Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
Fajar mengintip di ufuk timur, membawa semburat kelabu yang dipenuhi awan mendung di atas Kota Perbatasan Batu Darah.
Di dalam penginapan Tong Hitam, pintu kamar reyot itu terbuka pelan. Lin Chen yang sedang duduk berjaga dengan pedang di pangkuannya langsung terlonjak, matanya terbelalak ngeri.
"Kak Tian!"
Lin Tian masuk dengan langkah terseret. Jubah hitamnya compang-camping, basah oleh air selokan yang berbau busuk dan anyir darah. Topeng kayunya hancur separuh. Namun yang paling membuat Lin Chen panik adalah dada Lin Tian yang cekung ke dalam dan napasnya yang berbunyi seperti puputan pandai besi yang rusak.
"Kunci pintunya," bisik Lin Tian serak, langsung ambruk berlutut di lantai kayu.
Lin Chen buru-buru mengunci pintu, lalu memapah kakak sepupunya ke atas ranjang jerami. Lin Xue yang sedang tidur—berkat efek Pil Inti Dingin yang menstabilkan hawa esnya—tidak terbangun.
"Kak, apa yang terjadi? Kau... tulang rusukmu..." Lin Chen gemetar melihat luka-luka itu. Selama ini, Lin Tian selalu terlihat seperti monster baja yang tak terkalahkan. Melihatnya hancur seperti ini menyadarkan Lin Chen betapa rapuhnya mereka di dunia kultivasi ini.
"Seorang Inti Emas... mengejarku," jawab Lin Tian terputus-putus, memuntahkan darah kental ke lantai. Ia menahan tangan Lin Chen yang panik mencari pil penyembuh. "Pil fana tidak akan berguna. Tubuhku menolak Qi luar."
Lin Tian menarik napas panjang, menstabilkan pandangannya yang mulai mengabur. Jalan Sembilan Kematian... setiap kematian harus dibayar mahal, batinnya. Kesombongannya saat menghancurkan sekte pinggiran dan arena pertarungan telah dihancurkan oleh Tetua Gui Ming. Ia sadar, jarak antara fana dan Inti Emas tidak bisa dijembatani hanya dengan nekat dan artefak kuno.
Kekuatan butuh akumulasi yang panjang. Ia terlalu terburu-buru.
Dengan tangan kiri yang gemetar, Lin Tian mengeluarkan kotak kayu gaharu dari balik jubahnya. Ia membukanya, memperlihatkan Kristal Tinta Tulang Naga yang memancarkan urat-urat darah hitam.
"Chen, jaga pintu. Apapun yang terjadi padaku beberapa jam ke depan, jangan bersuara."
Tanpa ragu, Lin Tian meraih kristal seukuran kepalan tangan itu. Alih-alih mengoleskannya seperti salep, ia menempelkan kristal kuno itu langsung ke atas luka retakan di lengan kanan perunggunya yang terbuka.
SRAASH!
Seketika, urat-urat tinta dari dalam kristal itu melesat keluar layaknya cacing hidup, menembus pori-pori dan menancap langsung ke sumsum tulang lengan kanan Lin Tian!
"Ukh!" Lin Tian menggigit kain selimut hingga robek. Rasa sakitnya sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia membentuk Inti Teratai Pedang. Kristal itu mencoba meleburkan tulangnya yang sudah ada untuk menggantikannya.
Niat Pedang Sembilan Kematian di dalam tubuhnya memberontak. Terjadilah benturan hebat antara energi ketiadaan miliknya dan aura naga purba dari kristal tersebut.
Lin Tian awalnya berpikir ia bisa langsung menyerap seluruh energi kristal ini untuk mencapai puncak tahap ketiga (Tulang Pedang Sejati) malam ini juga. Namun, realitas menamparnya dengan keras.
Tubuhnya menolak.
Organ dalamnya yang terluka parah dan Inti Teratai Pedang-nya yang retak akibat pertarungan dengan Tetua Gui Ming tidak mampu menahan aliran energi sebesar itu. Jika ia memaksakan penyerapan penuh, tubuhnya akan meledak dari dalam menjadi serpihan debu!
Aku terlalu naif! Lin Tian mengumpat dalam hati. Tubuh fana ini masih terlalu dangkal untuk menelan lautan. Jika aku ingin seratus kali lebih kuat, aku harus menempanya seratus ribu kali lebih lama.
Dengan sekuat tenaga, Lin Tian memutar paksa sirkulasi Seni Pedang Sembilan Kematian miliknya secara terbalik. Alih-alih menyerap, ia menggunakan Niat Pedangnya untuk menyegel kekuatan kristal tersebut.
Urat-urat hitam naga itu perlahan berhenti memberontak. Kristal purba itu meleleh, masuk ke dalam lengan kanan Lin Tian, dan menetap di sana sebagai sebuah "benih tulang" yang tersegel, bukan menyatu sepenuhnya.
Cahaya hitam di lengan kanannya meredup, kembali menjadi warna kulit pucat biasa.
Lin Tian jatuh terlentang, napasnya terengah-engah.
Penyerapan yang tidak sempurna itu memberikan dampak yang campur aduk. Di satu sisi, sedikit energi dari kristal tersebut berhasil menyambung tulang rusuknya yang patah dan menstabilkan organ dalamnya, menyelamatkan nyawanya. Namun di sisi lain, lengan kanannya kini terasa luar biasa berat—seolah ia sedang membawa gunung besi kecil. Kekuatan tempurnya justru menurun drastis untuk sementara waktu, karena tubuhnya harus beradaptasi dan mencerna benih kristal itu sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun.
