Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan Loli
"Ra... Diminta bu Anjani ke ruangannya" ucap salah seorang rekan kerja Maara sesama guru.
Maara yang baru saja keluar kelas usai mengajar sontak kaget sekaligus heran.
Pasalnya, selama dia mengajar tak ada keluhan dari murid ataupun orangtua murid.
Tapi kenapa dia dipanggil?
Ada apa ini? Apa dia membuat kesalahan?
Isi kepala Maara terus menggaungkan semua pertanyaan itu tanpa dia tahu jawabannya.
Langkah Maara berhenti di depan pintu kayu berwarna coklat dimana didalam ruangan tersebut ada wakil ketua yayasan yang dinilai sangat galak dan juga tanpa toleransi ketika menegur siapa saja yang menurutnya tidak kompeten.
Maara mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya agar paru-parunya terisi.
Perlahan, dia mengetuk pintu kayu.
"Masuk!" titah si empunya ruangan.
Maara menekan kenop pintu dan mendapati dua orang sedang menatap kearahnya.
"Assalammualaikum bu... Ibu panggil saya? " seru Maara menyapa.
"Duduk bu Ara...!" titah bu Anjani.
Tatapan bu Anjani begitu dingin dan mengintimidasi.
Berbanding terbalik dengan wanita paruh baya yang mengenakan selendang untuk menutup kepalanya. Gayanya seperti ibu-ibu pejabat dan para sosialita yang sering Maara temui di Bandung.
"Ini yang namanya Ara bu... Dia mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di tingkat SMP... Pindahan dari yayasan Cinta Kasih yang dikelola oleh bu Atik di Bandung...." jelas bu Anjani kepada wanita yang sejak tadi tak berkedip menatap Maara.
"Rasanya saya pernah ketemu dengan bu Ara... Tapi lupa dimana... Wajahnya sangat familiar dengan penampilannya yang khas..." ucap si ibu tersebut dengan mata menyelidik.
"Mungkin ibu pernah melihatnya waktu di yayasan Bandung?" Bu Anjani tertawa sumbang diiringi tatapan sinisnya "Maklum saja, wajah-wajah seperti bu Ara ini begitu pasaran dan gayanya sangat bertolak belakang dengan perempuan masa kini yang lebih modis dalam berpenampilan...." sambungnya dengan nada mengejek.
Tangan Maara yang berada dipangkuannya terlihat meremas rok gamis.
Dirinya bisa dikatakan cukup tersinggung dengan perkataan bu Anjani barusan.
"Oh benar... Kamu yang waktu itu yang berada di mesjid raya di kawasan perkantoran Bandung kan?" ucap ibu itu lagi dengan wajah sumringah karena berhasil menggali ingatannya.
Kedua alis Maara terlihat menyatu.
Tak lama, binar matanya kembali cerah setelah mengingat pertemuan pertama mereka.
"Iya... Saya ingat ibu... Maafkan saya sempat lupa... Saya mengucapkan terima kasih pada ibu karena waktu itu yang telah menolong saya...."
"Waahhh... Tak menyangka kamu rupanya adalah karyawan yayasan Cinta Kasih.... Padahal saya sering kesana loh mau ketemu Atik, adik saya... Coba waktu itu kita ketemu di yayasan, pasti kita sudah akrab ya..." ucap bu Rosa ramah.
Raut wajah bu Anjani mendadak berubah masam.
"Maaf sebelumnya bu Rosa... Anda mengenal bu Ara secara personal? Dimana? Kok bisa anda mengenal perempuan seperti bu Ara ini?" rentetan pertanyaan dilontarkan oleh bu Anjani dan kesemuanya tentu dengan nada meremehkan.
Wanita yang dipanggil bu Rosa itu hanya tersenyum kecil dan tak menjawab pertanyaan bu Anjani hingga membuat wanita itu makin kesal.
"Saya Rosa... Pemilik yayasan ini dan juga yang di Bandung yang kebetulan dikelola oleh adik saya... Dan maksud saya memanggil bu Ara adalah, karena cucu saya..." jelas bu Rosa, memperkenalkan dirinya yang merupakan pemilik sekaligus ketua yayasan Cinta Kasih yang ada di Bandung serta yayasan Ilmu Sehati yang ada di Lembang.
Kening Maara makin berkerut tak mengerti.
"Cucu ibu?" beo Maara.
"Iya.. Namanya Lolita... Dia meminta saya untuk membawa bu Ara jadi guru privat untuknya.. Dan tentu saja saya akan membayar jasa bu Ara dengan harga yang pantas.. "
"Guru privat? " lagi-lagi Maara terus mengulang kata dari bu Rosa.
Tak lama, pintu ruangan dibuka dan menampilkan gadis kecil yang tentu saja Maara mengenalnya.
"Miss Ara...." panggil Lolita riang berlari kearah Maara.
Maara tersenyum hangat menyambut kedatangan Loli.
"Hai... Kamu lari-lari ya tadi?" tanya Maara lembut sambil menyeka keringat di kening Loli.
