NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tiiiiiit.

​Suara nyaring dari alat monitor jantung itu seakan menjadi penanda kematian yang menggema di dalam kamar mewah tersebut.

​Garis hijau di layar monitor yang tadinya bergelombang kini berubah menjadi lurus tanpa ada jeda.

​Profesor Wijaya dan tiga orang perawat di ruangan itu langsung panik tak karuan melihat kejadian tersebut.

​"Cepat siapkan alat kejut jantung sekarang juga sebelum kita kehilangan dia!" teriak Profesor Wijaya dengan keringat dingin mengucur deras di dahinya.

​Namun sebelum seorang perawat menyentuh alat kejut itu, sebuah tangan kasar namun kokoh sudah menahannya.

​Itu adalah tangan Bima yang langsung menggeser tubuh perawat itu dengan gerakan yang sangat lembut tapi bertenaga.

​"Jangan gunakan listrik pada tubuh yang meridiannya sedang membeku total."

​"Kalian hanya akan menghancurkan organ dalamnya hingga menjadi serpihan es jika melakukan itu."

​Bima berbicara dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk.

​Profesor Wijaya membelalakkan matanya merasa sangat terhina karena seorang kuli bangunan berani mengajarinya ilmu medis.

​"Berani sekali kau menyentuh asistenku dan melarang prosedur medis standar kami."

​"Satpam, cepat seret gembel ini keluar dari ruangan sekarang juga!"

​Dua orang pria berbadan besar berseragam hitam langsung melangkah maju dari arah pintu masuk kamar.

​Mereka bersiap untuk menangkap kedua lengan Bima dan menyeretnya keluar.

​"Berhenti di tempat kalian sekarang juga atau kalian semua aku pecat!"

​Suara bentakan Pak Herman tiba-tiba meledak dengan sangat keras menghentikan pergerakan kedua satpam tersebut.

​Wajah miliarder itu memerah menahan amarah yang luar biasa besar karena putrinya sedang meregang nyawa.

​"Profesor Wijaya, Anda dan tim Anda sudah gagal menyelamatkan nyawa putri saya."

​"Sekarang biarkan pemuda ini melakukan tugasnya atau Anda akan berurusan dengan pengacara saya."

​Profesor Wijaya terdiam kaku menelan ludahnya sendiri mendengar ancaman serius dari orang terkaya di kota itu.

​Dia mundur beberapa langkah namun matanya tetap menatap sinis ke arah Bima.

​"Baiklah Pak Herman, jika itu kemauan Anda."

​"Tapi jika terjadi apa-apa pada Nona Clara, saya dan tim medis saya tidak akan bertanggung jawab sama sekali."

​Bima sama sekali tidak mempedulikan ocehan dokter tua yang sombong tersebut.

​Dia langsung fokus menatap wajah Clara yang kini sudah membiru seperti mayat yang membeku.

​Bima membuka buntalan kain lusuhnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu usang berukir naga.

​Klak.

​Kotak kayu itu terbuka dan memperlihatkan puluhan jarum perak dengan berbagai macam ukuran yang tersusun sangat rapi.

​Bima mengambil tiga buah jarum perak terpanjang menggunakan tangan kanannya.

​Sring.

​Jarum-jarum itu memantulkan cahaya lampu kamar seolah memiliki nyawanya sendiri.

​"Racun Es Seribu Tahun ini sudah menyebar sampai ke jantung dan hampir membekukan aliran darah utamanya."

​"Aku harus membuka tiga titik gerbang kehidupan terlebih dahulu untuk memancing racunnya keluar."

​Bima membatin sambil memejamkan matanya sejenak untuk memusatkan tenaga dalam di telapak tangannya.

​Ketika dia membuka matanya kembali, pandangannya berubah menjadi sangat tajam dan fokus.

​Wush.

​Tangan Bima bergerak dengan kecepatan yang sangat luar biasa hingga tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.

​Jleb! Jleb! Jleb!

​Tiga jarum perak itu langsung tertancap sempurna di tiga titik mematikan di tubuh Clara.

​Satu jarum di tengah dada, satu di pangkal leher, dan satu lagi tepat di ubun-ubun kepalanya.

​Profesor Wijaya hampir saja berteriak melihat jarum panjang itu ditusukkan ke area vital tanpa ragu sedikit pun.

​"Dia benar-benar sudah gila menancapkan benda berkarat itu ke kepala Nona Clara!" bisik Profesor Wijaya pada asistennya.

​Namun pemandangan selanjutnya membuat semua dokter dan perawat di ruangan itu terbungkam tanpa kata.