"Ini hukuman karena menginginkan jalan pintas," gumam Lin Tian tersenyum getir, menatap langit-langit kumuh. Mulai sekarang, ia harus bertarung dengan lebih banyak perhitungan, otak, dan teknik, bukan sekadar benturan fisik murni.
Siang harinya, ketukan rahasia dengan ritme tiga-dua-satu terdengar di pintu.
Lin Chen membuka pintu dengan waspada. Berdiri di luar adalah seorang pria berpakaian lusuh dengan wajah tertutup topi caping—anak buah rahasia Tuan Hei.
"Sekte Pedang Surgawi menggeledah setiap sudut kota. Jalanan penuh dengan anjing Tanah Suci," bisik pria itu cepat. "Kapal Dagang Persekutuan Seratus Harta akan merapat di pelabuhan udara utara dalam satu jam. Ini pakaian pelayan kargo. Tuan Hei sudah mengurus daftarnya. Ganti baju kalian, oleskan lumpur penyamar bau ini, dan ikuti aku."
Lin Tian yang kini sudah bisa duduk, meskipun wajahnya sepucat mayat, mengangguk. Ia menggendong Lin Xue di punggungnya, menutupi adiknya dengan jubah kain karung tebal. Lengan kanannya dibiarkan menggantung tak berdaya.
Mereka menyelinap melalui gorong-gorong rahasia di bawah kota, menghindari patroli udara yang sangat ketat. Di langit, Cermin Pelacak Jiwa raksasa milik Tetua Gui Ming terus memancarkan sinar emas, mencari fluktuasi aura pembunuh. Namun berkat lumpur khusus dari Paviliun Obat Racun yang diberikan Tuan Hei, aura mereka tertutupi layaknya mayat.
Setibanya di pelabuhan udara utara, mata Lin Chen dan Lin Xue yang mengintip dari balik karung melebar takjub.
Berlabuh di tebing raksasa adalah sebuah kapal terbang yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari kapal tempur Sekte Pedang Surgawi yang dihancurkan Lin Tian. Kapal Persekutuan Seratus Harta itu terbuat dari kayu spiritual ribuan tahun, dilapisi pelat baja emas, dan dihiasi layar-layar sutra raksasa yang menyerap Qi langit secara langsung. Itu bukan sekadar kapal, itu adalah sebuah kota kecil yang melayang!
"Jangan menatap ke atas, dasar budak udik!" bentak anak buah Tuan Hei, memainkan perannya agar para penjaga sekte tidak curiga.
Di gerbang masuk kargo, belasan murid Sekte Pedang Surgawi berjaga dengan wajah tegang, memegang artefak pendeteksi. Bahkan Persekutuan raksasa ini memberikan sedikit muka pada Tanah Suci untuk memeriksa para pekerja kasar di geladak paling bawah.
"Nama? Tujuan?" bentak penjaga sekte saat giliran Lin Tian dan Lin Chen tiba.
"Ah, Tuan, mereka ini pekerja kasar yang baru kubeli dari barak budak untuk memuat batu bara di Area D," anak buah Tuan Hei menyodorkan beberapa keping batu spiritual ke tangan penjaga itu, tersenyum menjilat. "Si bodoh ini bahkan cacat dan bisu, tangannya tidak bisa digerakkan. Cuma tenaga punggungnya yang berguna."
Penjaga sekte itu melirik Lin Tian dengan jijik. Ia memegang artefak cermin kecil ke arah Lin Tian. Cermin itu tidak bereaksi. Lengan kanan Lin Tian yang mengandung benih Kristal Tulang Naga tersegel begitu rapat oleh Niat Ketiadaannya hingga tidak memancarkan hawa mematikan sedikit pun. Ditambah luka fisiknya yang sangat parah, ia benar-benar terlihat seperti fana yang sakit parah.
"Cih. Bawa sampah-sampah ini masuk. Baunya membuatku mual," usir penjaga itu.
Lin Tian, Lin Chen, dan Lin Xue berhasil melewati pos pemeriksaan maut itu, melangkah masuk ke dalam perut besi Kapal Persekutuan Seratus Harta.
Mereka diarahkan turun, terus ke bawah, melewati kompartemen-kompartemen mewah milik pedagang kaya dan kultivator papan atas, menuju dasar lambung kapal. Area D. Geladak budak dan pekerja kasar.
Tempat itu panas, lembap, dan dipenuhi oleh ratusan manusia fana berpakaian compang-camping yang sedang menyekop batu bara spiritual ke dalam tungku raksasa kapal. Bau keringat dan putus asa menguar tebal.
"Kita aman di sini," bisik Lin Chen, menyeka keringat dingin di dahinya saat kapal raksasa itu akhirnya mulai bergetar dan lepas landas, terbang menjauhi Kota Batu Darah.
Lin Tian menurunkan Lin Xue yang masih tertidur pulas ke atas tumpukan jerami kotor di sudut lambung kapal. Ia sendiri duduk bersandar pada dinding kayu besi yang panas. Ia menatap ke atas, menembus langit-langit kapal, menuju arah Benua Tengah yang megah dan penuh monster tak terbayangkan.
"Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai, Chen," ucap Lin Tian pelan, suaranya nyaris tertelan suara deru mesin tungku. Tangan kirinya perlahan mengepal. "Mulai sekarang, kita akan belajar merangkak dalam kegelapan. Dan saat tiba waktunya kita berdiri kembali... tidak akan ada langit yang cukup tinggi untuk menahan kita."