JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap
"Mmmph! Mmmph!"
Aku merontak sekuat tenaga. Kedua tanganku mencengkeram lengan kekar yang mengunci leherku, berusaha menariknya menjauh. Namun, lengan itu seperti balok besi—dingin, kokoh, dan tak bergeming sedikit pun. Kakiku menendang-nendang udara, mencoba mencari tumpuan di atas tanah yang licin akibat air hujan.
"Tuhan, tolong! Siapa pun, tolong aku!" Jeritan itu hanya bergema di dalam dadaku, tertahan oleh telapak tangan berbalut kulit yang menekan mulut dan hidungku hingga pasokan udara menipis. Air mataku luruh, bercampur dengan sisa-sisa air hujan di pipi.
"Syuuutt..."
Sebuah bisikan rendah mendarat tepat di samping telingaku. Suaranya begitu tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi di mana dia baru saja memburu manusia. Embusan napasnya yang hangat terasa kontras dengan kulit leherku yang sedingin es.
"Semakin kamu bergerak, semakin sakit. Tenanglah... Aku berjanji akan memberikan kematian yang cepat. Tidak akan terasa sakit," lanjutnya tanpa nada ancaman, seolah dia sedang menenangkan seorang anak kecil yang sedang menangis.
Kata-kata itu justru membuat seluruh tubuhku bergetar lebih hebat. 'Kematian yang cepat?'
Pria ini benar-benar gila!
Dengan satu sentakan kasar namun terkendali, dia membalikkan tubuhku. Dia mendorong punggungku hingga membentur dinding bata yang dingin di belakang celah sempit itu. Kedua tangannya mengunci pergerakanku, dan untuk pertama kalinya dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas di bawah bias cahaya petir yang menyambar.
Rahangnya yang tegas mengeras, dan sepasang mata elang itu menatapku lurus. Di dalam manik mata yang gelap itu, aku tidak melihat ketakutan karena aksinya ketahuan. Sebaliknya, ada kilatan kepuasan yang begitu pekat. Dia... dia sangat senang melihatku gemetar seperti ini. Dia menikmati setiap detik ketakutan yang menguasai jiwaku. Bagi pria ini, aku hanyalah seekor tikus kecil yang masuk ke dalam jebakannya.
Sreeett.
Suara gesekan logam memotong kesunyian di antara deru hujan. Dari balik jas hitamnya, pria itu menarik sebuah belati panjang yang berkilat tajam. Bilahnya yang perak memantulkan cahaya kilat di langit. Tanpa keraguan, dia menempelkan sisi tajam belati itu tepat di kulit leherku.
Dingin. Sangat dingin hingga membuat bulu kudukku berdiri meremang.
"Jangan bergerak," bisiknya lagi, matanya turun menatap leherku yang kini ditempeli senjata tajam. "Satu gerakan kecil saja, dan besi ini akan merobek urat nadimu sebelum aku sempat mengizinkannya."
Aku langsung mematung. Napas yang tadinya memburu kini kuatur sepelan dan sehalus mungkin. Bahkan untuk mengembuskan napas saja aku takut, karena setiap gerakan kecil di dadaku bisa membuat belati itu menggores kulitku lebih dalam. Air mataku terus mengalir deras, membasahi pipi hingga turun ke jemari tangannya yang masih memegang daguku dengan cengkeraman maut.
Dante memiringkan kepalanya sedikit, mengamati wajahku yang pias tanpa darah dengan tatapan menilai. Bibirnya kembali mengulas senyum miring yang mematikan.
"Jadi, manis..." Suara baritonnya terdengar seperti melodi kematian di telingaku. "Karena kamu sudah menjadi penonton yang baik malam ini, aku akan memberikanmu sebuah hak istimewa. Katakan padaku, kamu mau mati dengan cara apa?"
Aku terbelalak, menatapnya dengan pandangan memohon yang teramat sangat.