"Hmmm.... Karena tadi miss Yati bilang kalau oma lagi ajak miss Ara bicara di ruangan bu Anjani, makanya Loli lari kesini.. Loli kangen miss Ara..." ucap Loli yang langsung memeluk Maara.
Dan interaksi keduanya tak luput dari perhatian bu Anjani serta bu Rosa.
Berbeda dengan bu Anjani yang menatap sinis, bu Rosa justru bahagia melihat kedekatan keduanya.
Maklum, Loli meski ceria, dia begitu sulit dekat dengan orang yang baru dikenalnya.
"Saya baru tahu jika bu Ara adalah penolong cucu saya sewaktu tersesat di taman hiburan beberapa waktu lalu... Dan sejak saat itu, Loli selalu bercerita tentang tante cantik dengan kerudung lebarnya dan ingin ketemu lagi... Dan kemarin, Loli cerita bertemu dengan tante cantik penolongnya.... Dan ternyata tante cantik itu mengajar di yayasan ini di tingkat SMP... Wah, sungguh takdir baik dari Tuhan untuk Loli..." jelas bu Rosa.
"Loli minta sama oma mau jadikan bu Ara guru privat Loli... Tante.. eh... miss Ara mau kan? Loli mohon...." Lolita mengatup kedua tangannya didepan wajah sebagai permohonan keinginannya.
Maara berada dalam kebingungan.
Di satu sisi, dia tidak ingin di cap sebagai aji mumpung untuk karirnya tapi disisi lain, ini adalah kesempatan baginya. Selain mengubur rasa sepinya, diam-diam Maara telah jatuh hati pada gadis kecil yang ditolongnya sewaktu di taman hiburan.
"Baiklah bu, saya bersedia... " sahut Maara menyetujui.
"Yeeeayy.... Terima kasih miss... Loli janji, akan belajar sungguh-sungguh" ucap Lolita bersorak riang.
Bu Rosa ikut tersenyum dengan tingkah Loli.
Baginya, kebahagian Loli adalah segalanya.
Namun berbeda dengan bu Anjani yang memandang sinis penuh kecurigaan terhadap Maara.
Entah karena alasan apa, yang jelas sejak Maara menginjakkan kakinya di yayasan ini, sejak itupula dia tak menyukai kehadiran Maara.
...****************...
"Loh Ra... Kamu mau kemana?" tanya Diana di suaty siang usai mereka mengajar dan hendak pulang ke asrama.
"Mau ketemu murid kecilku Dee... Aku duluan ya..." sahut Maara yang bergegas pergi.
"Murid kecil?" gumam Diana.
"Kamu nggak tahu Dee?" seru Maya yang baru saja sampai.
"Apa?"
"Miss Ara itu dapat job tambahan langsung dari pemilik yayasan yakni bu Rosa untuk mengajar cucunya, non Lolita..." ucap Maya.
"What....??!!" reaksi Diana sungguh membuat Maya buru-buru membekap mulutnya karena teriakan gadis itu mengundang perhatian banyak orang.
"Jangan teriak-teriak Dee...."
"Kamu tahu artinya itu May...?" ucap Diana khawatir.
"Emangnya apa? Ara cuma jadi guru privat cucu pemilik yayasan, itu doang... Kamu kenapa sih lebay banget reaksinya?" sahut Maya acuh.
"Cuma...? Lebay...??" decak Diana tak suka.
"Kamu tahu kalau cucu bu Rosa itu sulit untuk didekati dan aku yang bahkan mengajar di kelasnya aja susah melakukan pendekatan. Kurang cantik dan ramah bagaimana aku? Tetap nggak digubris olehnya. Tapi Ara? Kamu lihat penampilannya? Kayak guru agama dengan baju lebar dan kerudung lebarnya... Bisa saja, gadis kecil bernama Loli itu malah mau jadikan Ara sebagai ibu pengganti alias isteri untuk papanya dengan modus jadiin gueu privat... " sewot Diana.
"Apasih Dee...? Pikiran mu itu terlalu jauh... Jangan kebanyakan baca novel CEO jatuh hati dengan guru putrinya..." ledek Maya.
"Lolita itu hanya gadis kecil dan masih kelas 2 SD. Mana mungkin bisa berpikiran sejauh itu... ada-ada saja kamu...!" lanjut Maya tak menggubris kekhawatiran Diana.
"Kita lihat aja nanti...! Dan kalau itu sampai terjadi, aku nggak akan biarin! Aku yang udah lama ngincar pak Kenan Jayadi itu dan nggak boleh keduluan si Ara!" kesal Diana yang pergi begitu saja dengan hati yang kesal.
Maya hanya bisa menggeleng melihat sikap Diana yang dinilai berlebihan.
Obsesi gadis itu ingin punya suami kaya memang tak bisa dipahami olehnya.
Diana bahkan pernah dekat dengan anak salah satu tengkulak yang ada di sana lalu putus karena diselingkuhi.
Dan kini incarannya adalah putra pemilik yayasan yang Diana bilang seorang pengacara tajir yang punya kantor advokat sendiri.
bersambung....