🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 003: Kota Giok dan Seorang Badut
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden yang mengguncang asrama murid magang.
Di dalam gubuk tua yang remang-remang itu, Qin Xiang masih duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Napasnya naik turun secara perlahan, membentuk ritme kuno yang terasa menyatu dengan denyut langit dan bumi.
Udara di sekitarnya bergetar samar.
Energi spiritual tipis yang tersebar di pegunungan mulai bergerak pelan menuju tubuhnya, lalu tersedot masuk melalui pori-pori yang terbuka lebar. Energi itu mengalir melewati meridian yang sempit dan rapuh, terasa seperti banjir besar yang dipaksa melewati sungai kecil yang nyaris runtuh kapan saja.
Namun anehnya—
Tubuh Qin Xiang justru bertahan.
Bahkan Dantian raksasa di dalam tubuhnya terus melahap seluruh energi itu tanpa henti seperti jurang tak berdasar.
Wushhh...
Aura Qi perlahan berputar di sekeliling tubuhnya.
Lantai kayu di bawahnya mulai retak sedikit demi sedikit akibat tekanan energi yang terus meningkat.
Entah sudah berapa lama berlalu, hingga akhirnya mata Qin Xiang perlahan terbuka.
Kilatan cahaya samar melintas di kedalaman pupil hitamnya, diiringi napas panjang yang keluar dari bibirnya.
“Pemurnian Qi tahap keempat...” gumamnya pelan sambil mengepalkan tangan. “Kecepatan tubuh ini jauh lebih baik dari perkiraanku.”
Senyuman tipis perlahan muncul di wajahnya.
Beberapa hari lalu, tubuh ini bahkan nyaris tidak mampu menyerap energi spiritual dengan baik. Namun sekarang, dantiannya telah terisi hampir penuh oleh Qi murni yang padat.
Jika orang lain mengetahui kecepatan kultivasinya, mereka mungkin akan menganggapnya monster.
Tetapi bagi Qin Xiang—Ini masih terlalu lambat.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah berdiri di puncak langit sebagai Kaisar Agung yang membuat ribuan dunia tunduk di bawah kakinya. Dibandingkan kekuatan masa lalunya, kultivasi saat ini bahkan tidak lebih dari setetes air di lautan luas.
Namun justru karena itulah...
Tatapan Qin Xiang perlahan berubah dingin.
Ia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa fondasi adalah segalanya.
Semakin kuat fondasi seseorang di awal kultivasi, semakin tinggi pula langit yang mampu mereka capai di masa depan.
Dan kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Qin Xiang perlahan berdiri lalu berjalan keluar dari gubuk untuk menghirup udara pagi yang terasa segar setelah berhari-hari hanya berkultivasi tanpa henti.
Sinar matahari pagi menyinari wajahnya.
Angin gunung bertiup lembut, membuat ujung rambut hitamnya bergerak perlahan.
Untuk sesaat, Qin Xiang hanya berdiri diam sambil memandang pegunungan luas di kejauhan.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menikmati ketenangan seperti ini.
Di kehidupan sebelumnya, hari-harinya dipenuhi darah, perang, dan pengkhianatan. Bahkan saat berdiri di puncak dunia, tidak pernah ada kedamaian yang benar-benar nyata.
Namun sekarang—
Ia kembali menjadi manusia biasa.
Dan anehnya... perasaan itu tidak terlalu buruk.
“Sudah waktunya bergerak,” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu lagi, Qin Xiang segera berjalan menuju Aula Misi Sekte Pedang Giok.
...
Aula Misi masih seramai biasanya.
Puluhan murid sekte keluar masuk sambil membawa gulungan tugas di tangan mereka. Beberapa tampak terluka setelah berburu monster, sementara yang lain sibuk membanggakan hasil misi mereka kepada teman-temannya.
Namun begitu Qin Xiang melangkah masuk—
Suasana langsung berubah sedikit aneh.
Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar samar dari berbagai arah.
