NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap (Revisi)

"Mmmph! Mmmph!"

Nayara meronta sekuat tenaga. Kedua tangannya mencengkeram lengan kekar yang mengunci lehernya, berusaha menariknya menjauh. Namun, lengan itu seperti balok besi—dingin, kokoh, dan tak bergeming sedikit pun. Kakinya menendang-nendang udara, mencoba mencari tumpuan di atas tanah yang licin akibat air hujan.

"Tuhan, tolong! Siapa pun, tolong aku!" Jeritan itu hanya bergema di dalam dadanya, tertahan oleh telapak tangan berbalut kulit yang menekan mulut dan hidungnya hingga pasokan udara menipis. Air matanya luruh, bercampur dengan sisa-sisa air hujan di pipi.

"Syuuutt..."

Sebuah bisikan rendah mendarat tepat di samping telinganya. Suaranya begitu tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi di mana dia baru saja memburu manusia. Embusan napasnya yang hangat terasa kontras dengan kulit leher Nayara yang sedingin es.

"Semakin kamu bergerak, semakin sakit. Tenanglah... Aku berjanji akan memberikan kematian yang cepat. Tidak akan terasa sakit," lanjutnya tanpa nada ancaman, seolah dia sedang menenangkan seorang anak kecil yang sedang menangis.

Kata-kata itu justru membuat seluruh tubuh Nayara bergetar lebih hebat. 'Kematian yang cepat?' Pria ini benar-benar gila!

Dengan satu sentakan kasar namun terkendali, pria itu membalikkan tubuh Nayara. Ia mendorong punggung gadis itu hingga membentur dinding bata yang dingin di balik celah sempit tersebut. Kedua tangannya mengunci pergerakan Nayara, dan untuk pertama kalinya dalam jarak sedekat ini, Nayara bisa melihat wajah pria itu dengan jelas di bawah bias cahaya petir yang menyambar.

Rahang pria itu yang tegas mengeras, dan sepasang mata elang itu menatap Nayara lurus. Di dalam manik mata yang gelap itu, tidak ada ketakutan karena aksinya ketahuan. Sebaliknya, ada kilatan kepuasan yang begitu pekat. Pria itu sangat senang melihat Nayara gemetar seperti ini. Ia menikmati setiap detik ketakutan yang menguasai jiwa Nayara. Bagi pria ini, Nayara hanyalah seekor tikus kecil yang masuk ke dalam jebakannya.

Sreeett.

Suara gesekan logam memotong kesunyian di antara deru hujan. Dari balik jas hitamnya, pria itu menarik sebuah belati panjang yang berkilat tajam. Bilahnya yang perak memantulkan cahaya kilat di langit. Tanpa keraguan, ia menempelkan sisi tajam belati itu tepat di kulit leher Nayara.

Dingin. Sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Nayara meremang.

"Jangan bergerak," bisiknya lagi, matanya turun menatap leher Nayara yang kini ditempeli senjata tajam. "Satu gerakan kecil saja, dan besi ini akan merobek urat nadimu sebelum aku sempat mengizinkannya."

Nayara langsung mematung. Napas yang tadinya memburu kini diatur sepelan dan sehalus mungkin. Bahkan untuk mengembuskan napas saja ia takut, karena setiap gerakan kecil di dadanya bisa membuat belati itu menggores kulitnya lebih dalam. Air matanya terus mengalir deras, membasahi pipi hingga turun ke jemari tangan pria itu yang masih memegang dagunya dengan cengkeraman maut.

Dante memiringkan kepalanya sedikit, mengamati wajah Nayara yang pias tanpa darah dengan tatapan menilai. Bibirnya kembali mengulas senyum miring yang mematikan.

"Jadi, manis..." Suara baritonnya terdengar seperti melodi kematian di telinga Nayara. "Karena kamu sudah menjadi penonton yang baik malam ini, aku akan memberikanmu sebuah hak istimewa. Katakan padaku, kamu mau mati dengan cara apa?"

