Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Gara-Gara Kata Kerbau
Matahari pagi menembus celah gorden kamar Sael, memaksanya untuk membuka mata. Sael melenguh pelan, meraba sisi ranjangnya yang kosong sebelum akhirnya terduduk dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Alisnya bertaut heran saat menyadari dirinya sudah berbaring di atas kasur dengan selimut membungkus tubuhnya, padahal ingatan terakhirnya tadi malam adalah memeriksa kontrak kafe Aeros di meja.
Sael menoleh ke arah meja. Kacamata bacanya sudah terlipat rapi di samping laptop, dan map tebal milik Aeros sudah tidak ada di sana.
"Aku ketiduran?" gumam Sael pada diri sendiri. Ia mengikat rambutnya asal-asalan, lalu melangkah turun ke lantai satu dengan langkah malas khas orang baru bangun tidur.
Begitu sampai di area dapur, langkah Sael terhenti. Pemandangan di depannya membuat dahi gadis itu berkerut tipis.
Di sana, Aeros sedang berdiri di depan kompor dengan kaus hitam santai, tampak begitu telaten membalik telur mata sapi di atas teflon. Sementara Kael duduk di meja makan sambil menyemangati Aeros dengan heboh seolah-olah pria itu sedang bertanding di 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳𝘤𝘩𝘦𝘧.
"Wih, mantap Kak Aeros! Telurnya setengah matang ya, jangan sampai pecah kuningnya!" seru Kael antusias.
"Berisik, Kael. Ambil piring sana," sahut Aeros dengan nada dinginnya yang biasa, tangannya bergerak cekatan memindahkan telur ke atas piring.
Ibu Sael yang sedang memotong buah hanya terkekeh melihat interaksi keduanya. Keberadaan Aeros di rumah ini memang sudah dianggap seperti anak sendiri. Sejak orang tua Aeros sering dinas ke luar negeri, Aeros lebih sering menghabiskan waktu sarapan atau sekadar menumpang kopi di sini.
"Eh, adek pesolek udah bangun," ledek Kael begitu menyadari kehadiran kembarannya. "Semalam kamu pingsan ya? Kak Aeros sampai harus beres-beres berkasnya sendirian gara-gara kamu ketiduran."
Sael mengabaikan ejekan Kael. Ia berjalan mendekati dispenser, mengambil segelas air putih, lalu mendongak menatap Aeros yang kini juga sedang menatapnya.
"Semalam... Kak Aeros yang mindahin aku ke kasur?" tanya Sael langsung.
Aeros membersihkan tangannya dengan tisu dapur sebelum menjawab, "Hm... Kamu tidur kayak kerbau, dipanggil nggak bangun," jawab Aeros bohong, "Berkas ku jadi kena noda gara-gara kamu jadikan bantal."
Sael terkejut dengan jawaban Aeros, ia memutar matanya malas, "Ya maaf. Lagian salah sendiri minta dicek malam-malam."
"Sudah-sudah, ayo sarapan dulu. Aeros, ayo sekalian," lerai Mama Sael sambil menaruh mangkuk buah di meja.
Aeros terus berpura-pura cuek sepanjang sarapan padahal dalam hatinya merutuki ucapan dirinya sendiri,
Sael di seberang terlihat cemberut nafsu makannya mendadak hilang. Ia bangkit dari tempat duduknya, "Aku duluan," ia bergegas ke kamarnya suara kakinya dengan sengaja ia hentakan khas Sael yang sedang marah.
Aeros melihatnya dengan tatapan merasa bersalah.
Begitu suara debuman pintu kamar Sael di lantai dua terdengar menutup dengan keras, suasana di meja makan mendadak hening selama beberapa detik. Ibu Sael hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah anak bungsunya.
"Aeros, jangan dimasukkan ke hati ya. Sael kalau kurang tidur memang gampang sensi begitu," ujar Mama Sael lembut, mencoba mencairkan suasana sebelum ia melangkah ke belakang untuk menaruh piring kotor. Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian beranjak bersiap berangkat kerja.
Kini, hanya tersisa Aeros dan Kael di meja makan.
Aeros masih terpaku, menatap lurus ke arah anak tangga. Tangannya yang memegang sendok menggantung di udara. 𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩, rutuk Aeros dalam hati. 𝘐𝘯𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘪𝘩, 𝘙𝘰𝘴? 𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘣𝘢𝘶, batinnya kesal.
"Ekhem!"
Sebuah dehaman keras yang sengaja dibuat-buat memecah lamunan Aeros. Ia menoleh dan mendapati Kael sedang menatapnya dengan senyum penuh arti. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, memandangi Aeros dengan mata yang menyipit jenaka.
"Gengsi banget ya, Kak? Padahal semalam pas gendong si Sael ke kasur, kamu hati-hati banget kayak lagi bawa piala kaca," goda Kael sukses membuat tubuh Aeros menegang seketika.
𝘋𝘪𝘢 𝘭𝘪𝘢𝘵? batin Aeros panik.
Aeros buru-buru mengontrol ekspresi wajahnya, meski detak jantungnya mendadak berpacu tidak karuan. "Nggak usah mulai, Kael. Itu karena berkasnya ada dibawah kepala dia."
"Halah, alasan!" Kael tertawa cekikikan.
"Aku sengaja ya semalam pura-pura tidur pas kamu turun bawa map tebal itu. Mukamu tuh panik banget, takut Sael bangun kan? Terus pagi ini, kamu bela-belain bangun subuh buat masakin telur setengah matang, tapi pas orangnya nanya, malah kamu katain kerbau. Selamat ya, Kak, kamu sukses bikin gebetanmu mogok makan."
Mendengar kata 'gebetan' disebut dengan begitu gamblang oleh kembaran Sael sendiri, Aeros hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia meletakkan sendoknya dengan denting yang agak keras di atas piring.
"Kael, jangan ngomong sembarangan," desis Aeros tajam.
Sebagai kembaran Sael yang sudah mengenal Aeros sejak ia masih kecil, Kael tahu persis apa yang tersembunyi di balik sikap kaku pria di sebelahnya ini.
Kael malah semakin melebarkan cengirannya, menepuk-nepuk bahu Aeros dengan dramatis. "Kak, dengerin saran dari kembarannya Sael yang jenius ini ya. Si Sael itu emang cuek bebek dan lempeng kayak papan triplek. Tapi kalau kamu terus-terusan pasang gengsi setinggi langit dan hobi ngajak ribut kayak tadi, yang ada dia bakal makin menjauh. Keburu ditikung sama cowok pengacara yang kemarin sore itu, baru tahu rasa kamu kak!"
Aeros terdiam, tidak bisa membantah sepatah kata pun. Ia menatap piring sarapan Sael yang bahkan belum berkurang setengah.
"Pikirin deh, Kak. Mending sekarang kamu ganti mode jadi Kak Aeros yang manis, gih. Samperin ke atas, gedor pintunya, terus minta maaf. Jangan sampai penilaian kamu turun drastis di mata adikku," bisik Kael lagi, memberikan kedipan mata menggoda sebelum ia bangkit berdiri sambil membawa piring kotornya ke wastafel, meninggalkan Aeros yang kini tenggelam dalam frustrasi dan kebingungannya sendiri.