Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ada yang aneh.
Clarissa menyentuh kulit lengannya sendiri. Rasanya lebih kencang, lebih hangat, dan saat ia mencoba menggerakkan tangannya secara cepat, ia bisa merasakan aliran energi yang halus mengalir di bawah kulitnya. Matanya yang biasanya hanya menunjukkan ketegasan, kini tampak lebih jernih dan tajam—seolah ia bisa melihat detail ruangan dengan jauh lebih jelas.
Devan melangkah masuk ke ruangan itu, bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada. Ia tersenyum tipis melihat istrinya yang tampak "berbeda".
"Teknik itu mulai bereaksi," ucap Devan. "Darahmu sudah mulai teroksigenasi oleh energi Naga. Stamina dan refleksmu sekarang jauh di atas manusia rata-rata."
Clarissa berbalik, menatap suaminya dengan rasa takjub. "Aku merasa... ringan. Seolah-olah aku bisa berlari sepuluh kilometer tanpa merasa lelah sama sekali."
"Itu baru permulaan," Devan melangkah mendekat, membelai pipi Clarissa. "Tapi ingat, Bos, musuh kita belum menyerah. Mereka sudah memanggil orang-orang yang jauh lebih berbahaya dari Gagak Hitam."
Clarissa menatap mata Devan dengan keberanian yang baru. Ia tidak lagi ketakutan. "Aku tidak akan menjadi bebanmu lagi, Devan. Ajarkan aku bagaimana cara melindungi diriku sendiri."
Devan terdiam sejenak. Ia melihat tekad baja di mata istrinya. Ia tahu, dalam dunia yang ia jalani, seseorang yang dicintainya tidak bisa hanya menjadi bunga di dalam vas. Dia harus tumbuh menjadi duri yang tajam.
"Baiklah," Devan menarik napas panjang. "Mulai hari ini, aku akan melatihmu bukan hanya untuk bernapas, tapi untuk bergerak. Aku akan membuatmu menjadi seseorang yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun."
Malam Harinya
Tiba-tiba, lampu di seluruh kompleks rumah mewah itu mati total.
Suasana hening yang mencekam menyelimuti rumah. Devan yang sedang berada di ruang tengah langsung kaget. Insting Dewa Perang-nya berteriak nyaring. Ini bukan pemadaman listrik biasa. Ini adalah sabotase sistemik.
"Sistem, deteksi," perintah Devan dalam hati.
[Sistem Mendeteksi: Sinyal Pengacak Frekuensi Aktif. Terdapat lima titik panas (heat signature) yang menyelinap melalui taman belakang. Mereka memiliki peralatan kamuflase optik dan senapan serbu kelas militer.]
Devan tidak panik. Ia justru tersenyum kecil. Musuh telah masuk ke dalam "kandang naga".
Ia berbisik ke arah alat komunikasi kecil yang terpasang di telinganya, yang terhubung langsung dengan earpiece Clarissa di kamar atas. "Clarissa, lakukan posisi pertahanan yang kuajarkan tadi. Jangan keluar kamar. Biarkan mereka mendekat."
Di lantai atas, Clarissa menarik napas dalam, memusatkan energinya. Ia tidak lagi gemetar. Ia melangkah menuju jendela, merasakan getaran langkah kaki musuh di taman melalui lantai kayu yang sensitif.
Di taman belakang, lima sosok bayangan bergerak seperti hantu. Mereka adalah anggota Black Cobra yang paling mematikan. Mereka bergerak menuju pintu utama dengan sangat terkoordinasi.
Namun, saat mereka menginjakkan kaki di teras, mereka merasakan sesuatu yang janggal. Udara di sekitar rumah itu terasa berat. Sangat berat.
"Target terlihat di ruang tengah," bisik salah satu tentara bayaran melalui radio.
Mereka mendobrak pintu utama dengan serentak.
BRAK!
Namun, ruangan itu kosong.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang dingin bergema dari sudut ruangan yang gelap.
"Kalian salah memilih tempat untuk mati."
Vindicator, pemimpin kelompok itu, mengangkat senapannya ke arah asal suara. Namun sebelum ia sempat menarik pelatuk, sebuah benda tumpul melesat dari arah atas dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata, menghantam senjata di tangannya hingga hancur.
Itu adalah Clarissa. Dia melompat dari lantai dua dengan presisi yang sempurna, mendarat tepat di depan para tentara bayaran itu dengan gaya yang sangat elegan namun mematikan.
Para tentara bayaran itu terpaku sejenak. Mereka mengira targetnya hanyalah seorang pengusaha wanita yang lemah. Tapi yang mereka hadapi sekarang adalah seorang wanita dengan aura yang seolah memancar dari dalam tulang-tulangnya.
Vindicator tertawa kecil di balik topengnya. "Menarik. Kita akan lihat seberapa kuat 'mainan' Jenderal ini."
Pertarungan di rumah itu baru saja dimulai, dan untuk pertama kalinya, Devan hanya berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersedekap, menatap istrinya yang mulai bertarung dengan gerakan yang sudah terasah oleh teknik Naga Kuno.
"Tunjukkan padaku, Clarissa," ucap Devan dengan bangga. "Tunjukkan pada mereka siapa ratu di rumah ini."