NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Aroma Kopi

Jam dinding di lorong UGD menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit siang. Badai pasien kritis akibat kecelakaan beruntun akhirnya mulai mereda setelah tim medis bekerja spartan selama hampir tiga jam penuh. Korban-korban dengan kategori merah telah berhasil ditransfer ke ruang operasi dan ICU, sementara pasien dengan luka ringan hingga sedang sudah ditangani dengan rapi di area bangsal transit.

Ayana melangkah keluar dari area steril UGD dengan bahu yang tampak turun karena kelelahan. Ia melepaskan sarung tangan lateksnya yang terakhir, membuangnya ke tempat sampah medis, lalu menggantungkan stetoskopnya dengan lemas di leher. Kemeja biru mudanya kini tampak sedikit kusut, dan ada beberapa bercak noda cairan antiseptik di bagian lengan jas putihnya.

Namun, begitu ia mendorong pintu kaca otomatis untuk menuju ke koridor luar, langkah kakinya langsung terhenti.

Arkananta Pradipta ternyata masih di sana.

Pria itu tidak pulang ke kantornya yang mewah. Arka sedang duduk di salah satu kursi tunggu besi yang dingin, beralaskan jas abu-abu mahalnya yang sengaja ia lepas dan letakkan di sandaran kursi agar tidak kotor. Di tangannya, terdapat sebuah cangkir kertas berisi teh chamomile hangat—bukan kopi hitam pekat yang biasa ia minum. Karina berdiri tidak jauh di sampingnya, masih setia memegang tablet digital dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dibanding tadi pagi.

Mendengar suara langkah kaki Ayana, Arka langsung mendongak. Pandangan mata mereka bertemu. Kilat kecemasan yang sempat bersembunyi di bola mata hitam pria itu perlahan memudar begitu melihat Ayana berjalan mendekat dalam kondisi sehat walafiat tanpa kekurangan satu apa pun.

"Anda... masih di sini, Pak?" tanya Ayana, suaranya terdengar agak serak karena terlalu banyak memberikan komando berteriak di dalam ruang resusitasi tadi. Ia mendudukkan dirinya di kursi besi kosong tepat di sebelah Arka, mengabaikan seluruh jarak formalitas yang biasanya ia jaga ketat.

Arka tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan cangkir kertas berisi teh chamomile yang masih mengepulkan asap tipis itu ke hadapan Ayana. "Minum ini. Suaramu sudah mirip seperti bebek yang tercekik."

Ayana mendengus pelan, namun tidak menolak kebaikan terselubung sang CEO. Ia menerima cangkir itu, menyesap cairannya yang hangat dan manis, membiarkan rasa nyaman menjalar di tenggorokannya yang kering. "Terima kasih, Pak Bos. Ngomong-ngomong, ini teh herba kan? Baguslah kalau Anda tidak memesan kopi. Berarti otak Anda masih berfungsi dengan baik untuk mematuhi larangan kafein dari saya."

"Karina yang membelinya di kantin bawah," sahut Arka datar, melirik sekretarisnya sekilas. Karina hanya memberikan senyuman sopan dari balik kacamatanya.

Arka kemudian memajukan tubuhnya sedikit, bertumpu pada kedua lututnya sembari menatap Ayana dengan pandangan yang mendalam. "Bagaimana kondisi di dalam? Semuanya... bisa diselamatkan?"

Ayana menghela napas panjang, menatap cairan teh di dalam cangkirnya. Sisa adrenalin di dalam tubuhnya perlahan mulai surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. "Lima pasien kritis berhasil kita stabilisasi. Satu orang tadi sempat mengalami henti napas karena tekanan udara di rongga dadanya menjepit pembuluh darah besar ke jantung, tapi untungnya jarum dekompresi saya masuk tepat waktu. Mereka semua sekarang sudah di tangan tim bedah toraks. Insya Allah, persentase harapan hidup mereka sangat besar."

Ayana menoleh, menatap Arka dengan senyuman tipis yang sangat tulus. "Terima kasih ya, Pak. Kalau tadi saya harus menunggu taksi online di penthouse Anda, mungkin selisih waktu sepuluh menit saja bisa membuat pasien di Bed 3 itu tidak tertolong. Anda secara tidak langsung ikut andil dalam menyelamatkan nyawa mereka hari ini."

Mendengar kalimat Ayana, dada Arka mendadak terasa hangat. Sebuah perasaan lega yang belum pernah ia rasakan selama belasan tahun ini mengalir deras di dalam sistem sarafnya. Untuk pertama kalinya sejak malam kecelakaan maut ibunya dulu, Arka tidak lagi memandang rumah sakit sebagai tempat yang hanya berisi kematian, darah, dan kegagalan. Di hadapan Ayana, rumah sakit menjelma menjadi medan pertempuran di mana kehidupan bisa dimenangkan kembali dengan keberanian dan pengetahuan.

"Saya hanya tidak mau investasi saya di rumah sakit ini merugi karena kekurangan tenaga dokter yang kompeten," dalih Arka dengan kesombongan khasnya yang kembali muncul, meskipun telinga Karina di sampingnya bisa menangkap dengan sangat jelas bahwa nada suara bosnya kali ini sama sekali tidak memiliki unsur ketajaman.