“Itu Qin Xiang, kan?”
“Bukannya dia sampah sekte?”
“Aku dengar dia menghajar Xiao Jing sampai pingsan hanya dengan satu pukulan...”
“Mana mungkin?”
Tatapan penuh rasa penasaran mulai tertuju kepadanya. Tetapi Qin Xiang sama sekali tidak memedulikannya. Langkahnya tetap tenang saat berjalan menuju meja pendaftaran murid.
Tetua penjaga aula yang sedang membaca gulungan tua perlahan mengangkat kepala. Namun begitu merasakan fluktuasi energi dari tubuh Qin Xiang—
Kedua matanya langsung sedikit menyipit.
“Pemurnian Qi tahap keempat?”
Nada suaranya mengandung keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Qin Xiang menyerahkan plat identitas lamanya tanpa banyak bicara.
Tetua itu memeriksanya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“Dari tahap pertama menuju tahap keempat hanya dalam beberapa hari...” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala. “Entah kau menyembunyikan bakatmu selama ini atau memang mengalami keberuntungan besar.”
Qin Xiang hanya tersenyum tipis.
Ia tentu tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya adalah reinkarnasi seorang Kaisar Agung.
Tak lama kemudian, tetua itu menyerahkan sebuah plat perak baru kepadanya.
“Mulai hari ini, kau resmi menjadi murid pintu luar.”
“Terima kasih, Tetua.”
Qin Xiang menerima plat itu dengan tenang sebelum berjalan menuju papan misi besar di tengah aula.
Ratusan gulungan tugas tertempel di sana.
Sebagian besar hanyalah misi biasa seperti berburu monster tingkat rendah, mengumpulkan herbal, atau mengawal pedagang.
Tatapan Qin Xiang bergerak cepat menyapu semuanya.
Hingga akhirnya—
Matanya berhenti pada sebuah gulungan tua di sudut papan.
“Mengumpulkan Mawar Giok Darah...” lirihnya pelan.
Senyuman samar langsung muncul di sudut bibirnya.
Bagi murid lain, misi itu terkenal berbahaya karena lokasi Mawar Giok Darah berada di dalam gua yang dipenuhi binatang buas berbahaya. Namun bagi Qin Xiang—
Yang ia lihat bukanlah bahaya.
Melainkan kesempatan.
Esensi Mawar Giok Darah mampu memperkuat meridian dan memurnikan kotoran yang telah menumpuk lama di dalam tubuh. Itu adalah sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.
Tanpa ragu, Qin Xiang langsung mengambil gulungan misi tersebut lalu membawanya menuju meja persetujuan.
Tetua penjaga aula sempat mengernyit saat membaca nama misi itu.
“Kau yakin ingin mengambil tugas ini?” tanyanya sambil menatap Qin Xiang dalam-dalam. “Murid pintu luar biasa saja belum tentu berani memasuki gua itu.”
“Maksud Tetua tentang Kelelawar Pelahap Aura?” Qin Xiang tersenyum tipis. “Bukan masalah besar.”
Tetua itu langsung terdiam.
Tatapannya berubah semakin aneh.
Biasanya murid seusia Qin Xiang akan pucat pasi hanya dengan mendengar nama monster itu. Namun pemuda di depannya justru terlihat terlalu tenang.
Seolah ancaman itu hanyalah lelucon kecil.
“Dasar bocah aneh...” gumam sang tetua sebelum akhirnya menstempel gulungan misi tersebut. “Pergilah kalau begitu. Tapi jangan salahkan siapa pun kalau kau mati.”
Qin Xiang hanya mengangguk ringan sebelum berbalik meninggalkan aula.
...
Beberapa jam kemudian, Qin Xiang akhirnya tiba di Kota Giok yang berada di kaki gunung sekte.
Kota itu jauh lebih hidup dibanding wilayah sekte yang dingin dan penuh aturan.