​Bima mulai memutar ujung jarum perak di dada Clara secara perlahan menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

​Setiap kali Bima memutar jarum itu, terlihat ada uap putih tipis yang keluar dari pori-pori kulit Clara.

​Suhu di dalam ruangan ber AC itu mendadak terasa semakin dingin menusuk tulang.

​"Hawa dingin apa ini?"

​"Kenapa rasanya seperti kita sedang berada di dalam lemari pendingin?"

​Pak Herman bergumam pelan sambil menggosok kedua lengannya yang mulai merinding.

​Bima tidak menjawab dan terus menyalurkan energi panas dari tenaga dalamnya melalui jarum perak tersebut.

​Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahi Bima membasahi wajahnya yang lelah.

​Mengobati Racun Es Seribu Tahun bukanlah hal yang mudah bahkan untuk seorang tabib sakti sekalipun.

​Apalagi Bima sudah menghabiskan banyak energinya seharian penuh untuk bekerja sebagai kuli bangunan.

​"Ayo keluarlah kau racun sialan."

​"Jangan bersembunyi di balik pembuluh darah gadis ini."

​Bima menggeram pelan sambil menekan jarum perak di ubun-ubun Clara semakin dalam.

​Tiba-tiba kelopak mata Clara yang tertutup rapat mulai bergetar pelan.

​Jari-jari tangannya yang pucat pasi juga mulai menunjukkan sedikit pergerakan.

​Tiiit... tiiit... tiiit...

​Suara mesin monitor jantung yang tadinya mendatar kini kembali memunculkan ritme detak jantung yang normal.

​Garis hijau di layar itu kembali bergelombang membuat Pak Herman menangis haru seketika.

​"Ya Tuhan, anakku kembali bernafas."

​Pak Herman hampir saja berlari memeluk putrinya jika saja Bima tidak mengangkat tangannya memberi isyarat untuk berhenti.

​"Jangan mendekat dulu, Pak Herman."

​"Proses pengeluarannya baru saja akan dimulai sekarang."

​Tepat setelah Bima mengucapkan kalimat itu, dada Clara langsung naik turun dengan sangat cepat.

​Uhuk! Uhuk!

​Clara terbatuk keras dengan mata yang masih terpejam erat menahan rasa sakit.

​Gadis cantik itu tiba-tiba memiringkan kepalanya ke arah samping ranjang.

​Hoek!

​Sebuah gumpalan darah kental berwarna hitam pekat keluar dari mulut Clara dan mengotori lantai marmer yang putih.

​Darah hitam itu mengeluarkan asap dingin dan langsung membeku begitu menyentuh lantai kamar.

​Bau busuk yang sangat menyengat langsung menyebar memenuhi seluruh penjuru ruangan.

​Beberapa perawat terpaksa menutup hidung mereka karena tidak tahan dengan bau amis tersebut.

​"Racun utama yang menyumbat jantungnya sudah berhasil aku keluarkan."

​"Sekarang nyawanya sudah lepas dari masa kritis dan dia bisa beristirahat dengan tenang."

​Bima mencabut ketiga jarum peraknya dengan gerakan yang sangat cepat lalu menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu.

​Wajah Clara yang tadinya membiru pucat kini mulai memunculkan sedikit rona merah di kedua pipinya.

​Nafas gadis itu juga terdengar jauh lebih teratur dan tenang dibandingkan sebelumnya.

​Profesor Wijaya berjalan mendekati layar monitor jantung dengan langkah kaki yang gemetar.

​Dia menatap angka-angka dan grafik di layar itu dengan pandangan tidak percaya sama sekali.

​"Ini mustahil, bagaimana mungkin pengobatan kuno seperti ini bisa menghidupkan kembali sel yang sudah mati?"

​"Ilmu kedokteran mana yang mengajarkan hal konyol seperti ini?"

​Profesor Wijaya terus bergumam sendiri seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.

​Bima hanya tersenyum tipis melihat reaksi berlebihan dari dokter spesialis tersebut.

​"Di atas langit masih ada langit, Profesor."

​"Jangan pernah meremehkan ilmu peninggalan leluhur yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu."

​Bima mengambil kain lap kotor dari sakunya lalu mengusap keringat di wajahnya sendiri.

​Pak Herman langsung menghampiri Bima dan menggenggam kedua tangan pemuda itu dengan sangat erat.

​"Terima kasih banyak, Nak Bima."

​"Kamu benar-benar malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untuk keluarga kami hari ini."

