok tak akan semudah itu. Ia harus terus berpura-pura, harus terus menjaga setiap perkataan dan perbuatannya, agar tak ada yang menyadari bahwa jiwa yang mendiami tubuh Elena ini bukanlah orang yang mereka kenal. Ia harus berjuang bukan hanya melawan musuh dari luar, tapi juga melawan ketakutan akan kebohongan besar yang ia sembunyikan dari orang yang mulai ia cintai ini.

 

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!