Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pembohong
Raka keluar dari kamar Nanda.
Nadia masih duduk di sofa ruang tamu, menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang tayang.
Raka memandang istrinya sekilas, lalu masuk ke kamar utama.
Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur.
“Nad,” panggilnya pelan. “Nanda ingin ditemani kita berdua.”
Nadia tidak menjawab.
Namun ia bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Raka.
Sekecewa apa pun hatinya, Nadia tidak ingin membuat Nanda kecewa.
Di kamar, Nanda sudah duduk di atas tempat tidur dengan wajah sumringah.
Begitu melihat kedua orang yang paling ia cintai datang bersamaan, gadis kecil itu langsung merentangkan tangan.
Raka lebih dulu memeluk putrinya.
“Anak Papah sudah siap tidur?”
Nanda tersenyum lebar.
“Tentu dong. Kan bundanya cantik.”
Ucapan polos itu membuat Raka tertawa kecil.
Lalu Nanda menarik tangan Nadia.
“Bunda sini.”
Nadia berbaring di sisi kiri.
Raka di sisi kanan.
Nanda berada di tengah-tengah mereka.
Posisi yang sudah bertahun-tahun menjadi rutinitas kecil keluarga mereka.
“Nanda senang sekali Papah pulang cepat,” celoteh Nanda. “Nanda ingin begini terus. Ada Papah dan Bunda.”
Nadia tersenyum tipis.
Namun di balik senyum itu, hatinya bergetar.
Jika rumah tangga ini benar-benar berakhir…
Akankah Nanda sanggup menerima kenyataan itu?
Raka mendapat giliran pertama mendongeng.
Dengan suara antusias, ia membaca kisah dalam buku cerita hingga membuat Nanda berkali-kali bertanya.
Setelah selesai, Nanda tersenyum puas.
“Sekarang giliran Bunda.”
Nadia mengambil buku yang sama.
Dengan suara lembut dan tenang, ia mulai bercerita.
Perlahan-lahan, suara Nanda menghilang.
Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus.
Nanda tertidur.
Nadia menutup buku dan meletakkannya di meja kecil.
Saat mengangkat wajah, ia mendapati Raka sedang menatapnya.
Pria itu tersenyum.
Dulu, senyum itu mampu meluluhkan seluruh kemarahan Nadia.
Namun malam ini, senyum itu terasa seperti topeng.
Penuh kepura-puraan.
“Nadia, aku mau bicara.”
Nadia berdiri.
“Di ruang tamu saja.”
Ia tidak ingin pembicaraan mereka membangunkan Nanda.
Atau lebih buruk, berubah menjadi pertengkaran.
Raka mematikan lampu kamar Nanda, lalu menyusul istrinya.
Di ruang tamu, Nadia sudah duduk dengan tenang.
Raka mengambil tempat di hadapannya.
Suasana terasa hening.
Dingin.
Canggung.
Raka berdeham.
“Nadia, maafkan aku.”
Nadia menatapnya tanpa ekspresi.
“Beberapa hari ini aku memang sibuk. Terlalu sibuk sampai kurang perhatian pada kamu dan Nanda.”
Ia menghela napas.
“Dan soal kemarin… kuota dari kantor memang hanya untuk tiga orang. Aku hanya ingin membahagiakan Nanda.”
Dalam hati, Nadia tersenyum pahit.
Masih saja berbohong.
Namun yang keluar dari bibirnya hanya satu kalimat.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Jawaban itu justru membuat Raka tidak tenang.
“Nad,” lanjutnya, “tadi sekolah mengirim tagihan study tour Nanda. Aku pinjam dulu uang kamu. Bulan depan akan aku ganti.”
Nadia menatapnya datar.
“Uang yang mana?”
“Uang lima juta yang aku transfer bulan lalu.”
Nadia menjawab singkat.
“Sudah habis.”
Raka mengernyit.
“Habis? Untuk apa saja?”
Nadia tidak menjawab.
Ia bangkit, masuk ke kamar, lalu kembali membawa sebuah buku catatan.
Ia menyerahkannya kepada Raka.
“Ini rincian pengeluaran bulan ini.”
Raka membukanya.
Di sana tertulis dengan rapi:
SPP NandaGaji Mbak TariListrikInternetBelanja kebutuhan dapurObat-obatanKeperluan rumah tangga lainnyaTotalnya jauh melebihi lima juta rupiah.
Dahi Raka langsung berkerut.
“Kenapa uang kamu dipakai untuk membayar SPP Nanda?”
Nadia mengangkat wajah.