​Air mata kebahagiaan terus mengalir membasahi pipi pria paruh baya yang terkenal tegas tersebut.

​Bima mengangguk pelan namun tubuhnya tiba-tiba goyah ke belakang.

​Bruk.

​Bima terduduk di tepi ranjang karena kedua kakinya mendadak terasa lemas tak bertenaga.

​"Nak Bima, kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Herman dengan nada panik.

​"Saya tidak apa-apa, Pak Herman, hanya kehabisan tenaga saja."

​"Menyalurkan energi untuk menekan racun ganas itu memakan terlalu banyak stamina saya."

​Bima mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah.

​Dia menyadari bahwa kemampuannya masih jauh dari kata sempurna jika dibandingkan dengan mendiang gurunya.

​Jika gurunya yang turun tangan, menyembuhkan racun ini mungkin hanya butuh waktu kurang dari satu menit tanpa perlu berkeringat.

​"Pelayan, cepat siapkan kamar tamu yang paling mewah di lantai ini untuk Nak Bima beristirahat."

​"Dan siapkan juga hidangan makan malam yang paling bergizi untuk memulihkan tenaganya."

​Pak Herman langsung memberikan perintah tegas kepada kepala pelayannya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.

​"Baik, Tuan Besar, akan segera saya laksanakan."

​Kepala pelayan itu membungkuk hormat lalu bergegas pergi menyiapkan segala keperluan tamu istimewa majikannya.

​Bima mencoba berdiri namun dia kembali terhuyung karena kepalanya terasa sangat pusing.

​Dua orang satpam yang tadinya hendak mengusir Bima kini dengan sigap memapah tubuh pemuda itu.

​Sikap mereka berubah drastis menjadi sangat hormat setelah melihat keajaiban yang ditunjukkan oleh Bima.

​"Mari kami bantu berjalan menuju kamar Anda, Tuan Muda."

​Satpam berbadan besar itu memanggil Bima dengan sebutan Tuan Muda, bukan lagi gembel atau anak kampung.

​Bima hanya pasrah saat kedua satpam itu menuntunnya keluar dari kamar Clara.

​Saat Bima berjalan melewati Profesor Wijaya, pemuda itu menyempatkan diri untuk berhenti sejenak.

​"Profesor, tolong bersihkan darah hitam di lantai itu menggunakan kain yang sudah direndam air mendidih."

​"Jangan sampai ada yang menyentuh darah itu dengan tangan kosong atau orang itu akan ikut keracunan."

​Setelah memberikan peringatan itu, Bima kembali melanjutkan langkahnya menyusuri lorong rumah mewah tersebut.

​Profesor Wijaya hanya bisa terdiam membisu menatap lantai yang kotor oleh darah beku itu.

​Harga dirinya sebagai dokter paling senior di kota ini benar-benar hancur lebur malam ini di tangan seorang kuli bangunan.

​"Siapa sebenarnya pemuda desa ini?"

​"Dari mana dia mempelajari metode akupuntur tingkat tinggi yang hanya ada di buku-buku kuno legendaris?"

​Profesor Wijaya terus bertanya-tanya di dalam kepalanya yang dipenuhi rasa penasaran tingkat tinggi.

​Sementara itu di dalam kamar tamu yang sangat mewah, Bima langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar yang empuk.

​Dia menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh lampu kristal gantung yang sangat indah.

​"Kamar ini rasanya lebih besar dari ukuran seluruh balai desa di kampung halamanku."

​"Sepertinya takdir mulai membawaku ke jalan yang jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan."

​Bima memejamkan matanya mencoba memulihkan energi tenaga dalamnya yang terkuras habis.

​Pikirannya kembali melayang pada sosok gadis cantik yang baru saja dia selamatkan nyawanya.

​"Siapa orang jahat yang tega menanamkan Racun Es Seribu Tahun ke dalam tubuh gadis muda sepertinya?"

​"Racun itu butuh waktu bertahun-tahun untuk bereaksi, yang artinya musuh keluarga ini sudah merencanakannya sejak lama."

​Bima menghela nafas panjang menyadari bahwa dirinya kini telah terseret ke dalam pusaran konflik keluarga kaya raya.

​Dia tahu bahwa tugasnya di rumah ini belum selesai karena racun di tubuh Clara baru keluar sebagian kecilnya saja.

​Untuk menyembuhkan Clara secara total, Bima harus melakukan terapi rutin selama beberapa bulan ke depan.

​Hal itu berarti Bima harus tinggal lebih lama di rumah mewah ini dan menghadapi segala intrik yang ada di dalamnya.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!