NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Perisai Bernyawa

Prang!

​Suara pecahan kaca terdengar nyaring di bagian atas langit-langit butik, disusul oleh dentuman keras saat tirai baja otomatis menutup rapat seluruh jendela dan pintu masuk. Ruangan butik seketika menjadi gelap gulita, hanya menyisakan pendar lampu darurat berwarna kuning redup di sudut-sudut dinding. Para staf butik menjerit histeris dan langsung tiarap di lantai, memeluk kepala mereka ketakutan.

​Namun, Aletta tidak sempat merasakan dinginnya lantai.

​Dalam sepersekian detik sebelum peluru kedua bisa menembus kaca, tubuh mungilnya sudah didekap dengan sangat erat oleh Xavier. Pria itu membalikkan posisi mereka dengan kecepatan luar biasa, menjadikan punggung tegapnya sendiri sebagai perisai hidup bagi Aletta, lalu menyudutkan gadis itu di balik pilar beton yang kokoh.

​Aroma parfum musk yang maskulin bercampur dengan ketegangan pekat langsung menguasai indra penciuman Aletta. Di dalam kegelapan itu, wajah Aletta terbenam di dada bidang Xavier. Ia bisa mendengar dengan sangat jelas bagaimana detak jantung suaminya berdegup kencang, konstan, dan dipenuhi oleh amarah yang mendidih.

​"Kau terluka?" suara Xavier berbisik di atas kepalanya. Nada suaranya serak, sarat akan kecemasan yang ditahan sekuat tenaga.

​Tangan besar Xavier bergerak cepat, meraba lengan, bahu, hingga punggung Aletta dalam kegelapan, memastikan tidak ada setetes darah pun yang mengalir dari tubuh istrinya.

​Aletta menggeleng pelan di dalam dekapan Xavier, suaranya tercekat di tenggorokan. "T-tidak... Aku tidak apa-apa. Apa yang terjadi? Siapa mereka?"

​Xavier tidak menjawab pertanyaan itu. Mata kelabunya berkilat bagai badai petir di tengah kegelapan ruangan. Pria itu menekan tombol interkom di telinganya, mendengarkan laporan dari Diego yang berada di luar dengan napas memburu.

​"Kalian punya waktu tiga menit untuk membersihkan tikus-tikus kartel itu, Diego," desis Xavier ke arah interkom. Suaranya begitu rendah, dingin, dan mematikan. "Jika istriku sampai lecet seujung kuku pun karena keterlambatan kalian, kepala kalian semua yang akan menjadi taruhannya."

​"Jalur belakang aman, Bos! Mobil evakuasi sudah siap di gang!" suara Diego terdengar dari interkom di tengah suara desingan peluru yang mulai bersahutan di jalanan luar.

​Tanpa melonggarkan dekapannya sedikit pun, Xavier setengah mengangkat tubuh Aletta, melindunginya dari segala kemungkinan sudut tembak, dan membimbingnya dengan cepat menerobos lorong evakuasi bawah tanah yang terhubung ke bagian belakang gedung.

​Mereka keluar di sebuah gang sempit di mana mobil Maybach hitam antipeluru sudah menyala dengan pintu terbuka. Begitu mereka masuk, mobil langsung melesat membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, melakukan manuver agresif di bawah kawalan ketat empat mobil SUV hitam milik para pengawal.

​Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana justru terasa semakin mencekam.

​Xavier mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor cepat. Wajahnya mengeras sedingin baja, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas.

​"Lukas," ucap Xavier begitu telepon tersambung. "Kartel El Cuervo baru saja mencoba menyentuh istriku di pusat kota. Aku tidak mau melihat nama kartel mereka lagi di peta dunia bawah tanah besok pagi. Ratakan seluruh markas mereka di pelabuhan. Sembelih kepalanya."

​Xavier langsung mematikan ponselnya secara sepihak dan melemparnya ke kursi.

​Aletta mematung di sudut kursi mobil, menatap pria di sebelahnya dengan tatapan ngeri yang amat sangat. Xavier baru saja memerintahkan pembantaian massal sebuah kartel dengan nada suara sewajar orang yang sedang memesan secangkir kopi hitam. Di jari manisnya, cincin berlian biru murni itu berkilau tertimpa cahaya lampu jalan yang masuk dari kaca mobil, seolah sedang menertawakan kenaifan Aletta tentang dunia barunya.

​Xavier menoleh, menyadari tatapan ngeri dari istri kecilnya. Kemarahannya yang meluap-luap mendadak mereda saat melihat bibir Aletta yang pucat dan tubuh mungil itu yang masih sedikit bergetar karena syok.

​Pria itu menghela napas panjang. Ia menggeser duduknya, memangkas jarak di antara mereka hingga tak ada celah. Tangan besarnya yang hangat meraih kedua tangan Aletta yang sedingin es, menggenggamnya dengan erat di atas pangkuannya.

​"Kau takut padaku?" tanya Xavier lembut, namun mata kelabunya menatap lurus ke dalam manik mata Aletta, menuntut jawaban jujur.

​Aletta menarik napas gemetar, mencoba melepaskan tangannya namun genggaman Xavier terlalu kokoh. "Kau memerintahkan pembunuhan dengan begitu mudah, Xavier... Bagaimana bisa aku tidak takut? Dunia tempatmu hidup... ini kegilaan."

​Xavier tidak membantah. Ia justru menarik tangan kiri Aletta—yang melingkar cincin biru itu—lalu menempelkannya tepat di atas dada kirinya, tempat di mana jantungnya berdetak kuat.

​"Ini duniaku, Aletta. Kejam, kotor, dan tak kenal ampun," bisik Xavier dengan tatapan intens yang mengunci seluruh kesadaran Aletta. "Jika aku tidak menjadi pria yang paling kejam di kota ini, maka hari ini yang hancur bukan kaca butik itu, melainkan kepalamu yang tertembus peluru musuhku."

​Xavier menundukkan wajahnya, ujung bibirnya nyaris menyentuh kening Aletta.

​"Aku bisa menjadi iblis yang paling kejam bagi dunia luar, Aletta. Tapi ingat ini..." janji Xavier, suaranya bergetar oleh obsesi dan proteksi yang mendalam. "...seluruh kekejamanku akan kupergunakan untuk memastikan tidak ada satu pun peluru di dunia ini yang bisa menyentuhmu. Kau aman bersamaku."

​Mendengar kalimat itu, pertahanan di hati Aletta kembali retak untuk kesekian kalinya. Pria di hadapannya adalah seorang monster pembunuh, ia tahu itu. Namun, monster inilah yang baru saja menjadikan badannya sendiri sebagai tameng bernyawa demi melindunginya.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!