Ayana memutar bola matanya malas. "Iya, terserah Anda saja, Pak Kapitalis. Yang penting sekarang isi perut Anda gimana? Sudah jam dua belas lewat. Anda tidak boleh melewatkan jam makan siang lagi, atau semua drama romantis penuh air mata kangkung semalam akan terulang kembali di kantor."

Wajah Arka seketika mengeras mendengar frasa 'air mata kangkung semalam'. Ia berdeham keras, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak menyerang wajahnya. Karina yang mendengar istilah asing itu langsung menaikkan alisnya dengan penuh rasa ingin tahu, namun ia memilih untuk pura-pura sibuk memeriksa jadwal di tablet digitalnya demi keselamatan gajinya bulan ini.

"Kita makan siang di restoran dekat sini. Karina sudah memesankan tempat privat yang higienis sesuai dengan standarmu," ujar Arka sembari berdiri dari kursi besi, meraih jasnya, lalu memakainya kembali dengan gerakan yang sangat rapi.

Ayana ikut berdiri, menyerahkan cangkir kertas kosongnya pada Karina yang dengan sigap menerimanya. "Bagus. Menu makan siangnya harus dipastikan rendah natrium dan tidak pedas ya, Karina. Tolong saring semua menu yang mengandung cabai atau minyak berlebih untuk Pak Bos."

"Siap, Dokter Ayana. Semua sudah saya sesuaikan dengan instruksi medis Anda," jawab Karina dengan nada riang. Sekretaris itu diam-diam merasa sangat bersyukur atas kehadiran Ayana. Sejak dokter rewel ini masuk ke dalam kehidupan Arka, tugas Karina untuk mengingatkan bosnya makan dan beristirahat menjadi seratus kali lipat lebih mudah karena Arka tidak lagi bisa mendebat atau mengabaikan perintah yang keluar dari mulut Ayana.

Saat mereka bertiga berjalan menyusuri koridor utama rumah sakit menuju pintu keluar lobi, langkah mereka mendadak terhenti oleh seruan seorang pria paruh baya berpakaian jas dokter rapi dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya.

"Arkananta? Kamu di sini?"

Arka menoleh. Wajah kaku sang CEO langsung melunak digantikan oleh ekspresi hormat yang tulus. "Dokter Hendra. Selamat siang."

Dokter Hendra adalah Kepala Rumah Sakit Utama Jakarta sekaligus sahabat karib dari mendiang ayah Arka. Pria tua itu melangkah mendekat dengan senyuman hangat, lalu menepuk-nepuk bahu tegap Arka dengan sayang. "Saya tadi mendengar dari anak-anak UGD kalau kamu datang mengantarkan salah satu dokter spesialis kita menggunakan mobil pribadimu. Saya sempat tidak percaya, tapi ternyata melihatmu berdiri di koridor ini dengan tenang... membuat saya sangat lega, Arka. Ayah dan ibumu pasti sangat bangga melihatmu sudah bisa mengalahkan ketakutanmu."

Arka hanya memberikan senyuman tipis yang sarat akan makna. "Saya hanya mengantarkan dokter pribadi saya, Dok. Beliau harus segera menangani keadaan darurat."

Dokter Hendra beralih menatap Ayana yang berdiri di samping Arka. Mata tua sang dokter senior memancarkan kilat kekaguman yang mendalam. "Ah, Dokter Ayana Sheenaz. Penanganan needle decompression Anda di Bed 3 tadi menjadi perbincangan hangat di ruang komite medik baru saja. Sangat cepat, tenang, dan akurat. Saya tidak salah merekomendasikan Anda untuk menjadi dokter pribadi keluarga Pradipta."

Ayana membungkuk hormat dengan wajah sedikit merona karena dipuji oleh sang legenda kedokteran. "Terima kasih banyak, Dokter Hendra. Saya hanya melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban saya di atas meja resusitasi."

"Pertahankan kinerjamu, Ayana. Menjaga kesehatan fisik dan... jiwa seorang Arkananta bukanlah tugas yang mudah," bisik Dokter Hendra dengan nada penuh arti yang hanya bisa dimengerti oleh Ayana dan Arka sendiri. Pria tua itu kemudian pamit untuk kembali ke ruang rapat koordinasi bencana.

Setelah Dokter Hendra pergi, Ayana melirik ke arah Arka yang kini sedang berjalan mendahuluinya menuju mobil Rolls-Royce yang sudah menunggu di lobi. Punggung tegap pria itu tampak begitu kokoh di bawah siraman cahaya matahari siang, namun Ayana tahu, di dalam rongga dada di balik kemeja biru navy itu, ada sepotong hati yang perlahan-lahan mulai membuka diri untuk disembuhkan.

“Target kita masih panjang, kan, Pak Bos?” batin Ayana sembari mempercepat langkah kakinya untuk menyejajari langkah panjang Arka, sebuah senyuman jahil terukir di wajah manisnya. “Kalau begitu, bersiaplah untuk menghadapi sidak kulkas, omelan kangkung, dan terapi minyak kayu putih dari saya untuk jangka waktu yang sangat lama.”

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!