Nayara terbelalak, menatapnya dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

"Apakah kamu mau ditusuk tepat di jantung? Disayat perlahan sampai kehabisan darah?" Dante menggeser sedikit ujung belatinya ke pipi Nayara, membelainya dengan besi dingin itu seolah itu adalah benda paling berharga. "Atau... kamu lebih suka ditembak tepat di kepala, seperti pria paruh baya di ujung gang tadi? Hm?"

Pertanyaan gila itu lolos dari bibir Dante tanpa beban. Tubuh Nayara bergetar hebat sampai giginya bergemelatuk keras. Kengerian ini terlalu nyata. Ia tidak ingin mati di tempat kotor ini! Ia tidak ingin menjadi korban selanjutnya dari monster ini!

"Mmmpphh... mmmph..." Nayara mencoba bersuara di balik bekapan tangan pria itu.

Melihat Nayara yang berusaha bicara, Dante perlahan melonggarkan sedikit telapak tangannya dari mulut gadis itu, namun belati di leher Nayara justru ditekan sedikit lebih erat sebagai peringatan agar ia tidak berteriak.

"To-tolong..." suara Nayara keluar dengan gemetar, parau dan nyaris habis karena ketakutan. "Tolong lepaskan saya... Saya mohon..."

Dante hanya menatap Nayara datar, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu seolah ini adalah hiburan malam yang menarik baginya.

"Saya... saya janji tidak akan bilang-bilang ke siapa-siapa. Saya nggak lihat apa-apa tadi! Saya bersumpah demi Tuhan, saya bakal tutup mulut!" ratap Nayara dengan air mata yang kian bercucuran. Ia mencengkeram jas hitam pria itu, memohon belas kasihan dari sosok yang jelas-jelas tidak memiliki hati ini. "Tolong... saya cuma mau pulang... saya punya keluarga..."

Mendengar sumpah Nayara, Dante justru terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar begitu berat dan mengejek, menggema di antara dinding bata yang sempit.

"Tutup mulut?" Dante mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka mengikis hingga Nayara bisa mencium aroma parfum maskulin pria itu yang bercampur dengan bau anyir darah. "Manis, di duniaku, satu-satunya orang yang bisa benar-benar menjaga rahasia dan tutup mulut... hanyalah orang mati."

'Sialan! Bajingan psikopat ini!' umpat Nayara habis-habisan dalam hati.

Dante menatap mata Nayara yang penuh dengan kebencian dan ketakutan yang mendalam. Ia tampak sangat menikmati kehancuran mental gadis itu.

"Jadi, pilih caramu sekarang," kata Dante, ujung belatinya kembali bergerak turun, menekan tepat di atas urat nadi leher Nayara, siap untuk membuat goresan pertama yang mematikan. "Sebelum aku, yang memilihkan cara paling menyakitkan untukmu."

Rasa asin darah dan bau kulit sarung tangan memenuhi indra Nayara. Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatan rahangnya, menancapkan gigi-giginya sekuat mungkin pada punggung tangan Dante yang sedang membekapnya.

"Argh!"

Sebuah erangan rendah lolos dari mulut Dante. Namun, alih-alih meringis kesakitan, cengkeramannya justru sengaja dilonggarkan. Ia menarik tangannya mundur, memberikan celah kecil yang langsung dimanfaatkan Nayara.

Nayara mendorong dada Dante dengan panik, lalu berbalik dan kembali memacu kakinya keluar dari celah sempit itu. Di belakangnya, suara tawa bariton Dante pecah, menggema keras membelah suara gemuruh badai. Dante tertawa terbahak-bahak—suara tawa yang begitu puas dan mengerikan, seolah ia baru saja melepaskan mainan yang paling menghiburnya.

"Lari! Lari secepat yang kamu bisa!" teriak Dante dari kejauhan, disusul suara langkah sepatunya yang kembali mengejar, kali ini dengan ritme yang sengaja diperlambat untuk menyiksa Nayara secara mental.