Teriakan pedagang saling bersahutan di sepanjang jalan utama. Aroma daging panggang dan roti hangat memenuhi udara. Anak-anak kecil berlarian di sela kerumunan sambil tertawa riang tanpa memedulikan kerasnya dunia kultivasi.
Qin Xiang berjalan perlahan menyusuri jalanan kota sambil membiarkan suasana ramai itu memenuhi indranya.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia melihat dunia fana seperti ini.
Di kehidupan sebelumnya, orang-orang yang berada di sekelilingnya hanyalah penguasa dunia, kultivator tertinggi, dan monster tua yang telah hidup ribuan tahun.
Tidak ada tawa ringan.
Tidak ada kehidupan sederhana.
Yang ada hanyalah intrik, pembantaian, dan perebutan kekuasaan tanpa akhir.
Untuk sesaat, Qin Xiang benar-benar menikmati suasana itu.
Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.
Plak!
Seseorang tiba-tiba menabrak bahunya cukup keras dari belakang.
“Heh! Apa kau buta?!” bentak suara arogan yang terasa sangat familiar di telinganya.
Qin Xiang perlahan memutar tubuh, matanya langsung mengunci sosok yang menabraknya itu.
Wajah orang di depannya langsung membeku.
“Qi-Qin Xiang?!”
Qin Xiang mengangkat alis sedikit sebelum senyum mengejek perlahan muncul di wajahnya.
“Oh?” katanya santai. “Xiao Jing.”
Tubuh Xiao Jing langsung menegang.
Ingatan tentang satu pukulan Qin Xiang beberapa hari lalu masih terasa jelas di kepalanya. Hidungnya bahkan belum sepenuhnya pulih sampai sekarang.
Qin Xiang melangkah maju satu langkah.
“Aneh,” ujarnya pelan. “Aku sedang menikmati suasana kota dengan cukup baik beberapa saat lalu.”
Tatapannya perlahan menyipit.
“Tapi begitu melihat wajahmu... suasana hatiku langsung memburuk.”
Mendengar pernyataan pihak lain, wajah Xiao Jing langsung berkedut marah.
Namun saat menyadari banyak orang mulai memperhatikan mereka, matanya tiba-tiba berputar licik, sebuah solusi jahat muncul di benaknya.
Detik berikutnya—
Ia langsung membusungkan dada sambil berteriak keras.
“Kita adalah murid Sekte Pedang Giok yang terhormat!” katanya lantang dengan ekspresi penuh kebenaran palsu. “Apa kau tidak tahu malu mengancam sesama murid di tengah kota seperti ini?! Kau ingin mempermalukan nama sekte kita?!”
Kerumunan mulai berhenti berjalan.
Beberapa penduduk memandang Qin Xiang dengan tatapan tidak suka, membuat Qin Xiang sendiri sampai terdiam beberapa saat.
Bukan karena takut.
Tetapi karena benar-benar kagum melihat betapa tidak tahu malunya Xiao Jing.
Di kehidupan sebelumnya, Qin Xiang pernah melihat pengkhianat, iblis, bahkan dewa licik yang bermain di balik layar dunia.
Namun entah kenapa...
Bocah seperti Xiao Jing justru terasa jauh lebih menyebalkan.
Melihat orang-orang mulai berpihak padanya, Xiao Jing langsung semakin percaya diri.
“Hmph! Jika kau memang punya kemampuan, temui aku di arena sekte!” katanya keras sambil mundur perlahan. “Jangan bertindak seperti preman jalanan!”
Setelah berkata begitu, ia segera berbalik dan pergi dengan langkah cepat sebelum Qin Xiang benar-benar kehilangan kesabaran.
Qin Xiang hanya memandangi punggungnya yang semakin menjauh di tengah keramaian kota.
Untuk sesaat, ia benar-benar kehilangan kata-kata.
Sudut bibirnya akhirnya terangkat tipis sebelum ia menggelengkan kepala pelan. “Benar-benar badut kecil yang menyebalkan...” gumamnya.
...
Bersambung!