"Apakah kamu mau ditusuk tepat di jantung? Disayat perlahan sampai kehabisan darah?" Dante menggeser sedikit ujung belatinya ke pipiku, membelainya dengan besi dingin itu seolah itu adalah benda paling berharga. "Atau... kamu lebih suka ditembak tepat di kepala, seperti pria paruh baya di ujung gang tadi? Hm?"
Pertanyaan gila itu lolos dari bibirnya tanpa beban. Tubuhku bergetar hebat sampai gigiku bergemelatuk keras. Kengerian ini terlalu nyata. Aku tidak ingin mati di tempat kotor ini! Aku tidak ingin menjadi korban selanjutnya dari monster ini!
"Mmmpphh... mmmph..." kucoba bersuara di balik bekapan tangannya.
Melihatku yang berusaha bicara, Dante perlahan melonggarkan sedikit telapak tangannya dari mulutku, namun belati di leherku justru ditekan sedikit lebih erat sebagai peringatan agar aku tidak berteriak.
"To-tolong..." suaraku keluar dengan gemetar, parau dan nyaris habis karena ketakutan. "Tolong lepaskan saya... Saya mohon..."
Dante hanya menatapku datar, menunggu kelanjutan kalimatku seolah ini adalah hiburan malam yang menarik baginya.
"Saya... saya janji tidak akan bilang-bilang ke siapa-siapa. Saya gak lihat apa-apa tadi! Saya bersumpah demi Tuhan, saya bakal tutup mulut!" ratapku dengan air mata yang kian bercucuran. Aku mencengkeram jas hitamnya, memohon belas kasihan dari sosok yang jelas-jenis tidak memiliki hati ini. "Tolong... saya cuma mau pulang... saya punya keluarga..."
Mendengar sumpahku, Dante justru terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar begitu berat dan mengejek, menggema di antara dinding bata yang sempit.
"Tutup mulut?" Dante mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara kami mengikis hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan bau anyir darah. "Manis, di duniaku, satu-satunya orang yang bisa benar-benar menjaga rahasia dan tutup mulut... hanyalah orang mati."
'Sialan! Bajingan psikopat ini!' umpatku habis-habisan dalam hati.
Kenapa nasibku harus seburuk ini? Kenapa malam ini aku harus menolak tawaran Billy dan memilih jalan kaki? Kenapa dari sekian banyak gang di kota ini, aku harus melewati tempat eksekusi monster gila ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, bercampur dengan rasa penyesalan yang teramat sangat. Tubuhku kian lemas, bergetar hebat hingga rasanya kakiku tak mampu lagi menopang berat badanku sendiri jika bukan karena cengkeraman Dante pada tubuhku.
Dante menatap mataku yang penuh dengan kebencian dan ketakutan yang mendalam. Dia tampak sangat menikmati kehancuran mentalku.
"Jadi, pilih caramu sekarang," kata Dante, ujung belatinya kembali bergerak turun, menekan tepat di atas urat nadi leherku, siap untuk membuat goresan pertama yang mematikan. "Sebelum aku, yang memilihkan cara paling menyakitkan untukmu."
Rasa asin darah dan bau kulit sarung tangannya memenuhi indra pencecapku. Aku mengerahkan seluruh sisa kekuatan rahangku, menancapkan gigi-gigiku sekuat mungkin pada punggung tangannya yang sedang membekapku.
"Argh!"
Sebuah erangan rendah lolos dari mulut Dante. Namun, alih-alih meringis kesakitan, cengkeramannya justru sengaja dilonggarkan. Dia menarik tangannya mundur, memberikan celah kecil yang langsung kumanfaatkan.
Aku mendorong dadanya dengan panik, lalu berbalik dan kembali memacu kakiku keluar dari celah sempit itu. Di belakangku, suara tawa baritonnya pecah, menggema keras membelah suara gemuruh badai. Dante tertawa terbahak-bahak—suara tawa yang begitu puas dan mengerikan, seolah dia baru saja melepaskan mainan yang paling menghiburnya.