“Kalau bukan aku, lalu siapa?”
Raka menatap daftar itu sekali lagi.
Nada suaranya meninggi.
“Ini juga ada gaji pembantu, listrik, internet, dan belanja rumah.”
Ia menatap Nadia tajam.
“Semua kebutuhan itu sudah aku titipkan ke Ibu. Jadi Ibu yang membayarnya.”
Nadia tetap tenang.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil ponselnya.
Satu per satu, ia menunjukkan bukti transfer.
Pembayaran SPP sekolah.
Transfer gaji Mbak Tari.
Tagihan listrik.
Internet.
Belanja kebutuhan rumah.
Semua tercatat atas nama Nadia.
Raka memandangi layar ponsel itu dalam diam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu berkata apa-apa.
Nadia meletakkan ponselnya di atas meja.
“Semua bukti pembayarannya ada di situ, Mas.”
Suasana mendadak hening.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan mulai muncul di kepala Raka.
Jika semua ini dibayar oleh Nadia…
Lalu ke mana sebenarnya uang yang selama ini ia serahkan kepada ibunya?
Raka bangkit dari sofa, meninggalkan Nadia seorang diri di ruang tamu.
Langkahnya cepat menuju kamar ibunya.
“Mah… Mamah,” panggilnya sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, Yuni keluar. Perempuan itu sudah mengenakan baju tidur dan masih menggenggam ponselnya.
“Ada apa, Ka?”
“Mah, aku mau bicara. Kita ke ruang tamu.”
Yuni mengernyit, tetapi tetap mengikuti putranya.
Sesampainya di ruang tamu, Yuni duduk di sofa tepat berhadapan dengan Nadia.
Raka mengambil tempat di samping ibunya.
Begitu duduk, Yuni langsung membuka suara.
“Nadia, kamu jangan seperti anak kecil. Raka memang hanya mendapat jatah tiga orang dari kantor. Jadi sudahi marahmu.”
Nadia hanya menatap ibu mertuanya sekilas.
Wajahnya tenang.
Tanpa ekspresi.
Raka berdeham.
“Mah, Nadia sudah memaafkanku soal kemarin.”
Ia berhenti sejenak.
“Sekarang ada tagihan study tour Nanda sebesar dua juta. Aku mau pakai uang yang ada di Mamah dulu. Soalnya uangku habis karena banyak pengeluaran tak terduga.”
Hampir saja ia mengatakan yang sebenarnya.
Bahwa sebagian besar uangnya habis untuk biaya pernikahannya dengan Ratna.
Yuni mengerutkan dahi.
“Uang Mamah sudah habis, Raka.”
Lalu ia menoleh ke arah Nadia.
“Memangnya uang Nadia tidak ada?”
Raka menatap ibunya.
“Uang Mamah habis untuk apa?”
Suasana mendadak hening.
Yuni tampak tidak siap menerima pertanyaan itu.
Tatapannya bergantian antara Raka dan Nadia.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?” tanyanya, berusaha terdengar tenang.
Raka mengangkat ponsel dan memperlihatkan catatan pengeluaran yang dibuat Nadia.
“Selama ini Nadia yang membayar SPP Nanda, gaji Mbak Tari, listrik, internet, dan kebutuhan rumah.”
Sorot mata Yuni langsung berubah tajam ke arah menantunya.
“Oh… jadi karena kamu tidak diajak ke Puncak, kamu sekarang tidak mau membantu Raka?”
Nadia tersenyum tipis.
Senyum yang tidak mencapai mata.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Bu.”
Suaranya lembut, tetapi tegas.
“Mas Raka hanya membutuhkan dua juta untuk study tour Nanda. Dan saya memang sudah tidak punya uang.”
Yuni mendengus.
“Kamu boros sekali, Nadia.”
Ia melipat tangan di dada.
“Raka memberi kamu sepuluh juta setiap bulan. Apa salahnya kalau kamu membayar kebutuhan rumah?”
Yuni mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Saya ini ibunya Raka. Saya yang melahirkan dan membesarkannya. Masa saya hanya diberi uang sedikit?”
Nadia menoleh perlahan ke arah Raka.
Tatapannya tenang.
Namun kata-kata berikutnya membuat udara di ruangan itu seolah berhenti bergerak.
“Jadi benar, Mas, kamu memberiku sepuluh juta setiap bulan?”
Raka terdiam.
Nadia tersenyum tipis.
Senyum yang penuh luka.
“Kalau begitu… ke mana lima juta yang selama ini tidak pernah sampai ke tanganku?”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