"Tolong! Siapa saja tolong!"

Nayara menjerit histeris menembus tirai hujan yang semakin lebat. Air seolah tumpah dari langit, membuat pandangannya mengabur dan jalanan aspal semakin licin. Di bawah temaram lampu jalanan kota yang mati, tidak ada satu pun jiwa yang melintas. Kota ini mendadak terasa seperti kuburan massal yang sunyi, hanya menyisakan suara Nayara yang parau dan deru napas yang kian mencekam.

Plak! Plak! Plak!

Langkah kaki itu kembali mendekat dengan cepat. Belum sempat Nayara berbelok di ujung ruko, sebuah hantaman keras mengenai bahunya. Tubuhnya ditarik kasar dan dihempaskan ke atas aspal yang basah.

"Akh!" Nayara meringis kesakitan saat siku dan lututnya bergesekan langsung dengan jalanan yang kasar.

Sebelum sempat bangkit, tubuh besar Dante sudah berada di atasnya, mengunci pergerakan Nayara sepenuhnya di bawah guyuran hujan deras. Kedua tangan Nayara disatukan di atas kepala dengan satu genggaman tangan Dante yang besar.

"Tolong... saya mohon... lepaskan saya..." ratap Nayara, menangis sesenggukan di bawah tatapan mata pria itu. Seluruh tubuhnya basah kuyup, bergetar hebat bukan lagi karena dingin, melainkan karena kengerian yang mutlak.

Dante menatap Nayara dari atas. Rambut hitamnya yang basah jatuh berantakan di dahi, membuatnya terlihat semakin liar. Ia memperhatikan wajah Nayara yang pias, air mata yang luruh, dan dada gadis itu yang naik turun karena kehabisan napas. Kilatan kepuasan di mata Dante berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih intens dan gelap.

Hujan yang mengguyur deras membuat pakaian Nayara melekat erat di kulit, mencetak jelas setiap lekuk tubuhnya di bawah remang lampu jalan. Tatapan Dante perlahan turun, menyusuri lekuk tubuh Nayara yang terekspos. Detik itu juga, Nayara bisa melihat rahang tegas pria itu mengeras. Ada sebuah reaksi asing yang tersorot dari matanya—sesuatu yang selama ini tertidur di dalam diri pria dingin itu, mendadak bangkit karena pemandangan di bawahnya.

Dante mengulas senyum misterius. Ia menurunkan belatinya, lalu menyelipkannya kembali ke balik jas hitamnya.

"Kamu beruntung, manis," bisiknya, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serak dan berat. Jari telunjuknya yang terbungkus sarung tangan kulit basah bergerak lambat, mengusir helaian rambut yang menempel di pipi Nayara. "Reaksimu... benar-benar menghiburku. Dan kurasa, nyawamu terlalu berharga jika harus berakhir di gang sekotor ini malam ini."

Nayara tertegun di antara rasa syok dan bingung. 'Nggak diambil malam ini? Apa maksudnya?'

Sebelum Nayara sempat mencerna kata-katanya, Dante bangkit berdiri, lalu dengan satu gerakan mudah, ia menyentak tubuh Nayara dan memosisikannya di atas bahu lebarnya seperti karung beras.

"Lepasin! Aku mau dibawa ke mana?!" pekik Nayara, memukul-mukul punggung tegap pria itu dengan sisa tenaga yang nihil.

Dante tidak menjawab. Ia terus melangkah dengan santai menembus badai menuju sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di ujung jalan.

1
Muhamad Nazril
lanjutt
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: siap💪
total 1 replies
Muhamad Nazril
👍👍👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih🤗
total 1 replies
HamdanR M
Makin kesini semakin seru😍
Lanjutt min, Semangat 💪💪💪
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih kak🤗
total 1 replies
Padil
👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
siap
Nazwan Nazwan
Bagus😍😍😍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!