"Lari! Lari secepat yang kamu bisa!" teriaknya dari kejauhan, disusul suara langkah sepatunya yang kembali mengejar, kali ini dengan ritme yang sengaja diperlambat untuk menyiksaku secara mental.
"Tolong! Siapa saja tolong!"
Aku menjerit histeris menembus tirai hujan yang semakin lebat. Air seolah tumpah dari langit, membuat pandanganku mengabur dan jalanan aspal semakin licin. Di bawah temaram lampu jalanan kota yang mati, tidak ada satu pun jiwa yang melintas. Kota ini mendadak terasa seperti kuburan massal yang sunyi, hanya menyisakan suaraku yang parau dan deru napasku yang kian mencekam.
Plak! Plak! Plak!
Langkah kaki itu kembali mendekat dengan cepat. Belum sempat aku berbelok di ujung ruko, sebuah hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku ditarik kasar dan dihempaskan ke atas aspal yang basah.
"Akh!" Aku meringis kesakitan saat siku dan lututku bergesekan langsung dengan jalanan yang kasar.
Sebelum sempat bangkit, tubuh besar Dante sudah berada di atas, mengunci pergerakanku sepenuhnya di bawah guyuran hujan deras. Aku terperangkap. Kedua tanganku disatukan di atas kepala dengan satu genggaman tangannya yang besar.
"Tolong... saya mohon... lepaskan saya..." ratapku, menangis sesenggukan di bawah tatapan matanya. Seluruh tubuhku basah kuyup, bergetar hebat bukan lagi karena dingin, melainkan karena kengerian yang mutlak.
Dante menatapku dari atas. Rambut hitamnya yang basah jatuh berantakan di dahinya, membuatnya terlihat semakin liar. Dia memperhatikan wajahku yang pias, air mataku yang luruh, dan dadaku yang naik turun karena kehabisan napas. Kilatan kepuasan di matanya berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih intens dan gelap.
Hujan yang mengguyur deras membuat kardigan tipis dan pakaian kerjaku melekat erat di kulit, mencetak jelas setiap lekuk tubuhku di bawah remang lampu jalan. Tatapan Dante perlahan turun, menyusuri lekuk tubuhku yang terekspos. Detik itu juga, aku bisa melihat rahang tegasnya mengeras. Ada sebuah reaksi asing yang tersorot dari matanya—sesuatu yang selama ini tertidur di dalam diri pria dingin itu, mendadak bangkit karena pemandangan di bawahnya.
Dante mengulas senyum misterius yang membuat bulu kudukku meremang. Dia menurunkan belatinya, lalu menyelipkannya kembali ke balik jas hitamnya.
"Kamu beruntung, manis," bisiknya, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serak dan berat. Jari telunjuknya yang terbungkus sarung tangan kulit basah bergerak lambat, mengusir helaian rambut yang menempel di pipiku. "Reaksimu... benar-benar menghiburku. Dan kurasa, nyawamu terlalu berharga jika harus berakhir di gang sekotor ini malam ini."
Aku tertegun di antara rasa syok dan bingung. 'Gak diambil malam ini? Apa maksudnya?'
Sebelum aku sempat mencerna kata-katanya, Dante bangkit berdiri, lalu dengan satu gerakan mudah, dia menyentak tubuhku dan memosisikannya di atas bahu lebarnya seperti karung beras.
"Lepasin! aku Mau dibawa ke mana?!" pekikku, memukul-mukul punggung tegapnya dengan sisa tenaga yang nihil.
Dante tidak menjawab. Dia terus melangkah dengan santai menembus badai menuju sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di ujung jalan. Malam itu, di bawah dinginnya hujan Jakarta, pelarianku berakhir. Aku resmi dibawa pergi menuju kediamannya—Mansion Moretti, tempat di mana neraka sesungguhnya baru saja dimulai.