Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Transformasi Sang Kekasih
Sesampainya di kos, Chen segera mandi dan membersihkan diri. Rasa hangat yang biasa mengalir di matanya kini terasa begitu tenang, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sedang ia alami. Selesai mengganti pakaiannya dengan baju kasual yang rapi, Chen melangkah ke kamar sebelah untuk menjemput Mei.
Saat pintu terbuka, Mei sudah bersiap dengan senyum manisnya. Namun, sebelum Mei sempat memilih baju terbaiknya, Chen menahannya sambil tersenyum misterius.
"Mei, kali ini gunakan pakaian biasa saja dulu," ujar Chen lembut.
Mei memiringkan kepalanya, bingung. "Eh? Bukankah kita mau pergi merayakan kemenanganmu bersama Liu? Kenapa aku harus pakai baju biasa?"
"Ikut saja denganku, ini rahasia," goda Chen sambil mengedipkan sebelah matanya.
Chen kemudian menggandeng tangan Mei turun ke halaman kos, memasuki mobil sport mewah pemberian Liu yang mengkilap di bawah lampu jalan. Tujuan Chen malam ini bukan langsung ke bar, melainkan ke sebuah butik paling bagus dan eksklusif yang ada di pusat kota. Butik tersebut terkenal hanya melayani kaum sosialita karena semua pakaian yang dipajang merupakan hasil desain eksklusif dari desainer ternama dunia.
Transformasi yang Memukau
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam butik yang super megah itu, Chen langsung meminta pelayan terbaik untuk mendandani Mei. Chen sendiri melangkah ke ruang ganti pria untuk mengenakan setelan jas premium ala CEO muda yang sudah ia pesan sebelumnya.
Dua puluh menit kemudian, tirai ruang ganti wanita perlahan terbuka.
Chen yang sudah berdiri menunggu dengan setelan jas hitam pas badan, kemeja putih murni, dan tatanan rambut yang rapi langsung terpaku di tempatnya. Sepasang mata ajaib Chen bahkan berdesir tanpa perlu ia perintah, menangkap pancaran kecantikan yang luar biasa dari tubuh Mei.
Mei keluar mengenakan gaun malam yang anggun namun elegan, yang melekat sempurna di tubuhnya. Riasan wajahnya yang natural berpadu dengan tatanan rambut yang disanggul modern, membuat pesonanya naik berlipat-lipat ganda. Gadis pemalu dari kamar kos sebelah kini terlihat seperti seorang putri dari keluarga terpandang.
Mei menatap Chen dengan wajah merona merah, merasa agak canggung dengan penampilannya sendiri. Namun, saat ia melihat Chen yang kini berpenampilan sangat gagah seperti seorang CEO muda yang berwibawa, mata Mei berbinar penuh kekaguman.
"Chen... apakah aku tidak berlebihan?" bisik Mei malu-malu.
Chen melangkah maju, meraih jemari Mei, dan mengecupnya pelan. "Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Mei. Sempurna."
Meyakinkan Hati di Depan Pintu Bar
Setelah menyelesaikan pembayaran yang fantastis tanpa kedipan mata, Chen membawa Mei menuju bar mewah milik Liu. Deru mesin mobil sport mereka memecah keheningan malam hingga akhirnya berhenti tepat di halaman depan bar yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Suasana bar itu sangat gemerlap, dipenuhi alunan musik bertenaga dan jajaran mobil-mobil mewah milik kaum jetset kota.
Melihat kemewahan yang ada di depannya, langkah Mei mendadak terhenti di samping mobil. Ia mencengkeram lengan jas Chen dengan erat, matanya menyiratkan rasa takut dan minder. Sebagai gadis sederhana, tempat seperti ini terasa terlalu asing dan mengintimidasi baginya.
"Chen... aku takut masuk ke dalam. Tempat ini terlalu mewah untuk orang sepertiku," bisik Mei dengan nada khawatir.
Chen berbalik, menangkup kedua pipi Mei dengan lembut, lalu menatap lurus ke dalam matanya untuk menyalurkan rasa aman.
"Mei, tatap aku," ucap Chen dengan suara yang sangat menenangkan. "Kamu tidak perlu takut pada apa pun. Aku ada di sini, dan aku berjanji akan selalu menjagamu di dalam sana. Kamu tidak sendiri."
Chen memberikan senyuman hangatnya sebelum melanjutkan, "Lagipula, bar ini adalah milik Liu, sahabatku. Orang yang sama yang memberikan mobil mewah yang kita bawa sekarang. Dia orang yang sangat baik, jadi tenangkan hatimu, ya?"
Mendengar ketulusan dan jaminan dari Chen, rasa takut di hati Mei perlahan menguap, digantikan oleh rasa percaya yang mendalam pada kekasihnya. Ia mengangguk pelan, lalu menyunggingkan senyuman manis.
"Baiklah, aku percaya padamu, Chen."
Mei kemudian menyelipkan lengannya di lengan Chen. Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, pasangan CEO muda dan sang putri malam itu melangkah masuk menembus pintu bar, siap disambut oleh kemeriahan pesta yang telah disiapkan Liu.